
“Kamu langsung istirahat saja. Besok kalau aku belum bangun, bangunin saja.”
“Memangnya Mas tidur di mana?”
“Di kamar tamu, kamar yang ada di sebelah ruang keluarga.”
“Maksud Mas, besok Mas mau antar aku? Kalau iya, enggak usah, Mas. Jam segitu kan sudah pada banyak yang ke masjid. Termasuk bapak Mas juga biasanya ke masjid bareng warga buat salat subuh berjamaah.”
“Ya enggak apa-apa. Besok aku antar kamu, sekalian salat subuh berjamaah karena habis itu, aku mau ke makam Bilqis.”
Arum langsung mengangguk-angguk paham. “Ya sudah, Mas. Selamat malam. Terima kasih banyak buat semuanya. Ini aku tutup pintunya, ya.”
Kalandra yang menjawab setiap ucapan Arum dengan anggukan, berkata, “Sekalian dikunci juga enggak apa-apa, biar kamu jauh lebih merasa aman. Namun jangan berpikir di sini enggak aman.”
Arum tersenyum kikuk kemudian mengangguk-angguk paham. Kalandra meninggalkan mereka setelah pria baik hati itu pamit kepada Aidan. Karenanya, Arum berangsur menutup pintunya dan memang sampai menguncinya. Di dalam kamar Kalandra yang terbilang cukup luas, semuanya tertata rapi. Malahan, tempat tidurnya saja sampai ditutup kain dan mungkin efek jarang dipakai.
Setelah menyisihkan kain penutup tempat tidur di sana dan Aidan juga turut Arum rebahkan di tengah tempat tidur yang benar-benar empuk tersebut, fokus perhatian Arum terusik pada keberadaan dua bingkai foto yang masing-masing menghiasi kedua nakas di sebelah tempat tidur. Kedua bingkai tersebut berisi foto Kalandra dan Bilqis. Keduanya tampak sangat serasi dan kompak tersenyum ke arah kamera. Yang wanita cantik, yang laki-laki tampan. Satu bingkai saat keduanya masih memakai seragam SMA yang dicorat-coret. Foto tersebut seolah diambil tak lama setelah acara pengumuman kelulusan. Sementara foto yang satu lagi, berisi foto Kalandra dan Bilqis memakai pakaian adat pengantin warna hitam khas Solo Jawa Tengah.
__ADS_1
Jika ditanya cemburukah Arum melihat itu sedangkan kini, Kalandra telah mengikatnya, mereka akan menjalani hubungan yang lebih serius? Arum akan berucap tegas, TIDAK. Sebab Arum sadar, semua orang hadir membawa masa lalu termasuk itu dirinya dan Kalandra. Asal mereka sama-sama bisa adil dalam bertanggung jawab, semuanya pasti akan baik-baik saja. Terlebih selain Kalandra yang telah menunjukkannya dengan tetap bertanggung jawab kepadanya maupun Aidan walau Kalandra juga masih mengurus Bilqis, bagi Arum, level terpenting dalam sebuah hubungan adalah rasa tanggung jawab sekaligus rasa nyaman. Rasa nyaman yang biasanya hadir karena adanya saling menghargai. Sementara semacam rasa sayang apalagi cinta, pasti akan hadir dengan sendirinya seiring kebersamaan mereka.
“Ini masih terasa seperti mimpi, apalagi mereka sangat menghargaiku,” lirih Arum sambil mengamati sekitar. Kini ia berada di tempat terbilang mewah, tapi bukan untuk bekerja apalagi menumpang. Hadirnya ia di sana sungguh akan menjadi bagian.
“Apa kabar kalau orang-orang tahu? Bagaimana tanggapan mereka khususnya, tanggapan Angga dan keluarganya? Termasuk tanggapan orang-orang yang sudah melukaiku, tanpa terkecuali keluarga dan orang tuaku? Apakah ini yang akan dinamakan balas dendam paling mematikan? Aku akan membuat mereka menyesal telah menyia-nyiakan sekaligus menyakitiku sangat dalam, padahal orang-orang yang lebih berkualitas dan tentunya kaya sekaligus memiliki kedudukan, malah sangat menghargaiku?” pikir Arum. Hatinya menjerit sakit mengingat semua luka-lukanya. Namun Arum sadar, tanpa semua luka itu, dirinya belum tentu menjadi wanita setegar sekarang.
Tak mau berlarut-larut dalam kesedihan, Arum segera menyeka sekitar matanya. Ia tak lantas langsung tidur karena ia kembali membersihkan diri di kamar mandi. Di dalam kamar Kalandra ada kamar mandi lengkap dengan shower. Namun Arum hanya mencuci wajah, kedua tangan dan juga kakinya. Barulah di keesokan harinya, Arum mandi menggunakan air shower. Wanita itu sengaja bangun lebih awal untuk membersihkan diri. Malahan ketika Kalandra datang, Arum sudah rapi termasuk itu kembali merapikan tempat tidur yang juga kembali Arum tutup.
