Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
79 : Cinta Manis yang Akhirnya Terlukis


__ADS_3

Kalandra setengah berlari meninggalkan Arum dan Aidan sembari membawa jaket Aidan maupun jaketnya yang sempat dipakai Arum. Kalandra menyimpannya di mobil lantaran keduanya tak jadi memakai jaket setelah telanjur main pasir. Ketika akhirnya mereka naik perahu dan menghadapi angin yang sangat kencang pun, mereka tetap tak memakai jaket. Sebab baik Arum termasuk Aidan langsung terbiasa dengan angin kencang di sana.


“Yang?” panggil Kalandra yang duduk di sebelah Arum. Mereka masih di perahu, di tengah pantai dengan ombak terbilang dahsyat dan sudah membuat perahu mereka terguncang-guncang.


Arum yang tidak harus mengemban Aidan karena bocah itu sudah menempel kepada Kalandra, langsung menatap yang bersangkutan. Melihat Kalandra yang sudah menahan tawa, Arum langsung meliriknya curiga. Wajah tampan itu jelas sudah menyimpan rencana keusilan yang siap diluncurkan.


“Harusnya kamu pura-pura takut, terus peluk-peluk aku. Enggak takut pun, harusnya kamu pura-pura!” ucap Kalandra menahan tawanya.


“Serius, Mas beneran udah enggak jelas!” balas Arum yang menjadi mengakhiri tatapannya dari Kalandra. Ia yang juga menjadi menahan tawa, juga perlahan memeluk Kalandra. Tak lupa, ia juga membenamkan wajahnya di bahu pria yang sampai sekarang masih sibuk menahan tawa.


“Rasanya, ... tentu ini yang pertama walau sebelumnya aku sudah menikah dan sampai ada Aidan. Karena selain di pernikahan pertama aku merupakan korban perjodohan, pada kenyataannya selama itu juga, aku hanya mendapatkan perhatian bahkan cinta sisa dari Angga, dan itu pun sangat jarang,” batin Arum.


Hati Arum terenyuh, melukis kisah haru penuh warna seiring ia yang menyadari, cinta manis yang sebelumnya hanya ia lihat di hubungan orang lain, akhirnya ia rasakan ketika bersama Kalandra. Setelah mereka sama-sama menjadi jodoh orang, nyatanya semuanya memang selalu indah pada waktunya. Semua proses yang mereka lalui mampu mengubah luka-luka yang terasa sangat menyakitkan, menjadi pengalaman sekaligus cinta yang tak terlupakan.


Setelah puas main di pasir putih, mereka kembali ke pasir hitam untuk melihat sunset. Namun, mereka tak lagi memakai perahu. Kalandra sengaja membawa Arum dan Aidan lewat daratan, melihat kebun binatang, atau beberapa kera yang beraktivitas di sepanjang hutan. Itu juga yang menjadi alasan Kalandra membeli kacang dan makanan lain. Kalandra mengajak Arum khususnya Aidan untuk memberi kera-kera di sana makan.


“Dulu waktu aku masih SMA, aku sering lihat syutingnya Mak-lampir, Yang!” cerita Kalandra sembari menunjuk gua yang dulu sempat menjadi lokasi syuting drama kolosal yang tengah ia ceritakan.


“Mas ketemu grandong si cucunya mak-lampir juga?” balas Arum.


Arum terus berjalan dan fokus menatap Kalandra yang melangkah di sebelahnya sambil mengemban Aidan.


Kalandra yang menjadi cemberut berkata, “Kamu mau nyamain aku sama si grandong?”

__ADS_1


“Enggak, lah! Gantengan dan bagusan Mas jauh-jauh!” sergah Arum langsung sewot.


Kalandra langsung menahan senyumnya seiring wajahnya yang menjadi merah merona. “Oh, ternyata di mata kamu, aku ganteng.” Hatinya menjadi berbunga-bunga karena biar bagaimanapun, kenyataan tersebut ibarat pujian pertama yang ia dapatkan dari Arum.


Menahan tawanya, Arum yang malu-malu menatap Kalandra bertanya, “Memangnya Mas enggak merasa ganteng?”


“Tentu sadar banget, dari lahir malahan,” sergah Kalandra yang langsung ditahan oleh Arum.


“Sudah jangan dilanjut, nanti jatuhnya ria!” Arum tertawa diikuti juga oleh Kalandra.


Kemudian, keduanya segera bergabung dengan mereka yang sedang melihat sunset di pinggir pantai. Angin dan ombak tak sebesar ketika mereka datang. Tak lupa, mereka juga mengabadikan momen romantis di sana melalui bidik kamera. Arum sengaja mengunggahnya di status WA. Dan tentu saja, Septi langsung menjadi polisi pertama yang mengomentari dengan nada mencibir sekaligus iri. Namun, Arum sama sekali tidak peduli. Arum terlalu larut dalam quality time yang Kalandra berikan. Toh, memang tidak ada yang lebih penting dari kebersamaannya dan Kalandra, termasuk itu meladeni Septi yang kerap menjadi hiburan tersendiri bagi seorang Arum.


“Maaf karena hari ini sampai ada yang ngata-ngatain kamu. Serius, aku enggak sangka Ririn akan selancang itu ke kamu. Dan jujur, aku merasa sangat bersalah untuk itu. Mungkin aku memang masih bisa tertawa bahkan sama kalian. Namun jujur, benar-benar sumpah, ... aku beneran merasa bersalah. Aku beneran marah dan untungnya tadi aku enggak sampai menam-par Ririn,” ucap Kalandra di tengah semburat jingga yang menguasai sore menjelang petang mereka. Ia menatap Arum yang ada di sebelahnya penuh keseriusan. Wajah wanitanya itu menjadi agak murung, tapi Arum tetap memberikan sikap tenang.


