
Arum keluar dari kamar mandi sambil memijat-mijat kepalanya yang terbungkus handuk menggunakan kedua tangan. Di tempat tidur, Kalandra yang duduk selonjor sambil berkirim pesan menggunakan kedua tangan, langsung terusik. Tak semata karena sang istri terlihat sangat segar ditambah aroma wangi dari sabun sekaligus sampo, tetapi juga perut Arum yang sudah terlihat agak buncit, mungil dan sangat menggemaskan bagi pria itu.
“Yang, ... Yang. Sini. Itu perut kamu gemesin banget!” lirih Kalandra saking gemasnya.
Arum langsung terdiam kebingungan menatap Kalandra seiring senyum di wajahnya yang detik itu juga bermekaran. Layaknya hatinya yang seolah mendadak dipenuhi kembang setaman. Arum berpikir, mungkin apa yang Kalandra lakukan sekarang ibarat romantis versi ketika seorang istri hamil.
Namun dengan jail, Arum sengaja melipir, menjaga jarak sambil berkata, “Aku enggak mau dekat-dekat Mas Kala, ah!” Ia mengatakannya tanpa menatap sang suami.
Kalandra langsung menertawakan Arum dan memang terlalu gemas. Buru-buru ia meletakan ponselnya di nakas. “Sini, ih ... aku iket nanti, ya!” Bergegas ia meninggalkan tempat tidur, menghampiri Arum yang jelas sedang menggodanya. Wanita itu tertawa, nyaris terpingkal-pingkal sambil menahan takut. Tanggapan refleks seseorang ketika dikejar.
“Awas nangis, Mas!” Dari luar pintu kamar, ibu Kalsum sampai berseru. Menegaskan bahwa tawa sekaligus rengekan Arum yang meminta ampun kepada Kalandra, terdengar hingga keluar.
Kalandra yang awalnya tengah menciuum gemas wajah Arum dengan bruttal, langsung diam menyimak seruan dari luar. Begitupun dengan Arum yang kemudian kembali tertawa.
“Kamu ya, ... dikira diapa-apain kan sama mamah!” lirih Kalandra tapi Arum masih pura-pura tidak mau menatapnya sambil menahan senyum. Membuatnya makin gemas saja kemudian buru-buru membopongnya.
Setelah tubuhnya sampai melayang di udara, Arum buru-buru berpegangan ke Kalandra.
“Aku buang!” lirih Kalandra yang pura-pura akan melempar Arum ke tempat tidur.
“Kira-kira Mas. Yang ada tubuhku mental, terlempar ke lantai ih!” rengek Arum dan Kalandra langsung menertawakannya. Tentunya, ia tak sampai melakukan apa yang ia lakukan. Ia tetap melakukan semuanya dengan hati-hati.
Setelah mendudukkan Arum di tengah-tengah tempat tidur mereka, Kalandra berangsur menyandarkan sebelah wajahnya pada perut Arum. Kemudian, tangan kanannya meraba di sana. “Sudah keras gitu, ya?”
“Jangan dipencet-pencet, Mas!” lirih Arum sambil mulai mengeringkan kepalanya.
“Enggak akan ih. Gemes banget saja lihatnya!” ucap Kalandra yang langsung menciuumi perut mungil Arum.
Arum sadar, kalau keadaannya sudah begitu, pasti ceritanya akan panjang. Sang suami pasti akan menguwel-uwel perutnya, sangat lama dan bisa-bisa sampai tengah malam.
“Bulan depan, empat bulanan,” ucap Arum yang jadi ingat, anak-anaknya yang saat bersama Angga, termasuk Aidan, tidak ada yang dislameti. Aidan saja baru kekah ketika ia dan Kalandra menikah.
“Bikin acara di rumah saja, kan? Coba nanti bahas sama Mamah!” ucap Kalandra kebablasan mencubit perut Arum.
__ADS_1
Arum refleks diam kemudian meringis. “Sakit, Mas!” rengeknya. Begitulah Kalandra, pada yang masih di perut saja segemas itu. Apalagi Aidan yang sudah sampai dianggap boneka hidup, diuwel-uwel setiap saat.
Kalandra langsung mengelus-elus perut Arum yang sampai ia tiupi. Mirip ketika ia hendak memakan makanan panas yang wajib ditiup-tiup dulu agar tidak terlalu panas ketika disantap.
“Apaan ih Mas Kala, makin enggak jelas!” lirih Arum geli pada tingkah suaminya yang kini mendadak meringkuk di pangkuannya sambil memandangi perutnya. Selama itu, sebelah tangan Kalandra sibuk menunjuk atau malah meraba perutnya.
“Kayaknya sih ini perempuan,” ucap Kalandra.
“Taruhan, yuk!” ucap Arum mendadak memiliki ide gila.
Kalandra langsung menyambutnya dengan senyum lepas. “Mau taruhan model apa? Taruhan sama istri sendiri ya ada pasal spesial. Pasal yang menegaskan, apa pun hasilnya, istri akan selalu menang.”
