Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
47 : Siapa yang Salah, Siapa yang Memfitnah?


__ADS_3

“Makanya kamu ... kamu kan lagi hamil, jadi mikirnya jangan macam-macam. Ngebatin pun, kalau bisa jangan!” lirih ibu Fatimah geregetan kepada Septi. Langkah kecil tapi buru-burunya seolah ia sedang menginjak dengan kejii apa yang ada di bawahnya. Sementara di sebelahnya dan tengah ia tatap murka, sang putri hanya menangis tersedu, menyesali apa yang terjadi.


Ibu Fatimah termasuk Septi sudah mengetahui kenyataan fatal yang terjadi pada calon bayi Septi. Bayi laki-laki itu akan lahir tanpa kaki kanan entah karena penyebab apa. Namun, Septi direkomendasikan untuk menjalani rujukan ke rumah sakit yang ada di kabupaten khusus ibu dan anak. Kendati demikian, ibu Fatimah percaya, alasan bayi Septi sampai tidak memiliki kaki kanan dan sangat mirip kasus Supri, lantaran Arum.


“Iya, ini semua gara-gara Arum! Gara-gara janda gatel itu yang sudah memfitnah kamu! Gara-gara dia sebut Supri sebagai ayah biologis dari janin kamu, kamu jadi trauma dan begini ... BEGINILAH HASILNYA!” Saking kesalnya, mata hitam ibu Fatimah sampai basah dan perlahan menjadi merah.


Ya Alloh kok jadi gini, sih? Kok sampai semirip ini? Jangan-jangan, wajahnya juga mirip Supri. Ini posisinya sampai sekarang, semuanya masih percaya kalau itu gara-gara mbak Arum yang sudah bikin aku takut setelah aku difitnah hamil anak si Supri. Namun kalau mbak Arum sampai banding ngajak semacam tes darah apalagi tes DNA, terbuktilah kalau ini memang anak Supri. Harusnya sih, enggak. Mana mau mbak Arum habisin uang sebanyak itu hanya buat tes DNA. Dia kan mau buka restoran. Iya, enggak mungkin mbak Arum berani nantang aku tes DNA karena daripada buang-buang uang buat aku, pasti mbak Arum lebih memilih uangnya buat masa depan Aidan, pikir Septi. Namun di depan sana, sang mamah sudah menggam-par Arum yang didatangi. Tubuh Arum langsung limbung karena sebelumnya, wanita itu tengah menyuguhkan kopi kepada ibu-ibu yang sedang beristirahat di salah satu tempat duduk kantin.


Sontak, ulah ibu Fatimah membuat semuanya refleks berdiri. Mereka menahan ibu Fatimah, memintanya untuk istighfar sekaligus bersabar.


“Gara-gara kamu ... gara-gara mulut kamu yang sembarangan bicara ... gara-gara mulut se-tan kamu, cucuku terancam buntunggg!” terengah-engah, ibu Fatimah meluapkan emosi sekaligus kehancuran hatinya kepada Arum. Hati nenek mana yang tidak hancur setelah mengetahui calon cucu pertamanya, akan lahir hanya dengan satu kaki? Itulah yang tengah ibu Fatimah rasakan.


“Jadi saya lagi yang salah?” ucap Arum yang meski sempat menangis karena gam-paran ibu Fatimah yang sampai membuat rahangya seperti bermasalah. “Pas anak Anda HAMIL DI LUAR NIKAH, SAYA YANG ANDA SALAHKAN PADAHAL JELAS-JELAS ANDA ORANG TUANYA! PAS SAYA MEMILIH CERAI DARI SUAMI SAYA KARENA SUAMI SAYA MAU MENIKAHI ANAK ANDA, MASIH SAYA YANG ANDA SALAHKAN. DENGAN SEGALA DALIL ANDA YANG MERASA SUCI, MENGATAI SAYA ISTRI DURHAKA. ANDA MENGATAI SAYA WANITA HINA DAN AHLI NERAKA. ANDA WARAS? JELAS ANDA SAKIT!”


Membuat Arum emosi setelah semua hinaan sekaligus luka yang wanita itu dapatkan, tentu ibarat membangunkan singa yang sedang tidur. Semuanya mulai bersimpati kepada Arum.


“JANGAN KARENA ANDA MERASA LEBIH KAYA DARI SAYA. JANGAN KARENA ANDA LEBIH PAHAM AGAMA DARI SAYA, ANDA BISA SEENAKNYA KEPADA SAYA. KARENA ASAL ANDA TAHU, CUKUP VISUM, SAYA BISA MENJERAT ANDA DENGAN HUKUM. PENGANIAYAAN INI NAMANYA!” Tegas Arum lagi. “Semua yang di sini jadi saksi, sementara bekas luka di wajahku jadi bukti!”


