
“Nikahi dia, Lim!” tegas Tuan Maheza lirih, tapi sangat serius.
“Hah ...?” Sekretaris Lim kebingungan menatap sang kakak. Muntaber yang ia alami saja baru mendingan, eh sekarang mendadak disuruh untuk menikahi anak orang yang bahkan belum ia kenal karena mereka memang baru bertemu.
“Nikahi Widy adiknya istrinya pak Kalandra!” lirih Tuan Maheza masih menuntut.
“Apaan, sih, Ko?” Sekretaris Lim sampai bergidik. Kemudian ia yang masih menatap sang kakak, sengaja buru-buru menggeleng.
Kenyataan kini terjadi lantaran orang tua Resty yang Aleya ajak hijrah ke Jakarta, agar wanita yang tubuhnya ditempati oleh arwah Resty itu bisa merawat orang tuanya dengan leluasa, malah menolak. Orang tua Resty hanya mau pergi ke Jakarta jika mereka perginya bersama Arum atau Widy. Hingga kini, kedua manusia renta itu malah menjadi menangis ketakutan memeluk Widy secara bersamaan. (Baca novel : Pembalasan Istri yang Terbunuh (SUAMIKU SIMPANAN ISTRI BOS)
Hubungan Arum dan Widy dengan orang tua Resty memang sangat dekat. Malahan semenjak Resty terbunuh oleh Tomi suaminya, Arum dan Widy bahu-membahu mengurus orang tua Resty, terlebih orang tua Resty tak memiliki sanak saudara. Alasan itu juga yang menjadi alasan kuat Tuan Maheza meminta sang adik untuk menikahi Widy karena tak mungkin juga, ia malah menyuruh sang adik menikahi Arum yang jelas-jelas merupakan istri Kalandra.
Aleya yang dikendalikan arwah Resty sudah gemetaran menahan tangis berikut kesedihan lantaran kedua orang tuanya tak mengenalinya. Sepasang renta itu terus memeluk Resty, tak mau dipisahkan dan takut, di Jakarta mereka akan bertemu orang jahat.
“Andai Widy memang mau menikah sama adiknya pak Maheza malah lebih bagus, sih. Apalagi, pak Maheza sanggup membuat adiknya menjadi suami yang baik untuk Widy. Pak Maheza juga menjamin masa depan anak-anak Widy. Termasuk mamak pun sampai akan ikut diboyong asal Widy mau ikut ke Jakarta buat bantu tuan Maheza urus orang tua Resty. Ini urusnya ya pelan-pelan bakalan diambil alih oleh ibu Aleya.” Kalandra menceritakan kejadian di rumah orang tua Resty, dengan sangat hati-hati kepada sang istri. Tak beda dengannya, Arum yang memang tidak ikut ke rumah orang tua Restu, langsung syok dan perlahan terlihat lemas.
“Loh ...?” Saking bingungnya, Arum yang duduk di bibir tempat tidur menjadi tak bisa berkata-kata. Ia membiarkan sang suami yang duduk di sebelahnya, menggenggam hangat kedua tangannya.
“Tadi, Pak Maheza melamar Widy ke aku,” lanjut Kalandra.
“Wah ... terus si Widy gimana, Pah? Pasti dia syok banget!” balas Arum yakin.
Kalandra mengangguk-angguk. “Widy enggak mau. Tapi dia kasih saran, agar pak Maheza dan ibu Aleya lebih bersabar dalam melakukan pendekatan ke orang tua Resty. Jadi, kan sekarang pak Maheza dan rombongan menginap di hotel terdekat. Mereka bermaksud menjalani pendekatan dengan orang tua Resty.”
“Duh, ... aku jadi bingung, Pah,” lirih Arum yang berangsur menunduk. Perlahan, ia menarik kedua tangannya untuk memijat kepalanya yang mendadak terasa sangat pusing. Kepalanya mendadak nyaris retak.
__ADS_1
“Yang dokter Andri saja baru beres dan sisanya pun masih bikin Widy trauma, eh ini ...,” lirih Arum lagi.
Membahas dokter Andri, Kalandra baru ingat. “Yang! Pak Haji!”
“Hah? Pak Haji? Oh, iya ... dia gimana? Papah belum cerita tentang pak Haji. Tadi dia sakit mata, kan?” balas Arum.
“Nah itu ... aku lupa kalau dia ada di sana juga. Soalnya kan tadi aku sempat debat sama ibu Muji, kan? Bentar deh, aku telepon Andri!” sergah Kalandra yang buru-buru mengeluarkan ponsel. “Anak-anak sudah tidur semua, takut berisik aku telepon di kamar mandi saja.” Kalandra buru-buru masuk.
