
Melakukan segala sesuatunya dengan buru-buru, Widy yang baru berdiri di depan cermin rias berukuran kecil, refleks membeku. Di cermin rias yang tergantung di paku dan menancap di kusen, wanita itu mendapati wajah kirnya yang masih dihiasi bekas kecelakaan akibat tertabrak dokter Andri. Bekas yang memang masih terlihat mencolok jika ia tidak menutupnya dengan alas bedak layaknya biasa. Namun ketimbang bekas itu, ada bekas yang lebih menyakitkan dan itu hinaan dari mamahnya dokter Andri.
“Wanita seperti kamu dan kakak perempuan kamu, kalian ibarat parasit yang cuma mau numpang hidup! Kalian sengaja mendekati pria kaya untuk bisa numpang hidup enak! Dikiranya saya sebodoh ibu Kalsum dan pak Sana yang akan terpana oleh kisah hidup melow kalian?”
“Hanya mengandalkan cantik dan keuletan, rajin terus pintar masak? Pembantu saja banyak! Tinggal bayar, mereka pasti kasih yang terbaik!”
“Jadi sekarang kamu tahu, kan? Jangan karena anak dan cucu saya baik ke kamu dan anak-anak kamu, kamu jadi bermimpi mengikuti jejak kakak perempuanmu yang menikahi Kalandra! Jangan mimpi!”
“Kalau mau hidup ya kerja, jangan jadi parasit di kehidupan orang!”
“Lagian, kecelakaannya kan sudah selesai. Semuanya sudah diganti, ngapain masih berusaha mendekati kalau kamu memang enggak ada niat jahat ke kami!”
Kini, Widy menghela napas pelan sekaligus dalam hanya karena teringat semua itu. Andai ia menceritakan semuanya secara gamblang kepada Arum, Kalandra, atau malah dokter Andri, pasti ceritanya sudah jadi lain. Namun, Widy tetap merasa puas karena kemarin ia tetap membalas.
“Jika menurut Ibu, saya sehina itu, kenapa Ibu begitu takut saya lebih baik daripada Ibu?”
“Bagaimanapun saya di mata Ibu, Ibu enggak usah mengkhawatirkan saya karena saya orang sibuk yang enggak punya waktu buat bikin susah hidup orang lain. Permisi!”
Kini, Widy menghapus air matanya yang seketika terjatuh membasahi pipi bahkan bekas lukanya. Pedih, rasanya jauh lebih sakit dari luka kecelakaan yang ia dapatkan. Andai tahu kejadiannya seperti sekarang, walau niat dokter Andri baik dan itu untuk bertanggung jawab. Walau dokter Andri juga orang yang sangat baik dan pria itu bermaksud tanggung jawab, juga kenyataan dokter Andri yang merupakan sahabat Kalandra, tentu Widy tidak akan pernah membuka pintu untuk sekadar mengenal pria itu.
“Sehina itu aku di mata mereka!” kesal Widy, tapi ia tak lantas menjadi wanita lemah. Ia sengaja mempercantik diri, menjaga penampilan kemudian kembali melanjutkan pekerjaan demi bisa memberikan kehidupan layak untuk ketiga anaknya. Sebab dari pertemuan kemarin, ia yang diam-diam mengawasi cara ibu Muji memperhatikan anak-anaknya. Dari tatapan mamah dokter Andri kemarin, ia bisa merasakan anak-anaknya sudah langsung ditatap hina hanya karen menjadi bagian dari hidupnya. Hidup sorang janda banyak anak yang dikira sengaja mengikat pria kaya hanya untuk hidup enak.
__ADS_1
“Merawat diri, sukses, bahagia bareng anak-anak, dah lah!” batin Widy yang kemudian pamit kepada ketiga anaknya yang sedang asyik main aneka mainan dan beberapa diantaranya pemberian dari dokter Andri maupun Arum dan Kalandra.
Widy sempat ingin mengembalikan semua pemberian dari dokter Andri. Baik itu mainan untuk anak-anaknya, maupun obat yang ia terima. Namun Widy yakin, itu malah akan menjadi alasan mereka memiliki hubungan lagi. Karenanya, Widy sengaja menutup kisah mereka dengan diam.
Sepulang mengajar setelah mengambil waktu untuk istirahat, Widy sengaja memboyong ketiga anaknya maupun sang mamak ke makam untuk nyekar unggahan bulan ramadhan. Ternyata sudah ada bekas yang lebih dulu nyekar dari mereka dan itu mereka yakini pihak dari Arum lantaran kakak laki-laki mereka juga baru datang tak lama setelah Widy tiba di makam bapak mereka.
