Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
238 : Ke Warung Septi


__ADS_3

Hari ini matahari benar-benar terik. Es gepluk Septi sampai diserbu banyak pembeli, terlebih nuansa lebaran membuat pedagang lain masih banyak yang tutup.


“Ini mataharinya ditaruh di atas kepala saya apa gimana sih, Sep? Kok bisa sepanas ini? Ini ulah kamu, ya?” keluh pak Haji mondar-mandir sambil kipas-kipas menggunakan kipas anyaman bambu.


“Dari tadi aku nggepluk es, Pak Gede. Lihat, stok es sudah sampai habis padahal tadi aku bawa sepuluh es. Sudah sana Pak Gede, beliin saya es batu. Katanya mau jadi Bapak terbaikku!” ucap Septi masih jongkok mengawasi bawah meja dagangannya.


Pak Haji langsung melirik sinis Septi. “Kira-kira, Sep. Sepanas ini, kamu suruh saya pecicilan cari es batu. Nanti kalau saya jadi gelap mirip Supret, ... umi Fatimah pangling!”


Septi menghela napas dalam sembari beranjak berdiri. “Cuman beliin es batu, Pak Gede. Bukan cari kitab suci ke barat bareng biksu Tong dan kera sakti. Enggak mungkin bikin gosong kecuali Pak Gede perginya sambil gendong kompor yang dihiasi bara api!”


Pak Haji makin menatap sebal Septi. Tidak dituruti, restu untuk hubungannya dengan ibu Fatimah bisa macet mirip jalanan saat mudik. Dituruti, pak Haji juga yang rugi.


“Ingat, Pak Gede. Makin Pak Gede sayang dan peduli sama aku maupun Sepri, lalu lintas hubungan Pak Gede sama mamahku, enggak ada warna merahnya!” yakin Septi.


Belum sempat pak Haji menjawab, rombongan mobil mewah mendekat. Sudah bisa ditebak siapa yang datang. Tentunya mereka juga bagian dari anggota Grup WA Pengabdi Musafir Cinta.


“Pak Pengacara, tolong carikan es batu yang banyak dong!” sergah pak Haji ketika mendapati Kalandra keluar dari mobil. Kalandra turun dari mobil Alphard putih sebelah tengah, milik Sekretaris Lim.


“Ah, Mbah. Alasan saya ke sini saja karena saya mau beli es ke Septi!” balas Kalandra.


“Septi saja kehabisan es!” balas pak Haji.


“Oalah, esnya sudah habis? Ya mending ke rumah makan Arum saja kalau gini sih,” ucap Kalandra.


“Bentar ... bentar, jangan pada pergi dulu. Biar saya carikan es dulu. Jangan ditinggal, ya!” sergah Septi buru-buru pergi. Rombongan Kalandra datang dalam formasi lengkap dan ia tak mungkin mengecewakan mereka.

__ADS_1


Suasana di warung Septi benar-benar panas. Rombongan Kalandra sampai kepanasan. Azzura diemban Aleya, Azzam diemban Arum, sementara Aidan sudah nempel kepada Kalandra. Kalandra baru saja melepas kaus Aidan, menyisakan kaus dalam saja.


“Ini demit di warung Septi, kurang sesaj*en, makanya suasananya jadi sepanas ini,” ucap pak Haji.


Semuanya kompak menahan tawa hanya karena mendengarnya.


Berbeda dari awal yang hanya berupa gerobak dorong, kini tempat yang Septi gunakan untuk jualan memang sudah sepenuhnya Septi sewa. Hingga selain memiliki tempat luas sekaligus strategis dilengkapi dengan meja dan tempat duduk, Septi juga sampai menyediakan aneka gorengan dan juga soto.


“Mbah, itu kipasnya mati, enggak dicolokin! Pantas panas sumuk begini!” tegur Arum.


“Yang namanya mati kan wajib dikubur, Bu Pengacara!” balas pak Haji sambil memasang senyum tak berdosa.


“Sini, sini ... biar saya yang nyalain,” ucap sekretaris Lim yang masih berdiri sambil mengemban kedua anak laki-laki Widy.


“Nah ....” Semuanya kompak berseru lantaran dinyalakannya kias angin di sana, membuat suasana tak sumuk seperti sebelumnya. Mereka merasakan kesegaran yang benar-benar mengubah keadaan.


