
Pulang kerja, Kalandra sengaja memboyong Widy sekeluarga untuk membeli pakaian baru. Hal yang sengaja dilakukan agar penampilan mereka nanti di acara pertemuan dengan pihak Tuan Maheza, jauh lebih spesial. Arum juga ikut serta bersama Aidan karena Arum juga yang mengarahkan segala sesuatunya. Sementara Azzam dan Azzura ditinggal di rumah bersama ibu Kalsum. Termasuk itu orang tua Resty, walau keduanya tak sampai diajak, mereka tetap membelikan beberapa pasang pakaian baru. Namun karena Aidan sudah sangat tidak bisa diam, Kalandra ditugasi untuk memomong bocah itu.
“Mau ini!” Aidan begitu bersemangat memilih. Masalahnya yang bocah itu pilih adalah maneken alias patung bocah yang memakai baju koko untuk seusia Aidan.
Kalandra yang mengawal tentu langsung terbahak. Apalagi Aidan yang awalnya ia emban, sampai turun kemudian mendekap maneken pilihannya.
“Yang boleh dibeli cuma bajunya, patungnya enggak, Mas.” Kalandra meyakinkan.
“Mau ini!” tegas Aidan sambil tetap mendekap manekennya.
“Ya Alloh. Ini mamah mana? Baru kali ini ada yang beli maneken,” lirih Kalandra lagi-lagi tertawa. Hingga di akhir, maneken pilihan Aidan juga sampai mereka bawa bersama pakaian yang melekat.
“Dikiranya itu temen kamu, yah, Mas? Kamu ini ya, lucu kok kebangetan. Ada-ada saja. Kalau mbah kakung tahu, pasti mbah kakung bisa ketawa sampai nangis,” komentar ibu Kalsum ketika rombongan yang belanja pulang.
“Lebih rame lagi kayaknya kalau Mbak Azzura sama mas Azzam sudah besar. Bisa-bisa, mereka gendong kasir atau malah SPG-nya dibawa pulang ke rumah!” lanjut ibu Kalsum dan masih menjadi sumber tawa dalam kebersamaan mereka. Azzam dan Azzura yang awalnya tidur di boks bayi yang ada di sebelah sofa ruang keluarga sampai bangun.
***
“Ini mau belajar jadi perwakilan wali ...?” ucap Arum sambil membingkai wajah sang suami penuh sayang menggunakan kedua tangannya.
__ADS_1
Kalandra baru beres memakai batik lengan panjang warna hitam keemasannya. Arum yang baru masuk kamar dan mengenakan gamis senada dengan batik sang suami langsung terharu. Kalandra yang awalnya mesem menjadi tersipu.
“Mas kalian kan lagi urus mertuanya yang sakit di rumah sakit, ya tentu aku harus siap jadi ganti kepala keluarga. Besok lah kalau nikahan, mas kalian wajib yang jadi wali,” ucap Kalandra lirih. Ia memang tersenyum, tapi hatinya sudah langsung melow karena terharu.
Arum yang paham keadaan Kalandra sengaja berjinjit kemudian menggunakan kedua tangannya untuk mendekap tengkuk Kalandra. “Aku sayang banget ke Mas. Makasih banyak yah, Mas!”
Sembari balas mendekap punggung Arum, Kalandra berkata, “Makasih lagi. Enggak perlu, kan memang sudah jadi kewajibanku.”
Mendengar itu, Arum jadi ingat mengenai orang tua Bilqis yang tidak rela melepas Kalandra sekeluarga. Karena Kalandra sekeluarga memang sebaik itu.
Setelah sampai menarik wajahnya hanya agar bisa menatap Kalandra tanpa mengakhiri kedua tangannya dari tengkuk sang suami, Arum yang menahan senyumnya berkata, “Mas masih puasa, nanti kalau sudah buka puasa.”
Mendengar itu, Kalandra langsung tertawa dan buru-buru menahannya. Ia mengangguk-angguk bersemangat kemudian membenamkan wajahnya di sebelah wajah sang istri.
“Enggak ada loh, keluarga ipar yang begini baiknya,” batin Widy sangat terharu tapi cenderung deg-degan. Widy terlalu tegang akan bertemu dengan Sekretaris Lim dan rombongan. Karena walau ini bukan pertama kalinya, tetap saja pertemuan yang akan langsung berakhir dengan lamaran kali ini tetap terasa spesial. Terlepas dari semuanya, Widy juga siap menyambut kebahagiaannya, menjalani lembaran baru bersama Sekretaris Lim.
