
“Habis ijab kabul, tinggal tarik amplop sama kado! Mana-mana!” ucap pak Haji semringah walau ketika ia menoleh sekaligus menatap ibu Fatimah, ia langsung kalem mirip manusia tak berdosa.
Satu persatu dari saksi sekaligus undangan berdiri, saling bantu dengan pasangan satu sama lain.
Orang pertama yang menyalami pak Haji dan ibu Fatimah adalah Angga dan ibu Sumini. Angga memberikan amplop tebal.
“Isinya dua ribuan, makanya tebal!” ucap Angga sengaja bercanda karena nuansa kebersamaan mereka apalagi jika dalam formasi lengkap, memang identik dengan bercanda.
“Alhamdullilah, bisa buat bayar parkir apalagi di era nuansa lebaran begini, sana sini dijaga. Dan kalau mau tempat buat parkir, suruh bayar karcis!” balas pak Haji masih semringah dan mengakhirinya dengan tertawa. Tawa yang langsung menular pada semua yang ada di sana.
“Janda yang terabaikan,” ucap Pak Haji kepada ibu Sumini, hingga Angga apalagi Kalandra terbahak-bahak. Sebab sejauh ini, pak Haji selalu menolak jika dijodohkan dengan ibu Sumini.
Kemudian, Sekretaris Lim sekeluarga menjadi kloter kedua. Belum apa-apa, Sekretaris Lim dan Widy sudah sakit perut karena sibuk menahan tawa melihat tingkah pak Haji. Apalagi berbeda dari biasanya, kali ini pria berkepala plontos itu tampak sangat energik.
“Orang kaya yang sudah menikahi janda idaman saya! Pasti, ... ini kadonya pasti emas!” ucap pak Haji benar-benar heboh, tapi ia langsung tersenyum kalem ketika ia melirik apalagi menatap ibu Fatimah yang berdiri di sebelahnya. Sementara di bawah sana, Ojan masih lelap tidur menjadikan tas ibu Fatimah sebagai bantal.
“Emas Lim!” balas Sekretaris Lim dengan jailnya dan sukses mengundang tawa dalam kebersamaan di sana. “Emas Lim, bener, kan?” lanjutnya masih tertawa.
“Wid, ini suamimu gimana sih? Dikiranya saya Fajar yang doyan batangan!” ujar pak Haji masih saja tertawa sekaligus mengundang tawa.
Jika kalian bertanya di mana orang tua Ojan, kedua orang tua Ojan sudah meninggal. Keduanya meninggal bersama istri pertama pak Haji akibat kecelakaan lalu lintas. Kala itu, Ojan masih berusia enam bulan. Mobil yang ditumpangi mereka tanpa pak Haji ringsek, dan Ojan menjadi satu-satunya penumpang yang selamat.
Widy memberikan kotak berukuran sedang yang dibawa kepada ibu Fatimah. “Selamat yah, Bu Fatimah ... akhirnya halal juga! Semangat juga buat jadi pawangnya pak Haji Musafir Cinta Pemuja Janda. Wajib bikin pensiun, biar Pak Hajinya enggak berkelana mencari janda terus!” ucap Widy yang sampai memeluk ibu Fatimah.
“Wajib pensiun, kalau enggak pensiun, lihat saja apa yang terjadi!” balas ibu Fatimah yakin kemudian melirik pak Haji penuh peringatan.
Widy menahan tawanya walau ia tak bisa dan akhirnya tertawa juga.
__ADS_1
Selanjutnya, keluarga kecil Kalandra mengambil giliran untuk memberi selamat kepada pak Haji maupun ibu Fatimah.
“Semoga yang sekarang jadi yang terakhir, yah Mbah!” ucap pak Sana sambil tetap mengemban Aidan di depan dadanya.
Pak Haji hanya cengar-cengir, tapi setelah ia melirik ibu Fatimah hingga tatapan mereka menjadi bertemu, ia segera mengangguk-angguk dan membalas pak Sana dengan berkata, “Amin ... amin ya Alloh! Makasih banyak Pak Sana yang paling dan juga selalu sabar menghadapi saya!”
Dan lagi-lagi kebersamaan di sana dipenuhi gelak tawa akibat keputusan pasrah pak Haji yang lama-lama terlihat tertekan, setelah memiliki pawang.
“Ini ada sedikit dari kami,” ucap ibu Kalsum sambil memberikan amplopnya kepada ibu Fatimah.
“Kok sedikit sih Bu Sana? Yang banyak kenapa? Yang Gede kayak Septi!” tegur pak Haji antara merayu sekaligus bercanda.
“Banyak itu soang, sementara soang itu bahasa Indonesianya, Angsa!” balas ibu Kalsum sambil menggandeng sang suami untuk pergi dari sana karena Kalandra dan Arum sudah menunggu.
Arum memberikan amplop putih besar kepada ibu Fatimah yang ia tatap penuh ceria.
