Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
251 : Ayo Kita Menikah!


__ADS_3

Anggun terus menolak diusir, alasan yang juga membuat wanita itu bertahan duduk di teras depan kontrakan dokter Andri. Hanya saja, ibu Fatimah yang memiliki kuasa sudah tak mau menerima. Masa bodo, dan andai Anggun tetap memutuskan tinggal di sana, tak ada semacam upah atau itu gaji.


Di depan sana, persis di depan kontrakan Septi, kontrakan yang awalnya Anggun tempati juga sudah sampai dikunci. Barang-barang Anggun yang terbungkus ransel jinjing kucel juga sudah memenuhi teras depan kontrakan. Anggun yang sampai detik ini masih menangis pedih, memandangi semua itu.


Septi yang baru keluar dari kontrakannya merasa prihatin. Namun, ia tak berniat mengecam keputusan sang mamah yang kini melangkah pulang sambil menuntun Ojan.


“Ojan, ini kepalamu ... kok berminyak gini bau ikan asin ...?” Ibu Fatimah merasa tak habis pikir dengan kelakuan cucu sambungnya yang makin lama makin ajaib. Ingin rasanya ia mengamuk termasuk itu memukuuul Ojan. Masalahnya ia sadar, itu hanya sia-sia. Ditambah lagi, Ojan memang berbeda dari kebanyakan.


“Sep, nanti pintunya langsung dikunci saja soalnya si Mbah tidur di rumah utama!” sergah ibu Fatimah yang berniat akan memandikan Ojan lagi walau kini sudah hampir pukul sembilan malam.


Wajan bekas menggoreng ikan asin sudah tengkurap di meja dapur. Padahal harusnya itu wajan ada di kompor. Yang membuat ibu Fatimah curiga, si Ojan yang sudah ia lepas pakaiannya, mendadak minggat keluar dan mengambil wajan yang kemudian bocah itu isi nasi dari penanaknya.


“Innalilahi, ini bocah makan pakai minyak jelantah ikan asin, padahal aku sudah masak enak banyak.” Ibu Fatimah benar-benar bingung karena ketimbang sup bakso lengkap dengan daging sapi di dalamnya, selain ayam goreng, ikan goreng, Ojan lebih memilih menempel-nempelkan nasi putih hangatnya ke wajan. Tak tanggung-tanggung, bocah itu juga menempelkan nasinya ke kepala yang masih basah minyak jelantah bekas menggoreng ikan asin, setelah wajan yang digunakan kering, tak ada lagi minyak jelantah yang tersisa di sana.


“Jan ... Jan, Mbah Fatimah harus gimana, sih? Masa iya makanan kesukaanmu malah makanan orang susah. Padahal Mbah sudah masak banyak buat Ojan.”


Septi yang sempat menyaksikan sang mamah yang putus asa akibat tingkah Ojan memilih keluar dari kontrakan. Ia mengetuk pelan pintu kontrakan dokter Andri kemudian membuka pintunya dengan hati-hati. Tak lupa, ia sengaja menguncinya karena pak Erdi juga baru akan pulang besok pagi.


“Bisa-bisanya si Septi memanfaatkan kesempitan untuk kesempatan!” lirih Anggun asal ngomong. Ia berangsur mencoba berdiri, tapi ia kesulitan dalam melakukannya.


Septi tak hanya datang dengan tangan kosong. Karena ia juga membawa rantang susun yang sebelumnya sudah ia isi masakan sang mamah. Di kamar, Nissa belum tidur dan masih duduk loyo memandangi wajah sang papah dengan mata sembamnya. Kebetulan, dokter Andri memang sudah tidur. Namun Septi yang yakin Nissa belum makan, segera mengajak bocah itu keluar untuk makan.

__ADS_1


Tanpa banyak balasan bahkan sekadar suara, Nissa sudah langsung keluar dari kamar menyusul Septi. Mereka makan di tikar karakter yang sempat digunakan untuk memijat dokter Andri.


“Bu Septi,” ucap Nissa lirih sambil menatap ragu cenderung takut Septi. Ia mengunyah pelan makanan dalam mulutnya dan itu suapan dari Septi.


“Kenapa, Sayang?” tanya Septi. Walau jujur saja, ia yakin bahwa permintaan agar ia menjadi mamah Nissa, akan kembali ia dapatkan dari bocah itu. Ditambah lagi, kini dokter Andri sedang sakit.


