
Kecanggungan sungguh tak terelakan dan terus saja Angga rasakan. Walau tidak begitu berani karena nyalinya seolah menciut akibat kehadiran keluarga kecil Arum, Angga memberanikan diri untuk menoleh, melihat mobil pajero hitam di jalan sana. Bertepatan dengan itu, kaca pintu sebelah setir turun sempurna.
Angga mengetahui mobil tersebut merupakan mobil Kalandra, tapi kali ini ia dikejutkan oleh pengemudi yang tidaklah lain Arum. Sungguh menakjubkan, Arum sudah bisa menyetir walah di sebelahnya, Kalandra yang memangku Aidan masih kerap mengarahkan.
“Mas, itu motornya suruh minggir.”
Tentu Angga sadar, yang Arum maksud itu motornya. Angga langsung panik karenanya.
“Masuknya pelan-pelan, Sayang. Belajar. Ambil kanan dikit, masuk pelan-pelan.” Kalandra masih memberi arahan.
“Tapi aku enggak yakin, Mas. Sempit banget soalnya. Mau diparkir di sini, takut halang-halangi jalan!”
Angga yang sadar diri buru-buru meletakan dua kantong besar berisi aneka nugget yang ia bawa. Ia langsung lari menuju motornya dan memang tengah dipermasalahkan oleh Arum. Widy yang melihat itu langsung kikuk.
“Pasti enggak enak banget jadi mas Angga. Tapi mau gimana lagi, kan yang berulah juga dia juga. Kayak aku saja, kadang juga ada saat aku merasa enggak enak banget ke mbak Arum!” batin Widy yang kemudian langsung kicep karena di belakang mobil yang Arum kemudikan, ada sosok yang juga cukup ia kenal. Dokter Andri, pria itu datang menggunakan motor gede yang sempat menabraknya.
Kecanggungan juga langsung menimpa kebersamaan Arum dan Kalandra setelah pemilik motor dan tak lain Angga, menuntun motor yang Arum permasalahkan. Tentu, mereka terlihat jelas beda kelas walau baik Arum maupun Kalandra sama-sama memakai pakaian santai, benar-benar tidak ada yang berlebihan.
Kemudian, tatapan Kalandra dan Arum kompak tertuju pada Aidan. Bocah itu langsung heboh memandangi ketiga anak Widy. Dan refleks, mereka yang kembali bertatapan berangsur tersenyum satu sama lain.
__ADS_1
“Amna, yah, Mas? Mas tetap papah terbaiknya Mas Aidan, kok.” Arum meyakinkan dan Kalandra langsung tersenyum hangat.
“Gantengnya suamiku kalau lagi senyum gitu!” lanjut Arum sengaja memuji sang suami.
“Oh jelas!” sergah Kalandra yang pipinya langsung merah. Kemudian ia tertawa diikuti juga oleh Arum. “Kayaknya Angga rikuh alias enggak enak banget ke kita.”
“Kayaknya Mas,” balas Arum yang baru saja beres parkir disusul oleh dokter Andri yang menyusul.
Seperti yang Arum dan Kalandra yakini, Angga memang merasa super canggung sekaligus malu. Kalian bisa membayangkan bagaimana jika kedua rasa itu sampai dirasakan di waktu yang sama. Jangankan pura-pura tenang, menatap saja Angga tidak memiliki keberanian. Jadilah yang langsung Angga lakukan adalah menyelesaikan pembayaran Widy.
“Coba dicek dulu pesanannya. Ini notanya,” ucap Angga yang langsung mengeluarkan nota yang dimaksud dari tas pinggang warna hitamnya.
“Oke, Maw, bentar aku cek,” balas Widy.
Seperti biasa, kehadiran Kalandra dan Arum tidak pernah dengan tangan kosong. Keduanya kembali membawa banyak jajan sekaligus makanan berat. Termasuk itu dokter Andri yang juga mengeluarkan bawaannya dari belakang sepeda motornya dan langsung Kalandra sindir melalui berdeham keras.
“Kal, please, kamu kesannya kayak mau nyomblangin aku sama ipar kamu!” sebal dokter Andri. “Jangan gitulah, takutnya Widy benci ke aku. Kebanyakan yang dipaksa-paksa kan jadinya benci. Sekarang, aku mau fokus urus lukanya dulu. Yang di wajah sama tangan. Itu yang di wajah wajib dikasih obat penghilang bekas luka dan aku sudah bawa beberapa.” Yang membuat dokter Andri bingung, tumben Kalandra anteng. Dan di sebelahnya, pria itu tampak merenung serius. “Kamu kenapa lagi? Jangan kayak orang kesurupan lah, itu sudah dipanggil istrimu itu di teras.”
