Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
48 : Mengusut Kasus Ibu Fatimah


__ADS_3

Arum tidak berani mengangkat wajah termasuk itu sekadar mengangkat tatapannya lantaran Kalandra tak hentinya menatapnya. Pria itu tak hanya khawatir, tapi juga sangat gelisah. Kalandra menjadi mirip ibu hamil yang sedang merasakan gelombang cinta menuju pembukaan persalinan. Saking pedulinya kepadanya, Kalandra menjadi emosional dan bahkan tak segan mengomel.


“Lewat tiga hari, bekasnya tetap belum hilang!” keluh Kalandra masih fokus menyetir. Mereka tengah di perjalanan menuju kabupaten. Kalandra langsung membawa kasus ibu Fatimah ke kabupaten Angga dipenjara agar kasus yang melukai Arum itu segera diurus.


“Rahang kamu sampai geser. Lagian kenapa juga kamu enggak lawan? Andaipun dia mengelak, aku akan tetap bela kamu. Aku malah jauh lebih senang kalau kamu yang bikin dia babak belur daripada dia yang bikin kamu sakit begini.”


“Kalau aku tahu dia mau gitu, pasti aku tahan, terus aku gam-par duluan, Mas!” balas Arum tak bersemangat. “Masalahnya dia spontan banget. Tiba-tiba datang, terus gam-par. Kalau Mas enggak percaya, tanya saja ke Bu Parinah.” ibu Parinah merupakan ibu-ibu berhijab kuning dan kini menjadi bagian dari mereka.


Ibu Parinah duduk di tempat duduk penumpang, tepat di belakang Arum. Namun baru saja, ibu Parinah geser, terus begitu seolah sedang mencari tempat nyaman. Kalandra yang sesekali memperhatikannya lewat kaca spion yang ada di atasnya sampai heran. Termasuk Arum yang akhirnya melongok lantaran dari belakang sangat sepi.


“Ibu Parinah, baik-baik saja?” tanya Arum khawatir.


Ibu Parinah langsung menatap Arum. Ia yang sadar alasannya ikut dibawa karena ia akan dijadikan saksi kasus ibu Fatimah dan Arum. “Mbak Arum, maaf ini AC bisa dimatiin saja, enggak? Jendela kacanya dibuka saja gitu, biar anginnya spoi-spoi, soalnya kalau naik mobil pakai AC, biasanya saya mabukk!” pintanya memasang wajah tak berdosa.


Karena ibu Parinah sampai menggigil kedinginan, Kalandra tak memiliki pilihan lain selain mematikan AC, kemudian membuka jendela pintunya untuk sirkulasi udara di dalam mobilnya.


“Nah, begini baru aman. Maaf, ya, kebiasaan naiknya paling truk apa kolbak, jadinya gini. Daripada pas di sana enggak bisa ngomong apalagi jawab pertanyaan polisi, ya mending cari aman biar pas ditanya, saya bisa jawab dengan totalitas!” ucap ibu Parinah sembari sibuk membalur leher, kepala, bahkan tubuhnya menggunakan minyak kayu putih pemberian Arum.

__ADS_1


Mendapati itu, Kalandra tak lagi mengomel pada Arum. Kelakuan ibu Parinah yang sampai membuat seantero mobilnya bau minyak kayu putih sukses membuat seorang Kalandra sibuk menahan tawa. Kini, menggunakan telunjuk tangan kirinya, Kalandra mengetuk-ketuk punggung telapak tangan kanan Arum yang awalnya ada di atas lutut kanan wanita itu.


Arum refleks menatap tangan kiri Kalandra, kemudian berganti menatap wajah pria itu. Meski awalnya sempat bingung, efek lirikan Kalandra yang membimbingnya untuk melihat tingkah ibu Parinah, membuat Arum sadar alasan pria di sebelahnya menahan tawa.


Sambil menahan senyum, Arum melongok ke belakang, menatap ibu Parinah. Ia mencoba mengalihkan perhatian mereka dari kasusnya dan ibu Fatimah. Karena Arum yakin, dengan bukti yang mereka kantongi, Kalandra bisa memberi wanita sok suci itu pelajaran lewat hukuman yang harus ibu Fatimah dapatkan akibat tingkah yang teramat kas-sar.


“Habis ini ibu juga wajib urut?” tanya Arum tenang, selain ia yang sebenarnya tipikal kalem, tapi sekali marah bisa langsung meledak-ledak.


