Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
152 : Sepertinya Mereka Cocok


__ADS_3

“Kalau boleh tahu, laki-laki itu siapa?” tanya dokter Andri kepada Widy.


“Itu, ... mantannya Mbak Arum, ... papahnya mas Aidan, Dok,” jawab Widy yang juga menjadi memperhatikan kebersamaan haru di sana.


Jujur, melihat Angga seperti sekarang yang ada Widy merasa sangat kasihan. Setidaknya, Angga jauh lebih waras daripada Agus sang mantan. Bayangkan saja, dari awal pergi dan sudah langsung menjatuhkan talak kepadanya bertepatan dengan rumah yang dibongkar, Agus sama sekali tidak memberi kabar. Entah pergi ke mana pria itu, tapi asal tidak mengganggu kehidupannya dan ketiga anaknya, Widy tidak akan ambil pusing karena menghidupi ketiga anaknya yang sering menanyakan keberadaan bapaknya saja, Widy sudah pusing.


Setelah kebersamaan di sana menjadi diwarnai nuansa haru yang begitu menyayat hati karena akhirnya seorang Angga mengalami kemajuan yang luar biasa, Widy pun menjalani pengobatan intensif. Widy terlebih dulu menjalani terapi tangan, kemudian diinfus, dan luka di pipi kirinya juga diolesi salep khusus yang bisa membuang bekas luka.


“Andai di dunia ini ada salep penghilang bakas luka di hati juga yah, Andri!” ucap Kalandra yang baru kembali dari dapur sambil membawa satu gelas besar berisi air kelapa hijau untuk dokter Andri.


Dokter Andri yang masih memoleskan salep di luka yang ada di wajah kiri Widy berkata, “Bilang ke istri kamu!”


“Hatiku sudah aman, Ndri. Sudah diobati sama istri. Ya ampun, kok malah mau aku minum sendiri. Ini buat kamu yah, Ndri. Kelapa hijau asli, dikasih tetangga depan. Orang sini baik-baik banget, enggak ada salahnya kalau kamu mau nikah lagi, kami cari orang sini saja!” ucap Kalandra sengaja memberi sang sahabat kode keras agar mendekati iparnya saja.


Kalandra langsung meninggalkan kebersamaan dokter Andri dan Widy yang memang ada di ruang depan, di kasur yang sengaja ia bawa kemarin untuknya dan Aidan jika menginap di sana.


“Kelihatannya hubungan maa Kala sama dokter Andri dekat banget ya. Mas Kala sampai enggak ada rem gitu ngomongnya ke dokter Andri,” batin Widy.


“Kamu sudah tahu, kalau kakak iparmu itu setres?” ucap dokter Andri meluapkan unek-uneknya kepada Widy padahal yang membuatnya marah Kalandra.


Widy yang sadar kondisi, hanya tersenyum tak berdosa. “Mas Kala dan orang tuanya beneran orang yang sangat baik. Jarang ada orang sebaik mereka. Makanya, tetangga sini kalau lihat Mas Kala apa orang tuanya datang, pasti heboh,” ucapnya yang hanya menceritakan saja, sudah langsung merasa sangat bahagia saking menyenangkannya sifat Kalandra dan orang tuanya.


Dokter Andri mengangguk-angguk. “Iya, memang gitu. Di lingkungan juga terkenalnya gitu, dan aku pun sudah membuktikannya sendiri. Aku sama Kala sudah temenan semenjak kami masih jadi embrio kayaknya!” dokter Andri mengakhiri ceritanya dengan tawa yang ditahan.


Widy yang mendengar itu juga ikut tertawa, tapi dari belakang, Kalandra sengaja berdeham tak jadi lewat. Tingkah tersebut membuat Widy dan dokter Andri refleks bertatapan.

__ADS_1


“Kalian ada apa, ya?” tanya Widy menerka-nerka.


Dokter Andri menghela napas pelan kemudian menggeleng. Ia berangsur berdiri, “Entahlah, si Kala kalau lagi kumat jail sama resenya ya gitu!”


Widy mengangguk-angguk walau sebenarnya ia tidak begitu paham dengan maksud dokter Andri. Setelah sempat pergi, pria itu kembali melihat-lihat rumah dari atas ke bawah.


“Ini saya minum, ya?” izin dokter Andri.


“Iya, Dok. Minum, makasih banyak sudah datang, dan maaf, ngerepotin,” balas Widy sungkan.


Dokter Andri yang sudah meminum sebagian air kelapa hijaunya langsung menggeleng. “Jangan begitu, ini sudah jadi kewajiban saya.”


Widy langsung tersenyum canggung, dan terus begitu termasuk ketika dokter Andri menunjuk tiga cepuk salep penghilang luka untuk Widy pakai rutin.