Mendengar itu, Arum tertawa bahagia. Karena bisa dipastikan, memang akan selalu begitu jika ia berurusan dengan Kalandra. Terbukti dalam hubungan mereka, memang Kalandra yang akan dengan siaga akan mengalah kepadanya. Walau di beberapa kesempatan, Kalandra juga akan sangat jail sekaligus manja layaknya sekarang.
“Terus, taruhannya jadi enggak?” tagih Kalandra yang masih kerap menguwel-uwel perut Arum.
“Jadi! Aku tebak, dan memang yakin, ini laki-laki!” sergah Arum masih mengeringkan rambutnya.
Kalandra yang langsung fokus menatap Arum kemudian berkata, “Dua berarti, ya?”
Kalandra mengangguk santai. “Bisa jadi ... bisa jadi!” hebohnya, membuat sang istri refleks mencubit gemas hidungnya.
“Kalau yang semacam itu biasanya wajib ada semacam keturunan, Mas. Ada kejadian keluarga yang ngalamin!” yakin Arum.
“Yaitu ... papah.”
“Papah? Memangnya Papah punya kembaran?” Arum langsung penasaran, mulai menerka-nerka.
Kalandra langsung tersenyum lepas. “Bibi Sinar! Mereka kembar tahu meski enggak mirip!” yakinnya.
“Tapi bohong?” tebak Arum yang sudah terlalu sering dijaili Kalandra.
Jawaban Arum membuat Kalandra yang masih senyum, menjadi gemas kepadanya. “Dibilangin sama suami enggak percayaan, ya!” Buru-buru ia duduk, kemudian menciuum gemas pipi Arum yang sampai ia gigitt.
__ADS_1
Arum yang syok dan sempat diam, refleks mencubit asal perut suaminya. “Kalau sampai krowak, dikira merek gawai sebelah, Mas!”
Kalandra langsung berpikir, dan sang istri meraih ponselnya kemudian menunjukan label apel krowak yang dimaksud. Ia tertawa karenanya. Kemudian, ia sengaja mengoreksi tebakannya. “Ada dua berarti yang di dalam!” Ia menatap sang istri penuh keyakinan di tengah jarak wajah mereka yang begitu dekat karena hidung mereka saja saling menyentuh.
Arum menahan senyumnya, membalas tatapan penuh arti dari sang suami. “Yakin dua?” Ia memastikan dan sang suami langsung mengangguk-angguk. Pria itu terlihat begitu yakin. “Soalnya ini kan, tebak-tebak berhadiah.”
“Tebak-tebak berhadiah?” ulang Kalandra.
Kali ini giliran Arum yang mengangguk-angguk ceria. Sambil tersipu, Arum yang masih membalas tatapan Kalandra berkata, “Hadiahnya anak, kan? Dan Mas malah bilangnya, sampai ada dua!”
Mendengar itu, hati seorang Kalandra langsung terenyuh. Pria itu menjadi ikut tersipu seiring bibirnya yang sudah langsung menempel di bibir sang istri, menorehkan ciumman manis.
Sebenarnya Kalandra ingin melakukan lebih, tapi ia mendadak mengkhawatirkan keadaan Arum yang sampai detik ini belum ada keluhan apa pun.
“Yang ngidam kan Mas.” Arum benar-benar santai, dan memang merasa tidak memiliki beban berarti.
“Ya maksudnya. Kamu ada keluhan apa?” balas Kalandra. “Kaki sakit apa gimana? Pusing, enggak enak badan, apa gimana? Ayo cerita, jangan ditahan-tahan!”
“Ya paling itu saja, sih, Mas,” balas Arum sambil menyisihkan handuknya pada meja ponsel Kalandra berada.
“Apa itu?” balas Kalandra serius.
“Mas kalau gigitt-gigitt ya jangan kebangetan. Kalau sampai krowak gimana?” balas Arum mengomel, tapi Kalandra malah tertawa.
“Aku memang gemes banget ke kamu. Ke Aidan. Kalian beneran bikin, Masya Alloh banget pokoke!” Kalandra masih menahan tawanya walau ia sudah membenamkan wajahnya di dada Arum.
“Jadi, ini Mas nebanknya ada dua, cewek sama cowok, ya?” lanjut Arum. Kalandra yang masih membenamkan wajah di dadanya, langsung mengangguk-angguk.
“Bener. Dua. cewek cowok!” yakin Kalandra sambil menatap sang istri.
“Berarti aku tebakannya juga ganti!” yakin Arum sambil tersenyum jail kepada Kalandra.
Kalandra mesem, “Wedi aku kalau kamu sudah begini!” ucapnya dan sang istri langsung tertawa kecil.
__ADS_1
“Aku tebaknya, ... mmm, perempuan!” ucap Arum.
Kalandra menggeleng tak habis pikir. “Lama-lama, aku beneran bisa jadi vampir kalau gini caranya!” ujarnya, tapi Arum malah makin sibuk cekikikan.