Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
60 : Dag-Dig-Dug Tak Karuan


__ADS_3

Malamnya, hujan deras membuat Kalandra tertidur pulas. Di dalam kamar yang Arum tempati, Kalandra tidur di sebelah Aidan. Selain Aidan sampai tidur mangap karena flu, kening bocah itu juga dihiasi plester demam. Sementara di luar, Arum yang baru pulang membuat ibu Kalsum tercengang.


Ibu Kalsum menatap terkejut Arum, kemudian berganti pada mobil yang putra yang masih ada di depan garasi. “Enggak pulang sama Mas?”


Arum tersenyum masam. Kalandra memang berjanji akan menjemput. Alasan Arum sampai telat pulang juga karena menunggu jemputan. Apalagi selama dihubungi, tak ada satu pun pesan maupun teleponnya yang Kalandra balas.


“Kayaknya ini anak ketiduran!” ujar ibu Kalsum agak kesal sambil menggeleng tak habis pikir.


“Sudah, Mah, enggak apa-apa. Lagian mas Kala kayaknya juga capek. Oh iya, aku udah bawa lempung(tanah liat) buat rebus daun pepaya. Mamah bilang lagi pengin kluban daun pepaya?”


Mendengar itu, ibu Kalsum langsung memelotot kegirangan menatap Arum, sebelum akhirnya ia juga sampai sibuk mengangguk. “Memangnya beneran, Mbak, kalau pakai tanah liat, jadi enggak pait?” lantaran Arum langsung mengangguk-angguk, ia sengaja bertanya, “Beneran enggak pait, blaaas? Sama sekali?!”


“Iya, Mah. Ayo aku rebusin. Daunnya sudah ada, kan?” balas Arum.


“Iya, sudah Mbak. Tadi, Mamah juga sekalian ambil daun jambu mete yang muda. Itu kan enak juga kan buat cowel-lalap. Jadi Mamah minta sambelin terasi juga ya, buat teman makannya.” Ibu Kalsum makin bersemangat. Selalu begitu di setiap ia mengobrol dengan Arum karena pada kenyataannya, mereka memang nyambung. Dalam artian, ibu Kalsum merasa cocok dengan Arum. Ada saja yang dibahas, bahkan tak jarang akan ada kejutan dan bagi ibu Kalsum mirip keajaiban di setiap kebersamaan mereka. Semacam, hal-hal yang awalnya terasa mustahil bagi ibu Kalsum, tapi semua itu terpatahkan oleh Arum.


“Itu, Bapak sampai kembung Mamah kasih banyak teh manis hangat buat nahan lapar sambil nungguin kamu pulang. Lagian disambelin, pertama katanya keasinan. Mamah tambahin gula, eh katanya kemanisan. Mamah tambahin cabe, sampai akhirnya tuh coet malah pecah, rasa yang Bapak cari beneran belum ketemu!” cerita ibu Kalsum yang akhirnya terbahak.


Arum yang tidak berniat tertawa juga menjadi ikut tertawa. Apalagi ketika akhirnya ia melihat coet yang dimaksud dan memang patah jadi tiga. Keempatnya ditumpuk rapi di pinggir wastafel.


Sebenarnya, di rumah orang tua Kalandra ada ART yang biasa bantu-bantu. Ada dua malahan. Namun, selain keduanya kompak pulang pergi dan saat malam tidak di sana, semacam masakan pun belum ada yang secocok seperti masakan Arum.

__ADS_1


Kebersamaan penuh gelak tawa langsung terjadi ketika akhirnya pak Sana menyusul.


“Itu nanti coet-nya harus mendapatkan tempat peristirahatan terakhir yang layak karena biar bagaimanapun, dia sudah jadi pahlawan di dapur kita, Mah!” ucap papah Kalandra.


Mendengar itu, Arum yang sedang mengulek bakal sambal terasi bakarnya langsung lemas karena menahan tawa. Untuk beberapa saat, Arum sampai tidak memiliki tenaga untuk mengulek lagi.


“Si Bapak emang enggak jelas. Tuh Arum sampai enggak kuat ngulek!” tegur ibu Kalsum yang sebenarnya juga sibuk menahan tawa. Ia berniat menggantikan Arum membuat sambal, tapi sang suami melarangnya.


“Nanti rasanya aneh lagi. Kalau bikin sambel itu wajib tangan satu. Kalau banyak, rasanya juga banyak rame gitu jadinya!”


“Mmm, bilang saja Bapak takut coet di rumah habis gara-gara Mamah!” ucap ibu Kalsum dan sang suami hanya tertawa.


Setelah akhirnya sambal terasi jadi, Arum segera meraih daun pepaya yang sengaja ia sisakan kemudian memadukannya dengan daun jambu mete atau jambu mo-nyet mudanya. Ia menyolekkannya ke sambal terasi, kemudian menikmatinya. Kedua orang di hadapannya yang awalnya heboh langsung diam terheran-heran, tapi ibu Kalsum buru-buru mengikutinya.


“Ini enak banget, Pak! Bapak harus coba juga!” Ibu Kalsum bersemangat.


“Masa, sih?” pak Sana makin penasaran.


Demi menghemat waktu, Arum sengaja meninggalkan kebersamaan keduanya. Ia mengangkat rebusan daun pepayanya. Sebenarnya, orang tua Kalandra termasuk Kalandranya, tipikal penikmat makanan sederhana. Namun karena perkembangan zaman, rasa sederhana dari daerah lokal yang mereka sukai ini yang sulit ditemukan.


