Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
179 : Sahur Pertama


__ADS_3

Suasana rumah pak Sana benar-benar meriah walau tak ada pesta di sana. Di tengah suasana yang dibiarkan terang benderang, semuanya hadir di ruang makan tanpa terkecuali bayi-bayinya untuk sahur yang pertama.


“Sahur pertama berasa mau tawuran. Jadi ingat pak Haji, sekali boyong keluarga, berasa mau tawuran!” Ibu Kalsum yang mengemban Azzam, paling heboh. Tak mau kalah dari Azzura yang memang tidak mau diam. Kaki dan tangan bayi itu tak hentinya bergerak-gerak mirip mengayuh.


“Mbak Azzura, Agustusannya masih lama, ditahan dulu. Mbak Azzura mau lomba lari apa balap karung, kan?” goda pak Sana yang memang memangku Azzura.


Lain dengan Azzam dan Azzura, Aidan anteng makan di pangkuan Kalandra. Keduanya tengah disuapi oleh Arum dengan menu berbeda.


“Mas Aidan puasa kan?” tanya ibu Kalsum sambil menatap Aidan dan bocah itu langsung mengangguk-angguk.


Dengan mulut penuh dan sibuk mengunyah, Aidan menatap sang nenek.


“Mas Aidan puasa yang setiap saat boleh sahur, ya?” sela pak Sana sambil menahan tawa, dan lagi-lagi, Aidan mengangguk sambil mesem.


“Mirip sama Kalandra kalau sudah gitu,” sambung pak Sana lantaran tingkah Aidan sudah mirip Kalandra. Mungkin karena keduanya kerap bersama hingga Aidan mencontoh interaksi sekaligus cara Kalandra dalam melakukan segala sesuatunya.


“Enggak mirip gimana? Orang Aidan kakaknya Kalandra! Lihat saja, Kalandra enggak mau kalah. Makan disuapin, minum lebih-lebih!” sergah ibu Kalsum yang kal ini sengaja menyindir sang putra. Di hadapannya, Kalandra langsung sibuk menahan tawa.


“Duh, tanggung jawab Mas Aidan berat, ada tiga adik yang harus Mas Aidah jaga sekaligus, ya?” sambung pak Sana.

__ADS_1


Arum yang awalnya hanya menahan senyum perlahan menjadi menahan tawa. Kalau sudah bersama layaknya sekarang, Arum merasa sangat terancam. Karena memang akan sangat tidak baik untuk jahitan di jalan lahirnya yang masih rawan.


“Papah sama Mamah jangan ngelawak terus. Kasihan Arum, jahitannya sakit itu kalau ketawa terus!” tegur Kalandra di sela tawanya dan kemudian menerima suapan lagi dari Arum.


“Nah, kan? Itu jatahnya Mas Aidan, Mas Kala,” tegur ibu Kalsum yang lagi-lagi tertawa. Sulit baginya untuk anteng jika suasana sudah seperti sekarang dan semuanya pun terlihat sangat bahagia.


“Tapi makannya Mas Aidan enak sih,” ucap Kalandra tetap mengunyah makanannya. Kali ini Ia menerima makanan yang benar-benar miliknya.


“Nanti, buka puasa di rumah, apa kantor, Mas?” tanya pak Sana yang memang sudah beres sahur lebih dulu.


“Kantor, Pah. Tapi habis itu pun, aku masih ada urusan sama klien. Sebenarnya urusannya besok. Lagi urus kasus perceraian sama hak asuh anak, kan. Tapi kan besok, Tuan Maheza sama rombongan, mau mampir, mau jenguk si kembar sekalian silaturahmi,” balas Kalandra.


“Kenapa papah mamah, kelihatan terkejut gitu? Biasa saja ih,” ucap Kalandra membiarkan Arum mengeringkan kepalanya yang masih setengah basah menggunakan handuk.


“Lumrah, cukup terkejut. Jauh-jauh dari Jakarta, ke sini. Tapi ya Alhamdullilah, mereka mau jenguk si kembar dan sampai mau silaturahmi, berarti baik banget,” ucap ibu Kalsum.


Pak Sana yang duduk di sebelah sang istri, langsung menatapnya. “Yang namanya orang baik, pasti ya dicari orang baik, Mah. Jangankan orang yang memang baik, yang awalnya jahat pun bisa jadi keluarga, kalau kita balas mereka dengan kebaikan juga. Lihat, pak Haji, Septi, Angga, keluarga Mbak Arum, dulu mereka seperti apa? Sekarang kita sudah deket banget, kan?”


