
“Ibu, ... Ibunya yang sabar dong. Tensi Ibu makin lama makin tinggi, loh!” tegur sang suster yang lama-lama menjadi geram.
“Ya makanya, cepat sesar dong, Sus! Bilangin ke dokternya, suruh kerja yang bener! Tuh dokter suruh mikir, ada orang mau lahirin begini malah dibiarin! Dikiranya aku kucing suruh lahirin sendiri. Lagian ini kan aku mau bayar, bayar mahal! Cepat bantuin biar anakku cepat lahir apa gimana. Eh, ini malah enggak datang-datang! Mau malpraktek apa gimana?!” keluh Septi masih gelisah dan tak bisa diam. Ia masih berbaring tak karuan di ranjang rawat.
Sang suster mendengkus. “Gini yah, Bu. Yang pernah melahirkan bukan hanya ibu saja. Di dunia ini yang melahirkan banyak, tapi enggak ada yang serese Ibu!”
“S-susss, ini aku sedang bertaruh nyawa hanya untuk lahiran. Tensiku terus naik, jadi tolong kalau Suster memang suster beneran, ... tolong berguna untuk saya!” omel Septi.
Angga yang ada di sana menjadi pusing. Septi mau lahiran, tapi rasa tawuran. Septi tak hentinya mengeluh super berisik dan semua yang ada di sana dimarahi. Benar-benar tanpa terkecuali. Baru saja, Septi sampai meminta diundangkan pimpinan rumah sakit. Angga yang menjaga sampai malu sendiri. Apalagi, sampai sekarang, pak Yusuf tak kunjung bisa dihubungi. Nomor pak Yusuf tak kunjung aktif. Namun Angga curiga, nomor Septi malah sengaja diblokir. Tanda-tandanya mirip, bahwa nomor Septi sengaja diblokir. Termasuk juga ketika Angga mencoba menghubungi nomor WA ibu Fatimah. Malahan kini, Angga tertegun memandangi status WA Arum Jandes Weres.
“Ini Arum? Masa, sih? Jadi cantik banget. Iya, ini beneran Arum karena yang di emban juga Aidan. Lah ini di sebelahnya beneran Kalandra,” lirih Angga terdiam lemas dan sampai berakhir duduk di lantai.
Di status WA Arum yang dimaksud, Arum duduk memangku Aidan, sementara di sebelahnya, Kalandra yang membawa balon tali karakter bebek warna kuning, merangkul Arum dengan mesra. Di mata Angga, baik Aidan apalagi Arum, sangat berubah. Gayanya mirip orang kaya. Membuat Angga makin penasaran bagaimana keadaan keluarganya setelah hampir enam bulan ia tinggal.
“Si Septi enggak simpan nomornya mbak Anggun,” lirih Angga lagi yang langsung dikagetkan dengan teriakan kesakitan dari Septi yang ada di belakangnya. Septi berteriak sambil menangis mirip tangis di kematian seseorang.
“Ya ampun, Dek ... suster sama dokternya capek. Aku pun capek, terus ini orang tua kamu gimana, aku enggak bisa hubungi mereka,” keluh Angga sambil balik badan menatap Septi.
“Eh, Mas! Kamu lagi, enggak mikir banget! kamu enggak tahu, mau lahirin sesakit ini!” semprot Septi.
__ADS_1
“Tergantung amal dan ibadah sih,” ucap Suster sinis sembari melirik Septi yang ia tinggalkan dengan langkah cepat.
“Heh, suter, ... lambemu ya kalau ngomong!” semprot Septi tak terima disinggung sulitnya ia hamil lantaran amal dan ibadahnya terkesan kurang.
“Alah, teriak saja bisa bikin gendang telinga rusak, ... ngejan buat keluarin bayi yang kepalanya sudah kelihatan kok ya enggak bisa. Coba dicoba lagi. Disabarin, istigfar, masa pakai hijab kelakuannya begitu, lembut banget, sampai bikin tensi yang urus ikutan lari!” balas si suster sengaja memantau dari depan pintu sambil bersedekap.
“Istigfar-istigfar gimana, Sus? Dikiranya aku mau mati, apa suruh istigfar? Aku ini mau lahiran, bukan mau mati!” Kemudian, dalam hatinya Septi berkata, “Lagian ini bayi buntungg ngapain susah amat sih keluarnya, bikin hidupku makin susah saja.”
Kemudian, sang suster memastikan kepada Angga. “Pak, ini istrinya minta pindah rumah sakit. Namun saya pastikan, di manapun kalau keadaan seperti ini ya susah. Ibunya tensinya tinggi banget, emosional banget, dan enggak bisa ngedan! Bagaimana, Pak? Itu bayi kepalanya sudah kelihatan di jalan lahir,” ucap sang suster mengharapkan kerja sama Angga agar bisa membujuk sang istri.
“Sudah mau pukul dua belas malam, loh. Dari siang, ... kasihan bayinya,” lanjut suster bersamaan dengan Angga yang sudah kembali membujuk Septi, untuk kesekian kalinya.
