
“Mau dilihatin sama presiden pun, emang dasarnya enggak tahu malu, ya tetep saja!” ucap pak Haji.
Anggun sekeluarga sudah didudukkan di tikar karakter yang sengaja ibu Sumini gelar.
“Daripada dilaporkan ke polisi, mending dididik sendiri. Anak-anaknya disekolahin, ibunya suruh kerja sama bos rasa kompeni. Terus ini suaminya ... langsung cincang saja buat pakan dumbo!” ucap pak Haji lagi. “Itu yang istrinya, kalau apa-apa serba ngamuk, langsung sunti*k mati saja juga enggak ada salahnya. Dosanya suruh ditanggung dia saja. Salah siapa, jadi orang kok enggak mikir!”
Anggun sekeluarga memang disidang dadakan. Kalandra sudah ada di sana dan Septi pun siap melawan Anggun andai wanita yang Septi katai bau tumpukan sayuran busu*k itu kembali mengamuk.
“Apa yang Mbah katakan, memang enggak ada salahnya. Karena daripada dipenjara, lebih baik mbak Anggun memang kerja ke orang yang bisa jadi bos ala-ala kompeni. Sementara yang lak-lakinya, enggak perlu dicincang, langsung cegurin saja!” ucap Kalandra.
“Kasihan dumbonya, takut mereka malah keracunan,” ujar Septi.
Pak Haji mendadak tertawa gara-gara mendengar balasan sewot Septi. Ia tak lagi mondar-mandir dan memilih duduk sila di sebelah Kalandra. Karena layaknya Anggun sekeluarga, mereka juga kompak duduk di tikar karakter.
“Si Supret ini penjahat kelam*in, Pak Gede. Aku salah satu korbannya. Dia menjebak aku dan memaksa aku. Enggak sekali dua kali, tapi sering! Dendam banget aku. Sampai mati pun, aku enggak akan lupa dan memang enggak bisa maafin dia!” tegas Septi akhirnya jujur setelah ia menceritakannya lebih dulu kepada Arum.
“Tanya saja ke mbak Arum. Alasan mata Supret picek kan gara-gara ditaburi bubuk cabai dan bubuk lada oleh mbak Arum, pas Supret ngintip mbak Arum mandi.” Geram, Septi kembali menggunakan tas bahunya yang terbilang besar untuk menyambar Supri yang ia panggil Supret.
Supri yang duduk di hadapan Septi langsung sempoyongan, nyaris terbanting.
“Ap-pa?!” ucap Supri merasa tak berdosa.
“Ngaku, kamu!” kesal Septi lantaran Supri tampak jelas akan menepisnya.
Supri celingukan dan langsung tersentak ketika ibu Fatimah mengguyur wajahnya dengan kopi panas. Tak hanya itu, sebab ibu Fatimah juga sampai melempar lambar maupun gelas kopinya sekuat tenaga secara bertubi ke wajah Supri.
“Ini, siramin lagi!” ucap pak Haji menyerahkan kopi miliknya kepada ibu Fatimah yang terlihat sangat marah kepada Supri.
Tanpa pikir panjang, ibu Fatimah langsung menerima pemberian pak Haji. Mengguyurkan isinya yang masih panas, ke wajah yang sama. Lambar dan gelas juga turut wanita itu lempar bertubi dan masih ke wajah Supri.
Sementara yang lain, mereka kompak menunduk dalam lantaran merasa sangat miris pada kelakuan Supri. Lain dengan Anggun yang sudah muak juga kepada tingkah Supri.
__ADS_1
“Ada yang tahu, bos kejam yang bisa bantu didik mereka?” tanya Angga.
“Sudah, saya saja juga enggak apa-apa. Nanti mereka suruh beres-beres atau urus sawah!” yakin pak Haji.
“Masalah anak-anak, biar Ibu yang urus.” Ibu Sumini angkat bicara.
“Nggak, Bu. Saya kurang setuju karena Ibu pasti bisa dikelabuhi mereka,” ujar Kalandra. “Mereka sudah telanjur salah didik dan memang sudah salah pergaulan. Lihat, yang besar saja sudah simpan roko*k di saku. Jadi, mending mereka dimasukkan ke pesantren saja. Nanti, gaji orang tuanya bisa masuk buat biaya. Sementara sisanya, bisa dimusyawarahkan.”
“Urusan biaya mereka, nanti saya ikut urus. Asal dididik dengan benar, harusnya mereka masih punya masa depan lebih baik,” ucap Dika ikut bicara.
Dengan tegas, Angga juga sanggup ikut membiayai, walau tentu saja, ia mewajibkan Anggun dan Supri selaku orang tua, untuk membiayai lebih banyak dar semuanya.
“Ke depannya, kalau Anggun dan Supri tetap berulah, bukan sebuah hal yang salah jika mereka sampai menerima hukuman. Nanti tolong buatkan hitam di atas putih biar mereka enggak drama!” ucap Angga.
