Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
139 : Wanita Kuat


__ADS_3

“Gimana aku mau nikah, kalau bapakku saja enggak urus aku? Sekadar peduli saja enggak, kan?” lirih Septi yang kemudian berlinang air mata.


Marah, Septi merasakan itu. Dalam hatinya ia mengutuk perbuatan sang bapak. Perlahan ia yang awalnya berdiri berangsur duduk di kasur busa yang menjadi satu-satunya tempat duduk di sana. Karena semacam meja, di sana sungguh belum ada. Yang ada hanya tikar karakter di ruang depan, juga sebuah kasur dan lemari plastik peninggalan Angga.


Jujur, ibu Fatimah merasa sangat nelangsa mendengarnya. Ibu Fatimah sakit hati pada pak Yusuf berikut istri barunya. Namun apa daya, wanita itu sadar, melawan bahkan menuntut keadilan hanya sia-sia. Malahan jika ia melakukannya, yang ada hanya buang-buang waktu, dan tentu saja menambah luka-lukanya.


Ibu Fatimah sadar dirinya bukan Arum yang begitu tahan banting. Sebab mendengar keluh kesah Septi yang sudah dewasa karena diabaikan sang bapak saja, hatinya sudah remuk redam. Ia yang awalnya tengah mondar-mandir menimang Sepri, refleks terduduk lemas di lantai seiring tatapannya yang menjadi kosong sekaligus basah.


“Itu juga sih, yang akan Sepri rasakan.” Kemudian walau masih merasa sangat terluka, ibu Fatimah sengaja menoleh sekaligus menatap sang putri yang ada di hadapannya. “Sebenarnya, semua yang kamu lakukan juga sudah kamu rasakan. Hanya saja, kamu masih belum juga menyadarinya, Sep. Kamu merasakan sakitnya dibuang bapak, itu juga yang dulu Aidan rasakan ketika Angga lebih memilih kamu. Itu juga yang Sepri rasakan.”


Menghela napas pelan, ibu Fatimah berangsur menghela napas pelan. “Seperti halnya Mamah yang meminta Arum menerima poligami, malah Mamah sendiri yang merasakannya.” Ia berangsur melirik pedih sang putri. Di hadapannya dan hanya berjarak sekitar satu meter, Septi masih berlinang air mata.


“Datangi baik-baik bapak kamu. Biasanya memang hanya anak yang bisa mengubah orang tua. Andai Bapak kamu tetap enggak mau bantu, ya sudah, biar itu jadi urusan dia sama Tuhan dia!” ucap ibu Fatimah dan memang merasa tidak ada cara lain selain itu.


“Aku doakan bapak kualat! Aku doakan Bapak juga merasakan gimana sakitnya dibuang dan beneran enggak punya apa-apa!” sumpah Septi seiring kedua tangannya yang mengepal erat di sisi tubuh.


Ibu Fatimah tak kuasa berkomentar banyak karena apa yang Septi lakukan barusan tak ubahnya bentuk kekecewaan dari putrinya itu kepada sang bapak. Apalagi sudah tidak kurang-kurang mereka mengajak pak Yusuf menyelesaikan masalah mereka secara baik-baik. Namun pak Yusuf sudah dibutakan oleh cinta barunya. Mungkin nanti, ketika pak Yusuf jatuh dan tidak punya apa-apa layaknya mereka, pria itu baru akan ingat mereka.


***

__ADS_1


“Eh, Mbak beneran loh,” ucap Widy pada Arum yang tengah mendata ulang pesanannya.


“Beneran apanya?” tanya Arum masih menyikapi sang adik dengan santai. Di sebelah meja kasir, ia malah ditinggalkan oleh Widy yang sampai keluar dari rumah makan.


Suasana rumah makan sudah tidak begitu ramai, selain rumah makan yang memang sudah hampir tutup. Hanya tinggal beberapa orang di lantai bawah, sedangkan di lantai atas yang kosong, tengah dibersihkan.


Widy kembali sembari membawa satu kantong berwarna merah dan tampak cukup berat.


“Itu apa?” tanya Arum.


“Aidan kriuk!” sergah Widy. Selain memamerkan isi kantong merahnya, ia juga menjelaskan bahwa semua itu merupakan produk buatan Angga. Angga merintis usaha baru dan Widy baru saja dari sana, di kontrakan dulu Arum sempat tinggal.


“Lumayan Mbak! Tadi aku sampai antri. Lagi laris kan semacam cireng, nugget gini.” Widy juga memberi Arum dua bungkus untuk kakaknya itu mencicipi.


“Mbak ... maaf.” Widy menjadi merasa bersalah dan baru tahu di balik ketegaran sang kakak, ternyata Angga dan semua kisah mereka masih sangat sensitif untuk Arum.


