
Widy : Dokter enggak salah?
Mas Lim : Masih online? Kenapa belum tidur?
Pesan yang dikirimkan Sekretaris Lim barusan langsung membuat nyali Widy menciut. “Ya ampun Mas Lim ternyata langsung jadi hansip WA-ku.”
Dokter Andri : Salah gimana? Saya serius, Dy. Dan papahku juga dukung banget.
“Ini aku harus balas siapa dulu?” Widy hendak membalas pesan dari Sekretaris Lim, tapi pesan dari dokter Andri yang terus berdatangan, membuatnya salah ketik dan nyaris mengirimkannya kepada dokter Andri.
“Bentar, aku ke ruang obrolan Mas Lim dulu!” yakinnya yang kemudian langsung melakukan sesuai niat.
Widy : Ini masih balas WA, Mas. Bentar lagi pasti juga tidur. Terus, kenapa Mas belum tidur?
Mas Lim : Ini mau tidur juga, sudah rebahan, cek WA, status kamu sepi, tapi kamu online.
Widy : Memangnya, Mas berharap aku bikin status WA apa?
Mas Lim : Alhamdulliah, contohnya.
Widy : Takut dikira pamer, Mas. Mbak Arum bilang, jangan sering-sering bikin status takut dikira sosialita yang sering pamer.
Widy : Jadi sekarang, aku paling pasang status dagangan. Paling sama foto anak. Dan karena sekarang sudah enggak boleh dagang, berarti makin jarang bikin status.
Mas Lim : Lihat foto profil baruku.
Detik itu juga Widy langsung membeku walau dadanya seolah sudah penuh petasan rentet yang tak hentinya meledak. Foto profil terbaru Sekretaris Lim merupakan foto tangan kiri mereka yang sudah memakai cincin pengikat. Saat mereka masih duduk bersebelahan di rumah makan Arum bersama yang lainnya, tapi Sekretaris Lim diam-diam meraih, kemudian menggenggam tangan kiri Widy. Namun Widy yang saat itu sudah langsung panas dingin, tidak menyangka bahwa Sekretaris Lim sampai mengabadikan tangan mereka yang saling menggenggam di pangkuan, melalui bidik kamera dan kini menjadi foto profil baru WA Sekretaris Lim.
Widy : Ter-LUV
Mas Lim : (Emoji hati)
Widy : Lihat foto profilku
Sekretaris Lim yang sudah meringkuk sambil mendekap bantal guling di kamar hotel dirinya menginap, langsung bersemangat memastikan. Ternyata foto profil WA Widy memang sudah berubah. Wanita itu memakai foto punggung Sekretaris Lim, ketika dikelilingi ketiga anak Widy yang sibuk menempel kepada Sekretaris Lim. Layaknya Widy, Sekretaris Lim juga tak menyangka, Widy akan mengabadikan momen tersebut.
Widy : Alasanku enggak ragu menerima Mas
Mas Lim : Bagi foto-fotonya
__ADS_1
Selain menulis balasan tersebut, Sekretaris Lim juga sampai memberi reaksi hati kepada pesan Widy yang mengatakan foto profilnya sebagai alasan Widy tak ragu menerimanya.
Setelah mengirim sederet foto kepada Sekretaris Lim, Widy sengaja membuka ruang obrolannya dengan dokter Andri.
Widy : Dok, sebelumnya saya minta maaf. Tapi sebelum isya tadi, saya sudah lamaran.
Bahkan, Widy sampai mengirim foto profil Sekretaris Lim ke dokter Andri.
Sekretaris Lim : Tidur, jangan begadang. Besok lanjut sahur.
Widy langsung mesem membacanya walau ia baru melihat sebagian pesan dari Sekretaris Lim dan itu di atas layar ponsel. “Mas Lim diam-diam posesif banget.” Kemudian ia langsung meninggalkan ruang obrolan WA-nya dengan dokter Andri. Toh, dokter Andri langsung tidak membalas. Walau Widy juga langsung khawatir, pria itu terluka bahkan bisa jadi lebih parah dari pak Haji karena status terbarunya dengan Sekretaris Lim.
Widy : Besok ke Jakartanya beneran sehabis sahur?
Sekretaris Lim : Pengin ketemu dulu, sih.
Widy langsung meringis kegirangan saking bahagianya. “Ya Alloh, berasa balik jadi ABG yang baru ngerasain indahnya pacaran,” batinnya.
Sekretaris Lim : Harusnya sih enggak hilang walau aku enggak ikut rombongan
“Biasanya laki-laki, makin malam makin enggak jelas bahasnya,” batin Widy lagi.
Sekretaris Lim : Nanti aku izin ke Koko, buat sahur di rumah makan Mbak kamu saja, biar sekalian terakhiran.
