
“Ya sudah, silakan masuk,” ucap Kalandra yang berusaha mengakhiri tawanya. Ia menunggu Fajar dan Septi untuk masuk lebih dulu. Keduanya malah saling tubruk karena sama-sama berusaha masuk lebih dulu.
Tentu alasan Fajar buru-buru ingin masuk mengakhiri kebersamaan mereka karena pria itu tak mau dekat-dekat dengan Kalandra apalagi Arum. Namun kini, ia malah terjepit di pintu bersama Septi hingga ia memilih mundur.
“Papah mau makan apa?” tanya Arum yang kini fokus kepada sang suami. Mereka juga menyusul masuk dan Kalandra masih merangkul pinggangnya dengan mesra.
“Aku pengin, ... tadi aku lihat balado ikan yang keranjang kayak enak banget, Yang! Sambalnya merah banget kayaknya enak banget,” ucap Kalandra.
“Lihat di mana?” tanya Arum.
“Di youtube!” singkat Kalandra yang kemudian tersenyum tak berdosa kepada sang istri.
“Aku pikir di mana, eh youtube. Ikan yang di keranjang itu maksudnya ikan cue, kan?” tanya Arum memastikan dan sang suami langsung membenarkan.
“Masalahnya kita enggak punya ikan cue, paling yang ada kalau mau ya di tukang sayur. Oh iya, titip ke Widy saja minta dibeliin dulu,” ucap Arum sambil terus melangkah.
“Jauh banget Yang!” tegur Kalandra, tak terbayang andai Arum sungguh meninta Widy mengirim ikan ke rumah makan mereka.
Arum menatap Kalandra. “Widy belum ke sini buat ambil pesanan ayam sama bebeknya, Mas. Dia lagi belanja sayur dulu, baru ke sini. Tadi sudah pamit soalnya, hari ini dia agak telat soalnya banyak orderan yang harus diantar,” jelasnya. Menjadi orang tua tunggal untuk tiga anak yang masih kecil-kecil memang membuat sang adik sangat bekerja keras. Segala pekerjaan khususnya yang dagang berdagang, Widy jalani di tengah kesibukannya sebagai seorang guru. Tentu itu jauh lebih mendapatkan hasil daripada ketika Widy masih bersama Agus.
Mendengar nama Widy disebut, jantung Fajar seolah nyaris loncat. Fajar yang nyaris duduk diam-diam menoleh sekaligus melirik kepergian punggung Arum.
“Widy, ... cinta yang belum kelar. Awalnya memang main-main, eh pas hubungan kami bubar, ternyata aku beneran sayang,” batin Fajar mendadak galau.
“Kamu di mana? Lagi belanja sayur di pasar? Oh, di situ ada ikan keranjangan enggak? Iya, cue. Mbak mau ya. Itu ada berapa? Ambil semua saja, nanti Mbak kasih ongkir juga. Enggak apa-apa, kamu ke sini kan juga buat kerjaan. Mbak tunggu yah, soalnya Mas Kala mau makan itu. Enggak sampai setengah jam lagi sampai? Oke, kalau gitu Mbak siap-siap masak dulu. Kirimnya ke rumah makan. Oke.” Setelah berbicara panjang lebar, Arum mengakhiri sambungan teleponnya dan ia segera masuk ke dapur, sementara Kalandra yang awalnya duduk di ruang kerja Arum malah menyusul.
__ADS_1
Di pasar, Widy tengah menyusun barang belanjaannya ke keranjang angkut berbahan bahan yang menghiasi motor matic bagian belakangnya.
“Ini ada sepuluh, ambil semuanya?” seru Mbak-mbak penjual sayurnya.
“Iya, Mbak. Ambil semuanya saja. Sekalian ditotal, ya. Masuk nota!” balas Widy bersemangat.
Ketika Widy mendekati area tempat penjualan sayur untuk melakukan pembayaran, di sebelahnya ternyata ada Angga. Angga yang tak lagi memakai pakaian khas pria itu tengah berjualan, memborong banyak daun bawang dan seledri. Karenanya Widy bisa langsung mengenali. Apalagi, Angga juga tidak sampai memakai masker layaknya Fajar.
Awalnya Widy hanya diam memandangi, merasa heran kenapa Angga memborong banyak daun bawang dan seledri. Namun karena ketika pria itu menatapnya juga langsung menyapa, mereka pun terlibat dalam obrolan.
“Kok Mas belanja daun bawang sama sledrinya banyak banget. Mau buat acara apa? Apa mau dijual juga?” tanya Widy.
“Buat bahan cireng, sempol, dan nugget-nuggetan, Dy. Ini nih, ini hasilnya!” jujur Angga.
“Waaah, merek Aidan kriuk ini punya Mas?” sergah Widy langsung terkejut.
“Lah aku juga ikut stok Mas! Buat dijual juga sama mamak, atau tetangga yang memang pada pesen. Aku ambilnya di sini,” cerita Widy heboh.
