
“Selain mau jenguk bayi, kami juga mau anter undangan pernikahan kami ke kalian,” ucap Arum yang kemudian mengeluarkan satu undangan berwarna biru dongker dari dalam tas bahu kuning selaras dengan warna dress panjang yang kali ini mempercantik penampilannya.
“Sekarang si Jandes kalau ke mana-mana enggak hanya bawa ransel besar atau kantong kresek doreng-doreng. Sekarang dia selalu bawa tas mahal kayak holang kaya!” batin Septi masih dengki. “Gayamu, Rum ... Rum!” batinnya lagi. Ia yang duduk di sebelah Angga, merebut paksa uluran undangan terbilang mewah pemberian Arum.
“Gaya banget sih pake ada acara undangan segala, enggak woro-woro lewat masjid saja?” sewot Septi sambil membuka undangannya.
“Yang woro-woro lewat masjid itu biasanya layon, Sep. Kematian!” tepis Kalandra berusaha memberikan pengertian.
“Enggak juga loh, Mas,” ujar Arum sengaja membuat Kalandra yang memangku Aidan, untuk balas menatapnya.
“Maksudnya gimana, Yang?” tanya Kalandra cukup serius.
“Ya enggak gimana-gimana. Septi bilang kayak tadi kan mungkin efek pengalaman pribadi pas pernikahannya. Kan memang enggak ada pilihan lain selain woro-woro lewat toak masjid, berasa woro-woro kematian, walau tujuannya memang pernikahan. Namun kalau nikahannya itu dadakan kayak tahu bulat, dan itu pun hanya ijab kabul di hotel prodeo, ya memang mending gitu, Mas. Irit budget, kan?” ucap Arum sengaja menyindir Septi.
“Ngenyis banget kowe dadi wong, Mbak!” kesal Septi tak terima dikatai seperti tadi oleh Arum. Kemudian ia membaca undangannya secara saksama. “Kamu ngejek begitu, seolah-olah mau nikah di hotel mahal. Palingan kamu nikahannya modal tratag apa bangun tenda biru. Terus hiburannya paling juga dangdutan dari tipi yang disalurin ke yutub!”
Kalandra dan Arum kompak menahan tawa mereka karena setelah ngoceh sinis, Septi langsung bungkam dan mungkin efek wanita itu yang baru mengetahui acara di pernikahan mereka.
“Ih, beneran di hotel dan hiburannya pun sampai ngadain wayang sama, ... s-serius, ini? Dia ngundang mas Denny Cakkkkkkk. Ngenyis banget sumpah si mbak Arum!” batin Septi yang tak mau julid lagi. Namun jujur, ia sangat iri karena jika hiburannya saja sampai begitu dan acaranya pun sampai di hotel mahal di kabupaten mereka .... “Jancuuuuk!” ban Septi lagi. Tubuhnya mendadak meriang saking irinya.
“Acaranya enggak sampai satu hari. Jadi nanti hanya dari pukul delapan pagi sampai pukul empat sore. Mohon doa restunya, ya. Terus kalau mau datang, tolong disesuaikan jadwal agar kita bisa sama-sama menyaksikan hari bahagia kami,” ucap Kalandra santai sekaligus sopan. Tak ada lagi adegan saling ejek.
Septi mendengkus sinis kemudian meletakan undangannya di meja dengan agak membantingnya. “Enggak sampai sehari? Pasti efek berat di budget!” tudingnya sinis sambil bersedekap.
“Ya memang sengaja biar bisa cepat-cepat bikin adiknya Aidan!” sinis Kalandra.
Septi yang syok, dalam batin refleks berteriak, “Wuaanjir!” Ia menatap tak percaya Kalandra yang ternyata bisa berbicara terbilang oleng layaknya barusan. Namun ketika ia menoleh dan menatap Arum, wanita yang menjadi sangat glowing itu malah sibuk menahan tawa dan tak mau menatapnya.
