Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
230 : Yang Gob-blok Itu Kamu, Mbak!


__ADS_3

Ibu Sumini menangis meraung-raung, tangis kesedihan khas orang yang ditinggal meninggal. Ia sungguh tak sanggup melihat pertikaian anak-anaknya. Tak menyangka, Anggun masih saja egois padahal sudah berulang kali ikut karantina.


Di luar kontrakan, rombongan pak Haji yang juga sengaja mampir, baru saja sampai di depan teras. Mereka melangkah santai sambil sesekali mengawasi suasana sekitar.


Siang ini matahari tidak begitu terik karena sebagian langit dikuasai awan hitam. Selain itu, aroma basah juga terus menghiasi setiap embusan angin, menandakan sebentar lagi akan turun hujan.


“Rame, Pak Gede. Lagi lebaran kayaknya. Mamahnya mas mantan tangisan gitu!” ucap Septi sambil melongok-longok suasana dalam kontrakan. Berbeda dari suasana rumah lain, dari dalam kontrakan Angga marah rame tangis ibu Sumini.


Kenyataan pintu kontrakan yang dibiarkan terbuka, membuat Septi mengawasi keadaan dalam, dengan lebih leluasa.


“Itu mantan mertua kamu nangis gara-gara pengin mantu, Sep!” ucap pak Haji asal ngomong.


Lain dengan dokter Andri dan sang papah yang memang masih kalem. Keduanya sangat jarang berkomentar dan hanya mengikuti arus yang dibuat pak Haji.


“Ibu Fatimah, ... coba sini si Sepri sama saya saja. Siapa tahu berawal dari Sepri, kita bisa satu hati!” ucap pak Haji masih berusaha mendapatkan hati seorang ibu Fatimah.


Ibu Fatimah menggeleng sambil menghela napas. “Kuat gitu? Sepri kan aktif enggak mau diam!”


“Bikinnya saja kuat beronde-ronde, masa gendong bocah semrica enggak kuat?” yakin pak Haji sambil mengambil paksa Sepri.


“Wong waras!” lirih ibu Fatimah mencibir sambil melirik sebal pak Haji.

__ADS_1


“Saya memang waras, Bu Fatimah. Saking warasnya, saya sampai setia mencintai Ibu Fatimah! Lihat, ini bukti saya sayang Sepri. Jadi setelah ini, mau ya, nikah sama saya!” yakin pak Haji tak lelah dalam berusaha.


Makin lama mengawasi, Septi yang melakukannya sambil menggandeng Nissa, merasa semakin aneh dengan suasana di dalam. Ia memergoki sosok bertubuh lebih besar darinya dan ia yakini merupakan seorang wanita.


“Wanita, ... banyak anak-anak, ada yang pakai tongkat bantu jalan khas orang pinca*ng. Siapa, ya ...?” pikir Septi.


Di dalam, Dika sudah langsung membantu Angga, membangunkan kakaknya itu hingga Angga berhasil berdiri. Namun, kenyataan tersebut membuat Anggun tidak terima. Anggun membalasnya dengan sengaja mendorong Dika maupun Angga sekuat tenaga hingga yang ada, keduanya berakhir terbant*ing di lantai. Baik Dika maupun Angga yang tubuhnya jauh lebih kurus, langsung menggeliat kesakitan.


“Kalian beneran enggak ada yang mikir! Tahu aku sekeluarga sulit, bisa-bisanya kalian hidup enak tanpa bagi-bagi! Bahkan sekarang, kalian sengaja mengusirku!” keluh Anggun masih menuntut keadilan.


Bagi Anggun, tak seharusnya Angga sebagai anak laki-laki tertua dalam keluarga dan otomatis menjadi kepala keluarga, membiarkannya begitu saja. Seharusnya Angga sekeluarga mengurus, menghidupinya hingga ia merasa bahagia juga.


“Dika lagi! Dasar adik gobl*ok! Gara-gara kamu pacaran sama Septi, keluarga ini jadi hancur!” lanjut Anggun. “Harusnya kamu mikir, ... kamu sudah dewasa, fokus cari uang yang banyak buat bantu-bantu aku karena anakku banyak!”


“Yang gobl*ok itu kamu, Mbak! Enggak tahu diri, nggak punya otak! Bisanya cuma ngamuk minta tanggung jawab! Dikiranya keluargamu gudang uang? Kalau boleh dan bisa, mereka pasti ogah punya keluarga macam Mbak. Sudah berulang kali ditegur bahkan sampai berurusan dengan polisi, masih saja Mbak enggak sadar!” kesal Septi yang sengaja masuk sendiri. Ia menahan semuanya khususnya Nissa masuk karena yakin, cek*cok dengan kata tak pa*ntas akan membersamai kebersamaan mereka.