Angga langsung mengernyit, menatap heran Widy maupun motor Widy yang penuh barang belanjaan. “Ini kamu urus semua ini sendiri, si Agus masih enggak bantu?” Ia menatap wanita yang wajahnya mirip Arum itu dengan tatapan tak habis pikir.
“Aku sama Agus kan sudah cerai, Mas. Sudah lama, sebelum mbak Arum sama mas Kala nikahan. Soalnya pas disuruh kerja sama Mbak Arum biar aku sama mamak enggak capek, Agus milih minggat. Ya sudah aku milih cerai dibantu urus juga sama mas Kala,” cerita Widy.
Angga yang menyimak serius langsung mengangguk-angguk.
“Ya sudah Mas, aku duluan yah, mau ke rumah makan mbak Arum dulu. Takut kemalaman,” pamit Widy dan Angga langsung mengangguk-angguk sambil refleks memastikan arloji yang menghiasi pergelangan tangan kirinya.
__ADS_1
“Sudah jam enam lebih masih di sini, belum ke rumah makan Arum, belum ke yang lain,” batin Angga kagum kepada Widy yang menjadi benar-benar mirip Arum. Karena walau keduanya sama-sama wanita, keduanya juga sangat pekerja keras.
“Bisa enggak? Itu berat,” ucap Angga yang memang khawatir. Jarang-jarang ada wanita pekerja keras seperti Widy dan Arum, apalagi sejauh ini wanita-wanita di kehidupan Angga nyaris semuanya pemalas termasuk itu Septi yang pernah nikahi.
Widy membiarkan Angga menuntun motornya hingga dekat jalan raya. “Oke, Mas. Aman. Makasih banyak. Besok kalau aku dapat banyak pesanan nugget, aku mampir langsung ke kontrakan Mas deh.”
“Iya, gitu sajam biar kamu lihat juga proses pembuatannya. Mamahku yang jaga kok. Soalnya kan aku kalau siang jualan keliling,” balas Angga.
“Oalah Mas masih keliling buat jualan juga?” balas Widy yang belum bisa sepenuhnya percaya kepada laki-laki gara-gara Fajar. Bahkan walau ia diberi nomor ponsel oleh Angga untuk mempermudah transaksi jual beli nugget dan sempol, Widy belum bisa sepenuhnya percaya kepada pria itu.
“Soalnya masih butuh banyak karyawan,” ucap Angga.
“Besok aku cek ke kontrakan, beneran atau malah masih penipuan kayak Fajar pongah!” batin Widy sudah langsung tancap gas menuju rumah makan milik Arum.
Sampai di sana, Widy yang langsung membawa ikan cue pesanan Arum malah tak sengaja melihat Fajar yang sedang makan manja dengan Septi. Walau Fajar masih memakai masker bahkan ketika pria itu makan hingga melihatnya saja jadi ikut merasa ribet, Widy masih mengenalinya.
“Wah, kamu Septi mantan pacarnya Dika, terus nikah sama mas Angga, tapi kalian cerai, pokoknya yang itu, kan? Pangling aku. Eh, sori ... silakan dilanjutkan,” ucap Widy yang kembali cuek pergi langsung masuk ke dalam dapur.
Membandingkan Widy dan Septi, baik dari segi fisik maupun cara pikir, tentu Widy jauh lebih di depan ketimbang Septi. Terlebih Widy yang memiliki tubuh langsing makin lama juga makin glowing. Ditambah, selain memiliki pekerjaan tetap yaitu sebagai guru SD, Widy juga punya banyak bisnis jualan dan wanita itu memang sangat pekerja keras layaknya Arum. Sementara Septi, andai Septi tidak kaya seperti yang Fajar ketahu, Septi hanyalah wanita polos tapi sangat pemalas yang memiliki cita-cita hidup enak layaknya Arum, tapi wanita itu juga tidak mau ribet apalagi capek.
“Ayang, aku mau suapin kamu. Maskernya buka saja kenapa, sih?” rengek Septi.
Fajar yang tengah merenung karena mendadak galau gara-gara Widy, langsung sibuk menggeleng. “Gini saja, takutnya kurang higenis dan bisa fatal ke kesehatan aku.” Padahal jauh di lubuk hatinya, Fajar berkata, “Gigi palsu aku belum jadi, bahaya kalau kamu lihat gigi aku yang pongah!”
Pulangnya, Fajar kembali dibuat bertanya-tanya. Sebab sampai sekarang walau mereka sudah menjalin hubungan selama satu bulan lebih, Septi belum juga mengajaknya masuk rumah.
__ADS_1
“Sudah Ayang pulang dulu. Aku pengin lihat punggung Ayang,” ucap Septi sambil berpegangan pada gerbang rumahnya. Lebih tepatnya, itu gerbang bekas rumahnya karena kini rumah itu sudah jadi milik orang lain.