Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
214 : Pamit


__ADS_3

“Besok sore baru ke Jakarta. Soalnya mau urus surat resign juga di sekolah,” cerita Widy yang terkecoh dengan nyayian di balik jarit di tikar sana.


“Satu-satu, aku sayang janda. Dua-dua, masih sayang janda. Tiga-tiga, janda tak ada tandingannya. Satu, dua, tiga, ini lagu janda!” lantun pak Haji untuk ke sekian kalinya dan tetap bertahan bersembunyi di balik kain jarit walau kainnya bau pesing ompol Sepri.


“Dy, tuh aki-aki minta disikat otaknya ke Banyumas biar waras!” ucap Septi yang lagi-lagi tertawa sambil meladeni beberapa pembeli.


Widy yang mengalungkan kedua tangannya di bawah dagu Salwa langsung mesem.


“Tuh, ... tuh, ... tuh, si Pongah ngintip-ngintip!” lanjut Septi masih heboh mengawasi setiap pria yang pernah mengejar Widy.


“Si mas Fajar, beneran masih pongah?” tanya Widy heran. Masa iya, sekelas Fajar yang bahkan kini menjadi pacar bayaran wariyem, tidak bisa membeli gigi palsu?


“Ya iya, pongah lagi. Kan kemarin aku seruduk! Salah siapa, kalau ngomong enggak mikir!” balas Septi sewot.


“Untung Cuma diserudug, yah, Sep?” ucap Widy sambil menahan tawanya.


“Nah, iya. Harusnya dia bersyukur. Kalau sampai aku banting rasa sumo kayak yang aku lakuin ke bapakku, bisa-bisa dia juga stroke!” sergah Septi yakin.


“Itu suami kamu kayaknya juga takut ke aku, dari tadi aku ngomongnya mirip preman!” lanjut Septi yang lagi-lagi ngakak.


Widy langsung menoleh menatap suaminya yang memang langsung mesem.


“Berarti lebarannya di Jakarta, ya?” lanjut Septi.


“Satu, dua, tiga, jandaku diambil orang terus!” rengek pak Haji.


Septi dan Widy hanya cekikikan. Yang membuat keduanya merasa lucu, tentu ketika Pongah nekat datang.


“Hati-hati, Dy, ... nanti suami kamu direbut pelakor batangan! Pongah kan sekarang sudah bengkok!” ucap pak Haji mendadak keluar dari persembunyiannya.


Fajar langsung menghela napas pelan. “Kejam sekali fitnah Anda!” lirihnya sambil menatap sebal pak Haji.

__ADS_1


“Tapi memang ada benernya sih,” ucap Septi yang kemudian kembali tertawa. Tak peduli walau ulahnya langsung membuat Pongah menatapnya sebal kepadanya.


Kemudian, fokus khususnya tatapan Fajar tertuju kepada pria tinggi yang berdiri di sebelah Widy sambil mengemban Adelio. Sekretaris Lim memiliki tinggi badan di atas rata-rata pria di sana, termasuk itu di atas Fajar.


Sadar Fajar sudah ingin dikenalkan kepada Sekretaris Lim, Widy sengaja mengenalkannya. “Yayah, ini Fajar. Dia mantan yang juga pernah menipuku.”


Fajar langsung mendelik syok lantaran Widy begitu jujur dalam mengenalkannya.


“Iya, dia memang penyuka wanita kaya. Mau gadis, mau janda, mau ...,” ucap Septi.


“Batangan sekelas wariyem yang di salon, semuanya beneran diembat asal ada uang abang sayang. Tuh, yang di salon itu yang namanya Honey si Herman Madu, merupakan pacar terbarunya!” timpal pak Haji.


“Sudah, ... sudah, suamiku langsung bingung!” tahan Widy sembari menahan tawanya.


Namun seperti yang Widy katakan, Sekretaris Lim memang bingung lantaran ada pria seperti Fajar dan itu ada di lingkungan perkampungan.


Tanpa banyak kata karena telanjur malu terlebih kalah jauh, Pongah Fajar sengaja melipir, mundur secara teratur tanpa pamit. Walau ulahnya itu juga langsung terciduk oleh pak Haji yang menjadi sibuk meneriakinya.


Ngabuburit kali ini Widy isi untuk memborong es gepluk gajah duduk, milik Septi sekalian berpamitan.


Widy yang menyimak refleks mesem. “Amin!”


***


“Aku hanya bawa beberapa seragam mengajarku, sih, Mbak. Sisanya aku sumbangin ke tetangga. Soalnya Mas Lim bilang, ibarat buat buang sial. Jadi hari ini sudah langsung beli baru. Punya anak-anak, mamak, termasuk orang tua Resty pun gitu. Demi menghapus pengaruh Agus.” Widy menceritakannya kepada Arum yang mendadak mengajaknya berbicara empat mata di kamar wanita itu.