“Kamu pikir saya takut! LAPOR!” balas ibu Fatimah sampai mendorong kasar Arum menggunakan kedua tangannya.


Ibu-ibu yang memisahkan makin sibuk geleng-geleng melihat ibu Fatimah yang begitu emosional, tak sebanding dengan penampilannya yang sangat agamis.


“Mah, sudah, Mah. Malu. Mendingan kita pulang saja!” mohon Septi membujuk sang mamah.

__ADS_1


“Septi, semua ini gara-gara kamu!” tegas Arum sambil menatap tajam Septi. “Sekarang kamu harus bertanggung jawab. Jelaskan sejelas-jelasnya!” tuntut Arum. “Gara-gara kamu menikah dengan laki-laki yang saat itu masih menjadi suamiku, tapi aku memilih bercerai karena aku menolak dimadu, aku terus diseret-seret urusan kalian. Padahal aku mengatakan anak di perut kamu anak Supri memang karena Supri yang mengaku. Saat itu Supri mengajakku kumpul keb-oo. Dan dia langsung menghinaku hanya karena aku langsung menolak. Supri membanding-bandingkan aku dengan kamu hanya kamu sudah terbiasa bahkan ketagihan servisannya!” tegas Arum. Ia refleks berhenti gara-gara ibu Fatimah nyaris menggamparnya lagi setelah wanita itu menerobos ibu-ibu yang menahan. “Aku hanya menyampaikan apa yang Supri katakan sebelum akhirnya dia malah ditabrak truk! Dia ditabrak truk setelah sibuk menghina bahkan memfitnah aku!”


Duh, kalau Mbak Arum sudah ngamuk begini beneran bahaya. “Sudah, Mah. Sudah, lebih baik sekarang kita pulang saja!” Kali ini, Septi sampai menarik lengan kanan sang mamah yang ia tahan menggunakan kedua tangan.


Menatap tajam kedua mata Arum, ibu Fatimah berkata, “Saya tidak akan tinggal diam. Saya akan melaporkan ini ke polisi. Saya akan tes DNA, saya akan membuktikan janin Septi bukan anak Supri. Jadi, bersiap-siaplah kamu dipanggil polisi!”


“Dengan senang hati!” sergah Arum tak gentar.


Celakaaaa, kiamaaat! Batin Septi menangis meronta-ronta dalam hatinya. Kali ini ia sampai tak bersuara.


“Sudah, sekarang diselesaikan baik-baik saja. Ini Mbaknya juga. Itu hamil anak siapa? Hamil di luar nikah saja jatuhnya zina, eh ini malah bingung siapa bapaknya? Memangnya bikin sama ngadonnya beda-beda, ya? Bukan hanya sama satu orang?” tanya seorang ibu-ibu berhijab kuning dan keberadaannya tepat di sebelah ibu Fatimah dan Septi.


Ibu Fatimah tidak terima anak kesayangannya dibilang seperti tadi. “Eh, situ kalau enggak tahu duduk perkaranya jangan asal ngomong ya. Lambe-lambe ku-tis, asal njeplak enggak beres!”


Karena sudah telanjur kesal, ibu-ibu tadi memaksa untuk membuat sidang dadakan. Ibu Fatimah sempat menghindar, tapi wanita itu didudukkan di sana. Semua informasi mereka gali dari Arum, kemudian mereka cocokkan. Septi yang tak mau diadili memilih pura-pura pingsan, jadilah ibu Fatimah menghadapi sidang sendirian. Tentunya ibu Fatimah tak mengelak informasi yang Arum katakan. Namun Ibu Fatimah tidak terima jika cucunya dikatai anak Supri. Ibu Fatimah tetap akan melakukan tes DNA, seberapa pun mahal harganya.


“Ya sudah dites DNA saja karena anak wedon kamu saja bingung siapa yang sukses bikin adonannya!” ucap si ibu-ibu tadi telanjur dendam kepada ibu Fatimah.


Ibu Fatimah memang tidak terima, tapi kini ia tak mungkin lagi membalas sebab wanita itu sadar, posisi Septi yang ia perjuangkan lemah karena Septi saja tidak mau jujur janin yang dikandung hasil siapa. Septi bahkan tidak menyangkal jika putri kesayangannya itu melakukan hubungan in-tim lebih dari seorang hingga Septi bimbang siapa pria yang berhasil membuat adonan calon bayinya.