Dalam hatinya, Arum yang mengambil handuk dari bahu sang suami kemudian menaruhnya di tempat duduknya, refleks mesem. “Papah Sana memang sebijak itu. Makanya Mas Kala juga ikut enggak kalah bijak. Malahan, walau Papah sana lucu, Mas Kalah jauh lebih lucu soalnya memang perpaduan dengan watak mamah Kalsum,” batin Arum.

__ADS_1


Kalandra berdeham memasang wajah sekaligus gelagat kurang nyaman. Tatapannya pun kerap menunduk, seiring ia yang membenarkan posisi duduk Aidan di pangkuannya. “Omong-omong itu, si ibu Muji kejam banget loh. Dia gitu ke Widy, belum apa-apa sudah direcoki. Sekarang Andri yang kebingungan kenapa Widy sibuk menghindar.”


“Nah, si Muji enggak berubah-berubah. Enggak belajar dari pengalaman. Itu Andri nikah pun, dia yang atur-atur, kan? Lah ya sudah, enggak usah ngomongin orang. Yang penting kita enggak ikutan. Sekadar mengingatkan saja, apalagi Andri sudah dewasa. Dari awal kan si Muji emang sudah susah dididik, biar Andri saja yang didik.” Pak Sana mengambil jeda sejenak untuk melanjutkan ucapannya. Ia mengambil segelas teh manis panas yang tampaknya sudah jauh lebih dingin dan ada di hadapannya.


“Kalaupun Widy enggak jadi sama Andri, masih banyak orang baik. Stok orang baik di dunia ini masih banyak. Dijalani saja karena yang namanya jodoh termasuk rezeki, kalau belum waktunya ya tetap belum bisa kita miliki, sekeras apa pun kita menyiksa diri untuk mendapatkannya.”


“Lihat saja kalian. Kalian sudah merasakannya sendiri. Kalian sebahagia ini setelah sebelumnya sama-sama terluka. Bayangkan kalau mamah Kalsum mirip ibu Muji, alamatnya Mamah sama saja nyiptain neraka buat keluarga kita.”


“Kita sama-sama lihat saja, bakalan seperti apa Andri kalau sama yang sekarang juga kembali dilarang. Tapi kalau Papah lihat Widy, dia nyaman-nyaman saja pontang-panting kerja mirip baling-baling. Asal jangan diusik apalagi kena omongan macam omongan ibu Muji, dia pasti tetap happy.” Pak Sana kembali menutup ucapannya dengan menikmati teh manis yang kini memang sudah jadi hangat-hangat kuku.


“Kalau mengenai itu kemarin sih aku sudah bilang ke Widy, Pah. Karena kalau masih ada orang yang sibuk urus urusan Widy, sekalian minta orang itu buat urus tuntas kebutuhan Widy sekeluarga saha. Gitu!” ucap Arum dan langsung membuat mertuanya heboh tertawa.


“Sudah ketularan mamahmu, ini!” ucap Pak Sana menyamakan Arum dengan ibu Kalsum.


Kalandra yang menjadi tersipu pun berkata, “Mamah enggak ada apa-apanya kalau dibandingkan sama mamahnya anak-anak, Pah. Jangan lihat wajahnya yang tenang, kalem keibuan. Soalnya kalau sudah kesal, wah ....”


“Taflon pun melayang, ya?” sergah pak Sana yang langsung tertawa lepas. “Asli, Mbak. Pas Papah nemenin kamu nemuin Fajar ke bank. Yang Papah sibuk doakan bukan apa-apa. Dalam hati cuma sibuk doa, Ya Alloh semoga cucu-cucu hamba enggak mirip Fajar walau mamahnya semarah dan sebenci itu ke si Fajar!”


Lagi-lagi tawa dalam kebersamaan di sana pecah termasuk juga Arum yang ikut tertawa.

__ADS_1


“Duh, jahitanku!” batin Arum tak bisa untuk tidak tertawa padahal itu sangat mengganggu jahitannya. Apalagi, ibu Kalsum juga sampai membahas kabar gigi Fajar yang Kalandra kabarkan masih pongah.


__ADS_2