Kalandra mengangguk-angguk. “Tiket bulan madu di hotel dulu saya dan istri menggelar resepsi. Mbah masih ingat, saat itu Mbah nungguin kami. Mbah sampai diam-diam masuk ke kamar hotel kami, dan saya membuang Mbah keluar? Parahnya, Mbah tetap nungguin kami dan rela tidur di depan pintu kamar kami menginap sampai pagi!” jelasnya. “Jadi, biar afdol, ini tiket berlaku malam ini, sampai besok malam!”
Pak Haji menatap terharu kedua mata Kalandra. Ia jadi enggan mengakhiri jabatan tangan mereka. “Kok hanya sampai besok malam, enggak dilamain lagi Pak Pengacara?”
“Sisanya bayar sendiri!” balas Kalandra sambil menahan senyumnya.
Pak Haji mengangguk-angguk dan perlahan tertawa. Tawa yang langsung menjadi menular kepada semuanya. Walau ketika tatapannya bertemu dengan tatapan ibu Fatimah, pak Haji langsung tunduk, buru-buru jaim.
Giliran Tuan Maheza, pak Haji langsung jaim. “Belum kenal banget sama orang kota. Takut salah!” Walau pada akhirnya, ia tetap tertawa dan membuat semuanya tertawa.
“Selamat, ya.” Tuan Maheza menyalami pak Haji.
__ADS_1
“Selamat yah, Mamahnya Septi!” ucap Aleya ceria kepada ibu Fatimah yang ia rangkul kemudian cipika-cipiki. Ia memberikan satu kotak tak jauh berbeda dengan apa yang Widy berikan.
“Saya curiga, yang ibu Aleya dan Widy berikan memang emas!” ucap pak Haji. Namun, ketika ia menatap pak Maheza yang sudah mesem, ia berkata, “Emas Maheza! Hahaha!”
Keluarga dokter Andri menjadi urutan selanjutnya. Di belakang ketiganya, Septi yang masih mengasuh Sepri, berangsur duduk.
“Sep, sudah digabung sekalian. Biar enggak antre banget!” tegur pak Haji sekaligus menggoda.
“Pak Gede ih!” sebal Septi yang masih saja diledek oleh papah barunya itu.
“Pak Gede apaan? Papah ... ini Papah, ini!” balas Pak Haji yang kemudian tertawa diikuti juga oleh yang lainnya. “Suf, cocok, kan? Cocok!” Kali ini Pak Haji sengaja pamer pada pak Yusuf papah Septi yang sedari awal acara, terus menunduk lesu.
Layaknya awal kehadirannya dan itu pun karena dipaksa Septi, pak Yusuf tetap tidak bersemangat karena pada kenyataannya, ia masih ada rasa kepada ibu Fatimah.
Dokter Andri dan sang papah memberi pak Haji amplop. Sementara Septi membawa kotak besar yang langsung membuat pak Haji bersemangat untuk membukanya.
“Yang dari kamu Papah curiga, jangan-jangan, isinya kodok atau malah ular kobra!” tuding pak Haji yang kemudian mengguncang kotak besar dan untuk mengangkatnya sampai harus menggunakan dua tangan.
“Andai aku segenius itu, pasti tadi aku isi kodok sama ular kobra, Pah!” ucap Septi untuk pertama kalinya memanggil pak Haji “Pah”.
Yang dipanggil langsung heboh kemudian buru-buru membuka kotak kado berbungkus kertas kado merah pemberian Septi, walau ibu Fatimah melarangnya.
Sudah terbuka, Pak Haji langsung tidak bisa berkata-kata. Matanya langsung berembun, dan ia menjadi menatap sendu Septi. Suasana langsung hening, menatap penasaran pada kotak pemberian Septi yang menjadi penyebab pak Haji melow.
Sebuah bingkai foto kaca warna putih keemasan, pak Haji ambil dari dalam kotak hadiah pemberian Septi. Bingkai tersebut berisi foto saat lebaran kemarin. Keluarga kecil Septi dilengkapi dengan pak Haji dan Oja . Mereka berlima duduk di bangku depan kontrakan Septi tinggal. Pak Haji memangku Sepri, ibu Fatimah duduk di sebelahnya, sementara Ojan duduk di antara ibu Fatimah dan Septi. Kelimanya kompak tersenyum ke kamera diabadikan oleh dokter Andri. Pak Haji masih sangat ingat, tapi ia sungguh tidak menyangka Septi akan menjadikan itu sebagai bagian dari salah satu hadiah untuk pernikahannya dengan ibu Fatimah.
“Keluarga bahagia! Sisanya, di dalam sana beneran ada kodok sama ular kobra!” ucap Pak Haji sambil memamerkan foto pemberian Septi. Nuansa haru yang sempat hadir, tetap kalah dengan gelak tawa dari pak Haji.
__ADS_1
Selanjutnya, mereka yang memberi selamat adalah keluarga pak Haji. Disusul istri, anak, dan juga cucu terdahulu. Tentu acara pemberian kado dan amplopnya tak semeriah saat rombongan Kalandra. Namun, baik bagi pak Haji maupun ibu Fatimah, acara pernikahan kali ini tetap terasa berbeda, bahkan sangat berbeda, meski mereka sudah pernah menjalani pernikahan dengan pasangan yang sebelumnya.