“Ingat yah, Rum! Kalau fitnah kamu tidak terbukti, kalau anak Septi beneran bukan anak Supri, aku laporin kamu ke polisi!” sinis ibu Fatimah tak main-main.


Arum mengangguk-angguk. “Kalau ternyata itu bukan hasilnya Supri, si Supri suruh bikin lagi apa gimana, Bu?” tanya Arum saking kesalnya.

__ADS_1


“Celeng, koe Rum!” teriak ibu Fatimah refleks dsn artinya, wanita itu menyamakan wanita yang duduk tenang di hadapannya dengan ba-bi hutan.


“Sekarang begini saja. Karena posisinya putri Ibu yang bermasalah, sekarang tanyakan baik-baik saja ke putri ibu. Ini masalah ayah biologis, loh. Tanggungannya berat nanti di akhirat. Ibu Fat juga jangan apa-apa serba bela anak. Karena meski itu anak sampean, kalau sampean beneran sayang, harusnya kalau anak sampean memang salah, ya diarahkan, jangan malah didukung. Diarahkan jangan sampai diulangi.” Kali ini, si ibu-ibu berhijab kuning memberi solusi. Dan para ibu-ibu maupun pemuda yang kebetulan sedang di sana dan memang turut menyimak, setuju.


“Ini putrinya pingsan tapi kok matanya kedip-kedip ngintip. Ini pasti yo pura-pura. Ngapusi ini. Kok saya jadi percaya kalau putri Ibu dengan tanpa sadar sudah mengakui kalau ini anak Supri, ya?” ucap ibu-ibu berhijab kuning itu lagi. Ia yang memang berdiri di antara Arum dan ibu Fatimah yang duduk berhadapan, sengaja menjepit hidung Septi menggunakan jemari tangan kanannya.


Tentunya, Septi yang meringkuk di lantai belakang sang mamah, tanpa alas dan memang pura-pura pingsan, langsung sesak napas. Kenyataan tersebut makin membuat ibu Fatimah kehilangan harga diri.


Jangan-jangan memang benar, ya. Anak itu memang anak si buntu-gg Supri? Batin ibu Fatimah ketar-ketir.


“Mbak Arum, rahang kamu biru parah, loh!” ucap ibu-ibu berhijab kuning.


Kini, semuanya termasuk ibu Fatimah, menjadikan rahang Arum sebagai pusat perhatian. Mereka langsung khawatir, menyayangkan sekaligus menyalahkan ibu Fatimah yang dari tadi memang sangat kasar.


“Enggak apa-apa. Sebentar lagi pengacara saya datang buat urus. Pengacara saya sedang minta surat pengantar dari kepolisian buat minta izin visum. Katanya prosesnya harus minta surat dari kepolisian dulu, baru visum,” jelas Arum cenderung diam lantaran menahan sakit di rahangnya.


“Wah ....” Semua ibu-ibu kompak berdesis lirih menjadikan ibu Fatimah sebagai fokus tujuan. Bukannya bermaksud menakut-nakuti, tapi andai Arum tetap maju memperkarakan luka di rahangnya, mereka yakin seyakin-yakinnya, ibu Fatimah kena.


“Ibu Fatimah, ... satu hal yang ingin saya katakan kepada Ibu. Jika alasan Ibu membenci saya karena saya menolak dimadu, ... semoga Ibu segera memiliki madu idaman,” ucap Arum masih tenang. Ia langsung berdiri karena Kalandra memang datang. Pria itu sampai berlari dan segera berhenti di hadapannya.


“Ya Alloh, ini parah banget!” Kalandra cemas secemas-cemasnya. Kemudian ia menatap sengit ibu Fatimah. “Ibu ini kasar banget. Begal saja kalah sama Ibu! Sudah, visum ... visum. Orang seperti dia mana bisa dikasih hati.” Kalandra merangkul Arum, membawanya pergi dari sana untuk menjalani visum.


Dalam diamnya, ibu Fatimah sudah panas dingin. Ia tak hanya keringatan, tapi juga gemetaran menahan takut.

__ADS_1


Ini sih beneran naik ke kepolisian karena Kalandra saja sudah turun tangan, batin Septi masih meringkuk lemas di lantai. Ibaratnya, ia tak hanya mengalami sudah jatuh tertimpa tangga hanya karena kenakaalannya yang hobi melakukan hubungan in-tim dengan sembarang pria. Ia sungguh sudah melempar banyak kot-oran kepada orang tua sekaligus keluarganya.


__ADS_2