
Selepas shalat tarawih, ijab kabul Sekretaris Lim dan Widy, digelar di ruang tamu kediaman orang tua Kalandra. Acaranya sangat sederhana dan hanya menjadikan ketua RT, RW, dan juga pak Sana sebagai saksi, selain pihak keluarga Kalandra dan Arum, sebagai saksinya.
Di bawah pengawasan penghulu dalam formasi lengkap, Adi selaku kakak laki-laki Arum dan Widy, berperan sebagai wali. Sedangkan pak Haji yang baru datang setelah kata “SAH!” berkumandang dan semuanya kompak berucap alhamdullilah, mendadak terisak pedih kemudian melantunkan lagu Rungkad andalannya. Padahal, semuanya kompak membaca lafal setah akad dipimpin langsung oleh penghulu di sana.
“Rungkad, habis-habisan. Cintaku hanya kamu permainkan. Stop mencintaimu untung aku masih, gaaaanteng!” isak pak Haji yang malah menjadi sumber tawa di sana.
“Katanya si Mbah, pingsan?” tanya Arum yang ikut tertawa. Ia dan Kalandra, duduk di karpet lantai yang ada di sana menghadap Widy.
“Ya iya, Mbak. Tadi aku ngabarin Mas Kala, Mas Kala bilang enggak apa-apa, biarin saja, asal masih napas tandanya masih hidup!” balas Widy berbisik-bisik.
Mendengar itu, Arum yang makin terkikik, refleks menepuk gemas sebelah lengan Kalandra. Ada-ada saja memang tingkah suaminya yang lama-lama tak kalah ajaib dari pak Haji.
“Sini, Mbah. Kita ngobrol-ngobrol dulu sama pengantin baru!” ajak Kalandra sambil tetap duduk, sementara di luar sana, pak Haji masih berdiri di depan teras mirip orang tersesat.
“Emoh!” balas pak Haji yang maksudnya menolak. Ia malah memilih duduk sila di teras sambil menopang wajahnya menggunakan kedua tangan seiring tatapannya yang terus menatap pedih pengantin baru di depan sana.
Widy dan Sekretaris Lim kompak memakai nuansa putih. Sekretaris Lim memakai kemeja lengan panjang warna putih, sementara Widy memakai kebaya pengantin lengkap dengan jilbabnya. Di sana tidak ada anak-anak, dan hanya berisi orang dewasa dalam formasi lengkap. Sebab orang tua Resty juga turut berperan menjadi saksi.
“Mumpung penghulunya masih di sini, mau sekalian enggak?” tawar Kalandra masih meledek pak Haji.
__ADS_1
“Jandanya enggak ada,” balas pak Haji benar-benar lemas.
Semuanya kompak tertawa tanpa terkecuali Sekretaris Lim yang sudah dibisiki secara detail siapa itu yang mereka panggil pak Haji, oleh Widy. Iya, Widy, wanita yang kini telah resmi menjadi istrinya.
“Kan masih ada satu, Mbah. Mamak mertuaku! Apa mau sama mamahnya Angga?” tawar Kalandra masih sibuk menahan tawanya.
“Kamu yah, Pak Pengacara ... Durhaka banget ke mertua sendiri!” kesal pak Haji. Di depan sana, Kalandra buru-buru sungkem pada ibu Rusmini yang duduk persis di sebelah Arum, bersebelahan dengan kedua orang tua Resty.
Setelah acara di sana selesai, Sekretaris Lim langsung memboyong Widy dan ketiga anaknya ke hotel. Termasuk juga dengan pak Haji yang mengantar hingga depan pintu kamar hotel Sekretaris Lim dan Widy menginap.
“Allohuma janda, jangan pergi lama-lama, habis ini langsung cerai saja karena kamu jodoh saya,” lirih pak Haji lemas tak berdaya sambil bersandar pada pintu kamar hotel pengantin baru menginap.
“Saya mau di sini saja. Mau lihat, mereka keramas enggak?” yakin pak Haji tak mau pergi.
Petugas hotel yang menghampiri yaitu resepsionis, wanita muda berusia di tengah dua puluh tahun, dan seorang pria merupakan satpam berusia di pertengahan tiga puluh tahun, langsung menggeleng tak habis pikir. Namun demi keamanan bersama, keduanya khususnya sang satpam, sengaja membawa paksa pak Haji dari sana.