“Mamah sama Bapak butuh apa lagi? Mau ikan asin? Sama ayam goreng juga cocok, loh!” ucap Arum yang langsung merasa damai hanya karena melihat keakuran orang tua Kalandra. Keduanya sedang makan bersama dan langsung anteng hanya karena daun pepaya dan daun mete, juga rebusan daun pepaya yang sudah berjodoh dengan sambal terasi bakar. Keduanya bilang, daun pepayanya sama sekali tidak pahit. Baik yang mentah dan berjodoh dengan daun jambu mo-nyet yang masih muda atau sekitar pucuknya, maupun yang direbus dengan air lempung.

__ADS_1


“Nah, iya, Mbak. Itu pasti cocok. Sekalian siapin buat Mas Kala yah, Mbak. Mas Kala juga belum makan!” sergah ibu Kalsum yang menambah nasi di piringnya maupun sang suami.


Walau Arum langsung balas tersenyum kepada ibu Kalsum, pikiran Arum sudah sibuk memikirkan Kalandra. Hampir pukul sembilan malam, Kalandra belum makan dan pria itu juga sampai lupa menjemputnya. Apakah Kalandra sakit karena sekadar pegang ponsel saja, tampaknya Kalandra tidak melakukannya. Terbukti, semua pesan dan teleponnya tidak ada yang direspons.


Kalandra masih meringkuk di sebelah Aidan. Kalandra terlihat sangat lelap hingga Arum tak berniat mengusiknya apalagi sekarang, ia yang sudah sempat mandi, sudah kembali bau terasi sekaligus ikan asin. Dengan hati-hati Arum masuk ke kamar mandi apalagi Aidan yang memang langsung demam sekaligus flu, tampak masih anteng. Aidan tak kalah lelap dari yang menjaga.


Keluar dari kamar mandi dan sampai keramas, akhirnya Aidan bangun. Arum langsung menghampiri dengan hati-hati dan belum berniat membangunkan Kalandra. Bingung, itulah yang Arum rasakan karena setelah memangku Aidan sambil membelakangi Kalandra, ia berniat memberi Aidan ASI. Masalahnya Kalandra ada di sana. Bagaimana jika pria itu bangun dan melihat Arum sedang memberi Aidan ASI secara langsung? Arum belum siap mental membiarkan itu terjadi apalagi mereka belum menikah. Jadilah ia memanfaatkan selimut milik Aidan yang sebagiannya tertindih wajah Kalandra. Ia menariknya pelan dan sangat hati-hati. Beruntung, Kalandra tak sampai bangun. Barulah setelah akhirnya ia menutup depan dadanya termasuk Aidan yang sedang menyusu, Kalandra bangun.


Kalandra panik karena setelah Aidan mendadak tidak ada di hadapannya, ia mendapati Arum yang kepalanya dibungkus handuk, sedangkan di luar sana, terdengar berisik karena hujan deras lengkap dengan angin kencang. Melalui beker di nakas sebelah dan tak lagi disertai fotonya dan Bilqis, Kalandra mendapati waktu nyaris pukul sepuluh malam.


“Yang, kamu pulang hujan-hujanan? Ini dari tadi aku ketiduran, makanya aku lupa jemput kamu,” sergah Kalandra panik.


Arum langsung menggeleng kemudian menoleh, menatap Kalandra. “Enggak, ... aku enggak hujan-hujanan. Tadi pas aku pulang, belum hujan.” Karena kalau Arum jujur, Kalandra akan menyalahkan dirinya sendiri yang lupa menjemputnya. Namun dari ekspresi Kalandra yang masih sangat serius menatapnya, tampaknya pria itu belum bisa percaya kepada balasannya.


“Terus, kepala kamu sampai dibungkus gitu? Kamu sampai keramas mandi lagi,” balas Kalandra.


Arum menghela napas pelan sekaligus dalam. “Ini aku memang sengaja mandi sekaligus keramas lagi soalnya bau terasi sama ikan asin. Tadi mamah sama papah minta dibuatin sambal sama keluban. Coel lalapan gitu, sekalian goreng ikan asin sama ayam juga. Ya sudah Mas makan dulu, Mas belum makan, kan?”


Kalandra menggeleng. “Nanti saja. Itu Aidan gimana? Masih panas?”


Kalandra hendak menyibak selimut yang sengaja Arum tutupkan di depan dadanya. Buru-buru Arum menimang pelan Aidan, seolah bayi yang langsung kembali tidur karena ia susui itu, rewel. Ia juga sengaja memunggungi Kalandra agar pria itu tak jadi memastikan keadaan Aidan secara langsung. Di belakangnya, Kalandra malah menyandarkan kepalanya pada punggungnya, selain tangan kiri pria itu yang juga sampai mendekap pinggangnya.

__ADS_1


“Kalau panasnya belum turun, dosis obatnya ditambah saja. Besok pagi Aidannya dijemur atau uap ke rumah sakit biar dahak sama ingusnya lumer,” ucap Kalandra yang menyandarkan kepalanya di pundak kanan sekaligus leher Arum.


Kalandra terpejam damai dan kembali tidur. Tak tahu jika ulahnya membuat Arum yang masih belum siap mental, makin dag-dig-dug tak karuan. Arum sampai berkeringat dingin dan beberapa kali menahan napas.


__ADS_2