Dalam diamnya Arum yakin, hati Septi tak hanya babak belur, tapi juga gosong saking irinya wanita itu kepadanya.
“Memang sudah jadwalnya. Beres resepsi langsung siap-siap bulan madu. Aidan juga ikut, ya. Nanti kita jalan-jalan, seneng-seneng bareng,” ucap Kalandra yang kemudian izin untuk melihat bayinya Septi. Tak lama setelah itu, Angga juga izin meminta untuk mengajak Aidan, tapi bocah itu tak mau.
__ADS_1
“Iya, Sep. Bayi kamu sudah bisa ngapain? Terus mau dikasih nama siapa?” tanya Arum yang sudah berdiri di sebelah Kalandra.
“Tuh bayi sudah punya bakat nangis dari lahir. Nangis mulu telingaku sampai bolong!” oceh Septi.
Arum dan Kalandra refleks terbahak.
“Kamu yah, Sep! Kalau telinga enggak bolong, yang ada bermasalah. Yang bolong saja sering bu-deknya!” tegur Arum. Ia kembali meminta izin melihat sekaligus mengemban anak Septi.
“Jangan ngejek kamu, Mbak!” kesal Septi.
“Ngejek apaan, sih? Serius juga. Alasan kami ke sini selain antar undangan juga mau jenguk bayi kamu,” yakin Arum. “Ingat, tuh bayi enggak salah, jadi jangan buat bahan pelampi-asan. Boleh marah, tapi yang wajar. Kalau ngomong ke dia pun wajib dikontrol karena kamu ibunya. Ucapan kan ibarat doa, sedangkan doa seorang ibu buat anak-anaknya super mujarab. Jangan sampai kamu misuh-misuh kayak kereta eh ada malaikat yang catat dan ngabulin!” ucap Arum.
“Ya sudah, sana. Ambil saja buat kamu. Kesel aku tiap hari urus enggak jelas banget!” keluh Septi.
“Kamu yah, bikinnya mau bahkan rutin, ... giliran jadi enggak mau urus!” kesal Kalandra. Ia mengikuti Arum yang sudah langsung mencari keberadaan anak Septi melalui suara tangis bayi yang baru saja terdengar.
Seperti yang Arum duga, bayi Septi menjadi korban terparah dari ketidakmampuan Septi mengurus.
“Capek aku Mbak! Dari lahir aku yang urusin!” balas Septi sambil mondar-mandir gelisah.
“Nah kalau bukan kamu yang urus, siapa? Kamu yang ibunya saja enggak mau, apa lagi orang lain?” kesal Arum sembari memindahkan bayi Septi ke sebelah yang tidak basah.
“Sudah tidak sampai ditaruh semacam karpet bayi, atau setidaknya meletakan bayi di ranjang khusus, pipis dan ee dibiarkan, jorook banget pantes banyak lalat hijau yang berkeliaran. Enggak sehat ini, Sep.”
“Ya makanya Mbak, sono buat kamu saja! Aku sih malas!” ucap Septi yang kemudian terdiam lantaran popok yang Arum lepas dan itu basah oleh kencing sekaligus ee bayinya, malah dilempar dan langsung nempel di wajahnya.
“Kalau kamu terus begini, aku laporin kamu ke polisi karena ini sama saja penelantaran anak!” kesal Arum sambil terus berusaha mengurus bayi Septi.
Di belakang Arum, Septi mengibaskan popok di wajahnya, tapi itu membuatnya kesulitan dan ia wajib mengambilnya menggunakan tangan kanan. “Jiiijik banget sumpah!” ia membuang popok itu ke baskom penampung pakaian bayi kottor di sebelahnya. Susah payah ia menahan mual yang hadir dan membuatnya nyaris muntah.
“Kalau memang enggak bisa urus, kamu bayar orang saja buat bantu kamu,” lanjut Arum.
__ADS_1
“Bayar gimana? Buat makan sehari-hari saja susah wong bapakku kawin lagi, enggak ingat anak istri apalagi cucu!” keluh Septi sembari keluar dari kamar.
