
“Pak Gede, Pak Gede tahu, kan, kasus kades yang disuntik sama mantri karena diduga selingkuh sama istri si mantri?” tanya Septi yang sudah bangun tidur ke tiga kalinya, tapi perjalanan menuju Magelang masih sekitar dua jam lagi.
“Memangnya kenapa? Kamu mau ikut-ikutan gitu juga? Memangnya kamu punya alatnya? Yang ada kamu pakai cairan sirop marjan buat bikin es kepal!” tanggap pak Haji masih mengomel.
“Nanti pas bulan puasa, kamu dagang es kepal atau es campur dan semacamnya saja. Lumayan buat nambah-nambah penghasilan. Puasa nanti harusnya kamu sudah nikah lagi, kan?” lanjut pak Haji.
“Iya, pak Haji. Nanti saya coba dagang, ajak mas Fajar juga.” Septi menunduk dalam.
“Sep, Sep. Gini, seandainya nantinya Fajar enggak setia, gimana?” Pak Haji tak hanya menatap Septi melalui kaca spion di atasnya karena ia juga sampai balik badan menatap wanita muda di belakangnya dengan saksama.
Septi langsung sedih dan kian menunduk dalam.
“Eh ngapain mikir bahkan sedih, bannting saja! Kamu harus jadi istri serba bisa yang juga ditakuti suami. Karena kalau enggak, yang ada suamimu jadi musafir cinta kayak saya!” tegas pak Haji menyemangati.
“Oke, Pak Gede!” tanggap Septi yang akhirnya bersemangat.
“Nah gitu. Toh si Fajar ceking gitu. Diseruduk sekali saja pasti langsung tumbang enggak lagi-lagi berulah!” balas pak Haji yang juga meyakinkan.
Setelah dua jam akhirnya berlalu, akhirnya mereka juga sampai di alamat yang dituju. Sebuah dealer motor yang bersebelahan dengan toko aksesori motor, menjadi alamat yang mereka tuju. Suasana di sana benar-benar ramai, mirip suasana demo.
“Gilee Pak Gede. Serame ini!” puji Septi.
“Pakai jin pelaris kayaknya sih ini!” ucap pak Haji langsung kepo dan melongok-longok dari tempat duduknya.
“Tapi kayaknya mereka lagi padu, dagelan, semacam cek-cok mau gelud gitu deh, Mbah! Perhatiin itu ngomongnya kompak pakai otot semuanya,” ucap sang sopir bernama Rozak sambil menikmati sisa minuman staminanya.
__ADS_1
“Hah, masa, sih? Lagi ada demo dan semacamnya, kah? Alhamdullilah kalau gitu! Syukurin tuh si Bapak!” ucap Septi bersemangat.
Sementara yang pak Haji lakukan adalah meminta sang sopir untuk buru-buru pindah dari sana.
“Takutnya mobil, apalagi kitanya kenapa-napa. Situasinya kurang cocok karena andai kita terbunuh pun, kita enggak bakal terima santunan apalagi jadi pahlawan!” ujar pak Haji seiring mobilnya yang akhirnya dilajukan.
Braaaak!
Di dealer sudah ada yang sampai pecah.
“Tolong sabar, semuanya. Mohon bantuannya pasti akan saya urus satu-satu!” Baru saja itu suara pak Yusuf dan ketika Septi maupun pak Haji pastikan, pria itu makin kurus dan tampak tidak terawat. Wajahnya saja dipenuhi bentol semacam jerawat batu atau malah bisul kecil.
“Padahal aku belum jadi kirim teluh loh, Pak Gede. Sudah kayak sakit-sakit gitu!” ucap Septi berbahagia atas sulit sekaligus sakitnya sang bapak.
“Pak Gede ih, tega banget!” keluh Septi.
“Tega sama fakta kan beda tipis, Sep. Biar kita lebih melek!” balas pak Gaji yang seketika terbengong-bengong melihat situasi ricuh di belakang sana.
Rombongan yang mirip pedemo di belakang sana, nekat menerobos masuk ke dalam dealer yang sepertinya memang merangkap jadi rumah. Pak Yusuf maupun para karyawan tampak tidak bisa berbuat banyak selain pasrah dan membuat semuanya terjadi.
