Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
49 : POLISI


__ADS_3

“DIAM!”


Ibu Fatimah benar-benar murka. Helaan napasnya sampai terdengar sangat menakutkan bahkan di telinganya sendiri. Ia menatap bengis tubuh sang putri yang masih meringkuk kesakitan di hadapannya.


“CUKUP DIAM DAN JANGAN PERNAH BERKATA JUJUR MENGENAI KEHAMILANMU! KARENA TANPA KEJUJURANMU PUN, SEMUANYA SUDAH TELANJUR MENYAKITKAN. AIB, KAMU BENAR-BENAR SUDAH MEMBERIKAN BANYAK AIB UNTUK KELUARGA INI! KAMU SUDAH MEMENUHI WAJAH MAMAH DENGAN KOTO-RAN, SEP! MAU DITARUH MANA WAJAH MAMAH, KALAU KAMU MALAH JUJUR?!” Suara ibu Fatimah sampai gemetaran tertahan di tenggorokan, saking kesalnya. Wanita itu sungguh sudah ingin mengamukk.


Septi berangsur duduk, kemudian menghadap sang mamah yang ia tatap dengan tatapan sarat frustrasi. Sebab setelah apa yang terjadi dan Kalandra sampai turun tangan, sementara sang mamah malah makin mantap melakukan tes DNA, tentu kenyataan tersebut akan membuat dunianya sekeluarga tamat.


“Namun kalau Mamah tetap melakukan tes DNA, semuanya jadi tahu kalau anak ini memang anak Supri karena sepertinya ini memang anak Supri, Mah!” ucap Septi di sela isak tangisnya.


Kalimat terakhir Septi yang sarat penekanan, sukses membuat dada seorang ibu Fatimah seolah amblas. Ibu Fatimah refleks menggeleng seiring kedua matanya yang terpejam erat, tak kalah erat dari kedua tangannya yang mengepal kencang di sisi pinggang sana. Tak semata karena Septi akhirnya mengakui, meski putrinya itu masih ragu. Namun, ini mengenai maksud kalimat tersebut yang menegaskan, Septi memang tidak hanya melakukan dengan satu orang dan itu Supri. Putrinya telah melakukan hubungan zina itu dengan lebih dari satu pria dan bisa jadi juga berkali-kali, tak hanya sekali hingga Septi ragu, siapa yang sudah berhasil menanam benih di rahimnya!


Seketika, ingatan ibu Fatimah dihiasi ucapan ibu Parinah, ketika mereka di kantin Arum, sore tadi. Ucapan ketika wanita itu memberitahunya, siapa yang layak disebut kut-tis atau itu wanita peng-hibur. Wanita yang sudah berulang kali melakukan zina hingga hamil di luar pernikahan dan itu tidaklah lain Septi, putrinya.


Di luar, ibu Sumini yang belum lama pergi meninggalkan sekitar pintu kamar Septi, mendadak terkejut dan nyaris jantungan ketika suara ibu Fatimah meraung-raung dan terdengar layaknya tengah dirasuki arwah jahat. Yang makin membuat ibu Sumini tercengang, tak lain kenyataan Septi yang turut menangis meraung-raung, meminta ampun kepada ibu Fatimah. Entah apa yang terjadi, tapi bagi ibu Sumini kenyataan tersebut sangat menakutkan. Ia sampai bergidik ngeri lantaran tangis Septi kali ini sangat ketakutan, mirip kambing atau sapi yang tengah dibel-lih di hari raya kurban!

__ADS_1


Buru-buru, ibu Sumini lari meski hasilnya tidak seperti orang normal pada kebanyakan mengingat di usianya yang kian renta, ia malah harus ban-ting tulang. “Sep ... Ibu Fatimah ... Sep ... ada apa, Sep? Bu?” Ia terus berseru sambil menggedor-gedor pintu kamar Septi.


“*MAH ... AMPUN, MAAAAH. AMPUN!”


“HMMMMRMMMM, BISA-BISANYA KAMU BEGINI SEDANGKAN MAMAH SUDAH DIDIK KAMU SEBAIK MUNGKIN. MAMAH SUDAH KASIH SEMUANYA, TAPI APA BALASANMU!”


“Bu Sumini, ... ini ada apa rame-rame gini?” tanya pak Yusuf yang kebetulan baru pulang. Ia meletakan tas jinjingnya ke dekat tembok kamar Septi. “Itu di dalam ada apa kok rame begitu?” lanjutnya langsung terperanjat ketika ada suara yang diban-ting disertai jerit histeris Septi yang ia yakini sampai menangis.