Sekretaris Lim : Waittt ....
Widy : Oke, Mas.
Tak lama kemudian, Widy mendapat bukti tangkap layar WA Sekretaris Lim dengan Tuan Maheza.
Sekretaris Lim : Oke (emoji hati)
Melihat Sekretaris Lim yang ia yakini menjadi sangat kegirangan, Widy malah langsung merasa bersalah.
Widy : Besok yah, Mas, kalau kita sudah menikah, aku pasti ikut Mas ke Jakarta. Kalau dipikir-pikir, aku jahat banget kalau aku tetap di sini dan Mas di Jakarta.
Sekretaris Lim : Alhamdullilah akhirnya sadar (emoji hati). Kayaknya habis ini aku bakalan tidur nyenyak. Besok pukul dua, tolong bangunin, ya Takut telat.
Widy : Ya sudah, selamat tidur. Mimpi indah (emoji hati tiga kali)
__ADS_1
Sekretaris Lim : Iya, aku beneran mau langsung tidur. Tapi, anak-anak juga sudah tidur, kan? Tadi aku pamit ke mereka, sama mereka enggak boleh.
Meninggalkan obrolan Sekretaris Lim dan Widy yang makin intens, Kalandra yang awalnya sengaja memeriksa pemberitahuan di ponselnya, langsung terusik oleh WA dari dokter Andri.
Andri : Kal, memangnya bener, Widy sudah lamaran?
“Duh, nih orang yah,” lirih Kalandra hingga Arum yang sudah tidur di sebelahnya, terusik.
“Kenapa?” lirih Arum berat khas orang mengantuk.
Kalandra langsung menggunakan tangan kirinya untuk mengelus kepala Arum yang sudah tak lagi tertutup jilbab. “Andri. Bentar.”
“Oh ....” Arum sama sekali tidak berpikir yang sedang Kalandra dan dokter Andri bahas malah Widy.
“Aku tidur dulu,” pamit Arum karena Kalandra sudah langsung sibuk mengetik dan tampaknya memang sudah langsung berkirim pesan dengan dokter Andri.
“Iya, kamu tidur dulu,” balas Kalandra sambil mengelus asal kening Arum.
Kalandra : Adik rekan bisnis aku, dia yang punya saham terbesar di parik aku kerja, ... dia langsung tertarik ke Widy dan anak-anak Widy juga langsung dekat ke dia.
Andri : Aku duluan, apa dia duluan yang kenal Widy?
Mendapatkan balasan tersebut, Kalandra refleks menelan ludah.
Kalandra : Kamu duluan, tapi dia main sat-set-sat-set. Lancar jaya. Pas kamu memilih mundur, dia datang. Singkat sih, cepet banget, alhamdullilah, rasanya beban langsung berkurang melepas Widy ke laki-laki yang tepat.
Kalandra : Bukan bermaksud bagaimana-bagaimana, yah, Ndri. Kamu sama Widy memang sama-sama baik, tapi andai kalian terus bersama, kalian akan jadi enggak baik-baik saja. Apalagi mamah kamu enggak setuju pakai banget ke hubungan kalian.
Andri : Sekitar sepuluh menit lalu, akhirnya mamahku kasih restu.
Kalandra : Tetap telat. Memangnya, apa yang bikin mama kamu berubah pikiran?
Andri : Sudah enggak penting sih, Kal. Toh sekarang Widy sudah sama tunangannya.
Kalandra berangsur menghela napas dalam.
Kalandra : Menang, sudah enggak penting lagi. Karena yang penting sekarang, Widy beneran sudah bahagia dengan laki-laki yang tepat. Jadi, kamu juga harus bahagia dengan wanita yang tepat.
Andri : Minta doa terbaiknya, Kal.
__ADS_1
Kalandra : Selalu. Doa terbaikku selalu menyertai kamu, Ndri. Namun semua yang kamu alami juga balik lagi ke kamu. Jadi jangan ragu buat melakukan perubahan dimulai dari diri kamu. Kamu sadar, kamu enggak bisa mengubah mamah kamu. Saranku sih, kalau mamah kamu masih apa-apa serba mengancam, sudah kamu keluar saja dari rumah kamu. Kamu ngontrak apa gimana sama Nissa. Soalnya kasihan juga kalau Nissa terus hidup sama mamah kamu yang pemarah, kasar enggak beradab. Masih kecil sudah harus jadi penampung mamah kamu. Mental dan hati Nissa pasti enggak baik-baik saja.
Andri : Iya, Kal. Aku juga sudah ada niat begitu. Tadinya mau ajak Widy, tapi sudah begini. Ya sama Nissa. Yang penting Nissa dulu.