
Malam-malam, di tengah semilir angin yang bikin merinding, tiga laki-laki dewasa tengah memandangi pohon jambu air yang bersebelahan dengan pohon belimbing. Di sebelah ketiganya, suasana rumah makan milik Arum sudah sangat sepi karena kini sudah pukul sebelas malam. Sudah tidak ada aktivitas di dalam sana. Mereka adalah Sekretaris Lim, Kalandra, dan juga Tuan Maheza yang berdiri berjejer mirip tiga sekawan.
“Andai tadi kita ke sininya lebih awal, pasti biasa minta bantuan karyawan. Biasanya kalau habis tarawih, mereka rujak rame-rame!” ucap Kalandra.
Walau lebaran, sekitar pukul satu tadi, warung tetap buka. Kenyataan tersebut terjadi lantaran permohonan khusus dari pembeli yang beberapa di antaranya sudah sampai membayar pesanan untuk keperluan lebaran.
Kalandra yang berdiri di tengah, di antara kakak beradik Sekretaris Lim dan Tuan Maheza, mengarahkan senter di tangan kanannya ke kedua pohon di hadapan mereka.
“Jadi kangen tarawih. Biasanya yang jarang karena fokus kerja atau malah kecapaian, kemarin nyaris full gara-gara sudah punya istri yang solehah!” ucap Sekretaris Lim masih fokus mengawasi setiap sorot senter yang Kalandra arahkan. Ia tak tahu jika kedua pria di sebelahnya, sudah langsung memperhatikannya akibat pengakuannya.
“Kangen tarawih, apa kangen istri? Kalau dari pengakuanmu barusan, jatuhnya itu kangen tarawih sama kangen istri,” ucap Kalandra mengoreksi anggapan Sekretaris Lim.
“Tapi kalau jatuh itu sakit, Kal. Tadi kamu bilang jatuhnya,” ucap Tuan Maheza yang juga mengoreksi anggapan sekaligus ucapan Kalandra.
Kalandra menatap Tuan Maheza, sempat bengong sebelum akhirnya ia malah tertawa. “Adik sama kakak sama saja. Kalau dihadapkan sama pak Haji dan mereka dibawa ngobrol muter-muter, pasti mereka keder karena mereka terlalu lurus!” batin Kalandra.
Setelah sampai berdeham, Kalandra berangsur menyikapi keadaan dengan serius. “Itu sarang tawon, yang tawonnya kalau sekali mengantup langsung benjol dan bisa bikin sakit tiga hari tiga malam kalau enggak langsung diobati ke dokter. Nah ... nah, ... itu semut merah raksasa yang orang sini sebut krangkrang dan kalau gigit langsung menancap susah dicabut mirip orang yang telanjur bucin. Sudah, Lim yang maju, panjat. Kan istri Lim yang ngidam. Aku di sini bantu doa sambil arahin senter ke pohon!” ucap Kalandra berbisik-bisik sambil terus mengarahkan senternya ke pohon.
Mendengar informasi dari Kalandra yang malah lebih mirip dengan menakut-nakuti, Sekretaris Lim dan Tuan Maheza, refleks saling menoleh. Lagi-lagi keduanya tegang bahkan takut. Lebih takut lagi karena senter Kalandra mendadak mati efek kehabisan daya.
__ADS_1
“Oalah aku lupa cas senternya. Dayanya pasti habis setelah semalaman buat main mas Aidan ngikutin orang takbiran!” ucap Kalandra sambil mengawasi senter berwarna hitam dan ada stiker Upin dan Ipin kesayangan Aidan. Bahkan Aidan juga yang menempelkan stiker tersebut di sana.
“Ya sudah, Ko. Koko kan kakak aku, ayo kita panjat rame-rame. Gotong royong! Sekalian buat Aleya kan juga lagi hamil!” ajak Sekretaris Lim cari aman.
Mendengar ucapan Sekretaris Lim barusan, Kalandra yang menunduk dan perlahan membungkuk sebenarnya sedang menahan tawa. “Asli, pria-pria ‘lurus’ ini beneran gokil. Kakak-adik sama saja. Padahal tuh sarang tawon, tinggal sisa kemarin saja. Logikanya, kalau karyawan saja sudah biasa metik buat rujak, masa iya seseram yang aku kabarkan? Sekelas pak Haji saja sering makan jambu sama belimbingnya di pohon langsung. Paling cuma digigit krangkang dikit!” batin Kalandra.