“Semua sisa dagangan juga dikasih ke tetangga semua. Beneran sudah enggak ada yang tersisa. Termasuk ternak di belakang rumah, semuanya sudah dikasihin. Dan ini kunci rumah yang baru. Kapan-kapan kalau sempat, tolong ditengok rumahnya!” Widy berkaca-kaca menatap Arum yang sudah berlinang air mata.


“Tapi lebaran kami pasti mudik!” lanjut Widy meyakinkan dan Arum yang bungkam, berangsur mengangguk-angguk.


“Kalian pasti selalu bahagia!” ucap Arum akhirnya, dan sedari tadi memang hanya bisa diam karena terlalu nelangsa.

__ADS_1


Tangis Widy pecah seiring ia yang memeluk Arum. Pelukan yang makin lama makin erat. “Amin, Mbak! Aku rasa, Mas Lim sebelas dua belas dengan Mas Kala, walau Mas Lim, versi diemnya!”


“Diamnya dia karena belum terbiasa. Pas Mas Kala awalnya juga gitu. Namun makin lama, Mas Kala jadi ketularan pak Haji!” balas Arum belum bisa menepi dari kesedihannya.


Mendengar itu, Widy langsung nyengir. “Mbak ih, jangan samakan Mas Kala dengan pak Haji. Pak Haji kan identik dengan Musafir Cinta Pemuja Janda!”


“Ya maksudnya, Dy. Jailnya. Jailnya enggak beda sama pak Haji. Sisanya ya enggak dan amit-amit!” balas Arum buru-buru mengoreksi anggapannya.


“Eh, nanti kalau si Kembar sudah bisa dibawa perjalanan jauh, Mbak juga pengin main ke Jakarta lagi. Pengin lihat monas, pengin ke Dufan!” ucap Arum yang tiba-tiba ceria. Ia mengakhiri dekapannya, menggunakan kedua tangannya untuk menyeka air matanya.


Tingkah polos sang kakak membuat Widy tertawa. “Ya ampun, Mbak. Di Jakarta enggak hanya ada Monas sama Dufan, ih!”


“Ada Ancol sama Taman Mini, juga, kan?” balas Arum sengaja menambahi, tapi Widy tetap menertawakannya.


“Lebih, Mbak. Beneran lebih! Enggak hanya itu. Memang kita, paling jauh mainnya ke pantai Pangandaran, Krapyak, Bugolo, apa pantai Ayah!” ucap Widy masih tertawa dan itu menertawakan mereka yang jarang liburan, tapi sekali liburan juga masih di tempat-tempat itu saja.


“Tapi pantai Pangandaran tetap favorit, penuh kenangan!” ucap Arum sambil tersenyum gemas.


“Kapan-kapan kita ajak suami kita ke Lombok, Bali, Labuhan Bajo! Pasti keren!” bisik Widy sengaja merancang liburan keluarga mereka.


“Oke! Yang penting kamu jangan hamil dulu biar kita bisa liburan dalam waktu dekat. Karena kalau kamu sampai hamil dalam waktu cepat, liburan kita pasti ketunda!” ucap Arum.


Widy tertawa.


“Jangan Haha hehe terus! Ingat, kalau kamu hamil, kamu kayak jelly terlalu encer, enggak ada dayanya!” ucap Arum yang kali ini mengomel.


“Mana tahu jadi beda kisah, Mbak, sama yang sekarang!” balas Widy sengaja meyakinkan.


“Syukur! Kalau enggak ya kasihan Lim, pasti repot!” balas Arum.


“Kami sepakat buat sewa pengasuh khusus yang wajib bisa mengajari anak-anak bahasa asing, sih, Mbak!” yakin Widy karena walau belum genap dua puluh empat jam usia pernikahannya dengan Sekretaris Lim, pria itu memang sudah merancang hubungan mereka sangat matang.

__ADS_1


“Syukur kalau gitu. Mbak ikut senang dengarnya. Mbak sama Mas Kala pun begitu. Tapi kamu harus ingat, urusan anak-anak, wajib kamu yang urus. Jangan sampai anak-anak lebih dekat dengan pengasuhnya apalagi kalau status kamu enggak kerja. Intinya harus saling kerja sama!” pesan Arum dan langsung dibalas anggukan sanggup oleh Widy.


“Kamu juga harus jaga Mamak, orang tua Resty lebih-lebih karena ibu Ripah sama pak Mul sudah mirip bayi. Dikit-dikit mereka pasti akan nelangsa apalagi kalau ingat Resty yang dibunuh Tomi!” lanjut Arum yang merasa sangat sedih melepas kepergian adik dan sang mamak. Bahkan walau ia tahu kepergian mereka untuk menjalani kehidupan yang lebih bahagia. Rasa berat sekaligus kehilangan, tetap Arum rasa dan rasanya sungguh menyiksa.


__ADS_2