“Enggak apa-apa, Dy. Dia juga berhak bahagia. Malahan Mbak bersyukur banget kalau pada akhirnya, dia mau bangkit. Mbak beneran merasa lega karena pada akhirnya, dia bisa tunjukkin dia bisa jadi lebih baik. Syukurlah kalau dia juga belajar dari masa lalu,” ucap Arum yang menarik sehelai tisu dari meja kasir, kemudian menggunakannya untuk menyeka air matanya.


Widy hanya mampu menatap pedih sang kakak sambil kembali meminta maaf. “Benar kata Mbak, alhamdullilah. Soalnya, aku juga akan seperti Mbak, ... aku juga bakalan ikut seneng kalau bapaknya anak-anak belajar dari masa lalu kayak si Angga.”

__ADS_1


“Oalah itu ... memangnya dia ada ngabarin kamu?” tanggap Arum sambil menatap prihatin sang adik.


Widy langsung menggeleng. “Enggak ada sama sekali, Mbak. Ya mau bagaimana lagi? Ini juga salahku, aku yang terlalu bucin ke dia. Pas bareng-bareng dan aku cukupi saja, dia enggak peduli. Apa kabar kalau sudah enggak dikasih apa-apa? Kadang kalau aku renungi, yang ada aku nangis banget. Sumpah nyesel banget kenapa dulu aku segobllok itu! Padahal harusnya aku tahu, menyesal selalu datang terlambat.”


Widy menghela napas dalam. “Kadang kalau lagi ingat apalagi lihat anak-anak, ... ya ampun berat banget. Aku punya tiga anak, ... masih kecil semuanya. Dua perempuan dan yang terakhir laki-laki.”


“Asal kamu ikhlas, ... asal kamu sudah melakukan yang terbaik, sadar enggak sadar, sebenarnya Tuhan sudah kasih balasan setimpal buat kamu, Dy! Enggak ada hasil yang mengkhianati usaha. Kamu disakiti Agus dan keluarganya, Tuhan langsung ganti dan kasih kamu bahagia dari hal lain,” yakin Arum sampai meraih kemudian menggenggam tangan kiri Widy yang tidak membawa nugget produk Angga.


“Sekarang kamu renungi, ... usaha kamu dilancarkan, kamu dapat lebih pekerjaan setelah kamu bercerai dari Agus. Bahkan penghasilan bersih kamu jadi tiga kali lipat lebih banyak dari ketika kamu masih sama Agus, kan?” lanjut Arum.


Widy mengangguk-angguk. “Alhamdullilah, Mbak, sebagian besar sengaja aku tabung buat persiapan sekolah anak-anak.”


Arum mengangguk-angguk terharu bersama air matanya yang berlinang. Ia meraih punggung Widy, mendekapnya hangat dan membuat tubuh mereka tak lagi berjarak. “Alhamdullilah, Dy. Mbak beneran bangga ke kamu. Kamu yang dulu kerasnya melebihi batu, sekarang beneran jadi wanita kuat. Mamah idaman!”


Dipuji begitu, Widy jadi menangis. “Mbak ih ... aku belum sehebat Mbak!” Ia menjadi tersedu-sedu.


“Jangan memaksa diri kamu buat jadi orang lain, Dy. Kemampuan apalagi kesuksesan seseorang kan enggak bisa disama ratakan. Kamu enggak boleh egois ke diri kamu apalagi kamu sudah sangat bekerja keras. Kalau bisa, kamu juga wajib kasih diri kamu yang sudah sangat bekerja keras, hadiah. Karena kalau bukan dimulai dari diri kamu, siapa yang akan menghargai apalagi mencintai diri kamu?” Arum masih memeluk sekaligus mengelus punggung sang adik penuh sayang.


Widy kian tersedu-sedu memeluk Arum meski kenyataan perut Arum yang makin hari makin besar di tambah yang di dalam perut juga tidak mau diam, membuat agenda pelukan mereka penuh perjuangan.

__ADS_1


“Sekali lagi makasih banyak, Mbak! Karena dari Mbak, aku belajar jadi wanita kuat dan bikin aku jauh lebih berguna. Jadi wanita kuat layaknya sekarang beneran bikin aku jauh lebih dihargai orang-orang!” ucap Widy masih tersedu-sedu.


Hanya kepada Arum, Widy berkeluh kesah secara gamblang. Bukan hanya Agus dan masa lalu mereka yang membuatnya merasa lelah. Karena menjadi orang tua tunggal untuk ketiga anaknya dan ia harus sangat bekerja keras, juga membuatnya tak kalah lelah. Namun seperti yang baru saja ia katakan, menjadi wanita kuat layaknya sekarang jauh berkali lipat membuatnya dihargai oleh orang-orang.


__ADS_2