“Ya sudah, ayo cepat. Hati-hati saja, takutnya malah istri kita enggak sabar, terus datang dan mereka nekat manjat sendiri. Jangan lupa, istri kita beda dari wanita kebanyakan. Sekelas wari*a saja bakalan mereka lawan. Apalagi kita para suami yang selalu menyayangi mereka?” lanjut Kalandra.
Sekretaris Lim dan Tuan Maheza kompak maju. Keduanya memberanikan diri untuk mengelabuhi para tawon dan juga semut menyeramkan yang Kalandra ceritakan.
Sementara itu, di rumah orang tua Kalandra. Para wanita sudah nyaris beres membuat pecel. Bumbu pecel yang Arum buat sudah beres diulek. Aleya yang menggoreng mendoan, juga sudah menggoreng tempe terakhirnya. Termasuk juga dengan Widy yang sudah meniriskan daun lembayung atau itu daun kacang panjang yang baru beres direbus menemani sayuran lain di tampah plastik.
Di ruang keluarga, anak-anak tengah main dengan kakek nenek sambil menonton acara di televisi. Belum ada tanda-tanda para suami pulang, setelah Widy memastikan dari pintu menuju ruang keluarga.
“Masa iya harus disusul? Ini aku mau bikin bumbu rujaknya,” ucap Arum masih duduk di lantai dan baru saja beres memindahkan bumbu pecel buatannya ke dalam kotak.
“Sudah satu jam lebih padahal, ya?” ucap Widy sembari mencicip rebusan kacang panjangnya.
“Kalau pak Haji, aku maklum karena dia sudah terbiasa clengean buat cari janda. Lah, suami kita?” ujar Arum.
__ADS_1
“Harusnya mereka baik-baik saja,” ucap Aleya.
Tanpa direncanakan, ketiganya yang kompak diam juga kompak bertukar tatapan. Membuat suasana di sana menjadi hening, hingga ketiganya mendengar suara Cikho dan Aidan yang kompak memanggil papah mereka.
“Nah, itu pulang!” seru Widy langsung bersemangat.
“Ya sudah, aku buat sambalnya dulu,” ujar Arum bersiap mencuci coet-nya ke wastafel di sebelah. Bahan bumbu untuk rujak sendiri sudah disiapkan, tinggal dihaluskan.
“Penuh perjuangan hanya untuk mendapatkan dua kantong buah ini!” ucap Sekretaris Lim yang sudah sampai tidak memakai kacamata.
Widy tersipu dan perlahan tersenyum penuh kegirangan. “Kacamata Papah ke mana?”
“Pecah, jatuh,” balas Sekretaris Lim.
“Papah jatuh juga?” sergah Widy langsung khawatir.
Sekretaris Lim menggeleng. “Enggak, cuman kacamatanya saja. Soalnya gelap-gelapan. Malahan yang jatuh, Koko sama Mas Kala. Mereka yang kebagian di bawah buat ambil setiap jambu sama belimbing yang aku petik sekalian arahin senter hapenya, kan. Eh, ada bunglon jatuh ke wajah mereka. Terbirit-birit mereka karena kaget, terpleset, dan ... aku yang ikut kaget juga nyaris ikut jatuh tapi alhamdullilah hanya kacamatanya saja,” ucap Sekretaris Lim.
Bukannya khawatir, Aleya dan Arum malah kompak menahan tawa.
__ADS_1
“Tragedi bunglon!” ucap Arum sembari mencuci coetnya.
Malam-malam bahkan nyaris dini hari, kediaman orang tua Kalandra masih ramai. Semuanya masih asyiik menikmati pecel dan juga rujak di tengah obrolan hangat yang menyelimuti. Apalagi momen layaknya kini jarang terjadi kecuali di acara tertentu. Bersamaan dengan itu, Kalandra yang baru ingat kabar terbaru pak Haji dan ibu Fatimah juga mendadak jadi fokus perhatian. Sebab kabar terbaru hubungan pak Haji dan ibu Fatimah menjadi pelangi dalam kebersamaan mereka. Banyak tawa dan juga prediksi yang hadir atas kabar hubungan pak Haji dan ibu Fatimah. Namun para wanita kompak, mereka yakin bahwa ibu Fatimah akan menjadi janda sekaligus pelabuhan terakhir pak Haji mengingat ibu Fatimah memiliki watak tegas sekaligus keras.