
Mobil Kalandra sudah melewati pintu masuk setelah sebelumnya membayar karcis terlebih dahulu. Arum tampak menyiapkan Aidan yang sampai dipakai jaket termasuk kepala Aidan yang juga dilindungi topi hangat. Sebab biasa, angin di tepi pantai sana memang terbilang kencang termasuk ombaknya. Andaipun tidak, paling tidak untuk berjaga-jaga daripada Aidan masuk angin.
“Kamu juga pakai jaketku, Yang. Apa mau main air?” ujar Kalandra ketika baru memarkirkan mobilnya. Ia segera meraih jaket yang dimaksud, dari tempat duduk penumpang dan memang bersebelahan dengan ransel Aidan.
Kalandra langsung turun, membukakan pintu untuk Arum, kemudian membimbing wanitanya itu untuk keluar. Angin kencang langsung menyapa mereka, seperti yang Kalandra katakan, di beberapa kesempatan, angin di sana sungguh kencang dan ombak pun sedang besar. Itu juga yang menjadi alasan Kalandra bergegas memakaikan jaketnya kepada Arum.
“Bentar lagi pasti enggak sekencang ini. Kita lihat sunset,” sergah Kalandra ceria. Ia mengambil alih Aidan kemudian menggandeng sebelah tangan Arum, seperti kebersamaan yang sudah-sudah.
“Pas SMA aku nyaris ke sini tiap hari, Yang!” cerita Kalandra sambil menuntun Arum menuju tepi pantai.
“Ngapain gitu, Mas? Jangan-jangan, Mas enggak sealim yang aku duga,” jujur Arum yang kemudian menahan tawanya. Kalandra tak menjawab dan tampaknya tidak bisa menjawab. Malahan pria itu sibuk menahan tawa.
Pengunjung pantai terbilang ramai. Namun dari semua wajah di sana, belum ada satu pun wajah orang asing yang arum jumpai.
“Efek covid bikin bule enggak ke sini, ya?” tanya Arum sambil mengamati situasi sekitar.
“Bulenya lagi sama pakle, nanti juga ketemu. Tuh lihat yang di perahu!” balas Kalandra yang kemudian berseru menjadikan perahu yang mendekat sebagai fokus pandangannya.
Mereka sudah ada di depan pantai, tapi memang belum turun dan sengaja mengamati suasana sekitar dari sana. Beberapa pedagang yang wara-wari keliling sudah menghampiri mereka, tapu belum ada satu pun yang menarik minat mereka.
“Ini kok pasirnya hitam, yah, Mas?” tanya Arum. Kalandra baru saja kembali menuntunnya, terus begitu seolah pria itu takut ia hilang. Semacam kalau memang tidak benar-benar tersesat, ia malah diambil orang.
“Jangan rasis, Yang. Itu pasir, loh! Kalau mereka sampai bisa ngomong apalagi teriak-teriak, berisik banget suasana di sini,” balas Kalandra.
__ADS_1
Arum kembali menahan tawanya kemudian memu-kul pelan bahu Kalandra, walau setelah itu ia sengaja mendekap tangan Kalandra yang menggandengnya. “Ya maksudnya, Mas. Yang aku tahu kan di sini ada pasir putih juga.”
“Iya memang ada. Tuh yang ada pasir putihnya di sebelah sana. Kamu mau ke sana? Kalau iya, ayo, kita naik perahu saja biar cepat!” sergah Kalandra bersemangat.
“Aku enggak bisa renang, Mas,” balas Arum ragu.
“Kita naik perahu, Yang. Kan tadi aku bilangnya naik perahu,” balas Kalandra.
“Masalahnya ombaknya saja segede itu. Lihat tuh, gonjang ganjing begitu, ngeri! Tunggu ombaknya lebih tenang dikit kalau gitu, Mas.”
“Ya sudah kalau gitu, kita main di sini dulu.” Kalandra bersemangat. “Mas ayo kamu turun, main pasir! Sekalian kenalan sama air di pantai sini!”
Melihat keantusiasan Kalandra maupun Aidan yang juga sangat dekat, Arum menjadi nelangsa karena biar bagaimanapun, harusnya itu Angga. Harusnya Angga yang ada di posisi Kalandra.
Kalandra menurunkan Aidan, membiarkan bocah itu duduk bahkan merangkak di pasir basah. Kalandra begitu heboh melihat setiap interaksi Aidan yang awalnya kebingungan sekaligus ragu, tapi lama-lama malah menjadikan pasir-pasir di sekitarnya masker sekaligus lulur.
