
Dokter Andri duduk gelisah di ruang kerjanya yang ada di klinik. Ia menatap layar ponselnya yang berisi ruang obrolan WA antara dirinya dengan Widy. Lima pesan yang ia kirimkan dari kemarin belum ada yang dibalas. Membuatnya resah karena kali ini, Widy terkesan jelas sengaja menghindarinya. Lebih parah dari awal perkenalan mereka.
Dokter Andri : Di, aku ada salah, ya? Aku siap-siap tarawih dulu, ya.
Pulang dari tarawih pun pesan yang dokter Andri kirimkan tetap dihiasi dua centang biru. Padahal jika melihat status WA, Widy aktif menawarkan setiap dagangan. Dari semacam keperluan dapur, kosmetik, pakaian, tas, sandal, sepatu, kue lebaran, juga aneka hamper. Dokter Andri melihat setiap kiriman status WA Widy, mirip anak ABG yang sedang menunggu tanggapan gebetan. Tahu tak memberi kepastian, tapi masih saja ditunggu.
“Ini, aku kok dicueki, ya? Kalau memang dia sibuk, harusnya enggak gini. Padahal aku sudah tanya, aku salah enggak? Kalau aku nanya lagi, ya bingung mau nanya apa? Enggak mungkin juga aku langsung bilang kangen, pengin ngobrol, walau kenyataannya memang iya, aku kangen.” Terpikir oleh dokter Andri yang kali ini tidur di klinik untuk menghubungi Kalandra. Namun yang menjadi masalah, dokter Andri tahu, sahabatnya itu sedang sangat sibuk jika menghadapi akan lebaran layaknya sekarang. Ditambah lagi, Kalandra baru saja memiliki dua anak kecil.
Dokter Andri : Kal, Widy kok cuek banget ke aku, ya? Dari kemarin aku WA, sama sekali enggak ada yang dibaca.
Tak mau makin penasaran, Dokter Andri sengaja mengirimi sahabatnya pesan. Tak disangka, pesannya langsung dibaca, padahal kini sudah hampir pukul sepuluh malam, yang mana biasanya semenjak menikah dengan Arum, Kalandra sangat jarang merespons pesan selepas jam kerja.
Di tempat berbeda, di dalam kamar, Arum tengah merancang hamper untuk acara si kembar. Hampernya berupa kantong karton yang dalamnya berisi dua handuk tangan warna pink dan biru, selain aneka kue kering berukuran mungil dalam wadah khusus yang menggemaskan dan juga masih bernuansa biru pink.
Arum yang duduk di kursi kerja sang suami untuk menyusun semua itu langsung tersenyum ceria ketika mendengar panggilan lirih dari Kalandra dan jelas tengah menggodanya. Arum berangsur menoleh sekaligus menengadah, membiarkan sang suami yang baru pulang, mengabsen wajah termasuk juga bibirnya, dengan ciuman manis.
“Sudah dapat banyak?” ucap Kalandra yang langsung memijat-mijat kedua pundak sang istri, sesaat setelah ia meletakan tas kerjanya di sebelah meja kerja.
__ADS_1
“Alhamdullilah sudah lumayan, Yang. Sampai hari H acara pasti beres,” balas Arum masih menyusun.
“Keren-keren!” sergah Kalandra sengaja memuji sambil terus memijat pundak Arum, sebelum akhirnya ia pamit agar bisa secepatnya berbaur bersama anak-anak dengan leluasa. Namun sebelum ia masuk kamar mandi, ia sudah langsung sibuk tertawa lantaran di dekat kasurnya, menjadi ada tiga ranjang bayi lantaran Aidan iri ingin tidur di ranjang bayi pula layaknya adik-adiknya.
“Tapi tidurnya jadi pulas banget, Yang. Apalagi jan tadi siang, dia juga sampai ikut pijat ke aku. Heboh Mas Aidannya, apa-apa mau,” cerita Arum.
“Kayaknya Mas Aidan bingung, ya. Suasana bary, kok jadi gini ada ini itu. Mamahnya juga jadi sibuk dan Mas Aidan mendadak nyaris sepenuhnya jadi anaknya Mbah Uti sama Mbah Kakung.” Kalandra yang sudah beres mandi, memandangi wajah anak-anaknya dengan tatapan yang begitu damai.
“Sayang, itu lanjut besok. Mumpung anak-anak pulas, kamu juga tidur.” Kali ini, fokus pandangan Kalandra tertuju kepada Arum. Wanita itu tak sampai memakai jilbab dan memang baru sakan melakukannya ketika keluar dari kamar. Arum mencepol tinggi rambutnya.
