
Paginya, pak Sana termangu menatap sang menantu yang membawa ember berisi air penuh uang panas.
“Jam segini, Aidan sudah mau mandi, Mbak?” tanya pak Sana kepada sang menantu yang tak lain Arum.
Pertemuan mereka terjadi di ruang keluarga yang masih dihiasi lampu menyala. Sebab hujan yang terus mengguyur dari kemarin membuat suasana gelap. Jangankan cahaya matahari, langitnya saja benar-benar hanya dikuasai bentangan awan hitam.
Arum langsung menoleh dan menatap sang papah mertua. “Buat mas Kala, Pah.”
“Hah?” refleks pak Sana langsung terkejut. “Jadi sekarang, kamu punya dua bayi!”
Mendengar itu, Arum langsung menahan tertawanya.
“Bayi baru kamu yang kemarin malam cek ke klinik, katanya kekurangan gizi, kan?” lanjut pak Sana sengaja bercanda.
Mendengar itu, perut Arum langsung kram gara-gara tawa yang ditahan. Kendati demikian, ia tetap melangkah menuju kamar Kalandra yang ada di sebelah.
“Suruh mandi, habis itu suruh sarapan. Harusnya sih berjemur, tapi cuacanya saja gelap, mirip masa depan cinta pak Haji ke kamu yang sampai kapan pun berasa mustahil,” lanjut pak Sana.
“Ih, Papah tega!” Kali ini Arum merengek.
Pak Sana yang berkecak pinggang berangsur menertawakan Arum. “Bahagialah kalau hujan gini, Rum. Tuh orang enggak mungkin dateng.”
Arum kembali menahan tawanya kemudian pamit untuk menemui Kalandra. Di dalam kamar, Kalandra masih meringkuk di bawah selimut. Pria itu menutup rapat tubuhnya, tak kalah rapat dari selimut Aidan. Arum yang melihatnya setelah meletakan satu ember air panasnya di kamar mandi, langsung tersipu memandangi kebersamaan itu.
“Omongan papah memang benar, sih. Sekarang aku punya dua bayi!” lirihnya tersenyum ceria. Namun tiba-tiba saja, Arum terdiam, disusul tatapannya yang langsung tertuju kepada perutnya.
“Aku sama Mas Kala sudah sebulan lebih, kan?” batin Arum panik tapi karena terlalu bahagia. Kebahagiaan yang baru dikira-kira saja sudah langsung membuat hatinya berbunga-bunga.
Arum buru-buru mendekati suaminya, menyibak selimuti yang menutup kepala, kemudian membingkai wajah di sana menggunakan kedua tangannya. Arum menghadapkan wajah Kalandra kepadanya.
__ADS_1
Subuh tadi, Kalandra memang sudah bangun dan sampai ikut salat subuh berjamaah bersama orang tua sekaligus Arum. Namun Kalandra memilih tidur lagi karena masih merasa lemas sekaligus tak enak badan. Padahal dini harinya, pria itu sampai menghabiskan satu ekor bebek ungkeb.
“Mas, ... Mas Kala. Bangun. Ke bidan, yuk. Ke bidan beli test pack karena kalau ke apotek pasti belum ada yang buka!” lirih Arum berbisik-bisik.
Kalandra yang awalnya setengah sadar langsung melek. Mengerjap sejenak sambil merenung, pria itu buru-buru bangun. Membuat Arum berpikir, ajakannya membeli test pack langsung membuat seorang Kalandra yang jadi mirip orang sakit selama satu minggu ke belakang, seolah langsung memiliki nyawa cadangan sekaligus tambahan.
Kedua tangan Kalandra langsung meraba perut Arum, disusul telinga kanannya yang ia tempelkan di sana. “Ayo!” ucapnya bersemangat.
“Tapi Mas Kala mandi dulu, air panasnya sudah aku taruh di kamar mandi.”
“Sudah, enggak usah mandi, enggak apa-apa.”
“Sayang air panasnya, Masse!”
“Enggak apa-apa, nanti aku mandi pakai air dingin saja. Dengar kamu hamil, aku langsung sehat!” Kalandra begitu bersemangat.
“Ih, pokoknya Mas mandi dulu, kalau Mas enggak mandi, aku juga enggak mau ke bidan!” kali ini Arum sengaja mengancam. Suaminya langsung panik, buru-buru lari, dan berjanji mandinya tidak sampai lima menit.
“Iya ....” Arum yang terjaga di depan pintu, langsung tersenyum hangat.
Walau belum melakukan pemeriksaan, Arum begitu yakin dirinya memang hamil. Alasan yang juga membuat kedua tangannya membingkai perutnya.
Sekitar dua puluh menit kemudian, bidan yang rumahnya hanya terpaut tiga rumah dari rumah orang tua Kalandra, langsung melakukan pengecekan perut Arum. Sebelumnya, test pack yang Arum gunakan untuk memeriksa kehamilan dan memang dilakukan di sana, sudah langsung dihiasi dua garis merah.