“Itu juga bisa buat bekas luka yang lain, tapi fokus ke yang di wajah dulu sih. Harusnya satu cepuk buat yang di wajah cukup. Paling banyak ya paling dua, ya.”


“Mas ...,” tegur Arum lembut tapi penuh arti, dari dapur.


“Mbak Ar, suaminya diiket saja dulu!” ucap dokter Andri.


Widy yang mendengar itu refleks menahan senyumnya, lain dengan Arum yang sampai tertawa.


“Rumah mungil kayak gini kok rasanya nyaman banget, ya?” ucap dokter Andri yang mengatakannya sambil menatap Widy.


“Kamu mau ngontrak di sini juga, Ndri? Nanti kalau mau cari ikan, apa cari jan-dah ...,” ucap Kalandra tak kuasa melanjutkan ucapannya lantaran yang dimaksud ada di sebelahnya dan tengah menatapnya sambil menahan senyum.

__ADS_1


Kalandra yang harusnya menelan air kelapa hijau di dalam mulutnya, malah perlahan menyemburkannya ke bawah.


“Mbak Arum kamu lagi masak apa? Wangi banget? Saya mau lihat ya,” ucap dokter Andri yang sungguh melenggang masuk ke area dapur.


Di dapur, Arum tengah memasak rica-rica entok.


“Pas kapan, malam-malam intinya, Kalandra bawa dua nasi boks isi entok rica-rica sama sayur lengkap, katanya buat aku satu, tapi pas aku beres praktik, sudah ludes sama dia,” cerita dokter Andri yang masih melihat Arum masak di dapur.


“Kayaknya itu pas kami belum nikah, deh. Soalnya pas belum nikah, Mas Kala sering pesan katering semacam nasi gitu buat acara kantor sama pabrik,” jelas Arum.


“Wah, ternyata dari awal, si Kala memang sudah sibuk modus ke kamu yah, Mbak!” ucap dokter Andri sengaja membalas keusilan Kalandra sedari tadi.


Arum langsung tersipu. Urusan modus tidaknya Kalandra di masa lalu, Arum tidak tahu. Namun, yang Arum tahu Kalandra sengaja serba pesan kepadanya karena selain Kalandra cocok dengan rasa masakan Arum, dari awal Kalandra memang sangat menyayangi Aidan. Jadi, yang Arum yakini, alasan Kalandra sering order makanan kepadanya agar Arum tetap bisa mendapatkan rezeki untuk Aidan. Sesayang itu Kalandra pada Aidan hingga Arum bisa menjamin, apa pun yang terjadi, Kalandra tetap papah terbaiknya Aidan.


“Namanya juga usaha, ya apa pun dicoba. Kamu belum kenal sama musafir cinta pengejar janda di rumah makan istriku sih! Kalau kamu kenal dia, kamu bakalan jadi pejuang cinta juga!” ucap Kalandra yang tak segan merangkul mesra perut istrinya.


“Musafir cinta pengejar janda, apalagi itu. Ada-ada saja!” Dokter Andri yang ada di sana langsung merasa kikuk, merasa dirinya tak beda dengan obat nyamuk untuk kebersamaan Kalandra dan Arum. Karenanya, ia sengaja pamit. Ingin melihat kehebohan anak-anak yang asik bermain di teras walau sudah malam. Di luar, keempatnya ia ketahui hanya bersama ibu Rusmini.


“Di sini selalu rame ya, kalau jam segini. Asli suasananya bikin betah,” ucap dokter Andri.


“Rumah sebelah kan tempat ngaji gitu, Dok. Jadi ya rame terus,” jelas Widy yang kemudian berangsur berdiri menyusul dokter Andri.


“Harusnya mereka cocok loh, Yang,” ucap Kalandra masih rusuh ke Arum yang sedang masak. Ia masih mendekap perut Arum, mengabsen setiap tendangan sepasang kembarnya di perut.


“Biarin, Mas. Biar hubungan mereka berjalan dengan semestinya. Kalau memang jodoh, pasti walau harus nunggu lama, tetap bersama. Alhamdullilah malah kalau Widy jodoh sama dokter Andri, ibaratnya sama orang sendiri dan Mas bilang, dokter Andri orang yang baik, selain aku yang merasa, selama mengenalnya, dia memang orang baik. Bismillah saja kita doa terbaik buat hubungan mereka, termasuk buat semuanya. Buat yang di perut juga biar nanti keluarnya lancar sehat semua!” ucap Arum.

__ADS_1


Sungguh doa terbaik yang mampu Arum panjatkan. Karena setelah semua yang terjadi Arum jadi makin yakin, dari semua rencana, rencana Tuhan paling baik. Walau rencana itu bermula dari bingkisan yang kita rasa sebagai luka, Arum yakin seyakin-yakinnya, luka itu bagian dari cinta yang sangat istimewa.


__ADS_2