Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
253 : Pasangan yang Tepat


__ADS_3

“Si Ojan dibawa ke spesialis saja, Pak Gede. Ke rumah sakit dekat rumah makannya mbak Arum kan ada spesialis mental,” ucap dokter Andri memberikan solusi.


“Ojan kan enggak gilla, Mas Andri!” sergah pak Haji langsung tak terima.


“Spesialis mental bukan menangani pasien gilla, Pak Gede. Mereka ini memiliki keahlian buat memberi arahan sekaligus menjadi perantara dalam mengobati mental yang terluka. Salah satu kasus yang biasa mereka alami salah satunya seperti yang terjadi pada Ojan.”


“Ojan memang enggak gilaa, tapi jika kebiasaan anehnya ini terus berlanjut sementara kita tidak bisa menangani, yang bisa menanganinya memang ahli khusus. Adanya ini kan tadi, Pak Gede. Kebiasaan dari lingkungan. Sementara yang namanya kebiasaan sendiri berarti sudah berulang kali dan sudah menjadi hal biasa.” Walau kaki kirinya masih terasa ngilu bahkan panas, dokter Andri masih berucap lirih sekaligus tertata.


“Kalau lihat dari kondisinya sih memang begitu Pak Gede. Demi kebaikan Ojan, enggak ada salahnya dicoba. Gini-gini aku juga masih belajar jadi orang tua yang baik, dan aku juga pernah baca artikel mengenai kenakalan anak. Katanya sebenarnya yang namanya anak enggak ada yang nakkal. Anak-anak hanya belum tahu, makanya mereka begitu dan kadang sebagian dari kita menyebutnya itu sebagai kenakalan.” Septi juga bertutur pelan penuh pengertian layaknya yang dokter Andri lakukan.


“Nah, setelah kita tahu bahwa sebenarnya enggak ada anak yang nakal, sementara alasan anak melakukan hal yang menurut kita salah karena mereka belum tahu. Yang harus kita lakukan tentu memberi mereka arahan agar mengerti. Bukan malah memaklumi dan terus-menerus membenarkan dengan dalih, ‘enggak apa-apa, anak kecil kan enggak tahu, enggak salah.’ Atau, ‘enggak apa-apa, masih anak kecil nanti kalau besar juga ngerti.” Septi menjeda ucapannya dengan menghela napas dalam guna mengisi udara agar ia tak begitu sesak. Terlebih semenjak bobot badannya enam puluh kilo lebih dengan tinggi badannya yang tidak ada seratus enam puluh senti meter, ia memang menjadi gampang lelah sekaligus sesak.


“Bukan begitu dan enggak boleh begitu. Karena jika budaya anggapan seperti itu terus dilanjutkan, otomatis anaknya yang russak. Maka dari itu, kita sebagai orang tua sekaligus keluarga otomatis juga jadi lingkungan utama anak-anak tumbuh. Mereka otomatis mencontoh setiap apa yang kita lakukan. Jadi, jika Ojan sampai begitu, tak menutup kemungkinan Ojan juga sudah terbiasa melakukannya. Ada lingkungan yang mendukung, dan jika Pak Gede tidak merasa membenarkannya, tentu tinggal yang lain yang selama ini menjadi lingkungan Ojan. Kan memang enggak ada asap kalau enggak ada api.” Septi mengakhiri ucapannya karena Sepri meminta minum. “Tetap duduk di sebelah Mbak Nissa biar Mamah ambil minum. Kalau lagi makan enggak boleh sambil jalan-jalan. Kalau makan wajib sambil duduk, ya.”


Wanti-wanti dari Septi membuat Sepri yang akan mengikuti ke dapur, langsung duduk. Selain itu, kenyataan Nissa yang juga langsung memeluk Sepri dari belakang juga menjadi penyebab Sepri memilih kembali duduk. Pak Haji, dokter Andri, maupun ibu Fatimah yang melihatnya langsung mengalihkan tatapan mereka kepada Ojan. Bocah itu masih asyikk, lahap memakan yang di wajan dan itu berupa nasi dan jelantah ikan asin.

__ADS_1


“Sudah telanjur begini, mumpung belum dewasa, langsung diobati saja. Kasihan,” ucap ibu Fatimah.