Arum memang hamil. Tak hanya merujuk dari hasil di test pack, melainkan juga hasil pemeriksaan sang bidan. Kabar tersebut makin membuat seorang Kalandra bersemangat. Pria itu sungguh memiliki nyawa tambahan. Tak apa walau dirinya yang malah mengalami ngidam. Malahan Kalandra bersyukur, sebab dengan kenyataan tersebut, bukankah dengan kata lain, Arum tidak harus merasakan sensasi ngidam yang memang sudah sampai sangat menyiksanya?
“Mulai sekarang, aku bakalan suka buku pink ini!” ucap Kalandra sambil mencciumi buku pink ibu dan anak yang juga akan digunakan untuk posyandu.
Kalandra terus menenteng buku pink-nya yang ada di dalam kantong putih, dengan sangat hati-hati. Di keterangan buku tersebut ada nama Arum dan juga namanya sebagai sang suami. Walau bukan untuk yang pertama kali, Kalandra merasa sangat bahagia. Akhirnya ia bisa memegang buku seperti itu lagi, tanpa harus menunggu lama apalagi menjalani program khusus, layaknya yang sebelumnya
__ADS_1
Di sebelahnya, Arum langsung tersipu melirik sang suami. Baru ia sadari, kehamilannya telah membuat sang suami alayy. Iya, Kalandra mendadak manja sekaligus sangat sensitif.
Menghela napas pelan, kini Arum refleks membingkai perutnya. Ia mengikuti tuntunan Kalandra yang menuntunnya sangat hati-hati. Mereka baru saja meninggalkan kediaman sang bidan dan tadi sempat sibuk mengucapkan selamat kepada mereka.
“Mas, Mas penginnya anak perempuan apa laki-laki?” tanya Arum hati-hati sengaja mempermanis suasana.
“Perempuan apa laki-laki, sama saja, sih. Yang penting sehat! Janin sehat, mamahnya juga wajib!” balas Kalandra.
Gerimis yang masih mengguyur membuat Kalandra makin protektif kepada sang istri. Kalandra merangkulnya, benar-benar membuat tubuh mereka menempel. Kalandra tak mau sang istri yang sedang mengandung buah cinta mereka, kedinginan.
“Kayaknya, aku bisa diabetes deh, kalau tiap hari diperhatiin gini sama Mas,” ucap Arum lirih, tersipu memandangi wajah sang suami yang mendadak sangat cerah. Wajah tampan itu tak lagi pucat, tampak merah layaknya manusia sehat pada kebanyakan.
Kalandra tersenyum hangat, sambil terus melangkah hingga tak terasa mereka sudah di depan gerbang rumah. Kalandra kembali mengucapkan terima kasih.
“Ini sudah ke dua puluh tujuh kalinya, Mas berterima kasih. Tapi aku suka, aku merasa sangat dihargai, aku merasa sangat disayangi, dan aku merasa sangat spesial. Ya ampun, mendadak aku merasa jadi ratu begini,” ucap Arum benar-benar manis tanpa bisa mengakhiri senyum apalagi kebahagiaannya.
Kalandra mesem, hatinya terenyuh karena terlalu bahagia. Kemudian, di bawah payung tempatnya membawa Arum berlindung, ia sengaja menghentikan langkahnya. Ia menempelkan bibirnya di kening Arum yang detik itu juga langsung memeluknya mesra sekaligus manja.
Tak lama kemudian, dari sebelah dan memang merupakan teras depan rumah kediaman orang tua Kalandra, suara berisik ibu Kalsum terdengar mengiringi langkah kaki beralas sandal yang tak kalah berisik.
“Nah, itu orangnya sudah pulang. Alhamdullilah, sampai waswas gini.” Dari teras, ibu Kalsum yang tak sabar menunggu, langsung berseru, “Mas, Mbak, gimana?”
Pak Sana yang sudah rapi dan mengemban Aidan di depan dadanya, sengaja melipir menjaga jarak dari sang istri. Tak tahan karena jika situasinya ada yang ditunggu layaknya sekarang, istrinya bisa mendadak mirip orang kesurupaan.
“WUARRGGGHHH!” Ibu Kalsum langsung heboh ketika Kalandra yang masih ada di luar gerbang rumah, sudah langsung pamer buku pink.
“Ya ampun, Mah. Masih pagi sudah ngereog! Papah enggak mau kena lemah jantung karena kita saja baru mau tambah cucu, Mah!” keluh pak Sana, tapi sang istri tak peduli.
Ibu Kalsum tetap heboh bertepuk tangan, tak sabar menunggu sang putra membawa istri yang sedang mengandung calon cucunya.
__ADS_1
Kehamilan Arum langsung menjadi kebahagiaan tersendiri dalam keluarga Kalandra. Kebahagiaan yang awalnya sudah terasa lengkap di sana, menjadi terasa sempurna. Meski untuk menunggu yang di perut Arum lahir menjadi bagian nyata dalam kebersamaan mereka, mereka masih butuh waktu sekitar tiga puluh empat minggu lagi. Karena menurut prediksi bidannya, usia kehamilan Arum sudah masuk minggu ke enam!