
“Papahnya Nissa masih kerja di puskesmas sebelah?” tanya Arum sembari menyiapkan mangkuk untuk es gepluk yang tengah Septi haluskan terlebih dahulu.
“Masih,” ucap Septi sambil terus menggepluk esnya, walau Nissa juga ada di sana.
Nissa masih duduk anteng, membiarkan Arum menguncir dua rambut panjangnya, kemudian mengepangnya. Malahan, Nissa lebih banyak diamnya ketimbang bersuara. Kalaupun menjawab, Nissa hanya mengangguk atau menggeleng. Tampang khas anak yang mentalnya sudah telanjur terluka. Senyum dan ketenangan yang disuguhkan hanya bagian dari topeng semata agar luka yang membuatnya rapuh tak diketahui orang lain.
“Memangnya nggak bisa semacam pindah ke puskesmas yang lebih dekat dengan tempat tinggal terbarunya, yah, Sep? Kasihan Nissa kalau giliran jaga malam ya,” balas Arum.
“Enggak tahu kalau itu, Mbak. Soalnya pas sekolah, otak aku ketinggalan di mal!” jujur Septi yang kemudian menertawakan dirinya sendiri.
Arum tersenyum geli sambil menggeleng. “Lebih-lebih aku, Sep. Enggak sekolah. Yang ada di pikiranku cuma ... gimana caranya biar aku bisa dapat banyak uang. Kerja ke kota apa keluar negeri sekalian karena aku bosan hidup susah!” balas Arum menjadi terharu jika mengingat perjalanan hidupnya.
“Itu sudah jelas pikirannya orang waras, Mbak. Lah, ... aku kan ... warasnya baru-baru ini saja. Sebelumnya, aku ya oleng!” lagi, Septi menertawakan dirinya sendiri karena ia tak mau menghabiskan waktunya dengan hal-hal yang hanya membuatnya sedih.
Kemudian, Septi sengaja berdeham. “Aku ketawa terus, bukan berarti aku enggak mikir yah, Mbak. Aku begini karena aku enggak mau sedih-sedih. Sedih-sedih hanya bikin imun turun, Mbak. Nanti kalau aku imun aku turun dan aku malah sakit, siapa yang kerja dan kasih makan anak sama mamahku? Bapakku ...? Mana mau dia karena buat berobat rutin dia saja, dia sudah habis-habisan!”
Mendengar itu, Arum yang sampai berhenti mengepang Nissa, berkata, “Memangnya, ... kamu enggak mau nikah lagi, Sep?” Di hadapannya, Septi yang baru saja menuangkan satu kantong es batu yang sudah halus ke termos es, menggeleng.
__ADS_1
Melihat Septi yang mendadak melow, Arum jadi ikut sedih. “Kenapa? Nikah lagi saja kalau memang ada yang baik. Kamu masih muda, kamu yang sekarang juga pekerja keras. Usaha kamu juga makin maju!” Arum berusaha meyakinkan. Seperti yang ia duga, di balik keceriaan Septi, ada duka yang susah payah Septi sembunyikan.
“Enggak lah, Mbak. Kasihan Sepri. Kasihan mamakku juga yang sudah bertekad membesarkan Sepri sampai Sepri jadi orang sukses. Takutnya kalau aku sampai nikah terus punya anak lagi, Sepri makin minder. Kenapa dia beda sama saudaranya apalagi yang lain,” ucap Septi jujur. Baru kali ini dan itu kepada Arum, ia melakukannya. Karena biasanya, ia sengaja hahahehe demi menyembunyikan kerapuhannya. Karena jujur saja, Septi terlalu bingung jika nanti Sepri besar dan bertanya, kenapa bocah itu berbeda?
Sembari buru-buru menyelesaikan kepangannya, Arum bertanya serius. “Pas kamu hamil, sebelum USG seribu dimensi pas aku masih jualan di kantin, itu sebenarnya kamu pernah periksa, dan dokter sampai kasih arahan apa-apa, atau sudah ketahuan dari sebelumnya, enggak?” Arum bingung mengenai cara bertanyanya, tapi intinya masih sama. Karena jika alasan Sepri tak memiliki kaki kanan diprediksi efek kelainan tumbuh kembang, harusnya sebelumnya sudah ada prediksi juga dari dokternya.
Bagi Arum tak mungkin juga, saat USG terjadi dan membuat Sepri diprediksi mengalami kelainan, menjadi pemeriksaan pertama di kehamilan Septi.
