Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
141 : Merasa Bersalah


__ADS_3

Widy menghela napas dalam kemudian menunduk. Ia membiarkan Arum membenarkan jilbabnya. “Ada-ada saja, yah, Mbak? Yang namanya celaka beneran enggak terduga!”


“Sudah jangan dipikirkan, yang penting kamu enggak separah yang Mbak pikirkan. Mbak sudah takut banget enggak bisa mikir pokoknya. Tapi ini yang di wajah,” ucap Arum yang menatap miris baret di wajah sang adik. Lebarnya nyaris separuh wajah dan ia khawatirkan bekasnya sulit hilang.


Widy cemberut kemudian mendengkus pasrah. “Iya, Mbak enggak tahu ini. Wajah, ... baru juga glowing, langsung dibaretin suruh nyiuum aspal! Perih panas banget ini. Belum tangannya ngilu banget!” ucapnya yang kemudian berkata, “Tapi jujur tadi aku takut banget soalnya motor yang nabrak aku motor gede kayak punya Mas Kala. Mahal banget pasti itu. Biasanya kan yang punya gitu manusia songong yang walau salah tapi minta ganti rugi.”


“Mereka memang temen sih. Temen baik malahan. Makanya semacam motor ya sama, buat pergi rame-rame gitu, tapi mereka masih waras, perginya sama anak istri. Eh, satu bulan lalu istri dokter Andri meninggal ditabrak orang di lokasi kamu ditabrak ini,” jelas Arum berbisik-bisik.


“Eh, Mbak ngeri banget. Untung aku enggak bablas juga, ya? Kalau iya, gimana anak-anakku? Jadi ingat teman Mbak itu,” ucap Widy makin tak bersemangat. Kemudian yang ia lakukan ialah meminta diantar pulang.


“Pulang gimana? Kamu beneran harus diinfus rawat inap dulu paling enggak sampai besok sore lah. Ini pasti malam ini ngilu banget!” balas Arum kali ini sampai mengomel.


“Ya Alloh, Mbak. Anak-anakku lagi pinter-pinternya. Mereka masih pilek dan tiap hari ngereog!” balas Widy yang kemudian menghela napas dalam. “Ya kayak Mbak sendiri pas belum sama mas Kala, lah. Namanya ibu, orang tua tunggal, kalau sudah menyangkut anak, mau sakitnya sampai bikin badan gemetaran, anak tetap nomor satu. Malahan anak ibarat obat.”


Arum paham bagaimana perasaan sang arik saat ini. Karenanya, ia membantu Widy pulang. Malahan dokter Andri yang menjadi terlihat sangat tidak enak. Pria itu terlihat jelas merasa sangat bersalah tentunya karena dokter Andri waras dan murni ingin tanggung jawab.


“Ya sudah, kamu sama Mbakmu naik mobil, Mas yang bawa motor kamu,” usul Kalandra.


Widy yang masih duduk di pinggir ranjang rawat langsung menggeleng ngeri.


“Kenapa?” Kalandra menertawakan Widy.


“Enggak, Mas. Enggak. Mending aku yang bawa motor, tapi barang-barangnya titip ke kalian. Mbak Arum nyetirnya masih ngeri. Takutnya enggak bablas ditabrak motor, malah kena gara-gara naik mobil disetir Mbak Arum,” ucap Widy sambil menatap takut Arum yang sudah langsung meliriknya dengan lirikan maut.


“Enggak apa-apa, seharian ini saja kami jalan-jalan, Mbakmu yang nyetir,” jelas Kalandra masih menahan tawanya.


“Itu kan karena dikontrol sama Mas Kala. Lah kemarin pas di tempat parkir rumah makan, aku sama yang lain disuruh minggir,” balas Widy.

__ADS_1


Mengingat itu, Arum langsung menahan tawanya. “Demi keamanan bersama ih.”


“Nah iya, demi keamanan bersama, makanya mending aku naik motor sendiri,” balas Widy.


Namun pada akhirnya, dokter Andri yang masih ada di sana memberi usul agar dirinya yang membawa motor Widy, sementara Widy bersama Arum dan Kalandra agar Kalandra yang membawa mobil.


“Jauh banget, sumpah! Jalannya bikin aku sibuk bilang alhamdullilah, penerangan juga enggak ada! Dibilang pedalaman bukan pedalaman!” ucap dokter Andri yang sepanjang perjalanan mengikuti mobil Arum.


Kalandra yang mendapatkan keluhan itu hanya mesem. “Baru sekali saja sudah ngeluh, apa kabar kalau kamu jadi Widy? Tiap hari dia begini.”


Mendengar itu, dokter Andri langsung mengangguk-angguk. “Ajaib sih, jodohmu bisa sejauh ini. Masih enggak habis pikir, gimana ceritanya kamu bisa kenal Arum.”


“Yang namanya jodoh kan enggak kenal jarak, Ndri. Kalau sudah nyaman, ya sudah kejar!” ucap Kalandra sambil membawa masuk motor Widy ke dalam rumah, apalagi kini sudah malam dan di rumah, Aidan pasti sudah menunggu.


