Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
113 : Menahan Malu


__ADS_3

“Aku serius. Kalau kamu tetap enggak mau berubah,” ucap Angga.


Septi yang awalnya tiduran meringkuk membelakangi Angga, berkata, “Dikiranya aku ini pesulap, sakti, apa gimana, sih, Mas, disuruh berubah-berubah?!”


Angga yang telanjur murka pun berkata, “Kalau kamu masih tetap enggak sadar juga, kita BENERAN CERAI!”


Bengong, Septi mendadak mirip sapi ompong. Namun beberapa saat kemudian, wanita itu kembali memiliki kesadaran. Menggeleng tegas, Septi berkata, “Enggak! Mas enggak bisa ngelakuin itu ke aku!”


“Hanya karena aku sudah menandatangani perjanjian? Kamu pikir, itu masih berlaku sedangkan orang tua kamu saja, sudah jadi penghuni resmi hotel prodeo?!” sergah Angga tak kalah sengit dari Septi.


Balasan Angga barusan juga kembali membuat Septi diam. Angga memanfaatkannya untuk kembali menye-rang wanita itu. “Kemasi barang-barang kamu dan segeralah pergi dari sini!”


“Termasuk anakmu. Bawa juga dia dari sini! Lebih baik hidup sendiri daripada memelihara pemalas yang enggak punya otak apalagi hati!” tambah Angga masih emosional.


“M-mas!”


“Lihat dirimu, Sep! Lihat, apa yang bisa kamu banggakan? Kamu beneran sudah enggak punya apa-apa. Lihat fisik kamu yang lebih mirip gajah! Wajahmu pun enggak lebih menarik dari pan-tat penggorengan daganganku! Apa yang akan kamu sombongkan lagi, hah? Memangnya, bisa apa kamu tanpa aku?” lanjut Angga. “Kamu bukan Arum yang serba bisa. Kamu beneran enggak lebih dari parasit rumah tangga! Itu juga kan, alasanmu dulu minta orang tua kamu paksa aku nikah sama kamu? Kamu berpikir saat itu aku memiliki kehidupan sekaligus perekonomian mapan?”


Dima-ki begitu, Septi menjadi menangis tersedu-sedu, mirip tangis karena ditinggal meninggal orang tersayang.


“Sudahlah, ... aku beneran sudah capek! Lebih baik sekarang kita beneran cerai. Mulai sekarang, kamu benar-benar bukan istriku lagi. Enggak apa-apa aku yang pergi dari sini, tapi setelah ini juga, kita beneran sudah enggak ada urusan!”


Bukan Septi yang berkemas-kemas, melainkan Angga. Angga memasukkan pakaiannya ke dalam ransel, kemudian membawanya ke sepeda tua yang sudah dihiasi gerobogan dagangannya.


“Mulai sekarang juga, urus hidup kamu sendiri. Jangan lupa buat urus anakmu juga. Kalau kamu mau minta tanggung jawab sekaligus nafkah, sana cari Supri. Mungkin dia ada di tempat kumuh buat cari makanan sisa, atau malah penjara saking gondoknya polisi urusin dia!” ucap Angga yang sudah bersiap di atas sepedanya. Ia menggoes sepedanya sambil memukkul-mukullkan pelan garpunya ke botol kecil yang ia gantung di setang sepeda sebelah kanan.


“Sempol, cilung, basreng ...!” Dengan semangat, Angga berseru mengabsen dagangannya.

__ADS_1


Septi yang ditinggal sendiri di kontrakan, panik. Wanita itu sungguh kebingungan dan buru-buru menyusul ke depan. Namun yang membuat Septi makin bingung lagi, tak lain ketika wanita itu mendapati pantulan bayangannya di kaca jendela kontrakan sederhana yang ia tempati.


“Ya ampun, ini beneran aku ...?” lirih Septi sulit untuk percaya. Kedua tangannya meraba wajahnya yang dekil. Daki di kulitnya termasuk wajahnya seolah sudah sangat menumpuk. Sementara rambut bergelombang yang biasanya ia luruskan di salon, kini awut-awutan mirip sarang burung sudah ditinggal penghuninya.


Karena jangankan menjalani perawatan, semacam keramas atau setidaknya sisiran saja, Septi mager dan memang sangat malas melakukannya. Sedangkan untuk penampilannya, tubuhnya yang makin hari makin melar dan dikata Angga lebih mirip gajah, sungguh itu tidak mengada-ngada. Angga sungguh jujur karena kini, tubuh Septi melar semelar-melarnya mirip karet yang direndam di minyak tanah.


“Kok aku jadi macam kembarannya si Anggun, ya?” isak Septi yang bahkan jijjik pada penampilannya sendiri. Septi yang menjadi kian terisak pilu, buru-buru menyudahi tatapannya. Ia memunggungi kaca kusam di hadapannya. Namun tak lama setelah itu, ia refleks menoleh karena Sepri menangis. Mau tak mau, ia kembali menatap pantulan bayangan dirinya lagi.