“Enggak usah ditutup karena nanti pun, kamu pulangnya ke sini. Hari ini setelah kamu pulang kerja, kita beresin barang-barang kamu di kontrakan sekalian pamitan ke yang punya kontrakan,” ucap Kalandra.
“Enggak,” ucap Kalandra sambil menggeleng tegas. “Lagian kalau aku apa kamu sering bareng tanpa ikatan pun, yang ada makin jadi omongan. Andaipun nanti pernikahan kita sampai jadi omongan, paling itu hanya berlangsung beberapa hari dan paling mentok hitungan bulan. Beda kalau kita terus bareng tanpa ikatan, hanya untuk mencari waktu tepat untuk hubungan sekaligus pernikahan.”
“Ya sudah, Mas. Aku ngerti!” lirih Arum sambil mengangguk-angguk paham.
Kalandra yang juga sudah memakai koko lengan panjang warna putih berkata, “Seharusnya kamu sadar, kenapa aku dan keluargaku memilihmu. Kenapa kami begitu mudah menerimamu. Jadi mulai sekarang, kamu enggak usah mikir macam-macam apalagi sampai minder.”
“Eh, kok aku mendadak ge-er dibilang begini sama Mas Kalandra?” batin Arum yang mendadak tak berani menatap kedua mata Kalandra lagi.
__ADS_1
Melihat Arum yang menjadi sibuk menunduk, kenyataan tersebut membuat Kalandra menahan tawanya. “Kamu kenapa malah menunduk begitu? Kamu tahu, kan, tadi itu maksudnya aku mau memuji kamu?”
Arum menjadi tersipu. Ia tersenyum masam, memberanikan diri untuk menatap Kalandra lagi. Namun kali ini, Arum merasa ada yang aneh dengan dirinya. Ia menjadi tegang, deg-degan, hanya karena kebersamaan mereka sekarang.
“Kamu beneran berbeda dari wanita kebanyakan. Kamu hebat, tapi bukan berarti kamu terus menyiksa diri kamu dengan terus-menerus bekerja rodi. Kamu paham maksudku?” lanjut Kalandra sambil menahan senyumnya. Senyum yang tak hanya membuat pria itu terlihat makin tampan. Karena ketika Kalandra tersenyum layaknya sekarang, pria itu juga terlihat sangat manis.
Arum masih sangat ingat ketika pria di hadapannya menangisi jasad sang istri. Saat itu, Kalandra tak hanya terlihat hancur. Sebab saat itu, Kalandra tampak sudah sampai kehilangan akal. Cintanya yang begitu besar kepada Bilqis membuat seorang Kalandra tidak bisa membedakan mana yang halusinasi, dan mana yang memang kenyataan. Jadi, memang menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri ketika akhirnya, seorang Kalandra kembali bisa tersenyum bahkan bahagia. Lebih membahagiakannya lagi karena Arum apalagi Aidan menjadi sumber kebahagiaan baru dari seorang Kalandra.
Berjalan bersama di tengah aktifitas subuh yang sudah mulai ramai untuk menunaikan salat subuh berjamaah, sudah langsung membuat kebersamaan Arum dan Kalandra, sebagai pusat perhatian. Apalagi sebelum menuju rumah sakit, pak Sana juga tak segan berseru melepas kepergian Arum dan Aidan yang masih dikawal Kalandra.
“Orang-orang bakalan langsung bantu kamu, kalau pak Haji kembali ganggu kamu, Mbak!” seru pak Sana dari seberang jalan yang baru Arum dan Kalandra tinggalkan.
Warga yang bersama pak Sana langsung kepo. Tentunya, selain membuat mereka mengetahui status Arum dalam keluarga pak Sana, mereka juga mengetahui kelakuan pak Haji dan juga drama yang dibuat oleh pria itu.
Di subuh yang begitu hangat, Arum tersenyum hangat membalas calon bapak mertuanya. Arum berpikir, semua yang ia terima kini merupakan hasil manis dari setiap perjuangan sekaligus ketulusannya. Hanya saja, kenapa bagi Arum, semua yang terasa manis tidak ada yang lebih manis dari senyum seorang Kalandra maupun semua perlakuan manis pria itu kepadanya maupun Aidan?
“Kan, deg-degan lagi,” batin Arum yang memilih menunduk, membiarkan Kalandra menuntunnya setelah mereka berpisah dengan rombongan. Ia dan Kalandra menyeberang jalan besar menuju rumah sakit, sementara rombongan pak Sana akan langsung ke masjid. Tentunya Kalandra juga tak bisa berlama-lama dengannya agar pria itu bisa turut bergabung salat subuh berjamaah.
__ADS_1