
“Pak Gede ... aku punya foto Widy yang cantik banget. Tadi ketemu di bank!”
“Bohong!” Keantusiasan Septi hanya dibalas cuek oleh pak Haji yang duduk sila terjaga untuk ibu Fatimah yang tengah jualan gorengan sekaligus es Gepluk.
“Asli, Pak Gede! Besok katanya mau ke sini! Mau bantuin aku dagang es, sekalian ngabuburit!”
Pak Haji mulai tergiur bujuk rayu Septi. Layaknya bocah yang sedang ngambek, ia melirik-lirik layar ponsel Septi. Detik berikutnya, ia mendadak loncat kemudian jongkok saking syoknya lantaran foto wanita berhijab cantik di layar ponsel Septi memang Widy.
“Itu beneran Dek Widy!” rengek pak Haji mendadak oleng lagi gara-gara janda cantik.
“Satu juta, Pak Gede. Aku bonusi informasi sekarang dia mau ke mana!” todong Septi sambil menyodorkan tangan kanannya.
“Sudah, itu disuruh pergi saja, Sep. Daripada di sini jadi fitnah!” ujar ibu Fatimah yang tengah memberi kembalian uang pembayaran pembeli.
“Ah, kamu, Fat! Bilang saja kalau kamu cemburu karena ternyata aslinya kamu sayang banget ke aku!” ucap pak Haji. “Eh, Sep. Kalau ujung-ujungnya dia pulang ke rumah, saya wedi(takut) jatuh. Jalan ke rumahnya mirip wajah sama badan kamu. Terjal enggak enak banget!”
Septi langsung mendengus sebal menatap pak Haji. “Sudah turun tiga kilo, ih, Pak Gede! Lipatannya sudah agak lumer ke sebelah!”
“Tapi tetap saja, belum enak dipandang. Tuh lihat motormu, ... langsung ringsek padahal baru dipake sekali. Tanda-tanda kiamat itu buat tuh motor!” balas pak Haji.
“Ini mau enggak, fotonya. Buat dicetak di kaos apa jaket. Kekinian banget itu. Sejuta, masa iya sekelas pak Gede enggak bisa?” Jiwa bisnis Septi meronta-ronta, menjadikan pak Haji sebagai sasaran empuknya.
“Masa iya, satu juta?” ucap pak Haji.
“Masa iya Musafir Cinta mentok di biaya?!” balas Septi.
“Oke, tapi kamu anterin saya ke mana Dek Widy gerangan pergi, baru saya kasih satu juta. Iya, enggak, Fat? Jangan cemburu lah, Fat. Walau hatiku bercabang, di salah satu cabangnya itu milik kamu!”
“Alah!” Geli ibu Fatimah tak sedikit pun tergoda oleh pak Haji.
Beberapa saat kemudian, Pak Haji sudah langsung pergi mengikuti Septi. Septi mengemudikan motornya dengan kecepatan sedang.
“Hahahaha ... lihat Septi naik motor begitu beneran mirip gajah duduk.” Saking jahilnya pak Haji, pria itu sampai menekan klaksonnya beberapa kali, kemudian memepetkan Septi ke tepi.
“Semprul ih, Pak Gede. Kalau aku kenapa-kenapa,” ucap Septi yang sebenarnya belum selesai bicara, tapi pak Haji sudah lebih dulu menahan.
“Jangan dulu soalnya saya belum pesan kain kafan buat kamu. Ukuranmu kan wajib ukuran spesial. Kecuali kalau kamu mau dibungkus pakai kantong keresek segede gaban, ya sudah sana, mati, mati!” ucap Pak Haji yang lagi-lagi tertawa.
__ADS_1
Sampailah mereka di depan gerbang rumah Arum dan di sana ada motor Widy yang penuh barang belanjaan.
“Musafir Cinta, ... berkelana mencari janda, dengan bantuan sana sini, yang penting jandanya mau diajak nikah lagi!” Pak Haji bernyanyi.
“Itu lagu kera sakti, Pak Gede!” tegur Septi menatap heran pak Haji yang sibuk berusaha mengintip apa yang terjadi di dalam sana. Tentunya yang dicari Widy.
“Wah, suasananya cocok ini. Mau senja gimana gitu. Apalagi kayaknya Dek Widy suka yang berbau romantis. Buktinya saja, dia sempat jadi korbannya Pongah!” ucap pak Haji, tapi sambil menyindir sekaligus melirik Septi.
“Sudah terbukti kan, Pak Gede? Sudah sini, bayar. Enggak bayar belok kiri masuk neraka, loh!” tagih Septi sambil menyodorkan tangan kanannya kepada pak Haji.
“Dicicil boleh enggak soalnya bentar lagi lebaran, bakalan banyak pengeluaran buat bayar karyawan? Apalagi kamu pasti minta ampau!” tawar pak Haji.
“Jangan dicicil, Pak Gede. Nanti yang ada, rezeki Pak Gede seret!” sergah Septi.
Walau tampak kesal sekaligus tak rela, pada akhirnya pak Haji tetap membayar Septi dengan nominal yang sudah dijanjikan.
“Ih, Sep, Sep. Tunggu jangan pergi dulu. Ini tinggal selembar, kalau Ayang Widy pengin jajan gimana? Masa iya cuma seratus ribu? Ya enggak tega aku. Suruh beli gorengan? Duh, nanti dia batuk!” sergah Pak Haji berusaha menahan kepergian Septi.
