
Kalandra keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan kepalanya menggunakan handuk kecil berwarna putih. Selain tampak jauh lebih segar, pria tampan itu juga langsung tersenyum semringah ketika mendapati Aidan sudah lelap di tengah tempat tidur pengantin. Sementara di sebelah Aidan, Arum tampak memunguti setiap kelopak bunga mawar merah yang sempat menjadi hiasan di atas tempat tidur. Arum mengumpulkannya kemudian menyisihkannya ke nakas sebelah.
“Mas, kamu pengertian banget, sudah langsung tidur saja,” ucap Kalandra di sela senyumnya dan memang sengaja memuji Aidan.
Arum hanya tersipu sambil menggeleng, terus memunguti setiap kelopak bunga mawar merahnya dari tempat tidur mereka.
“Itu kemarin aku lupa bilang, buat jangan dikasih itu soalnya ganggu, dan ternyata sampai kamu punguti, Yang,” ucap Kalandra yang kemudian duduk di pinggir sebelah Aidan.
“Ini tadi dimakanin sama Aidan, Mas,” ucap Arum.
“Nah, kan ... enggak apa-apa, Mas. Biar awet muda, tapi jangan sampai merajalela kayak pak Haji!” ucap Kalandra yang kemudian mengelus kening Aidan penuh sayang, sementara di seberang Arum sudah menyahut, “Amit-amit, Mas!”
“Tuh orang namanya siapa, sih, sana-sini panggilnya pak Haji?” lanjut Kalandra.
“Muhamad Abdul Qodir Uwais Bin Abdullah!” ucap seorang pria dari balkon depan sana.
Baru Kalandra maupun Arum sadari, pintu balkon tidak tertutup dan malah terbuka sempurna. Alasan yang membuat angin di sana spoi-spoi.
“Innallilahi ....” Kalandra menggeleng tak habis pikir menatap pak Haji yang ada di depan sana.
“Pak Haji ngapain di situ?” omel Kalandra tapi sengaja dengan suara lirih. Ia berjalan cepat menghampiri pak Haji.
“Lagi lihat-lihat, pemandangan di sini beneran indah. Ada kolam renang juga,” jawab pak Haji dengan santainya.
“Siapa yang ngizinin pak Haji masuk sini?” sergah Kalandra yang sebelumnya, menggeleng tak habis pikir.
“Enggak ada, sih. Tadi pas kalian pada pergi antar pak DPR sama istrinya, saya masuk,” jawab pak Haji sama sekali tidak merasa berdosa.
“Ya sudah, sekarang pak Haji keluar,” tegas Kalandra lirih walau jujur saja, adanya pak Haji di sana sudah langsung membuatnya kesal.
__ADS_1
Pak Haji buru-buru menggeleng. “Enggak mau!”
“Ya sudah,” ucap Kalandra malas kemudian balik badan.
“Mas, ih ... usir, ih!” rengek Arum.
Beberapa saat kemudian, Kalandra sudah langsung memanggul tubuh pak Haji yang tentu saja dua kali lipat lebih bulat dari tubuhnya.
“Kebanyakan dosa ini, makanya seberat ini!” keluh Kalandra yang walau berusaha menurunkan pak Haji dengan hati-hati, nyatanya pria itu tetap terjerembab setelah sebelumnya agak terbanting dan menggelendung.
“Aduuhhh ....” Pak Haji sibuk meringis kesakitan, tapi Kalandra dan Arum tidak peduli.
Buru-buru Arum menuntun sang suami untuk masuk. Kalandra pun buru-buru menutup kemudian mengunci pintunya.
“Heran aku sama tuh orang!” keluh Kalandra masih bertutur lirih kemudian mendekap mesra punggung Arum dari samping.
“Pantes dari tadi ada aroma parfum dia, tapi aku mikirnya hidung aku yang konslet soalnya kan, seharian ini berbaur sama banyak orang dan juga banyak aroma wewangian!” balas Arum sambil menengadah hanya untuk menatap wajah Kalandra.
Arum turut tertawa kemudian balas memeluk Kalandra yang langsung menghadiahinya ciu-man bibir mesra. Kemudian, Kalandra mengajaknya duduk santai di balkon tempat pak Haji sempat menikmati pemandangan. Seperti yang Pak Haji keluhkan, pemandangan di sana sangatlah indah. Ditambah hidangan cokelat panas yang mereka pesan bersama cake tiramisu, mereka menghabiskan sore hingga petang mereka di sana. Hamparan hutan pinus yang begitu hijau sekaligus menggoda, juga kolam renang di sebelah mereka.
“Dari semua makanan yang kita coba di prasmanan, mana yang paling enak? Kalau buat aku sih, semua rasanya kurang. Mungkin efek mereka yang masaknya dalam takaran besar, jadi soal rasa jadi dikesampingkan,” ucap Kalandra yang jauh lebih tertarik memandangi wajah istrinya. Sebab bagi Kalandra, seindah apa pun pemandangan di sekitar mereka, wajah istrinya jauh lebih indah.
“Aku setuju sama anggapan Mas. padahal seandainya mereka beneran niat, harusnya mereka juga jauh lebih antisipasi. Buat pembelajaran kita juga sih, biar pas nanti jadi prasmanan, kita enggak mengecewakan pelanggan,” balas Arum sambil menikmati sisa cake di piringnya. “Tapi tadi sayur asemnya juara banget, loh, Mas. Aku lihat para tamu sampai puji-puji, nambah di sekitar sayur asem.”