“Biarin, Yang ... biarin! Yang penting enggak kena mata apalagi kemakan. Berani kotor kan baik, paling nanti repotnya pas bersihin. Tapi enggak apa-apa sih, enggak tiap hari juga,” ucap Kalandra begitu antusias. Kedua tangannya masih dengan sangat cekatan mengabadikan setiap momen Aidan maupun Arum.
“Jangan foto-foto aku terus nanti kamera Mas kebakar!” keluh Arum menjadi gugup karena terus difoto oleh Kalandra.
Kalandra tertawa sembari memandangi layar ponselnya. “Eh bener loh, Yang. Di foto kamu berkilau banget!”
“Berarti aslinya enggak berkilau, begitu?!” sergah Arum antara kesal tapi juga ingin tertawa apalagi calon suaminya menjadi tidak bisa berhenti tertawa. Namun beberapa saat kemudian, pria itu menghampirinya, merangkulnya dari samping kemudian sama-sama menjadikan Aidan sebagai pusat perhatian mereka.
__ADS_1
Dering tanda pesan masuk yang terbilang berisik dari ponsel Kalandra yang ada di saku sisi celana panjang bahan warna hitam pria itu mengusik Arum.
“Aku sudah blokir nomor Ririn, sumpah! Aku juga sudah pasrahin semuanya ke suaminya!” ucap Kalandra ketika tatapan curiga Arum seolah mencakar kedua matanya. “Paling mereka lagi ngomentarin status WA aku soalnya tadi aku pasang foto kamu sama Aidan yang lagi main pasir!” lanjut Kalandra sembari tersenyum tak berdosa. Arum yang hanya diam malah mencubit gemas hidungnya.
“Nanti kalau suami Ririn sampai macam-macam ke Mas, aku yang maju! Biar bagaimanapun kan, suami sangat andil sama kelakuan istri!” ucap Arum.
Kalandra tersenyum damai memandangi wajah Arum di tengah wajah mereka yang memang sangat dekat. Arum pikir, Kalandra hanya semacam akan menci-um keningnya. Namun nyatanya pria itu malah menci-um bibirnya. Arum langsung membeku. Tak semata karena ini menjadi yang pertama untuk mereka, melainkan kenapa Kalandra sampai melakukannya di tempat umum?
Arum merasa sangat bersyukur karena ciu-man bibir Kalandra tak berlangsung lama walau bibir pria itu juga malah menempel sangat lama di keningnya. Arum sungguh langsung melempem, mirip hewan li-ar yang langsung jinak karena pawangnya.
“Besok mau bulan madu ke mana? Aku nunggu jawaban kamu dari zamannya Roro Jonggrang jadi batu, sampai sekarang, kok ya belum dapat kejelasan,” ujar Kalandra yang kemudian mendekap erat tubuh Arum dari samping belakang. Mereka masih jongkok dan menjadikan Aidan sebagai pusat perhatian.
Arum menelan ludahnya, menghela napas pelan dan memang mencoba meredam kegugupannya. “Gimana aku mau jawab, kalau aku saja jadi Roro Jonggrang, Mas! Aku jadi batu, mana mungkin aku bisa jawab!” Arum mengakhiri ucapannya sambil menahan tawanya.
Kalandra yang menjadi ikut menahan tawa, menjadi menggeleng tak habis pikir. “Ombaknya mulai tenang, bentar lagi kita naik perahu, ya? Kamu belum pernah naik perahu, kan?”
Tanpa menatap Kalandra dan hanya sesekali meliriknya, Arum berkata, “Ya belum pernah, Mas. Aku kan anak rumahan yang memang enggak pernah ke mana-mana. Paling ke kota dan ke luar negeri, itu saja buat kerja. Lain sama Mas yang dari SMA sudah rutin ke sini, berasa minum obat sampai rutin gitu!” Tentu Arum sengaja menyindir, sementara yang disindir langsung sibuk menahan tawa.
“Mas merasa kepegang kartu As-nya, ya, makanya enggak bisa jawab?” tanya Arum memastikan. Ia menatap Kalandra sambil menahan senyumnya.
“Aku ke sininya rame-rame sama temen, kok, Yang!” balas Kalandra.
Arum menggeleng kemudian menyudahi tatapannya. “Sudah enggak usah dibahas. Biasanya masa lalu yang begitu enggak hanya bikin cemburu, soalnya. Malah bisa jadi se-taan!” Arum menahan tawanya dan memang tak mau tahu, takut malah menjadi cemburu. Karena jika sudah seperti itu, yang ada ia akan menghabiskan waktunya untuk berpikir yang tidak-tidak dan itu sangat tidak baik untuknya maupun hubungannya dengan Kalandra.
__ADS_1