“Lihat diri sendiri rasanya semalas ini. Terus, sekarang aku harus bagaimana?” batin Septi benar-benar bingung.


Yang membuat Septi makin sedih, tak lain karena ia teringat ucapan Angga. Ucapan yang menegaskan bahwa Septi bukan Arum yang serba bisa. Karena yang ada, Septi tak lebih dari parasit rumah tangga.


***


“Sempol ayam, sempol ayam. Cuma seribuan!” seru Angga yang kemudian menepikan sepedanya lantaran sekelompok anak kecil di kompleks jalan perumahan yang ia lewati, langsung menyerbunya untuk membeli.


“Alhamdullilah, kayaknya bakalan laris manis lagi kayak kemarin,” batin Angga.


“Bang, saosnya yang banyak, ya!”


Angga menjawab setiap permintaan dari anak-anak di sana dengan senyum semringah. Walau ketika seorang pria datang sambil mengemban seorang bocah perempuan, senyum di wajah Angga langsung hilang.


Sambil tetap fokus menggoreng setiap pesanan, Angga menatap pria itu. Itu Fajar. Berbeda dari penampilan pria itu biasanya, kali ini wajah Fajar malah babak-belur. Paling mencolok, bibir atas pria itu yang menjadi monyong nyaris menutupi kedua lubang hidungnya yang lebar mengingat hidung Fajar memang besar.


“Heh, Bro! Tuh bibir kenapa? Keantup tawon gajah, kah? Masa segede itu?” tanya Angga sengaja meledek.


Ketika Fajar langsung syok, tak menyangka jika tukang sempol yang ia datangi malah Angga, anak-anak di sekitarnya dan jumlahnya lebih dari sepuluh, justru langsung kepo.

__ADS_1


“Wah, mana-mana ...?”


“Iya, yang keantup tawon gajah, mana? Berarti gede banget, ya?”


“Hahahahaa bibirnya mirip bibir siluman! Tebel gede banget!”


Semua anak-anak yang di sana kompak mengejekk sekaligus menertawakan Fajar. Fajar langsung spaneng, memakii Angga.


“Sueee koe, Nggaa!” kesal Fajar tanpa menutup-nutupi sekitar mulutnya lagi menggunakan tangan kiri yang tidak mengemban bocah perempuan yang memang putrinya.


“HAHAHAHA ... GIGINYA OMPONG!”


“HAHAHA ... IYA, PONGAH! KEBANYAKAN MAKAN PERMEN, YAH, OM. MAKANYA BIBIRNYA MIRIP BIBIR SILUMAN, DAN GIGINYA PUN, PO-NGAH!”


Angga yang hanya menyimak, benar-benar merasa sangat bahagia menyaksikannya. Ia tertawa sampai lemas, merasa puas setelah sebelumnya dibuat kesal karena niatnya meminta bantuan Fajar selalu gagal. Sebab Fajar selalu saja memiliki alasan untuk menghindarinya.


“Semprul koe, Ngga!” kesal Fajar memilih pergi dari sana. Ia pergi diiringi ejekan dari anak-anak yang tengah antre membeli dagangan Angga.


“Ayah, pengin empol!” rengek sang putri yang kiranya berusia dua tahunan.


“Bau itu. Makanan busuk, jangan dibeli!” sergah Fajar sewot.


“Heh, Jar! Hati-hati yah, kalau ngomong! Gosong sampe meledak tuh bibir kamu kalau kamu nekat ganggu hidupku lagi!” seru Angga yang sudah langsung waswas, pembelinya kabur gara-gara ucapan Fajar barusan.


Beruntung, bocah-bocah di sana yang tampaknya kelaparan, sudah langsung sibuk melahap sempol dan juga aneka gorengan lainnya. Semuanya kompak keenakan dan mengatakannya kepada Angga.


Lain dengan Angga, Fajar yang terus melangkah malah sengaja mengacungkan jari tengah tangan kirinya kepada Angga. Ketika ia menoleh ke belakang, ia malah tak sengaja menginjak buah mengkudu yang sangat matang dan kebetulan jatuh. Membuatnya berakhir terpeleset sekaligus terjerembab, mengingat jalan di sana masih berupa campuran tanah dan sebagiannya aspal rusak.

__ADS_1


Anak kecil yang masih di sekitar Angga, termasuk juga dengan Angganya, kompak menertawakan Fajar. Beruntung, sang putri duduk di dada Fajar dan tak sampai jatuh. Kendati demikian, akibat keadaan tersebut pula, Fajar merasakan sakit yang sungguh berkali-lipat!


Masih ingat salah satu luka dalam kehidupan yang rasanya sangat menyakitkan selain menahan rindu? Iya, benar. Menahan malu!


__ADS_2