Setelah sempat terdiam karena tercengang, Arum sengaja berseru, “Oh, bapak kamu nikah lagi terus enggak ingat anak istri? Kasusnya mirip bapaknya Aidan dong? Tapi kalau bapaknya Aidan emang dasarnya ndableg karena selama ini yang dia pentingin cuma keluarganya sendiri!” Arum mengikuti kepergian Septi sambil mengemban bayi Septi yang sudah ia lepas tuntas pakaiannya. Ia melewati Kalandra dan Angga yang terjaga di depan pintu kamar Septi.
“Berarti sekarang bu Fatimah punya madu idaman dong, Sep? Wah alhamdullilah kalau gitu sih. Aku turut bahagia karena biar bagaimanapun, itu cita-cita mamah kamu. Punya madu idaman dan jangan sampai cerai, dosa, jatuhnya jauh dari surga!” ucap Arum yang kemudian meminta Septi menyiapkan air mandi untuk sang bayi.
“Ah, males, ah! Aku capek! Dari lahiran kurang tidur. Mau mandi dulu sudah bau taaai pesing gini. Mas Angga, itu kamu saja yang siapin mandiaannya. Cepat Mas, mumpung ada yang mau mandiin!” teriak Septi dari depan pintu kamar mandi dan keberadaannya ada di dapur.
Saking kerasnya, Arum sengaja membawa sang bayi keluar dari area dapur. Ia menghampiri Kalandra dan meminta Angga yang masih di sana untuk menyiapkan air mandinya.
“Rezekimu, Mas! Dulu kamu punya aku yang serba bisa, enggak kamu terima bahkan sekadar anggap. Yang kamu suka yang kayak Septi, kan? Yang apa-apa serba wajib diurus? Sudah sana siapin air mandinya, kamu yang mau begini!” ujar Arum sengaja menyindir.
“Ya enggak gitu, Rum!” keluh Angga.
“Enggak gitu apaan, taii iya!” ucap Arum yang kemudian mendekatkan anak Septi dengan Aidan.
Angga mendengkus kesal, dan segera ke dapur untuk merebus air. Dapur yang juga masih sangat asing baginya karena biar bagaimanapun, ini kali pertamanya ia di sana.
Tak seperti biasanya, di rumah Septi sudah tidak ada yang bantu-bantu lagi dan semacam stok makanan pun juga tidak ada. Pantas Septi sesetres sekarang. Nyatanya melahirkan tanpa dampingan sekaligus bantuan orang tuanya, benar-benar menyiksa seorang Septi.
“Aslinya anaknya anteng. Cukup ditaruh dada emban timang saja sudah tidur lagi itu,” ucap Kalandra.
Arum mengangguk-angguk. “Nih bayi kayaknya sudah setres dari di dalam kandungan gara-gara mamaknya sudah enggak jelas dari awal! Kasihan sumpah, nih bayi yang paling jadi korban sih menurutku.”
“Mau bagaimana lagi? Ya semoga saja Septi cepat dapat hidayah,” ucap Kalandra yang juga ikut bingung jika harus memikirkan nasib bayi Septi. “Gimana, Mas? Mau dedek juga? Besok, ya, Mamah Papah bikinin!” lanjut Kalandra lirih dan sangat bersemangat.
Arum langsung tersipu sambil menggeleng geli mendengarnya. Namun, tampaknya Aidan memang tertarik kepada bayi. Kedua tangan Aidan tak hentinya berusaha meraih wajah bayi Septi.
“Kayaknya ini anak cemburu deh, Yang, kamu gendong anaknya Septi,” tegur Kalandra.
“Wah, ... Mamas cemburu? Terancam enggak langsung dikasih adik kalau gini caranya,” ucap Arum sambil menatap Aidan, tapi langsung membuat seorang Kalandra tertawa ngenes.
__ADS_1