Mobil pak Haji sengaja diparkir agak jauh, di depan pom bensin yang ada di depan dealer karena posisi dealer yang pak Yusuf miliki memang sangat strategis.
“Mereka kayak lagi nyari orang ya? Tuh orang ada tiga puluhan,” ucap Septi masih mengawasi dengan rinci.
“Masa iya mereka nyari istrinya si Yusuf?” ucap pak Haji menjadi menerka-nerka. Tak lama setelah itu, kedua orang yang satu mobil dengannya, berangsur menatapnya. “Enggak ada kemungkinan lain, kan? Buat apa juga mereka cari orang lain atau setidaknya sekadar karyawan ke sana, sampai segitunya!” yakinnya.
__ADS_1
“Si Nada kamu umpetin ke mana? Dasar suami istri sama-sama tukang tipu!” ucap salah satu ibu-ibu yang tak segan membogem wajah pak Yusuf.
“Uh!” refleks pak Haji bergidik kemudian memegangi wajahnya menggunakan tangan kanan, seolah dirinya juga mendapat bogem mentah layaknya pak Yusuf. “Emak-emak kok dilawan!” ucapnya.
Di depan sana, pak Yusuf langsung sempoyongan dan refleks berpegangan pada salah satu motor di sebelahnya.
Beberapa karyawan berseragam merah dan putih berusaha melerai, tapi masa yang kebanyakan ibu-ibu bertubuh segar, malah makin bertindak sangar. Mereka meminta setiap kunci motor yang ada di sana untuk menyicil kerugian yang mereka dapatkan dari Nada.
“Bisa dipastikan kismin cepat ini bapakmu, Sep. Yang ada dia bakalan minta bantuan kamu buat bertahan ke depannya!” yakin pak Haji masih mengamati.
Septi mendengkus kesal sambil terus mengamati apa yang terjadi. “Kita enggak usah ke sana dulu sebelum mereka benar-benar bubar, Pak Gede. Yang ada mereka jadi minta kita buat ikut tanggung jawab. Parahnya kalau mereka sampai tahu rumah kita. Pasti didatengin terus sampai kita kasih semuanya sesuai kerugian!” Ia menatap pak Haji penuh keyakinan.
“Tumben kamu mikir? Iya, tumben otakmu berguna!” balas pak Haji sambil tertawa ceria.
Septi hanya mendengkus kesal. “Ancur-ancur pokoke itu!” ucapnya ikut geregetan melihat bapaknya masih menjadi bahan rundungan warga. Malahan, motor yang awalnya akan dibawa, jadi tidak jadi dan malah dibantingg sengaja dirussak dan tampaknya untuk menurunkan harga dari motor.
Setelah tampak puas, para ibu-ibu pergi dari sana. Sebagian naik odong-odong yang terparkir dan jumlahnya ada dua odong-odong. Sebagiannya lagi naik motor dan kelakuan mereka sungguh bar-bar karena mungkin efek mereka yang telanjur dirugikan.
“Andai selama bapak kamu pergi, kamu jadi orang berguna, kan balas dendam sekaligus kemenangan kamu cukup kipas-kipas pakai duit matang!” ucap pak Haji.
“Bener sih, andai aku gitu pasti papah makin ngenes, Pak Gede!” balas Septi.
“Nah makanya, ... berguna dan jadi kaya jauh lebih baik karena bisa bikin kamu punya derajat! Daripada kamu malas-malasan terus, hasilnya cuma lemak yang bikin kamu makin dekat neraka!” balas pak Haji. “Kamu jangan niru saya yang tinggal nongkrong di warung Arum sambil karaokean, beda. Soalnya dulu saya sudah bekerja keras, nah sekarang ibaratnya saya tinggal manen setiap usaha. Beneran tinggal menikmati hidup!”
“Terus, sekarang aku harus gimana, Pak Gede?” sergah Septi yang sungguh meminta saran sekaligus arahan termujarab untuk membalas sang bapak.
__ADS_1