“Makasih banyak karena Ibu Septi sudah sayang Nissa. Ibu Septi harus selalu sehat. Jangan seperti papah. Melihat papah sakit begitu, aku beneran sedih ....” Nissa menunduk murung, terlepas dari suaranya yang sudah nyaris hilang akibat kesedihan yang ditahan.


Septi mengangguk-angguk sambil tersenyum hangat. Ia menatap Nissa penuh kehangatan. Berharap, melalui tatapannya, ia bisa membuat suasana hati gadis kecil itu menjadi jauh lebih baik. “Tentu, Sayang. Ibu pasti akan selalu sehat. Nissa juga harus selalu sehat, ya?” Tangan kirinya yang tidak memegang sendok, mengelus penuh sayang, kepala Nissa yang hari ini rambut panjangnya ia kuncir dua di samping sebelum akhirnya ia kepang.


Nissa menengadah dengan kedua mata yang sudah basah. Air matanya terus berlinang menatap Septi penuh kepedihan. Septi yang tidak tega segera memeluk Nissa setelah sebelumnya sampai menyisihkan piringnya. Kini, bagi seorang Septi, semua yang berhubungan dengan anak kecil selalu membuat hatinya rawan. Ia mudah merasa pedih di setiap ada anak kecil sedih apalagi sampai menangis. Mungkin karena Septi memiliki Sepri yang berbeda dari manusia kebanyakan.


Selesai mengurus Nissa, Septi melongok dokter Andri. Ia sampai membantu dokter Andri yang meminta bantuannya untuk diantar ke kamar mandi.


“Peran ganda bagaimana?” balas dokter Andri.


“Kan harus jadi mamah juga!” balas Septi sewot.


“Jadi mamahnya aku titip ke kamu dulu. Nanti kalau kamu sudah siap, baru kita resmiin!” balas dokter Andri dengan santainya.


“Mas bilang begitu enggak takut aku b4nting?” balas Septi.

__ADS_1


Dokter Andri langsung menghela napas pelan sekaligus dalam. Ia menatap nelangsa Septi. “Masa iya kamu tega gitu ke aku. Cukup Anggun saja yang bikin beban hidupku obesitas, kamu jangan.l.”


Septi tak lagi menjawab, paham pasti obrolan mereka akan ke mana jika terus diyakinkan.


“Malam ini sampai besok pasti sakitnya berasa benget!” lanjut dokter Andri kali ini berkeluh kesah.


“Manja ih ... Mas hanya boleh begitu ke istri Mas!” omel Septi.


“Ya sudah, ayo kita menikah!” sergah dokter Andri penuh keseriusan, setelah sebelumnya, ia refleks menghela napas dalam.


Dokter Andri sengaja menghentikan langkahnya, membuat Septi juga berangsur mengikuti. Ia masih menatap Septi dengan sangat serius, selain ia yang tentu saja menunggu balasan. Tentunya, jawaban persetujuan yang ia harapkan diucapkan oleh Septi.


“Apa-apaan ... dulu situ ngejar-ngejar Widy, eh sekarang malah ke aku!” omel Septi.


“Justru aku salah kalau aku masih ngejar-ngejar Widy, padahal dia sudah nikah dan sekarang dia sudah bahagia dengan pasangannya!” balas dokter Andri meyakinkan.


Septi langsung kebingungan dan perlahan menunduk.


“Memangnya, kamu enggak mau bahagia seperti mereka? Memangnya kamu enggak ingin kasih anak-anak kebahagiaan,” lanjut dokter Andri yang buru-buru pamit ke kamar mandi karena sudah sangat kebelet pipis.


Terseok dokter Andri melangkah hingga Septi yang tidak tega sengaja mengantarnya hingga dalam kamar mandi.

__ADS_1


“Pelan-pelan, hati-hati.” Septi buru-buru menutup pintu kamar mandinya, kemudian menunggu di depan pintu.


Saat mereka kembali bertemu, mereka tetap diam. Obrolan seolah terlupakan begitu saja. Namun ketika mereka sampai di kamar dokter Andri dan Nissa hendak meringkuk tidur membelakangi mereka, hati kedua sejoli itu tergores pedih. Alasan yang juga membuat keduanya berhenti melangkah. Keduanya menjadi merasa serba salah, hingga akhirnya tatapan mereka bertemu. Dari tatapan mereka, mereka seolah ingin menyampaikan, keputusan yang diam-diam langsung mereka buat akibat keadaan sekarang.


__ADS_2