Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
146 : Sepasang


__ADS_3

“Kenapa kamu kelihatan takut begitu?” tanya Kalandra serius kepada dokter Andri.


Di sebelah sang suami, Arum juga merasakannya. Bahwa dokter Andri yang baru memasuki ruang UGD, tak sekadar sungkan. Pria yang menjadi jauh lebih kurus dari awal pertemuan mereka itu memang terlihat jelas menahan takut dan itu kepada mereka. Padahal sebelumnya, setiap kebersamaan mereka selalu rame.


Sambil duduk di tempat duduk kerjanya, dokter Andri yang sekadar menatap kedua sejoli di hadapannya tidak berani, berkata, “Sebenarnya aku memang takut banget ke kalian, khususnya ke Arum.”


Refleks, Arum dan Kalandra menoleh sekaligus bertatapan.


“Atas dasar apa?” tanya Kalandra heran karena yang ia ingat, mereka memang tak ada masalah.


“Kan aku sudah bikin adik kalian kecelakaan!” keluh dokter Andri.


“Oh, itu ....” Kalandra berniat menjaili sang sahabat. Hingga ia dengan serius berkata, “Parah banget emang. Tanggung jawab kamu! Kemarin dia sampai susah napas. Kebetulan kemarin malam aku sama istri nginep di sana, jadi aku tahu!”


“Wah, serius? Kok kalian enggak kabar-kabar aku?” dokter Andri langsung serius, makin ketakutan karena terlalu khawatir. “Dirujuk ke sini saja lah, yah. Dirawat inap dua apa tiga malam, biar mendingan dan aku pun bisa pantau.”


“Paling nanti gitu saja, sih. Soalnya kalau dibiarin, yang ada dia makin parah karena sakit pun, ia tetap kerja,” timpal Arum yang memang mengkhawatirkan adiknya. Walau tahu alasan Widy tetap bekerja karena efek kebutuhan yang harus Widy urus sendiri, tatap saja kesehatan Widy akan ringsek jika terus diteruskan bekerja dan mengurus segala sesuatunya.


“Huffft!” dokter Andri mengembuskan napas panjang sekaligus berat dari mulutnya. “Ya sudah nanti aku yang ke sana. Coba semalam aku infus di rumah. Itu ada diurut enggak sih? Kalau sampai diurut biasanya lebih cepat.”


Arum menggeleng. “Belum-belum. Soalnya itu tangan kirinya juga kayak bengkak gitu, kan? Abuh kalau bahasa kami.”


Dokter Andri mengangguk-angguk paham. “Ya sudah, kalau begitu nanti sore saya ke sana. Terima kasih banyak untuk informasinya. Soalnya kalau aku tanya ke Widy, dia enggak mau ngaku. WA yang saya kirim juga dijawab sangat ala kadarnya. Orangnya tertutup banget.”


“Kayaknya memang sengaja jaga jarak sih dianya. Malahan aku yakin, Widy takut ke kamu, soalnya dia memang ada trauma,” balas Kalandra.


Dokter Andri mengernyit tak paham. “Takut ke aku? Trauma? Ini maksudnya gimana, sih? Kecelakaannya bikin dia takut dan trauma ke aku?”


“Widy ada masa lalu sekaligus pengalaman kurang enak dengan laki-laki. Jadi, memang bukan hal aneh kalau dia sampai lebih menjaga jarak. Takut ada fitnah juga, dan sejauh ini aku rasa, dia maunya fokus kerja sama urus anak,” jelas.


“Dia korban buaya ompong yang juga buntung. Jadi kamu tahu, lah maksudnya,” jelas Kalandra.

__ADS_1


“Buaya ompong yang buntung?” ucap dokter Andri yang sebenarnya belum paham. “Semacam kena tipu, ya?”


“Ya. Kurang lebih begitu,” balas Arum.


“Ya sudah ayo, ini aku mau lihat anakku. Cewek apa cowok,” ucap Kalandra tak sabar.


Dokter Andri langsung mengangguk-angguk. “Ya sudah langsung saja kayak kemarin. Anggap saja rumah sendiri, kan?” Candanya dan langsung melahirkan senyum dalam kebersamaan mereka.


Kalandra masih paham proses USG dan langsung melakukannya sendiri. Dokter Andri hanya mengambil alih beberapa tindakan termasuk menjelaskan setiap hasil pemeriksaaan.


“Wah ... wah, wah ....” dokter Andri berbinar-binar menatap layar monitor di belakangnya. Tangan kanannya masih mengendalikan mouse. “Jadi kalian beneran seneng banget ya.”


“Jangan hanya melihat senangnya. Karena sebelum bersama, kami pernah sangat terluka,” tegur Kalandra.


Arum yang mendengar itu langsung termenung. Benar, sebelum bersama, baik dirinya maupun Kalandra pernah sangat terluka. Mereka pernah ada di titik nadir. Arum pernah nyaris menyerah, sementara Kalandra nyaris kehilangan kewarasan akibat cintanya yang begitu besar kepada Bilqis.