“Gesek lagi saja, Pak Gede. Bawa Widy ke mesin ATM biar lihat tabungan Pak Gede. Siapa tahu, dari mesin ATM, turunlah cinta!” yakin Septi.
“Daripada dibawa ke mesin ATM, mending langsung ke KUA!” sebal pak Haji, tapi Septi malah tertawa sambil buru-buru tancap gas dari sana.
“Wah ... ada pak Haji?” ujar ibu Kalsum.
“Yoi, Bu DPR! Di mana ada janda cantik, di situlah Musafir Cinta bertahta! Hahaha!” balas pak Haji dengan girangnya.
“B-bu, Pak Haji ini enggak bahaya semacam maksa apalagi nekat pegang-pegang, kan?” lirih Widy yang jujur saja jadi parno ke pak Haji.
Walau ragu karena memang tidak yakin, ibu Kalsum berkata, “Harusnya sih enggak, tapi kalau iya, sudah digaplok saja.”
“Gaplok itu apa, Bu?” lirih Widy.
“Apa sih itu, ya? Pukul yang enggak tanggung-tanggung pokoknya!” balas ibu Kalsum sulit menjelaskan. “Tapi yang ibu Tahu, tuh orang anti dibawa ke rumah kamu soalnya jalannya susah. Sia takut jatuh, terancam stroke atau malah gegar otak!” lanjutnya yang langsung tertawa geli.
Widy ikut menahan tawanya. Ia langsung pamit tanpa memedulikan pak Haji yang terus berusaha mencuri perhatiannya. Dari merengek manja, membuat lelucon, menawari makan, juga sederet perhatian lainnya, termasuk itu menawari Widy belanja.
Sebelum benar-benar pulang, Widy sengaja mampir ke kontrakan Angga untuk mengambil pesanannya. Di sini lah, rahasia pak Haji yang membayar pesanan Widy terbongkar.
__ADS_1
“Kenapa Mbah bayarin pesanan Widy?” tanya Angga yang kebetulan ada di sana dan sudah langsung menyusun pesanan Widy ke keranjang yang terbilang sudah penuh.
“Ya tentu karena hati dan cinta lah!” balas pak Haji dengan entengnya.
“Lah, Widy kan lebih cocok jadi cucu Mbah!” balas Angga meyakinkan.
“Cucu apaan, sih? Sekarang kan jamannya wanita lebih suka laki-laki mateng!” yakin pak Haji sambil bersedekah menunggu Angga beres mengikat pesanan Widy yang memang banyak.
“Mateng apaan? Kalau Mbah bukan mateng lagi, tapi kematangan!” sergah Angga.
“Kematangan apaan?” balas pak Haji jadi kurang percaya diri.
Angga yang akhirnya beres membantu Widy, jadi tertawa. “Kalau Pak Haji memang pecinta janda sejati, tuh mamah saya janda. Janda sejati malah. Dari saya SMA, enggak nikah lagi beliau!”
“Yang itu ya sudah enggak layak konsumsi lah, Ngga! Beneran bukan sekadar enggak enak, tapi memang enggak layak konsumsi. Ibaratnya, udah kedaluarsa!” keluh pak Haji.
Widy sudah langsung sibuk tertawa. Bisa-bisanya seorang Angga yang sangat pendiam, sampai mau menggoda pak Haji. Namun Widy berpikir kenyataan itu terjadi lantaran Angga sudah agak sering menghabiskan waktu dengan Kalandra dan Arum yang memang sudah terbiasa bercanda dengan pak Haji.
“Ya sudah, Dy. Pulangnya tunggu adzan maghrib berhenti. Nanti aku antar sampai depan. Karena pak Haji pasti enggak berani,” lanjut Angga yang kali ini sampai menahan tawanya. Apalagi pak Haji sampai tidak bersemangat dan memang tidak bisa membalas.
Namun pada akhirnya, pak Haji malah ngojek ke Angga demi bisa mengantar Widy, memastikan janda cantik itu pulang sampai rumah dengan selamat.
“Ya ampun, Ngaaa. Pilih jalan yang bener. Jangan pilih jalan yang mirip badannya si Septi. Enggak enak ini. Encok!”
“Ini sudah yang paling bagus, Mbah!”
“Ya Alloh, heran aku. Ini pak DPR matanya picek apa gimana, jalan mirip badannya Septi dibiarin? Ini kalau musim hujan, bisa jadi tambak lele ini!” kesal pak Haji, tapi Angga yang menjadi lawan bicaranya malah tertawa.
“Iya, kan, Ngga? Hayo jujur, kamu sama Septi sudah pakai gaya apa saja?! Hayo, hayo!” Pak Haji mendadak jail menggelitiki pinggang Angga.
“Sumpah Mbah, saya enggak ngapa-ngapain. Belum pernah blas!” balas Angga.
“Hahaha ... payah, kamu!”
Demi keamanan bersama, demi menjaga nama baik Widy sebagai janda yang rawan gosip termasuk itu gosip tetangga, Angga dan pak Haji sepakat langsung putar balik setelah Widy masuk ke rumah.
“Rumah Widy kecil banget?” ujar pak Haji tak tega.
__ADS_1
“Ya makanya beliin rumah!” balas Angga dengan entengnya.
“Kalau dia mau nikah sama saya, saya beliin, Ngga! Makanya kamu dukung saya, dengan cara, ketik REG spasi JANDA, tolong jangan bikin saya menunggu lama!” jelas pak Haji yang malah membuat Angga terbahak. Sungguh perjalanan mengejar janda yang sangat menyenangkan, walau pak Haji sampai encok dan semua badan terasa pegal.