
“Nadddjiiiiiz ... nadddddjiiiz! Itu kaki ngapain sampai dielus-elus? Lagian si jandes Arum, apa susahnya sih lepas sepatu sendiri, kayak enggak punya tangan saja!” Alasan Septi tak tahan dan langsung nyerocos layaknya sekarang, tentu karena Kalandra sampai mengelus-elus kaki Arum, setelah sebelumnya ada seekor nyamuk yang hinggap di punggung kaki kanan Arum.
Ocehan Septi barusan membuat Kalandra apalagi Arum, refleks menahan tawa.
“Apaan sih kamu, Sep? Saiiirik saja! Kalau memang baper apalagi enggak suka, ya cukup skip, enggak usah dilihat dari awal sampai akhir bahkan sampai diulang-ulang!” ucap Arum di antara tawanya. “Lagian yah, ... semenjak aku sama Mas Kala, tangan aku ini memang enggak hanya buat kerja dan melakukan semua yang aku mau. Karena tanganku ini juga sudah terbiasa disayang-sayang sama Mas Kala!” Arum kewalahan menahan tawanya. Karenanya, ia sengaja membenamkan wajahnya di dada Kalandra yang kebetulan sudah berdiri di hadapannya.
Kalandra sendiri yang juga masih sibuk menahan tawa, berangsur mendekap mesra punggung Arum yang juga sengaja ia elus-elus penuh sayang dan tentunya, mesra.
Melihat itu, Septi langsung mencebik sinis. Bibirnya sampai menutup rapat hidungnya yang sibuk kembang kempis sangat cepat akibat kedengkian hakikinya terhadap Arum. “Nadjiiiiiiz! Dasar alzeeee—alayy zekalyyy!” cibirnya.
Ketika Septi tak sengaja melihat Angga, ternyata pria itu malah tengah sibuk memandangi Arum dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Mas Angga pengin dicolok apa malah sekalian dicongkel matanya. Berani-beraninya main mata padahal aku ada di sini! Kurang apa aku sekarang, segede ini masa iya enggak kelihatan!” batin Septi yang detik itu juga langsung berdeham, tapi malah langsung sakit tenggorokan. Karena yang ada, ulahnya berdeham membuatnya Septi terbatuk-batuk sembari memegangi lehernya menggunakan kedua tangan.
“Nah, nah ... masih muda sudah mode jompoo!” Arum sengaja meledek Septi dan itu sungguh menjadi hiburan tersendiri untuknya apalagi Kalandra.
Septi yang baru dihampiri Angga langsung menatap sengit Arum. Kemudian, yang ia lakukan adalah menyingkirkan tangan Angga dari tubuhnya. Ia melangkah sebal masuk ke dalam rumah. Namun karena Angga tidak menyusul, ia sengaja menghampiri pria itu, merangkulnya paksa, dan tentu saja membawanya masuk ke dalam rumah.
“Enggak akan ada yang ambil, Sep. Yang doyan suami orang kan cuma kamu. Bener, kan, cuma kamu? Lagian kenapa kamu rempong gitu, bukannya dulu, kamu sendiri yang bilang mas Angga itu suami idaman? Kok sampai ... diKDRT gitu?”
Sempat berhenti melangkah, Septi yang masih batuk-batuk, kembali memboyong Angga masuk.
“Sudah Yang, langsung masuk rumah. Anggap saja rumah sendiri!” ucap Kalandra yang kemudian memboyong masuk troli bayinya. Arum yang ia beri Arahan, kembali menahan tawa.
__ADS_1
“Si Kalandra ganteng-ganteng, tapi kok otaknya enggak penuh. Bisa-bisanya dia oleng ke wanita seperti jandes Arum!” batin Septi.
Di ruang keluarga yang merupakan ruang kedua setelah ruang tamu, Angga mengambilkan air minum untuk Septi. Istrinya itu langsung minum, tapi masih kesakitan.
Setelah Septi beres minum, Angga yang masih memakai kemeja lengan panjang warna hitam, berangsur menghela napas pelan sekaligus dalam. Ia mengulurkan tangan kanannya kepada Septi.
“Apaan?” tanya Septi sewot.
Angga kembali menghela napas, menambah stok kesabarannya dan telah menjadi bagian dari kesibukannya, di setiap ia bersama Septi yang sekarang. Septi yang selalu bengis dan tampaknya memang sudah menjadi watak asli Septi sebenarnya.
Padahal awal mengenal, sekadar mendengar suara Septi saja, Angga harus sangat berkonsentrasi. Karena dulu, Septi selalu bertutur lembut, benar-benar lirih. Tak lupa, Septi yang dulu juga sangat lemah lembut, manja, benar-benar menggemaskan. Berbanding terbalik dengan Septi yang sekarang dan selalu saja marah-marah mirip Anggun.