Yang langsung Arum lakukan adalah mengirimi Widy, pesan WA.
Mbak Arum : Dy, Mbak sudah dengar dari Mas Kala. Kamu gimana?
Widy : Lah ... orangnya saja enggak mau sama aku dan kami pun memang enggak kenal Mbak. Lucu banget ini. Kayak zaman dulu asal nikah saja.
Di kamar, Widy yang baru beres mandi langsung mendengkus sebal hanya karena balasan pesan WA barusan.
Widy : Enggak ah, Mbak. Aku enggak mau nikah lagi. Aku mau seperti sekarang saja. Fokus kerja sama urus anak-anak.
Beres mengirim pesan, Widy langsung menghela napas. Jujur, Widy masih terlalu syok dengan lamaran spontan yang ia dapatkan dari Tuan Maheza. Baru bertemu sudah langsung dilamar.
“Yang sekelas dokter Andri saja, mamahnya segarang itu. Eh ini yang levelnya sudah jutawan atau malah miliader!” pikir Widy yang buru-buru tidur di sebelah ketiga anaknya. Hari ini ia terlalu lelah. Lelah fisik sekaligus tenaga, membuatnya tak sanggup lanjut kerja dan memutuskan untuk tidur saja.
Di klinik dokter Andri, pak Haji yang awalnya tidur di ranjang pemeriksaan, dibangunkan oleh Dokter Andri. “Mbah, sekarang Mbah pulang diantar pakai ambulans klinik, ya.”
“Eh, Dok. Saya kan belum mati, masa diantar pakai ambulans?” protes pak Haji.
__ADS_1
“Lah, memangnya sejak kapan mobil ambulans hanya untuk orang meninggal, Mbah?” balas dokter Andri yang masih sabar menjaga pak Haji, walau kini sudah hampir pukul sepuluh malam.
“Masalahnya kalau di tempat saya, mobil ambulans apalagi kalau sampai sirinenya dibunyiin lulalit-lulalit, itu tandanya yang dibawa mobilnya meninggal, Dok!” yakin pak Haji masih ngeyel.
Dokter Andri menghela napas dalam. “Ya sudah nanti jangan dibunyiin sirinenya.”
Pak Haji yang sudah berhasil duduk dan itu pun berkat bantuan dokter Andri, berangsur menggeleng tegas. “Ah, enggak ... enggak. Antar saya pakai mobil bagus saja. Terus, ini berarti si Kalandra kurang ajar, orang tua kok ditinggal!”
“Tadi Kalandra banyak urusan, jadi sampai lupa, Mbah. Sekarang begini saja, saya yang antar Mbah pakai mobil saya, terus itu kacamata untuk sementara dipakai dulu biar Mbah bisa lihat lebih jelas, ya!” dokter Andri masih menjelaskan dengan sangat sabar.
“Tapi kalau cuma pakai kacamata, penglihatan saya tetap terbatas, ya, Dok?” lanjut pak Haji masih bawel.
“Iya, Mbah. Makanya, saya sarankan agar Mbah menjalani penanganan intensif untuk mata Mbah.”
“Lah, kalau gitu caranya ya saya terancam enggak bisa lihat janda cantik lagi!”
Mendengar itu, dokter Andri langsung mesem. “Paling kalau Mbah memang mau, nanti saya kasih surat rujukan buat penanganan lebih cepatnya.”
“Nah iya, kayak gitu saja. Lebih cepat lebih baik agar saya tetap bisa lihat janda cantik. Nanti kalau biayanya kurang, jual istri yang ada saja. Atau, jual dagingnya Septi buat dijadiin rendang lebaran harusnya sih laku empuk gitu!”
Setelah mengoceh panjang lebar, Pak Haji sengaja menanyakan kabar hubungan dokter Andri dengan Widy. Namun, detik itu juga dokter Andri langsung diam.
“Kandas pasti ini. Alhamdullilah kalau gitu. Saingan berat sudah enggak ada! Alhamdullilah ya Alloh, akhirnya dek Widy sadar kalau Hamba satu-satunya pria yang bisa memuliakannya,” ucap pak Haji sampai sujud syukur tak lama setelah ia turun dan diantar sampai depan gerbang rumahnya.
“Kok kalau dipikir-pikir, enakan jadi pak Haji, ya? Banyak istri pun, dia masih bebas berekspresi. Lah aku? Dari dulu, apa-apa wajib nurut!” batin dokter Andri yang langsung pamit pulang setelah salah satu istri pak Haji yang kiranya sebaya Arum, membukakan pintu untuk pria tua itu.
__ADS_1