Sadar Arum sungguh sudah memanggil bahkan menunggunya, Kalandra yang menenteng dua kantong besar berwarna putih buru-buru pamit. “Nanti kita lanjut obrolannya!”
__ADS_1
Dokter Andri makin tak mengerti kenapa Kalandra mendadak sangat bersemangat kemudian sampai memintanya untuk melanjutkan obrolan mereka, nanti.
“Ya Tuhan, cobaan berat banget ini,” batin Angga yang benar-benar bingung harus bagaimana? Maju tidak bisa, mundur tak mungkin.
Angga masih bertahan di bibir pintu kediaman ibu Rusmini, padahal Arum dan Kalandra sudah ada di teras. Kalandra yang baru sampai langsung merangkul mesra pinggang Arum. Hampir satu bulan tak bertemu, Angga merasa perut Arum makin besar dengan perkembangan yang sangat drastis. Bahkan dari tadi, perut Arum sibuk bergerak. Menandakan janinnya sangat aktif.
“Gimana, Ngga? Alhamdullilah kelihatannya makin lancar.” Kalandra sengaja memulai karena pria itu tahu, andai dirinya yang ada di posisi Angga, pasti ia juga akan kehilangan nyali bahkan nyawa.
Daripada Angga jantungan atau malah stroke seperti pak Yusuf bapaknya Septi layaknya cerita dari pak Haji, Kalandra berusaha berdamai dengan kenyataan. Toh, baik buruknya sikapnya tak hanya berdampak kepadanya tapi juga orang-orang terkasihnya. Terlebih sejauh ini, Kalandra sudah sangat mendapat banyak kemudahan sekaligus rezeki.
“Alhamdullilah, Kal. Memang makin lancar!” balas Angga tetap saja tidak bisa mengakhiri rasa canggungnya.
“Wah, Mas. Bapakmu usahanya lancar. Minta angpau loh, buat ke pasar malam!” lanjut Kalandra. Antara bercanda sekaligus membeli kode keras karena sampai detik ini, Angga belum memberi nafkah khusus kepada Aidan. Semacam bulanan, sama sekali belum.
“Sama-sana mengingatkan enggak dosa kok, Ngga. Karena biar bagaimanapun, Aidan berhak. Walau aku enggak akan membiarkan Aidan kekurangan, Aidan berhak dapat juga dari kamu. Sementara alasan Arum diam, ya gimana ya, Arum pasti merasa enggak enak juga, ibaratnya nunggu kesadaran dari kamu. Sekarang kita obrolin baik-baik saja, ya. Mumpung ada waktu juga.” Kalandra bertutur dengan hati-hati.
“Sebenarnya, untuk urusan itu juga aku siapkan, Kal. Ya maaf banget, ya. Rasanya tetap canggung enggak nak ya malu juga. Serius, aku sudah siapin.” Angga membuka tas selempangnya, mengeluarkan buku tabungan dan juga sebuah ATM di dalamnya. Ia memberikan itu kepada Kalandra. “Ini haknya Aidan. Walau memang enggak seberapa dan enggak sebesar yang selama ini kalian berikan, tapi seperti katamu, Aidan berhak juga dapat dari aku. Apalagi setelah bikin itu, rezekiku makin lancar dan alhamdullilah, sepertinya Tuhan juga mulai membukakan pintu rezeki khusus untukku setelah aku urus rezeki juga buat Aidan.”
Mendengar itu, Arum tidak kuat. Ia berkaca-kaca dan memilih menunduk berlindung di balik punggung sang suami.
__ADS_1
“Alhamdullilah, Ngga. Di mana-mana, rezeki bapak memang ada di kebahagiaan anaknya. Bagaimana kita memperlakukan anak. Aku berani bilang begini karena aku sudah membuktikannya sendiri. Bahwa semakin anai istri kita bahagia oleh sikap termasuk itu rezeki kita, semuanya beneran dipermudahkan,” balas Kalandra yang kemudian menerimanya. “Aku terima buat Mas Aidan. Nanti kalau dia sudah gede dan ngerti, kami akan mengabarkan ini.”
Bukannya menjawab, tanggapan hangat dari Kalandra malah membuat Angga menangis. Dokter Andri yang dihampiri Widy jadi bingung karena memang belum kenal Angga.