“Mas sakit?” tanya Widy tak lama setelah mereka selesai salat sepertiga malam. Salat sepertiga malam pertama mereka setelah resmi menjadi suami istri.
“Sejak operasi, aku memang jadi gampang sakit,” balas Sekretaris Lim masih membiarkan tangan kanannya disalami oleh sang istri dengan sangat takzim. Selain itu, Widy juga masih menatapnya dengan tatapan sangat khawatir.
__ADS_1
“Mungkin karena saat itu, Mas kurang peduli ke kesehatan Mas. Jadi ibaratnya, saat itu Mas masa bodo dan otomatis memang kurang kontrol. Coba besok kalau sudah sampai Jakarta, kita cek dan Mas juga wajib lebih serius berobatnya. Aku bilang begini karena dari pengamatanku, apalagi sebelum ini, Mas bilang sebenarnya Mas capek dan pengin, ... udahan.” Membahas pengakuan Sekretaris Lim yang pernah berkata lelah dan ingin mengakhiri hidup, Widy tak hanya merasa miris, tapi juga merasa sangat khawatir.
Melihat Widy yang kembali melow, Sekretaris Lim langsung mendekap tubuh kurus istrinya itu. “Iya, ... aku pasti akan baik-baik saja apalagi sekarang aku punya kalian.”
“Walau aku tahu koko tulus menyayangiku dan tentu saja aku tidak pernah benar-benar sendiri, semenjak memiliki kalian, rasanya benar-benar beda.”
“Iya. Mulai sekarang, Mas wajib lebih peduli ke diri Mas. Mas wajib lebih mencintai kehidupan Mas, apalagi segala kesuksesan bermula dari diri kita juga! Bagaimana mungkin kita mampu melindungi orang lain kalau kita sendiri saja sakit?” lirih Widy masih meringkuk dalam dekapan Sekretaris Lim. Tatapannya yang kosong perlahan menjadi basah.
“Iya, ... kamu juga jangan terlalu khawatir biar kamu tetap sehat dan bisa menjalani semua yang kamu mau,” balas Sekretaris Lim seiring dekapannya pada Widy yang makin erat. Bersamaan dengan itu, bibir berisinya juga menempel ke ubun-ubun Widy yang masih terbungkus mukena.
Di kamar mereka menginap, di belakang mereka menunaikan salat, ketiga anak Widy sudah lelap. Alasan yang akan membuat Sekretaris Lim merasa sedih bahkan miris di setiap pria itu teringat seperti apa sosok ayah dari ketiga wajah tak berdosa itu.
Agus, papah sekaligus suami tak tanggung jawab dan bisanya hanya memperburuk keadaan mereka. Pria yang akan melakukan segala cara agar bisa mendapatkan kemauannya, termasuk itu mengorbankan kehidupan Widy dan ketiga anaknya. Tentunya, fakta Agus yang mengancam akan melakukan pelece*han kepada Widy, yang juga masih menjadi trauma tersendiri untuk Widy, menjadi hal yang tidak akan pernah bisa Sekretaris Lim lupakan apalagi maafkan.
“Kita harus selalu sehat. Kita harus selalu bahagia!” lanjut Sekretaris Lim.
Adem, rasanya sungguh senyaman itu hanya karena ucapan Sekretaris Lim barusan sekaligus apa yang tengah mereka alami sekarang.
Dalam diamnya, Widy berniat berkaca pada Arum yang begitu memanjakan Kalandra. Ia akan memanjakan Sekretaris Lim, menemaninya, bersama-sama mengarungi kebahagiaan dalam rumah tangga mereka.
__ADS_1
Lantas, bagaimana nasib yang lain khususnya yang belum punya pasangan? Tentu, mereka juga berhak bahagia apalagi bagi mereka yang telah mau belajar dari masa lalu kemudian menjalani kehidupan dengan lebih baik lagi. Namun andai kalian berharap Septi dengan dokter Andri, tunggu Septi jadi langsing dulu. Biarkan keduanya sama-sama berproses.