Tanpa bertanya lagi, pak Yusuf yang telanjur panik langsung berusaha membuka pintu kamar Septi. Ia terpaksaa mendobraknya lantaran pintu tersebut dikunci dari dalam. Di dobrakkan kelima, pintu kamar Septi akhirnya terbuka. Tepat di saat itu juga, pak Yusuf maupun ibu Sumini yang turut melongok, memergoki ibu Fatimah menghan-tankan lampu meja ke Septi yang awalnya duduk terdesak di sudut kamar dekat nakas keberadaan lampu meja. Septi yang awalnya menengadah sekaligus memelotot, menatap takut lampu meja yang akan dihan-tamkan ke wajahnya, refleks meringkuk.


Pak Yusuf menggeleng tak habis pikir pada sang istri yang ia ketahu memang tempramental. Namun, ia sungguh tak menyangka istrinya tega kepada Septi selaku putri semata wayang mereka.


“Gi-la, kamu! Ini Septi, putri kamu! Bisa-bisanya kamu tetap enggal bisa tahan emosi?” saking tak habis pikirnya, pak Yusuf yang langsung merengkuh Septi, langsung tidak bisa berkata-kata. Ia kembali menatap tak habis pikir sekaligus kecewa sang istri yang berdiri tak jauh dari kebersamaannya dan Septi. Jarak mereka tak kurang dari satu meter.


Apa yang terjadi membuat seorang ibu Sumini gemetaran hebat. Sungguh tak ibu Sumini sangka, nyatanya wanita yang tampak sangat bersahaja sekelas ibu Fatimah, malah sama saja dengan Anggun. Malahan ibu Sumini yakin, sebenarnya ibu Fatimah justru jauh lebih berbahaya. Terlebih sejauh ini, ibu Fatimah sampai berlindung di balik penampilan sekaligus agama.

__ADS_1


Jantung ibu Sumini berdetak sangat kencang, selain ia yang langsung lemas setelah melihat kejadian mengerikan yang ibu Fatimah lakukan kepada Septi. Entah apa penyebabnya, tapi ibu Sumini takut bertahan di sana. Sebab kepada Septi sang putri dan ibu Sumini ketahu sangat dimanja oleh ibu Fatimah saja, ibu Fatimah tega. Apa kabar kepadanya yang dari awal kehadiran sudah langsung diperlakukan bak tawanan perang?


Lihatlah, jilbab Septi sudah berwarna merah darah. Sementara kedua telapak tangan pak Yusuf yang mera-ba kepala Septi, langsung basah oleh darah. Itu memang bekas hanta-man ibu Fatimah. Bisa jadi, kepala Septi sampai pecah dan membuat wanita hamil itu terluka parah.


Setelah sempat terduduk lemas akibat kenyataan yang terjadi, pak Yusuf yang memakai koko lengan panjang warna hitam, buru-buru membopong Septi. Tak mau kalah, ibu Sumini juga memanfaatkan kesempatan itu untuk terlebih dulu lari. Ibu Sumini buru-buru lari keluar. Ia sampai lebih dulu meski tidak terpaut begitu jauh dari pak Yusuf. Namun, langkah ibu Sumini menjadi terhenti setelah wanita itu melihat apa yang ada di depan gerbang sana. Ia ragu melanjutkan langkahnya lantaran di depan sana ada sebuah mobil polisi, juga dua motor yang baru saja ditinggalkan oleh polisi.


“Ada apa, Bu Sumini?” tanya pak Yusuf terheran-heran lantaran ibu Sumini malah mirip patung yang memenuhi pintu.


Ibu Sumini refleks menoleh, menatap lemas pak Yusuf yang sudah ada di belakangnya sambil membopong Septi. Selain wajah Septi tampak sangat pucat, di sekitar kening wanitanya itu juga sudah dihiasi darah segar dari kepala bagian atas.


“Polisi, Pak!” sergah ibu Sumini. Ia sampai berseru, tapi suara yang ia hasilkan benar-benar lirih lantaran suaranya tertahan di tenggorokan.


Tak yakin dengan apa yang ia dengar dari ibu Sumini, pak Yusuf yang kerepotan membopong Septi pun segera memastikannya. Benar saja, di depan gerbang rumahnya dan jaraknya dari teras rumah tak kurang dari sepuluh meter, memang ada rombongan polisi. Ada sebuah mobil polisi, dan juga ada dua motor polisi. Sementara polisi yang datang dan sudah berdiri di depan gerbang, jumlahnya ada empat orang. Namun baru saja, sebuah Pajero warna hitam juga turut menepi, berhenti di belakang mobil polisi.


“Ini kenapa polisi pada datang ke sini, padahal aku maupun ibu Sumini belum mengabarkan kabar Septi yang diam-muk Fatimah? Masa iya mereka langsung datang sebelum dapat undangan?” pikir pak Yusuf yang juga sampai berpikir, “Apa malah ada kasus lain? Angga lagi? Hah, ... bukannya kasus Angga sudah beres, ya?”

__ADS_1


__ADS_2