“Kalau boleh memilih, aku, bahkan wanita lain di luar sana pasti enggak ada yang mau jadi janda, Mas. Namun kalau keadaannya seperti aku, keadaannya benar-benar membuat kami tersiksa padahal kami sudah mengorbankan semuanya, ya memang lebih baik menjadi janda daripada bertahan bersama suami tapi enggak pernah dihargai. Ngapain juga memenjarakan diri di neraka padahal kita belum mati, kan?” ucap Arum yang kemudian juga berkata, “Masalah Ririn, aku rasa dia memang enggak beres. Bisa jadi bentar lagi, dia bikin ulah dan malah memutar balikkan fakta, semacam memfitnah Mas. Tapi ya sudah sih, kita lihat saja apa yang bakalan terjadi. Jangankan sekelas Ririn yang ibaratnya ikan teri, sekelas Anggun yang kerasnya beneran enggak ada tandingan, apa-apa serba nga-muk, ya akhirnya memanen ulahnya juga.”


Mendengar itu, Arum langsung terkesiap. “Nginep? Ya ampun, Mas juga jadi ikut-ikutan enggak jelas mirip Ririn!”


Kalandra tertawa. “Ya memangnya kenapa?”


“Enggaklah, ... besok saja kalau kita sudah menikah, kita balik lagi ke sini!” balas Arum cukup mengomel.


Kalandra masih menahan senyumnya sebelum akhirnya mereka benar-benar bungkam, larut memandangi matahari tenggelam, meninggalkan jingga yang perlahan digantikan dengan kegelapan.Bersamaan dengan itu, Kalandra sengaja mengerucutkan bibirnya, menempelkannya di kening Arum yang menyandarkan kepalanya di dadanya. Selain itu, Arum juga sampai menggenggam tangan kiri Kalandra yang bebas, menggunakan kedua tangan.

__ADS_1


Di mata Kalandra, kali ini Arum benar-benar telah menemukan kedamaian, tak lagi emosional layaknya ketika calon istrinya itu menghadapi Ririn. Namun sejauh mengenal Arum, bagi Kalandra Arum terbilang wanita yang nyaris sempurna. Tak semata mengenai fisik, tapi juga wataknya.


“Andai setelah aku memejamkan mata, hari pernikahan menjadi kenyataan yang harus aku jalani, pasti rasanya jauh lebih sempurna. Eh masih harus nunggu tiga hari lagi,” keluh Kalandra.


Arum yang mendengarnya langsung menatap Kalandra sambil menahan senyum. Ternyata seorang Kalandra yang di awal mereka kenal tampak begitu sempurna, bijak dan benar-benar tenang bahkan terkesan pemalu, pada kenyataannya tetap laki-laki biasa yang tak segan menjadi tidak jelas.


Setelah sampai membeli pakaian untuk ganti, mereka mandi. Arum sendiri, Kalandra dengan Aidan. Mereka tak langsung pulang dan sengaja makan malam di salah satu restoran yang ada di dekat sana. Di sana lah Arum tak sengaja melihat seseorang yang Arum rasa mengenalnya. Seorang pria dengan wanita cantik. Keduanya melangkah santai sambil bergandengan layaknya apa yang Arum lakukan dengan Kalandra. Malahan, kedua sejoli itu jauh lebih romantis karena tak segan bertatapan bahkan berciu-man intens.


“Mirip siapa, ya? Mirip suami Resty, tapi ... masa iya itu suaminya Resty dan sampai sama wanita lain?” pikir Arum yang menjadi kerap menoleh ke belakang, melepas kedua sejoli tadi dan baru Arum sadari, perut si wanita buncit seperti sedang hamil enam bulanan.


Karena Arum tak meresponnya, Kalandra memastikannya dan sampai menghentikan langkahnya. Kalandra menatap serius Arum yang memakai dress panjang khas pantas warna pink yang dipadukan dengan kardigan pink muda. Wanitanya itu terus menatap ke belakang penuh keseriusan, tapi ia tak melihat keanehan di sana.


“Yang, kamu kenapa, sih?” tanya Kalandra serius dan memang sangat penasaran.


Arum langsung menatap Kalandra penuh keseriusan. “Itu tadi mirip suami si Resty loh, Mas.”


“Teman kamu yang di Jakarta yang hamil itu? Yang siang tadi itu, maksudnya? Itu dia, maksudnya?” balas Kalandra mengira wanita hamil yang bersama laki-laki dan Arum duga sebagai suami Resty, merupakan Resty.


Arum langsung menggeleng. “Bukan. Itu memang suaminya, kalau enggak salah namanya Tomi. Masalahnya wanitanya aku enggak kenal.”


Kalandra merenung serius. “Mungkin kamu salah lihat.”


Arum mengangguk-angguk. “Aku juga berharapnya begitu. Karena andai malah benar, enggak kebayang sakitnya jadi Resty karena dia lagi hamil, dan wanita yang tadi juga hamil!”

__ADS_1


Tak mau kebersamaan mereka menjadi kembali memanas karena alasan Kalandra membawa Arum ke sana juga untuk senang-senang sekaligus menenangkan pikiran, Kalandra sengaja mengalihkan perhatian Arum. Kalandra bergegas menuntun Arum, memilih salah satu meja dengan view ke pantai paling indah sebagai meja mereka menikmati makan malam di sana.


Nantinya, Resty dan Tomi akan ada novel sendiri judulnya : Pembalasan Istri yang Terbunuh (Suamiku Simpanan Istri Bos)


__ADS_2