Setelah menjalani perundingan, pak Haji yang merasa kasihan sekaligus merasa sangat bersalah, memutuskan meminta bantuan dokter Andri untuk mengaturkan jadwal pertemuan dengan dokter spesialis yang dimaksud. Selain itu, pak Haji juga akan mengusut tuntas penyebab Ojan begitu walau hal utama yang akan Pak Haji lakukan memang membawa Ojan menjalani pengobatan khusus.


“Masa iya, mereka tega ke saya, Mas Andri. Sementara selama ini, semua kebutuhan mereka saya penuhi. Termasuk keluarga para istri saya yang terdahulu pun saya modali semua buat usaha. Masa iya air susu dibalas air selokan tetangga!” curhat pak Haji malam harinya dan itu masih di bangku depan kontrakan Septi. Ia sengaja curhat dengan berbisik-bisik lantaran di sana ada Anggun yang datang.


Anggun duduk pasrah di teras depan kontrakan dokter Andri. Itu sudah berlangsung sejak siang tadi, memohon diberi tempat tinggal sekaligus kesempatan. Baik kesempatan bekerja di sana, maupun kesempatan dicintai oleh dokter Andri. Hanya saja, baik pak Haji apalagi dokter Andri sepakat mendiamkan Anggun, selain keduanya yang sudah terang-terangan membalas tak bisa memberi Anggun kesempatan.


Terseok-seok dokter Andri melangkah, mendekati pintu kontrakan Septi yang tertutup kemudian membukanya dengan hati-hati. “Mbak Nissa, sudah malam. Ayo pulang, tidur.”


“Enggak apa-apa, Mas. Malam ini Nissa biar tidur di sini. Lagian besok juga masih libur sekolah.” Dari dalam Septi berseru, tanpa menemui dokter Andri secara langsung.


“Coba sana, kamu cari tempat tinggal lain. Ada enggak yang mau menampung kamu sekaligus memberimu pekerjaan secara cuma-cuma?” ucap Pak Haji sengaja menantang Anggun.


“Namun kan, ... Masa iya Pak Haji lupa? Pas lebaran, di hadapan para saksi pak Haji bilang bakalan didik saya!” sergah Anggun sengaja menagih janji.

__ADS_1


“Itu kan kalau kamu bisa diubah, diarahkan. Kamunya saja seenak udel kamu. Buat apa saya didik kamu capek-capek terus disepelekan? Ya tentu janji itu sudah enggak berlaku. Kamu saja enggak kasihan ke diri kamu, apa lagi orang lain termasuk saya, kan?” balas pak Haji sewot. Ia sampai berdebat sengit dengan Anggun. Ia mengambil seember air kemudian mengguyurkan ke wajah wanita itu.


Di lain sisi, kebahagiaan tengah dokter Andri arungi atas ucapan selamat yang pria itu dapat dari sang sahabat. Pasti kabar dari pak Haji, hingga dengan cepat, Kalandra mengiriminya pesan pribadi sebagai wujud dari kepedulian pria itu kepadanya.


Kalandra : Kamu sudah bilang makasih belum ke si Anggun? Karena gara-gara dia, kamu jadi jadian sama Septi?


Andri : Terima kasih, sih terima kasih. Masalahnya gara-gara dia, aku jalannya jadi kayak Sengkuni!


Kalandra : Hahahaha, keponakanku! Tokoh legen itu! Bangga aku kalau sahabatku jadi mirip tokoh legen!


Di pinggir kasur busa tanpa amben, dokter Andri tersenyum hangat. Senyum hangat khas orang yang bahagia karena ketulusan.


Andri : Kal, mohon doanya, ya. Aku mau coba lamar kerjaan tambahan di rumah sakit.dekat warung makan kalian biar dapat hasil lebih. Biar aku bisa beli kaki palsu buat Sepri. Karena biar bagaimanapun, mulai sekarang otomatis dia juga jadi tanggung jawabku karena anaknya Septi berarti juga anakku.


Kalandra : Masya Alloh, Ndiii! Aku makin bangga ke kamu. Aku aminin sekenceng mungkin. Nanti kalau memang masih kurang biayanya, kabar-kabar saja ya. Aku pasti bantu!

__ADS_1


Kalandra : Sumpah aku seneng banget. Akhirnya semuanya menemukan pasangan yang tepat. Termasuk Sepri yang akhirnya punya papah yang tepat.


Andri : Alhamdullilah, Kal. Amin, makasih banyak, Kal.


__ADS_2