“Oh, tadi aku enggak coba,” ucap Kalandra sesaat setelah ia meminum cokelat hangatnya.
Sambil menyeka sekitar bibir Kalandra yang terkena cokelat hangat menggunakan tisu di tangan kanannya, Arum berkata, “Iya, Mas nolak pas aku minta nyicip. Mas bilang kekenyangan padahal cuma icip-icip dikit.”
Kalandra mesem kemudian mengangguk-angguk. “Sebenarnya bukan kekenyangan sih, Yang. Kayaknya memang kembung. Kurang istirahat sama tidur juga, jadinya mungkin memang masuk angin.”
__ADS_1
Arum langsung terdiam serius menatap wajah suaminya. “Kalau perutku kembung, biasanya kurang cocok kalau minum cokelat atau kopi. Paling aman ya teh manis agak panas, bukan hangat terus dikasih tolak angin. Mas gimana? Jangan-jangan perutnya makin enggak enak?”
Kalandra mengangguk-angguk. Terdiam sejenak, tangan kanannya menyelusup masuk ke piama lengan panjang warna biru dongker selaras dengan piama yang Arum kenakan. Perutnya sampai bunyi bung bung bung, ketika ia memukulnya pelan dan kenyataan tersebut membuat Arum menertawakannya.
“Aku pesankan teh manis panas dulu. Kebetulan, aku punya banyak stok herbal tolak angin.” Arum sengaja pamit meninggalkan Kalandra.
Sekitar sepuluh menit kemudian, pesanan mereka datang. Yang membuat Arum tak habis pikir, pak Haji malah tiduran di depan pintu kamar hotel ia dan Kalandra menginap. Karenanya, Arum sengaja meminta pengantar teh manis panasnya untuk mengusir pak Haji. Selanjutnya, Arum segera mencampur teh manis panasnya dengan tolak angin yang juga sudah wanita itu siapkan.
Kalandra yang diurus tak segan bergelendot manja kepada Arum. Namun karena tampaknya Kalandra masuk angin parah, Arum sampai mengeroknya. Kalandra ketiduran dan tak kalah lelap dari Aidan. Membuat Arum tak memiliki pilihan lain selain ikut tidur karena wanita itu juga merasa sangat lelah. Ditambah ternyata perih di kedua kakinya karena jemari kaki dan juga tumitnya lecet parah.
Setelah merasa puas tidur, Arum dikejutkan dengan kenyataan tubuhnya yang dikunci. Kalandra dan awalnya tidur di seberangnya sudah ada di belakangnya, mendekapnya erat. Sementara di seberang sana bekas Kalandra tidur sengaja dihiasi tumpukan bantal. Dan di sebelah bantal, Aidan sudah bangun memandanginya sambil mengumbar senyum. Senyum yang ternyata karena Aidan tengah membalas senyum Kalandra.
Arum menengadah, menggunakan sebelah tangannya untuk membingkai wajah Kalandra. Ia menge-cup kilat dagu Kalandra yang langsung menyapanya dengan kata-kata romantis.
“Yang, kaki kamu lecet parah loh. Tahu gitu, seharian ini kita pakai sandal jepit saja,” ucap Kalandra yang berangsur duduk. “Tapi tadi aku sudah kompres pakai air hangat terus disalepi juga, sih. Kamu tidur lelap banget padahal aku urusnya sambil tahan napas, takut ganggu kamu.” Kalandra mengecek kedua kaki Arum. Memang belum banyak perubahan berarti, tapi tentu jauh lebih baik ketimbang tadi sebelum ia obati.
Arum berangsur duduk dan tetap membiarkan kedua kakinya selonjor. “Pantas aku tidurnya pulas banget. Memang rasanya nyaman banget. Suamiku beneran bikin aku nyaman. Buktinya, aku enggak harus repot-repot ke dokter karena suamiku juga bisa jadi dokter.” Arum sengaja memuji sang suami. Ia menatap Kalandra sambil memberikan senyum terbaiknya.
Kalandra tak hanya tersipu. Karena pria itu juga kesulitan menahan tawanya. Wajah putih bersihnya sudah merah merona. “Sumpah, Yang, aku langsung meleyot kamu bilang gitu.”
“Aku serius, Mas!” rengek Arum sambil menahan tawanya.
Kalandra mengangguk-angguk sambil menghela napas pelan demi meredam kenyataannya yang menjadi sangat gugup karena pujian barusan. “Aku juga makasih banget karena kamu selalu bikin aku nyaman. Lihat, aku juga sudah langsung sehat setelah diobati kamu.”
Arum langsung merangsek mendekati Kalandra. Ia meringkuk di pangkuan Kalandra, sementara sang putra berangsur merangkak menghampiri mereka.
“Mas Aidan, andai kita sama bapak kamu, belum tentu kita bisa begini. Selalu diurus dan juga dimanjakan. Selalu merasa nyaman yang enggak sembarang orang bisa merasakannya,” batin Arum.
“Sini, Mas.” Kalandra meraih kedua ketiak Aidan dan mengangkatnya. “Jam segini malah bangun. Mau rondain Papah sama Mamah?” Kalandra tertawa ngenes. “Mau ajak kalian jalan keluar, takutnya masih ada pak Haji.”
__ADS_1
“Iya, loh, Mas. Serius. Tadi pas pesanan tehnya datang, pak Haji tidur di depan pintu kamar kita!” Arum langsung cerita.
“Nah, kan ....” Kalandra menggeleng tak habis pikir. Namun tak lama kemudian, mereka telah menjadi bagian dari pasar malam dan membeli aneka makanan yang dijual di sana.