“Ya sudah, gitu saja. Mereka wajib kerja karena tanggungan mereka banyak. Ada empat anak, dan bahkan yang perempuan pun sampai diadopsi orang jauh,” timpal Kalandra.
“Lucunya, mereka yang punya banyak anak, kok saudaranya yang suruh tanggung jawab! Gokil! Hahahahaha!” pak Haji mendadak heboh. Ia sengaja mengambil kopi milik Kalandra kemudian mengguyurnya ke wajah Anggun.
“Nanti pondok pesantrennya mau pakai yang dekat apa yang jauh?” tanya dokter Andri.
Kalandra langsung menatap sang sahabat dan kebetulan bersebelahan dengan Septi. “Titip ke paman kamu yang dekat rumahku bisa, kan? Biar kontrolnya juga lebih gampang!”
“Nanti Pakde urus,” ucap pak Erdi angkat bicara sembari menatap Kalandra.
Setelah menyimak, fokus Septi tertuju kepada pak Haji. “Pak Gede enggak ada rencana bangun pesantren juga? Tanah sebelah kontrakan kan masih nganggur.”
Menghela napas dalam, pak Haji melirik ibu Fatimah yang masih memangku Sepri. “Jangankan bangun pesantren, bangun rumah tangga sama mamah kamu saja, belum juga kesampaian.”
Balasan penuh kode dari pak Haji, sukses membuat semuanya tertawa.
“Bisa aja ih, Pak Gede. Tapi kalau setelah nikah sama mamah aku, Pak Gede pensiun jadi musafir cinta, kayaknya mamahku mau!” ujar Septi.
__ADS_1
“Duh, kalau gitu syaratnya, ya terlalu berat, Sep! Pensiun memuja janda ibarat memangkas nyawa sendiri!” balas pak Haji langsung berkeluh kesah.
“Ya kalau gitu, alamatnya membangun rumah tangga bersama ibu Fatimah si janda idaman, memang hanya mimpi, Pak Gede!” balas Septi yakin seyakin-yakinya.
Pak Haj menatap sedih ibu Fatimah. “Syaratnya bisa didiskon, enggak? Nanti semua kontrakan berikut tanahnya, jadi milik Umi Fatimah, asal saya masih bisa jadi musafir cinta, walau kita mau menikah? Mas kawinnya dua belas kontrakan berikut tanahnya lengkap dengan sertifikat dibayar tunai!” yakinnya.
“SAH!” Septi dengan semringah menyalami tangan pak Haji.
Pak Haji langsung kegirangan. “Asli, Sep, kamu restuin?”
Yang lain langsung sibuk menahan senyum dan perlahan tersipu.
“Enggak apa-apa, Mah. Buat bekal tua. Biar Mamah enggak harus capek-capek jualan gorengan keliling kecamatan atau malah panas-panasan di pasar. Toh selama ini, Pak Gede sudah banyak bantu kita!” yakin Septi kepada sang mamah. “Sudah waktunya Mamah menikmati hidup!” yakinnya lagi.
Ibu Fatimah menatap sendu sang putri yang tetap tersenyum ceria walau kedua mata Septi juga basah.
“Kamu saja enggak mau menikah, masa malah memaksa mamah menikah?” bisik ibu Fatimah.
“Enggak apa-apa, Mah. Kasus kita beda, dan ini sungguh sudah waktunya bagi Mamah buat menikmati masa tua. Walau untuk sementara, aku masih akan titip Sepri selagi aku masih kerja!” yakin Septi lagi.
“Ini berarti kita bakalan makan-makan, ya?” tanya Kalandra memastikan kepada pak Haji yang detik itu juga langsung tertawa dan berakhir tersipu malu.
“Akhirnya pecah telur lagi!” bahagianya pak Haji yang langsung menegur kebersamaan Septi dan dokter Andri.
“Kalian kok duduknya sebelahan gitu? Bahaya kalau sampai kejadian. Septi wajib kasih kita sapi!” tegur pak Haji.
“Ih, apaan sih Pak Gede. Kami ini besti!” yakin Septi yang kemudian meminta pak Haji untuk fokus mengurus Anggun dan Supret Supri.
“Oh, oke. Saya mau telepon orang rumah dulu. Mereka akan langsung kerja. Nanti saya yang bakalan didik, tapi kalau saya butuh kamu buat seruduk si Anggun takutnya nih jalma ngamuk, kamu harus siap, yah, Sep!” yakin pak Haji.
“Siap, Pak Gede. Apalagi bentar lagi, kita jadi papah anak!” ucap Septi ceria dan langsung membuat pak Haji tak kalah ceria. “Bakalan ada pengantin kedaluwarsa!” ucap Septi lagi. Ia tetao bahagia walau di hadapannya, Anggun terlihat jelas ingin menerka*mnya hidup-hidup.
__ADS_1