Angga benar-benar tak habis pikir, tapi ia juga penasaran kenapa Septi beberapa kali ia pergoki keceplosan mengatai sang bayi buntung.
***
Keesokan harinya, Arum yang sudah beres masak di dapur rumah sakit, sengaja mandi kemudian dandan rapi layaknya kebiasaan yang sudah Kalandra wajibkan. Dandan tapi, pakai pakaian rapi biar lebih disegani, kemudian dandan tapi jangan berlebihan.
“Jangan dandan berlebihan jika bukan buat mas Kala,” lirih Arum yang mendadak menahan tawa hanya karena mengingat syarat dari Kalandra. Karena pada kenyataannya, Kalandra juga laki-laki biasa yang akan posesif menjadi pribadi pencemburu jika ada laki-laki lain yang mendekati Arum, termasuk itu pak Haji. Itu kenapa, kepada pak Haji, Kalandra jail banget.
__ADS_1
Setelah setiap pintu ruang rawat Arum ketuk bersama menu pagi ini yang ia antar menggunakan troli khusus, di ruang bersalin, ia malah dibuat tercengang oleh suasana yang awalnya sangat hening. Yang membukakan pintu ruang tersebut bukan orang asing, melainkan Angga!
Tentu Arum kaget lantaran yang wanita itu ketahu, harusnya Angga masih di penjara. Lebih kaget lagi ternyata alasan Angga di sana karena Septi malah sudah melahirkan. Ada bayi di ranjang bayi sebelah Septi berbaring. Setelah Arum pastikan, di ruang rawat tersebut hanya ada tiga orang termasuk di bayi merah yang tampak tidur. Kedua mata si bayi yang sangat mirip Supri, terpejam damai.
“Kamu beneran sudah lahiran? Wah, lebih cepat dari perkiraan, ya? Selamat, ya! Wah, mirip bapaknya banget, ya!” Arum tak kuasa menahan tawanya. Ia sampai mendapat dua jari tengah dari Septi yang mengatainya dengan kata andalan, “jancuuuk”.
“Asli, ini sih mirip banget!” Arum nekat mendekat sambil terus menahan tawanya. Puas rasanya apa yang ia pikirkan sekaligus harapkan sesuai realita.
“Pergi kamu, Mbak! Dasar jandes gan-jen! Jam segini sudah necis!” omel Septi.
“Lah, apa salahnya? Ini kan sudah mau pukul sengah tujuh pagi. Biasanya aku sebelum subuh malah sudah rapi. Kamu ya, dengki bilang saja! Tunggu, ya. Nanti, aku sama mas Kala pasti muyen! Nanti aku sekalian ajak calon mertuaku! Eh, iya ... mumpung mas Angga ada di sini, nanti kalian jangan lupa datang ke pernikahanku sama mas Kala. Nanti aku kirim undangannya langsung pas m**uyen!” Arum benar-benar bersemangat.
Membahas undangan pernikahan Arum, baik Angga apalagi Septi sama-sama lemas, iri. Karena jujur saja, diam-diam Angga tergoda pada mantannya yang telah menjelma menjadi janda kembang super cantik tanpa harus menor apalagi memakai pakaian minim.
Karena Septi menunduk lemas, Arum sengaja memanfaatkan kesempatan tersebut untuk kembali mendekati anak Septi. “Sep, aku izin emban bentar, ya? Bentar lah, Sep. Biar setelah nikah nanti, aku sama mas Kala langsung dikasih, biar Aidan punya adik. Kalau yang ini kan bukan adiknya Aidan. Heh, Mas Angga, lugunya jangan dibablasin jadi goblog, buka mata kamu, kalau ini nyata anak tirinya mbak Anggun. Astaga, bisa jadi judul novel atau sinetron azab kalau ini sih. Eh, sinetron azab, apa catatan hati suami yang tersakiti, ya? Tapi apa pun itu, judulnya wajib : Anak istriku, anak tiri kakak perempuanku!”
Sadar Septi akan mengamuk, Arum buru-buru lari kabur sambil tertawa lepas. Puas! Iya, Arum benar-benar merasa puas karena pada akhirnya, satu persatu dari mereka yang telah menorehkan luka khususnya mereka yang telah menjadi penyebab air mata Aidan mengalir, akhirnya menerima ganjaran setimpal.
“Ingat, Sep, Mas Angga ... karma itu kita yang buat. Jadi, ke mana pun kita pergi, karma akan tetap mengikuti karena memang sudah menjadi milik kita. Ini luar biasa, dan aku percaya, tabur tuai itu ada karena sekarang saja kita sedang menyaksikan sekaligus merasakannya,” ucap Arum sambil tersenyum sekaligus melangkah elegan meninggalkan ruang rawat Septi dan Angga beserta bayi Supri berada.
__ADS_1
Arum mendorong troli makanannya yang kosong menelusuri lorong rumah sakit, penuh suka cita. “Anak istriku, anak tiri kakak perempuanku!” ucapnya tak kuasa mengakhiri kebahagiaannya.