
“Yang ... buat yang tadi itu, yang kamu nyaranin Agus buat nge-pet, ... jujur, aku enggak sepenuhnya setuju,” ucap Kalandra ketika akhirnya mereka sampai di tempat parkir bagian depan rumah sakit. Ia baru saja mematikan mesin mobilnya.
Arum yang jujur saja merasa sangat lelah karena setengah hari ini sibuk marah-marah, menatap bingung Kalandra. “Itu ... Ya ampun Mas, itu kan hanya perumpamaan. Yang namanya marah kan mulut pasti asal ngomong juga, apalagi yang dimarahi sekelas Agus.”
Kalandra tertawa kecil kemudian menatap Arum sambil menarik kunci mobilnya. “Kalau Agus dan Widy beneran nge-pet, gimana?”
Mendengar itu, Arum langsung syok. “Ya ampun,” ucapnya yang juga sampai sesak napas saking tak habis pikirnya andai apa yang Kalandra khawatirkan, benar-benar terjadi. “Andai itu sampai terjadi, aku sirep, aku matiin lilinnya biar pas beraksi, ketangkep tuh si Agusnya. Heran, masa iya beneran mau nge-pet!”
Berbeda dengan Arum, Kalandra justru makin asyik tertawa. “Aku ya greget, tapi ya ... ya lucu juga. Kamunya kalau lagi marah malah nyerocosnya jadi lawak.” Kalandra mengangguk-angguk. “Tapi syukurlah, Agus sudah pergi. Moga setelah ini, Widy sama mamak bisa hidup lebih baik lagi.”
“Gimana sih yah, Mas. Mau gimanapun, mereka kan keluargaku. Sekesel apa pun, aku beneran kurang greget kalau belum bikin mereka sadar. Enggak apa-apa aku keluar banyak uang, enggak apa-apa modal buat buka rumah makan malah habis buat urusin meraka. Daripada uang itu buat modal nikah si Angga sama Septi dulu, kan? Ya mending buat modal adik sama mamakku biar mereka mikir. Semoga setelah ini, mereka beneran bisa lebih baik.” Arum menghela napas berat sambil tertunduk pasrah. “Intinya kan, selagi bisa diselamatkan, enggak apa-apa ibaratnya sekarang rugi bandar, yang penting ke depannya mereka enggak jadi parasit lagi. Daripada nasib mereka enggak beda dengan keluarga si Angga. Ibaratnya, apa yang aku bisa lakukan buat menyelamatkan mereka, dan mereka pun mau berubah, pasti aku lakukan.”
“Mumpung aku belum nikah, dan mumpung aku masih bisa kerja, insyaAlloh rezeki pasti selalu ada. Biar adik sama mamakku juga mandiri. Aku beneran ingin mereka mandiri dengan caraku, biar aku juga bisa tenang. Aku enggak mau ngikutin cara Angga yang beneran sudah bikin semuanya hancur. Sekarang, aku juga enggak akan diem seperti dulu karena enggak semua orang, termasuk keluargaku mikir, diemnya aku ini ibarat karena aku enggak suka dengan cara mereka.”
Kalandra yang menyimak, berangsur mengangguk-angguk. “Ke depannya, ... aku enggak akan menempati rumahku dan Bilqis lagi,” ucapnya.
Mendengar nama Bilqis disebut, Arum langsung gugup. “Itu sih terserah Mas. Gimana nyamannya Mas. Aku yakin Mas akan melakukan yang terbaik.”
Tentu Kalandra tidak lupa, tanpa bujuk rayu Arum agar ia mengikhlaskan Bilqis, bisa jadi sampai detik ini, Kalandra masih yakin istri pertamanya itu masih hidup.
“Rumah itu terbilang strategis. Menurut kamu, mending dijual buat modal rumah makan kamu, ... apa kamu mau bikin rumah makan di situ saja?” ucap Kalandra. Di hadapannya, Arum langsung ia pergoki panik. Arum mengerjap beberapa kali sambil menghela napas cepat.
__ADS_1
“M-mas, ih!” keluh Arum.
“Kalau rumah makannya di situ, posisinya masih sangat dekat dengan rumah orang tuaku. Nantinya setelah menikah, kita tinggal di rumah orang tuaku biar orang tuaku enggak kesepian. Apalagi kalian kan sama-sama sudah kenal. Sudah dekat malahan. Mamah sama bapakku pun mau bantu-bantu. Mengenai stok peternakan, sudah mulai disediakan.”
“M-mas, ih ....”
“Gimana sih, yah, ngomongnya? Gini loh, ... mau nikah sama kamu saja, aku sudah dapat banyak fitnah sana-sini. Aku dibilang main du-kun gara-gara Mas mau nikahin aku,” ucap Arum yang terpaksa jujur. “Apa kabar kalau aku sampai pakai rumah Mas dan mbak Bilqis buat rumah makan? Aku mau nunggu saja, ngumpulin modal sendiri. Pasti bisa.”