Septi berdeham. “Iya, Mbak. Tiga kali periksa, katanya ada kelainan di kaki kanan. Tapi pas itu kan otakku ketinggalan di mal, Mbak. Aku ya masa bodo. Apalagi sejauh ini, aku enggak punya keluarga yang mengalami kelainan tumbuh kembang.”
“Emang dasarnya dulu kamu kebangetan banget sih!” omel Arum. “Pas itu kamu pasti disaranin buat ke spesialis kandungan. Kamu diarahkan buat konsultasi karena biar bagaimanapun kalau masih janin, tetap ada peluang buat normal?” tebak Arum. “Andai saat itu kamu ke spesialis pasti enggak seperti sekarang!” yakinnya lagi.
balas Septi yang malah meraung-raung menangis. “Makanya, aku menghukum diriku dengan enggak menikah lagi. Biar aku bisa fokus membahagiakan Sepri dan mamakku. Aku mau menghabiskan waktuku buat bertobat!” ucapnya lagi sembari menggunakan kedua lengan gamisnya untuk mengelap asal air matanya.
Arum menghela napas dalam. “Ya sudah kalau itu memang mau kamu. Kalau itu memang keputusan kamu, semoga semuanya dilancarkan, ya.”
“Amin, Mbak!” balas Septi berusaha menepi dari kesedihannya. Kedua siku tangannya masih aktif menyeka air matanya asal di tengah kesibukannya menyeka air mata.
__ADS_1
“Semoga Sepri juga bisa bahagia, jadi anak yang berguna, jadi anak yang sukses dan juga menjadi kebanggaan semuanya khususnya kamu sebagai mamahnya!” lanjut Arum.
Sambil menggepluk esnya, Septi berseru benar-benar lantang, “Amin!”
Arum tersenyum haru, menyalurkannya sembari mendekap Nissa. Tiba-tiba saja, terlintas di benak Arum, mengenai bagaimana tanggapan Septi, andai Septi bertemu lagi dengan Supri?
“Sep, ... gini. Andai kamu kembali bertemu Supri, ... tanggapan kamu gimana? Kamu mau ngapain? Apa yang mau kamu katakan?” tanya Arum hati-hati.
“Amit-amit, sih. Aku enggak berharap bertemu dia lagi,” balas Septi sinis. “Belum tentu juga dia mau tanggung jawab atau seenggaknya mengakui, Mbak! Dulu!” lanjutnya masih sewot, tapi mendadak terjaga, celingukan mengawasi sekitar. “Ini rahasia, yah, Mbak. Dulu sebenarnya awalnya aku dipaksa, terus diancam kalau sampai cerita, hingga akhirnya aku bingung sendiri. Mana Dika juga tetap enggak bisa diandalkan. Makanya aku seneng banget pas akhirnya, mas Angga mau tanggung jawab. Soalnya yang aku tahu, Mas Angga tanggung jawab banget dan dia pun mapan. Kamu tahu bagaimana perasaanku saat itu, Mbak. Dipaksa, diancam, ya susah aku nggemblung(menggila) sekalian!” ucapnya berbisik-bisik dan berakhir duduk sila di lantai.
“Harusnya kamu jujur dari awal!” yakin Arum walau sebagian besar korban layaknya Septi memang memilih bungkam.
“Kalaupun aku jujur, belum tentu ada yang percaya. Dan andai aku jujur, yang ada aku malah dinikahin sama si Supret!” jengkel Septi.
“Ternyata begitu, dan andai aku jadi Septi, aku juga ogah dinikahkan sama Supri. Sudah jadi istri kedua, kelakuan Supri juga aduhai!” batin Arum yang menjadi ingat saat Supri mengajaknya untuk melakukan hubungan suami istri. Kejadian di depan rumah ibu Nur, yang mana pria itu malah memfitnahnya. Walau pada akhirnya, Supri malah menjadi korban kecelakaan tragis dan membuat kaki kanan pria itu diamputasi. Kejadian yang juga menjadi awal mula keluarga Angga makin porak-poranda.
“Namun andai kami benar-benar bertemu ....” Septi yang masih duduk sila sengaja menggantungkan ucapannya kemudian menatap Arum. “Aku bakalan seruduk dia terus ban*ting sekuat tenaga, Mbak!”
__ADS_1
“Setuju!” sergah Arum langsung mendukung.