“Oalah ... beginilah yang dinamakan keadilan Sang Pencipta. Enggak jadi rekan rumah tangga biar bisa ikut sarapan halal, jadi rekan ngeracik soto!” ucap pak Haji jadi gugup bersebelahan dengan Widy. Apalagi Widy yang sekarang jauh lebih cantik, lebih glowing, dan memang sangat wangi dari sebelum dinikahi Sekretaris Lim.


Walau sudah langsung membuat semua orang dewasa di sana cekikikan, pak Haji tetap waswas pada Sekretaris Lim yang walau sibuk tersipu, tetap menatapnya tajam. Pria itu jelas terlihat cemburu.


“Lihat-lihat tuh si Lim. Dari matanya seperti ada kawat berapinya!” ucap pak Haji lagi dan sukses membuat suasana di sana makin ramai.


Apalagi ketika pada akhirnya, Sekretaris Lim yang masih menggendong kedua anak laki-laki Widy, mendekat, menjadi mandor untuk pak Haji maupun Widy.


“Dimandori begini, berarti bentar lagi gajian!” lanjut pak Haji.

__ADS_1


“Gajiannya Sabtu Minggu, Mbah!” tegur Kalandra.


“Sekarang kan juga Minggu, Pak Pengacara. Hayo, sampai lupa hari gara-gara enggak sabar buat ‘buka puasa’!” balas pak Haji masih meng*go*d*a Kalandra.


Kalandra sudah langsung tidak bisa berkata-kata. Namun, ia yang melihat stok jeruk dan tahu itu untuk es, sengaja meminta Aidan untuk bersama Arum. Walau bocah itu malah ikut Tuan Maheza yang sedang memangku Cinta, tapi sambil memutar video upin-ipin.


“Dek Azzura cantik banget, ya?” ucap Aleya kepada Cikho yang terus saja memandangi wajah Azzura.


Sesekali, telunjuk tangan Cikho juga menyentuh gemas sekaligus takut, pipi mulus Azzura yang terbilang gembul. Bocah itu tersenyum ketika ditanya sang mamah, apakah bayi yang membuatnya bahagia itu, cantik? Membuat Aleya yang masih mengawasi, menjadi gemas sendiri.


“Rum!” sergah Aleya bersemangat menatap Arum yang duduk persis di hadapannya. Kebersamaan mereka hanya dipisahkan oleh meja kayu panjang terbilang luas yang ada di sana.


Arum langsung menatap Aleya penuh kebahagiaan karena nada suara Aleya saja terdengar menahan banyak kebahagiaan.


“Besanan, yuk! Jodohin Azzura sama Cikho!” sergah Aleya.


Mendengar itu, Arum langsung tersenyum lebar tanpa bisa berkomentar.


“Jangan Bu Pengacara. Nanti si Azzura sama si Ojan saja. Biar kalau mau pacaran apa ngapel, enggak kejauhan. Kasihan kan kalau Jakarta ke sini. Naik mobil saja tembus dua belas jam!” ujar pak Haji yang baru saja menyuguhkan dua mangkuk soto untuk Tuan Maheza maupun Aleya.


“Jarak enggak usah dimasalahkan, Mbah. Nanti saya belikan Cikho jet, biar ke sininya lebih gampang. Nanti turunnya numpang di alun-alun depan. Asal izin sama aparat setempat, hitungan menit pasti bisa sampai sini!” yakin Tuan Maheza.


Kalandra tertawa bahagia apalagi ketika pak Haji berkeluh kesah, si Ojan dengan siapa kalau bukan dengan Azzura?


“Katanya si Ojan mau jadi musafir cinta juga? Ya jangan sampai sama mbak Azzura. Enggak rela lahir batin aku, anak perempuanku dipoligami!” komentar Widy masih menyiram setiap racikan soto di mangkuk yang ia buat, menggunakan kuah yang sampai mendidih.

__ADS_1


“Berarti kalau Ojan beneran jadi musafir cinta, enggak ada alamat jodoh sama salah satu anak dari kalian, ya?” tanya pak Haji memastikan. Dan semua ibu-ibu di sana kompak mengatakan tidak, termasuk suka dengan para suami yang tak rela jika putri mereka sampai dipoligami.


__ADS_2