“Iya, aku percaya kamu bisa, tapi apa salahnya kalau aku juga bantu? Lagian, rumah itu sepenuhnya uang aku sama orang tua aku, walau awalnya memang niatnya untuk aku dan Bilqis. Namun karena sekarang Bilqis sudah enggak ada dan yang Bilqis butuhkan pun bukan rumah itu, melainkan doa terbaik kita, apa salahnya? Bahkan aku yakin, Bilqis pasti juga seneng lihat kita. Dia pasti senang banget karena wanita seperti kamu yang aku pilih.” Kalandra meyakinkan. “Terus yang fitnah-fitnah itu, ... paling ya sekelas Septi dan keluarganya, kan? Heran ya, mereka terkenal dengan keluarga paham agama. Mereka sudah haji dan terbiasa umroh. Jangan-jangan, mereka hajinya enggak mabur (mabrur) tapi malah ngesot!”
“Haji ngesot?” batin Arum yang sudah cekikikan. “Mohon maap, Mas ... itu maksud haji ngesot kayak apa?” ucapnya sengaja bertanya sekaligus bercanda.
“Ya kayak Septi dan keluarganya. Menjadikan agama sebagai kedok buat kepentingan pribadi dan dampaknya kena semua.” Setelah Kalandra menjadi mengomel, ia kembali meminta Arum buat berpikir. Menjual rumah pribadinya untuk modal membangun rumah makan, atau langsung menjadikannya sebagai rumah makan.
Kalandra menggeleng pelan sambil menatap Arum penuh keyakinan. “Enggak gitu, Yang. Orang tuaku beneran enggak gitu dan kamu pun sudah tahu, kan?”
Arum mengangguk-angguk. “Iya, Mas. Orang tua Mas beneran baik banget, ... Mereka beneran baik banget kayak Mas. Maksudku, biar sama-sama enak, untuk soal rumah Mas itu, kita bahasnya sambil duduk bareng. Diobrolin gimana baiknya.”
“Tapi kamu mau, kan?” todong Kalandra memastikan, memperlakukan Arum penuh keseriusan.
Arum langsung diam dan sampai lupa bernapas untuk beberapa saat. Sebab seperti yang baru saja ia katakan, kepastian yang Kalandra minta sekarang sangat sensitif. “Kalau Mas dan orang tua Mas mendukung, aku mau!” Karena Arum tidak mau, hubungannya dan Kalandra maupun orang tua Kalandra yang sudah sangat baik, menjadi kurang baik bahkan fatalnya ru-sak, gara-gara perkara rumah.
__ADS_1
Kalandra mengangguk-angguk. “Orang tuaku pasti dukung. Aku lebih-lebih. Soalnya kalau harus nunggu kamu ngumpulin modal,” ucapnya yang langsung ditahan oleh Arum.
“Enggak apa-apa, Mas, lama. Yang penting semuanya baik-baik saja,” yakin Arum.
“Bukan gitu. Aku lihat kamu saja sudah capek banget. Kamu urus semuanya. Lepas dari keluarga Angga, kamu juga urus habis-habisan keluarga kamu. Ya materi ya emosi, ... ini beneran menguras tenaga sama pikiran kamu, dan aku enggak mau ini terus berlanjut. Ke depannya pun, aku akan tetap bantu urus keluarga kamu, walau caraku mungkin akan tetap keras. Karena enggak beda dengan kamu, aku juga ingin, keluarga kamu mandiri. Aku ingin, keluarga kamu juga sukses atau minimalnya, mereka bisa hidup layak dan amit-amit jangan sampai kayak keluarga Angga!” yakin Kalandra. Arum yang langsung diam kemudian menunduk, ia pergoki menangis.
“Jangan nangis ....” Kalandra menyapu setiap air mata Arum menggunakan kedua jemarinya.
Arum tetap menunduk sambil mengangguk-angguk. “Terima kasih banyak, Mas!”
“Jangan terima kasih terus lah ya ... kamu sudah terlalu sering terima kasih,” ucap Kalandra yang malah mencubit gemas kedua pipi Arum.
“Kira-kira ih, Mas. Ini KDRT namanya,” protes Arum sambil menahan tawanya.
Kalandra ikut tertawa disusul Aidan yang merengek karena kaget dan terbangun. Namun, mereka buru-buru menunduk lantaran di depan sana ada pak Haji yang keluar dari area kantin. Pak Haji menuju motornya kemudian pergi dari sana.
“Tuh Almarhum masih hidup? Dia enggak ada kapoknya, ya?” keluh Kalandra. “Aku yakin, alasan dia ke sini karena dia nyariin kamu!”
Sempat kesal juga dengan kehadiran pak Haji di sana, tapi ucapan Kalandra kepada pak Haji malah membuat Arum sibuk menahan tawa. “Ya sudah Mas, aku urus dapurku dulu.”
“Ya sudah, ... aku ikut jaga-jaga di sana.” Kalandra buru-buru turun. Memutari mobil bagian depan kemudian membukakan pintu untuk Arum. Sampai sekarang, Arum masih sibuk menahan tawa dan wanita itu berdalih akibat almarhum pak Haji yang masih berkeliaran dan memang belum meninggal.
__ADS_1
***