Walau jarak dari rumah Kalandra dengan rumah makan Arum tidak begitu jauh, mereka sengaja menggunakan mobil untuk kendaraannya. Mereka menggunakan mobil berbeda, menjadi dua rombongan. Satu mobil disetir langsung oleh pak Sana dan berisi orang tua, sementara mobil Arum disetir langsung oleh Kalandra dan berisi Widy dan anak-anak mereka.
Kini sudah pukul lima sore lewat lima, ketika Widy memastikannya melalui layar ponsel yang baru ia nyalakan. Di sana ia mendapati pesan WA dari Sekretaris Lim dan memang baru masuk. Berbunga-bunga rasanya walau bunga yang Widy rasa dan benar-benar membuat wanita itu bahagia, tak tampak. Namun Kalandra dan Arum yang diam-diam kerap memantau Widy melalui kaca spion, tetap bisa merasakannya. Apalagi mereka paham, bersama calon pasangan kali ini akan jauh lebih membuat Widy bahagia.
__ADS_1
Di tempat berbeda, di rumah sakit ibu Muji dirawat, dokter Andri baru sampai bersama sang putri. Di ruang VIP yang ada di sana, ibu Muji yang terbaring kaku bak mayat hidup, tak hanya sendiri karena ada sang suami yang menemani.
Pak Ardi selaku papah dokter Andri, mendengkus pasrah. Membuat dokter Andri yang mendapatkannya sudah langsung berasumsi buru*k. Apalagi terakhir kabar yang dokter Andri dengan, stroke yang ibu Muji alami membuat wanita itu sibuk berusaha mencoba mati.
“Pas sehat saja susah diarahin, apalagi kayak sekarang. Ya sudah, Papah istirahat dulu,” ucap pak Ardi yang membiarkan tangan kanannya disalami dengan sangat takzim.
Kali ini giliran dokter Andri yang mendengkus, menatap pasrah keadaan sang mamah. Menuntun sang putri, ia makin mendekati ibu Muji. “Mah, Mamah sudah sembuh. Jadi tolong, jangan menyerah dulu. Malu sama ucapan sekaligus perilaku Mamah yang selama ini selalu memandang remeh orang lain.”
“Di dunia ini, bukan hanya Mamah yang mengalami masa sulit, Mah. Di dunia ini, aku dan orang-orang terdekat Mamah, malah jauh lebih sulit ketimbang Mamah dan itu karena keegoisan sekaligus ketamakan Mamah!”
“Harusnya Mamah bersyukur, sakit begini masih diurus, Mamah masih punya keluarga yang peduli dan mau memberikan pengobatan terbaik buat Mamah. Bayangkan kalau Mamah dibiarin berjuang sendiri. Bayangkan kalau kami sampai menghalang-halangi pengobatan yang juga menjadi kebahagiaan Mamah, seperti yang selama ini, Mamah lakukan kepadaku!”
Dokter Andri berbicara panjang lebar, mengiringi air mata ibu Muji yang akhirnya berlinang.
“Mamah beneran payah, bakat menghina orang, tapi sekali sakit langsung menyerah,” lanjut dokter Andri yang melepas sang putri menghampiri pak Ardi di sofa ruang sebelah.
“Kalau masih sehat saja merepotkan, apa lagi kalau Mamah sampai sakit!” kesal dokter Andri.
“Ya makanya, Mamah pengin mati saja!” isak ibu Muji dengan suara yang terdengar tidak jelas karena efek stroke yang dialami memang membuat pita suaranya sampai terganggu. Mulutnya yang biasanya terbuka lebar di setiap menghina sekaligus merendahkan orang saja, kini sangat terbatas hanya untuk sekadar terbuka. Selain bibir ibu Muji yang menjadi miring-miring tak simetris.
__ADS_1
“Kasih Mamah racun. Mamah malu kalau orang tahu mamah begini,” rengek ibu Muji dan membuat dokter Andri merasa makin depresi.
Karena seperti apa yang pak Ardi rasa, saat sehat saja, ibu Muji sulit diarahkan. Apalagi dalam keadaan sekarang dan menjadikan ingin mati, sebagai nyanyian?