Septi mendecih dan malah menepis tangan kanan Angga dari hadapannya. “Apaan, salaman-salaman. Kayak kalau habis salaman langsung keluar uang dari tangannya, baru aku mau. Aku elus-elus terus malahan!”
“Sep ...?” ucap Angga masih sabar, walau jujur saja, ia sudah sangat ingin menam-par mulut Septi yang begitu tidak kenal aturan.
“Sudah, Mas enggak usah banyak aturan. Mending sekarang Mas langsung cari kerja saja soalnya keuangan keluarga ini beneran sakratulmaut!” sergah Septi.
Angga langsung mengernyit serius, dan memang menyikapi cerita Septi dengan serius. “Memangnya sampai sekarang, papah kamu belum pulang juga?”
Septi menggeleng gelisah kemudian menghela napas pelan. Membuat Angga yakin, apa yang ia pikirkan bahwa pak Yusuf belum pulang, benar.
__ADS_1
“Jangankan pulang, kasih kabar saja enggak. Sudah mati mungkin gara-gara istri barunya, makanya lupa sama istri anaknya di sini. Jancuuk emang papah!” oceh Septi.
Hati Angga langsung berdesir, meninggalkan rasa perih karena biar bagaimanapun, ocehan Septi yang begitu emosional barusan sangat mirip dengan apa yang ia lakukan. Karena setelah menikah lagi, bahkan ketika baru merencanakan pernikahannya dan Septi, Angga sama sekali tidak ingat Arum apalagi Aidan.
Kini, di ruang tamu kediaman orang tua Septi, Angga malah memergoki Kalandra yang asik memanjakan Aidan dengan terus membuat bocah itu tertawa. Dari semacam menci-umi perut atau pipi Aidan, mengangkat tinggi-tinggi Aidan melalui kedua ketiak, juga mengajak bocah yang sudah bisa duduk itu ciluk-bah. Sementara Arum, mantan istri yang kini lebih pantas disebut bidadari itu tengah sibuk dengan ponselnya.
Kemudian setelah beres dengan ponselnya, Arum membuka kantong belanjaan, meraih satu kemasan yogurt dari sana, kemudian membukanya. Arum menikmatinya, menceritakan rasanya kepada Kalandra, kemudian membiarkan pria itu untuk mencicipinya.
“Kalau dingin lebih enak, Yang. Nanti pulang bikin salad buah dong, pasti seger,” ucap Kalandra, dan Arum yang kembali makan tanpa terlebih dulu mengelap bekas bibir Kalandra di wadah yogurtnya langsung mengangguk-angguk.
“Habis dari sini tinggal cek hotel, kan, Mas? Terus habis itu kita mampir ke makam mbak Bilqis,” ucap Arum yang kemudian kembali menyuapi Kalandra. Kedua matanya masih menatap lekat kedua mata Kalandra yang tentu saja sangat jarang wanita itu lakukan ketika bersama Angga. Karena dulu, baik Arum maupun Angga, sama-sama sibuk bekerja demi menghidupi keluarga Angga. Semacam quality time layaknya sekarang yang ia lakukan bersama Kalandra, sangatlah jarang walau sebagai wanita sekaligus seorang istri, ia sangat menginginkannya. Apalagi semacam pujian, nyaris tak pernah Arum mendapatkannya dari Angga.
“Yang, kok malah kamu yang pilek?” ucap Kalandra yang kemudian meraih tisu kotak di ransel Aidan. Ia mengambil beberapa helai dari sana, menggunakannya untuk mengelap ingus Arum yang masih bening sekaligus cair.
“Gimana aku enggak pilek, wong kemarin Mas nyosor terus!” sindir Arum.
Kalandra yang baru beres mengelap ingus Arum refleks tertawa. Namun ia juga buru-buru membuang tisu bekasnya lantaran nyaris direbut oleh Aidan.
“Nanti minum obatku yang kemarin. Beres makan kamu pakai masker, takutnya nular ke Aidan,” ucap Kalandra sambil mengelus-elus punggung hidung Arum di tengah kesibukannya menatap lekat kedua mata wanitanya itu.
“Rasanya sesesak ini. Aku beneran sudah membuang berlian sekelas Arum karena kebodohanku. Padahal sekarang saja, keluargaku yang selalu aku perjuangkan, beneran enggak ada yang peduli. Apalagi mbak Anggun, ... bahkan Septi. Kok rasanya sesakit ini!” batin Angga yang tak hanya merasa sangat sesak. Karena hatinya juga terasa sangat nyeri. Malahan, ia sampai menitikkan air mata hingga ia memilih pergi dari sana, mengakhiri kesibukannya mengintip kebersamaan Arum dan Kalandra yang manisnya benar-benar bikin iri.
__ADS_1