Ibu Parinah yang masih sibuk memijat tengkuknya, tersenyum tak berdosa sambil balas menatap Arum. “Selalu gini kalau pergi-pergi pakai mobil bagus. Bukannya keren dan hepi, eh malah meriang berkepanjangan gara-gara mabokk!” ucapnya jujur. “Tapi ya enggak apa-apa, demi memberi orang seperti bu Fat pelaja-ran. Saya yang baru kenal saja kesel, apalagi Mbak Arum yang apa-apa jadi pelampiaasan, serba disalahin. Serius banget saya curiga sama si Septi, lah wong posisinya sudah jelas begitu, masa iya menganggap anak dan dirinya suci, terus kalau ada yang salah, nyalahinnya orang lain. Ya lawak banget!”


Sementara itu di tempat berbeda, kesibukan tampak menyita ibu Nur yang dibantu Rani. Mereka menggantikan Arum di kantin rumah sakit. Kebetulan Aidan juga sedang tidur di ranjang bayi.


Lain halnya dengan ibu Nur dan Rani yang sibuk saling menyemangati tak mau kalah dari Arum yang selalu serba bisa sendiri, di kamarnya, Septi terduduk lemas di lantai depan tempat tidur. Septi yang masih memakai pakaian saat ke rumah sakit, benar-benar bingung. Alasannya yang sibuk menangis walau tanpa suara. Dari luar pintu kamar Septi, ibu Fatimah yang baru datang langsung melirik sinis ibu Sumini. Sampai sekarang, wanita tua yang merupakan besannya itu memang di sana. Wanita tua itu bekerja tanpa gaji karena baginya, biaya hidup sekaligus biaya tinggal ibu Sumini saja sudah besar, tak sepadan dengan hasil kerja ibu Sumini yang sudah ringkih. Belum lagi jika dihitung dengan biaya yang harus mereka keluarkan untuk mengurus Angga.


“Jangan sok perhatian! Jangan dekat-dekat Septi! Bau kamu!” har-dik ibu Fatimah dan langsung membuat ibu Sumini takut.


Padahal, ibu Sumini benar-benar khawatir kepada Septi. Terlebih semenjak pulang dari rumah sakit dan ibu Sumini ketahu untuk USG, Septi yang terus menangis sampai mengurung diri. Namun karena apa yang ibu Fatimah lakukan, ibu Sumini jadi tidak berani.

__ADS_1


Andai aku enggak lihat Septi itu istri Angga, sudah aku ra-cun tuh si ibu Fatimah yang lebih cocok jadi belis! Batinnya menatap kesal punggung ibu Fatimah. Namun tak disangka, sebelum benar-benar membuka pintu, wanita itu malah memelotot kepadanya. Kedua mata tajam ibu Fatimah yang tak lagi tertutup cadar, benar-benar menyeramkan jika sedang begitu.


Ketika tidak keluar dari rumah layaknya sekarang, penampilan ibu Fatimah memang tidak sepenuhnya tertutup. Jangankan cadar, jilbab saja kadang hanya menutupi sebagian kepalanya.


Setelah masuk kamar putri kesayangannya, ibu Fatimah sengaja mengunci pintunya agar tidak ada yang mendengar obrolannya dan Septi termasuk itu ibu Sumini.


Sadar sang mamah datang dan bahkan langsung duduk di lantai persis di hadapannya, Septi langsung menghela napas. Septi kian menunduk, tapi tak lama setelah itu walau dengan suara lirih, ia sengaja meminta maaf.


“Maaf banget, Mah.”


Ibu Fatimah menatap siniss sekaligus tidak nyaman Septi. Namun jujur saja, firasatnya langsung tidak enak.


“Sebenarnya,” lanjut Septi. Namun sekali lagi, ia sangat ragu melanjutkannya. Apalagi di hadapannya, kedua mata sang mamah yang memang sangat tajam layaknya mata elang, sudah gemetaran, menahan kesal.


Plaaaaaaak!


Tubuh Septi terbanting setelah gam-paran panas yang ibu Fatimah lakukan menggunakan tangan kanan dan mendarat di pipi kiri Septi. Padahal, Septi belum cerita. Apa kabar jika Septi sampai jujur membenarkan semua anggapan ibu-ibu di kantin Arum?

__ADS_1


__ADS_2