Tanpa melihat secara terang-terangan sosok Supri di depannya, Septi sengaja melempar sekuat tenaga tas yang awalnya menghiasi pundak kanan. Tas berwarna kuning itu melesat menghantam wajah Supri yang detik itu juga langsung ambruk berakhir terbanting di lantai.


Anggun dan anak-anaknya menatap tak percaya ulah Septi yang sukses membuat Supri merintih kesakitan.


“Apa? Enggak terima?!” ucap Septi sengaja menantang Anggun. “Sejauh ini dan Mbak isi dengan mengem*is, Mbak sadar enggak kalau cari uang itu susah? Namun sekarang, Mbak dengan begitu mudah memaksa adik-adik Mbak buat kerja dan cari uang sebanyak-banyaknya. Mbak minta mereka buat menghidupi Mbak sekeluarga apalagi anak Mbak banyak?!”

__ADS_1


Geram, Anggun benar-benar tidak terima dengan perlakuan wanita bertubuh besar dan baru ia kenali sebagai Septi. Setelah sampai mengerang layaknya kerasukan arwah jahat, Anggun melangkah cepat sebelum akhirnya berlari. Ia nyaris mendorong Septi, tapi Septi yang sudah terbiasa menyeruduk sekaligus melakukan segala sesuatunya dengan cepat, sigap menghindar.


Menghindarnya Septi malah membuat Anggun kebablasan dan berakhir terjerembab. Terdengar suara “hek!” bertepatan dengan Anggun terjatuh, selain dagu Anggun yang sampai menghantam lantai. Darah segar menyertai ludah Anggun yang seketika berludah.


“Apa yang Mbak lakukan sama dengan pemerasan. Kalau dilaporkan, pasti beneran dipenjara. Ditambah lagi, Mbak sudah berulang kali berurusan dengan polisi. Mbak sama suami Mbak memang sama saja. Kalian lebih cocok dipenjara. Sementara anak-anak kalian, mending dikasih ke orang saja yang lebih pantas merawat mereka. Dikasih ke orang jauh saja biar kalian enggak semena-mena apalagi memanfaatkan keadaan buat memera*s mereka yang merawat anak-anak kalian!” lanjut Septi.


“Sudah, Sep! Telepon Kalandra saja. Minta Kalandra buat urus! Lebih baik aku enggak punya saudara daripada punya, tapi tetap enggak mikir seperti mereka!” tegas Angga yang terengah-engah menahan sakit di dada akibat ulah Anggun beberapa saat lalu dan sampai ia rasakan dua kali.


“Lakukan! Lakukan, kalian pikir kami takut! Angga apalagi Mamah enggak mungkin menjebloskan kami ke penjara apalagi kami punya banyak anak yang masih kecil!” tegas Anggun sengaja menantang. Ia tetap tengkurap karena ia kesulitan bangun.


Marah, tanggapan Anggun yang tetap keras kepala benar-benar membuat Angga marah. Karenanya, Angga memaksakan diri untuk melangkah, meraih ponselnya dari meja di sudut ruangan depan sana dan merupakan meja kerjanya. Seperti niatnya, ia langsung menghubungi Kalandra, menjelaskan duduk perkara dan memohon bantuan kepada pria itu.


“Urusan anak-anak, ditaruh di panti asuhan saja apa semacamnya. Takutnya orang tuanya malah sengaja memanfaatkan anak-anak. Andai dipenjara pun, aku yakin mereka malah senang karena jadi punya tempat tinggal khusus dan juga dapat jatah makan!” ucap Angga kepada Kalandra.


“Kurang aj*ar kamu yah, Nggaa!” kesal Anggun. Sederet binatang berkaki empat ia sebut, samakan dengan Angga yang baginya sudah sangat keterlaluan.


Karena Anggun masih tengkurap dan memang susah bangun, ia sengaja meraih sebelah Septi. “Kamu lagi bisa-bisanya ikut campur!” kesalnya mencengkeram erat kaki kanan Septi menggunakan kedua tangannya.


Tak mau pusing, Septi sengaja membant*ingkan diri ke tubuh Anggun.


“Aaaa!” Anggun langsung tak bisa berkata-kata dan sekadar bernapas pun jadi kesakitan. Lain dengan Septi yang buru-buru menjaga jarak sambil jujur bahwa Anggun sangat bau.

__ADS_1


__ADS_2