“Aku susun tiga lagi, Yang!” tawar Arum makin mempercepat kinerja kedua tangannya.
“Iya ...,” sanggup Arum bersama kebahagian sempurna yang ia rasakan. Rasanya, hubungan mereka mirip pengantin baru yang sedang manis-manisnya karena mereka memang menjalani pernikahan berlandaskan cinta. Buktinya, Kalandra yang awalnya sudah rebahan sambil sibuk dengan ponsel, buru-buru bangun kemudian mengulurkan kedua tangannya untuk membimbing Arum duduk atau malah tiduran di sebelahnya.
Arum berangsur merebahkan kepalanya di sebelah bahu Kalandra, kemudian ia melongok layar ponsel sang suami yang pria itu tunjukkan kepadanya. Dalam diamnya, Kalandra tengah membalas setiap pesan dari dokter Andri.
“Dia tanya, enggak salah kan, kalau dia main ke rumah Widy, terus tanya baik-baik? Sudah kangen katanya. Aku bilang enggak salah karena itu jauh lebih baik sekalian silaturahmi. Dia ajak kita sekalian, aku balas enggak mungkin karena selain aku masih sibuk dengan pekerjaan, kamu sama si kembar juga belum memungkinkan,” jelas Kalandra mengabarkannya kepada Arum.
__ADS_1
“Ya sudah sih, gitu saja. Apa yang Sayang lakukan sudah benar. Terus, tadi aku juga ada bilang ke Widy, kalau dia ketemu sama orang julid yang sibuk urus hidupnya, suruh sekalian tuh orang beliin kamu keperluan hidup kamu sama anak-anak kamu. Sanggup enggak?” ucap Arum. Kalandra yang baru memeluknya, sesaat setelah pria itu meletakan ponselnya di nakas, langsung mesem.
“Mumpung anak-anak tidur, kita juga tidur,” lirih Kalandra sambil tetap mendekap tubuh Arum menggunakan kedua tangannya.
“Bentar lagi aku harus pompa ASI. Lihat sudah sebengkak ini,” keluh Arum masih dengan serba serbi setelah melahirkan khususnya perihal payudara bengkak dan pu-ting pun sampai berdarah-darah.
Kalandra yang sebenarnya sudah lelah sekaligus mengantuk, berangsur bangun. “Aku siapin air buat kompres dulu, soalnya itu enggak boleh dibiarin.” Setelah mengambil keperluan kompres dan membantunya mengompres, Kalandra juga sudah langsung menyiapkan pompa ASI-nya. Arum benar-benar tinggal pakai karena sekadar bangun, sudah langsung ia bantu. Dan sambil menunggu proses selesai, ia meringkuk di pangkuan Arum.
“Sayang, kalau mau tidur, tidur saja. Ini cepat, kok,” yakin Arum. Sementara Kalandra yang sudah memejamkan kedua matanya, berangsur mengangguk-angguk.
“Kayaknya kita perlu beli kulkas khusus buat ASIP Azzam Azzura,” ucap Kalandra walau kedua matanya terpejam dan suaranya pun sudah mulai bergetar.
“Boleh apalagi stok ASIP aku memang banyak. Malahan, Mas Aidan sekarang juga balik minum ASI, tapi lewat dot sih, enggak ***** langsung soalnya kan sudah disapih,” cerita Arum di tengah deru suara mesin pompa ASI dan langsung dibalas tawa gemas oleh Kalandra.
“Sayang, Mas Aidan kayaknya galau. Gamang karena belum terbiasa dengan perubahan sekarang,” yakin Kalandra walau kedua matanya masih terpejam.
“Enggak apa-apa, lah. Pelan-pelan, pasti Mas Aidan terbiasa. Lucunya, dia sudah bilang sayang ke Azzam dan Azzura. Dicium-cium, gemes banget, Yang!” lirih Arum antusias dalam berceritanya kepada Kalandra yang masih meringkuk di pangkuannya. Walau awalnya Kalandra masih kerap merespons bahkan tertawa, tapi lama-lama Kalandra pulas. Termasuk ketika si kembar bangun dan silih berganti Arum susui, Kalandra sama sekali tidak terusik.
__ADS_1
“Makasih banyak loh, Sayang, ... ditemani sampai sini, sampai disiapkan semuanya, juga sudah bikin aku makin nyaman. Buktinya, ASI aku selancar sekaligus sekental ini,” batin Arum. Sambil memberi Azzura ASI, sebelah tangan Arum kerap mengelus kepala Kalandra penuh sayang.