“Alhamdullilah ...,” ucap dokter Andri yang kemudian menatap Arum dan Kalandra penuh senyuman. “Ini sepasang loh!”


Lain dengan Arum yang langsung tidak bisa berkata-kata saking bahagianya.


“Iya asli ini sepasang. Ini yang enggak mau diem ini yang ini ... ini cewek ini. Tuh kelihatan banget. Ini yang cowok lebih kalem,” jelas dokter Andri sambil mengarahkan kursornya.


“Kayaknya yang cowok lagi jaim soalnya malu dipantau kamera,” ucap Kalandra masih kegirangan. Ia menjadi tidak bisa mengakhiri senyumnya sambil sesekali menatap sang istri. Masih berbaring, Arum yang tersenyum juga berkaca-kaca balas menatapnya.


“Emang yang cewek sih yang enggak mau diem. Tuh lihat. Tomboy apa bar-bar ini?” ucap dokter Andri terkekeh geli.


Kalandra tertawa “Mirip mamahnya kayaknya.”


Dokter Andri ikut tertawa. Bahagia rasanya jika pasien apalagi orang terdekatnya, berbahagia dan itu atas bantuannya mengontrol kesehatan maupun sekadar keadaan layaknya sekarang.


“Aku pengin anak cowok, ih. Aku angkat anak cowok kalian saja, ya?” mohon dokter Andri. “Ini kalian hoki banget loh, langsung dikasih sepasang gini.”

__ADS_1


Kalandra menertawakan dokter Andri. “Ngapain angkat anak. Nanti kalau nikah lagi juga bakalan punya.”


Mendapat saran pernikahan dari sang sahabat, dokter Andri langsung menunduk lemas.


“Yang semangat. Dijalani dulu karena aku juga pernah ada di titik nadir seperti kamu. Sabar dan ikhtiar saja,” ucap Kalandra sambil menepuk-nepuk punggung dokter Andri. Walau membuatnya menunggu, pria itu berangsur menoleh sekaligus menatapnya.


“Makasih banyak, Kal. Semoga aku bisa jadi manusia lebih baik lagi. Dan semoga, aku juga bisa menyusul bahagia kayak kalian!” ucap dokter Andri sungguh-sungguh.


Kalandra mengangguk-angguk sambil mengurai senyuman sebagai wujud dari dukungannya kepada dokter Andri. Lain dengan Arum yang langsung berkata, “Amin ya Alloh.”


“Akhirnya aku bakalan punya anak perempuan. Dan ini langsung sepasang,” ucap Arum sambil mengelus-elus perutnya sambil melangkah mengikuti rangkulan Kalandra.


“Yang perempuan yang heboh! Apa jangan-jangan, dia lagi belajar jurus taflon?” balas Kalandra dan langsung membuat sang istri tersipu malu.


“Makin semangat, yah, Yang. Makin sehat, semoga kita jadi orang tua terbaik versi kita!” lanjut Kalandra sambil terus melangkah dan menatap sang istri penuh cinta.


Arum mengangguk-angguk ceria. “Amin! Jujur ini aku pengin jerit saking senengnya!”


Kalandra tersipu dan berangsur mendekap Arum. Mereka sampai berhenti melangkah karenanya. Namun karena di depan gerbang rumah kediaman orang tuanya sudah berisik, ia pun kembali melanjutkan langkah. Mereka melanjutkan langkah sambil tetap berpelukan.


“Gimana-gimana?” Ibu Kalsum sudah langsung menjadi yang paling berisik. Sementara Aidan yang dilepas tengah tertawa riang agak berlari menghampiri Kalandra dan Arum.


“Wah ... Mas Aidan sudah lancar larinya ih keren ih! Hebat banget ih anak Papah!” sambut Kalandra yang berangsur mengakhiri rangkulannya karena ia langsung memeluk Aidan yang ia angkat tinggi-tinggi. Aidan langsung tergelak bahagia, membuat giginya yang sudah ada delapan di bagian depan, tampak sempurna.


“Sehat-sehat, Mbak? Gimana, cewek apa cowok?” sergah ibu Kalsum sambil merangkul Arum.


Di pagi yang hangat karena matahari pagi ini lumayan terik, Arum membagi kebahagiaannya.


“Alhamdullilah, Mah ... Pah. Sepasang,” ucap Arum sampai berderai air mata. Air mata bahagia, tepatnya.


Untuk kali pertama, ibu Kalsum tidak berisik. Wanita itu memang berlinang air mata, tapi bibirnya sibuk mengurai senyum mewakili setiap kebahagiaan yang ia rasakan atas kebahagiaan sekarang.

__ADS_1


“Selamat, ya!” ucap ibu Kalsum sambil mengecup penuh sayang setiap lekuk wajah Arum.


__ADS_2