“Pagi tadi Mbak sudah titip ke Mas Kala, Dy. Mbak kan memang lagi enggak bisa langsung, jadi Mbak minta ke Mas Kala buat sekalian nyekar. Ke makam anak-anak Mbak juga udah sekalian. Ini berarti kamu baru nyekar?” Dari seberang, suar Arum terdengar mendengar letih.
“Iya, Mbak. Ini lagi kumpul semua, sama Mas juga. Kalau begitu ya sudah yah Mbak, takut Mbak lagi sibuk juga,” jawab Widy mencoba mengakhiri sambungan telepon mereka.
“Iya, iya ... ini si Azzura pinter banget ngereyog terus. Oh, iya ... nanti kalau ke rumah makan buat ambil pesanan, kamu mampir sini, ya.”
“Memangnya ada apa, Mbak?”
“Lah, jangan repot-repot, enggak enak dikasih terus ih, Mbak! Nanti yang enggak suka, tambah stres lihatnya!”
“Sudah jangan pikirin orang lain. Kalau mereka masih sibuk urusin hidup kita, sekalian minta mereka buat nafkahin kita!”
Balasan Arum tersebut langsung membuat Widy mesem. “Ya sudah, Mbak. Nanti aku mampir. Habis dari sini aku juga mau langsung keliling antar orderan sekalian mau belanja buat orderan. Alhamdullilah, sampai subuh besok kayaknya masih banyak harus diurus. Mau sekalian mulai siap-siap urus orderan kue lebaran juga.”
“Oh iya, kue lebaran. Mbak sekalian order dong!” sergah Arum.
__ADS_1
“Ah taiii, kamu Mbak! Meledek kok dalem banget! Masa iya kamu order ke aku? Keluarga suami kamu mana doyan!” kesalnya tapi malah dibalas tawa oleh Arum.
“Intinya kan ada harga, ada barang, kan? Nanti dicarikan yang berkualitas tinggi lah. Kamu belanja di swalayan sebelah, terus susunnya di rumah sini biar enggak repot angkutnya dan meminim kerusakan juga. Kalau bisnis yang pinter dong, Dy. Kamu masa iya, mau nolak rezeki?”
Kali ini, Widy langsung tersenyum ceria. “Mbak ordernya yang banyak, ya? Semua keluarganya Mas Kala dipunjung(dikirimi bingkisan) biar mereka tahu, istrinya Kalandra tahu tata krama. Hahaha!”
“Ya sudah, nanti Mbak data dulu, nanti Mbak serahin ke kamu karena Mbak memang enggak ada waktu buat urus kan. Belum ini urus akikah si kembar.”
“Siap, Mbak. Ya sudah, hati-hati. Salam buat yang di sana.” Satu hal yang Widy petik dari saran Arum. Biarkan mereka yang sirik kepadamu, makin sakit karena kesuksesan sekaligus kebahagiaanmu!
Satu jam kemudian, Widy yang diutus Arum untuk membeli beberapa keperluan rumah wanita itu, sengaja ke ATM yang di bank lantaran tarik tunai di tempat biasa Widy mengambil, sangat antre. Otomatis, Widy melihat si Fajar pongah yang masih ada di balik meja teller. Namun, ada yang mengusik Widy dan itu adanya seorang wariyem yang sampai membawa selembar poster dan poster itu berisi foto Fajar! Dalam foto tersebut, Fajar memakai masker tengah duduk di balik meja teller.
“Si cantik ini siapa? Gebetan baru Mas Fajar? Lucu banget!” batin Widy yang juga mendapati Septi baru turun dari motor. Septi membawa dua kantong keresek hitam besar dan membawanya menepi ke teras bank.
“Wah, Sep? Itu apa?” tanya Honey yang langsung kepo.
“Onderdil alias daleman! Ini nanti titip ke si Fajar cinta masa depan sekaligus cinta picek kamu, ya. Bilang itu dari aku, dia pasti tahu!” balas Septi yang seketika dadah manja kepada Honey yang juga balas dengan gaya gemulai nan manja.
Pandangan tersebut sungguh menghibur Widy. Widy sengaja memfotonya kemudian mengirimkannya kepada Fajar lewat WA.
Widy : Para selir si Pongah! Cocok!
__ADS_1
Menulis itu, Widy makin merasa puas lantaran pesan yang ia kirimkan itu langsung dihiasi dua centang biru.