Dokter Andri yang sadar Kalandra kerepotan, segera membantu mendorong motor Widy. Terlebih keranjang belanjaan Widy memang kelebihan muatan. Sepanjang perjalanan membawa motornya saja, ia berasa membonceng banyak orang, belum lagi jalanan yang harus dilewati juga licin. Seperti yang baru saja dokter Andri keluhkan kepada Kalandra, sepanjang perjalanan ia sampai sibuk mengucapkan alhamdullilah. Alhamdullilah karena dirinya tidak terlahir menjadi orang susah apalagi jika rumahnya sampai jauh dari fasilitas mewah layaknya Widy dan Arum.


Amplop yang dokter Andri berikan, tidak Widy terima dengan dalih, dokter Andri sudah mengurus biaya perbaikan motor maupun biaya berobat Widy. Kenyataan yang tentu saja membuat dokter Andri merasa makin bersalah.


“Ya sudahlah, semoga dia cepat sehat,” pikir dokter Andri yang kemudian menyimpan amplop putih yang ditolak Widy, ke dalam laci nakas paling atas yang ada di sebelah tempat tidurnya.


Dokter Andri berangsur tidur, tapi sebelum pria itu melakukannya, dokter Andri memilih pergi ke kamar sebelah untuk memastikan keadaan putri semata wayang. Bocah berusia tujuh tahun yang masih sering menanyakan keberadaan mamahnya itu sudah lelap dan menutup tuntas tubuhnya dengan selimut warna ungu aksen kuda pony.


“Untung kamu enggak kenapa-kenapa, Sa.” Tak cukup hanya memperhatikan dari kejauhan, ia sengaja mendekat kemudian mengusap penuh sayang kepala sang putri yang juga ia kecuup penuh sayang. “Sehat-sehat yah, Sayang!” batinnya yang lagi-lagi ingat Widy. Terluka parah saja, wanita itu masih dengan cekatan mengurus ketiga anaknya. “Hebat sih, jarang yang gitu. Mamahnya Nissa saja kalau pusing dikit sudah langsung nempel terus ke tempat tidur.”


Meninggalkan dokter Andri yang masih belum bisa menyudahi rasa bersalahnya, Kalandra tengah mengucapkan terima kasih kepada Arum karena untuk pertama kalinya, Arum tak sampai marah-marah padahal adiknya terluka parah.


“Aku enggak mungkin marah-marah kalau kejadiannya saja begitu. Meski sebenarnya dokter Andri juga ceroboh kok manasin motor enggak diawasi, yang penting dia sudah tanggung jawab dan tulus mengakui kesalahannya sih,” ucap Arum sambil bersiap tidur.

__ADS_1


Malam ini, Aidan sudah tidur bersama ibu Kalsum, dan sang mamah mertua pun langsung memintanya untuk tidur.


“Tapi Widy terbilang mujur sih, soalnya kalau aku perhatikan, lokasinya angker ya Yang. Sering banget kejadian,” ucap Kalandra yang meringkuk menghadap Arum.


“Itu kemarin darah dari setiap korban dibersihin enggak, sih? Katanya pamali kalau enggak dibersihin pihak keluarga dan katanya wajib dikirim doa juga secara khusus kalau korban sampai meninggal,” balas Arum serius.


“Itu, Yang ... itu Yang!” ucap Kalandra tiba-tiba sengaja menakuti Arum, tapi yang ada, istrinya itu malah melempar bantal guling ke wajahnya.


“Dikiranya aku penakut, yang penakut kan mamah Kalsum!” ucap Arum.


“Oalah ... aku laporin ke mamah loh, barusan kamu bilang mamah Kalsum penakut!” jail Kalandra sambil menyingkirkan bantal guling lemparan Arum dari wajahnya.


Arum langsung panik. “Mas ih, jangan. Daripada ke hantu, aku beneran lebih takut ke mertuaku, Mas!” mohonnya.


“Nah, aku laporin lagi nanti. Kamu nyamain mertua kamu sama hantu! Barusan kamu yang bilang loh, Yang!” ucap Kalandra yang berakhir dengan menertawakan Arum.


“Mas pengin ngerasain tidur di luar, ya?” ancam Arum sambil tertawa.


“Asal sama kamu oke-oke saja, Yang!” balas Kalandra.


“Sama aku gimana? Ya tidur di luar sendiri, salah siapa Mas bikin gara-gara,” balas Arum sambil duduk dan bersiap mengusir Kalandra, meski tentu saja ia hanya menggertak.


“Jangan Yang, Jangan. Ampun! Sumpah, aku janji aku enggak jail lagi!” mohon Kalandra sambil membimbing sang istri untuk kembali tidur.


“Nah, gitu saja takut!” ucap Arum sambil menahan tawanya.


“Asli aku takut!” lirih Kalandra sambil menahan tawanya dan buru-buru mendekap punggung Arum sebelum istrinya itu berubah pikiran.

__ADS_1


__ADS_2