Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
117 : Memancing dan Hadiah


__ADS_3

Di antara semilir angin yang berembus kencang menorehkan rasa dingin, Arum yang duduk di kursi teras depan rumah sang mamak, terusik oleh kehadiran Kalandra. Di depan sana, suaminya yang masih memakai masker putih penuh stiker aroma terapi, berjalan cepat membawa pancing dan ember hitam terbilang besar.


Kalandra baru saja meninggalkan kawasan tanggul yang sekitarnya merupakan apur atau itu semacam sungai kecil. Di sana banyak orang yang mencari ikan. Baik yang semacam memancing, menembak, maupun menjaring. Kini Kalandra tampak bersemangat, selain pria itu yang tampak keberatan membawa ember.


“Gimana?” tanya Arum penasaran. “Kok embernya jadi gede?” Ia sengaja meninggalkan teras rumah yang sudah penuh seabrek mainan oleh ketiga anak Widy. Ketiganya yang sedang ditinggal jualan keliling, diasuh oleh ibu Rusmini. Di antara keempatnya, Aidan juga tak kalah asyik ikut bermain masak-masakan.


“Berat ih!” ucap Kalandra setengah tertawa.


“Hebat banget ih, belum ada satu jam, sudah dapat banyak sampai keberatan gitu?” ucap Arum antara heran sekaligus memuji.


Ketika Arum dapati, ember besar bekas cat yang Kalandra bawa, nyaris penuh. “Loh, kok sampai penuh? Beli ini, ya?”


Kalandra meletakan ember berisi aneka ikannya. “Dikasih!” ucapnya kali ini terengah-engah. Membawa ikan sebanyak itu dari tanggul terbilang jauh, cukup menguras tenaganya.


Arum menahan tawanya menatap kedua mata suaminya yang terus menyipit lantaran pria itu sibuk menahan senyum. “Siapa yang kasih?”


“Itu yang rumahnya di situ,” balas Kalandra sambil menunjuk rumah bilik di ujung belakangnya.


“Mas pakai masker terus, tapi si uwa Diran kenal?” balas Arum. Alasan suaminya tetap memakai masker, tentu karena Kalandra masih anti dengan aroma amis maupun wewangian tertentu. Namun hari libur kini, pria itu ngidam mancing. Dan berhubung mereka belum pamitan mau peresmian rumah makan kepada ibu Rusmini, keduanya sengaja berkunjung ke sana sekalian memancing.


“Aku sapa setiap orang di sana. Walau enggak hafal satu persatu nama mereka, aku masih hafal wajah mereka apalagi mereka sempat kondangan, kan. Ya sudah, tadi ngobrol-ngobrol, eh aku malah dikasih ikan sebanyak ini,” cerita Kalandra, heboh.

__ADS_1


Arum masih menahan tawanya. Ia merasa turut bahagia atas kebahagiaan yang suaminya rasakan.


“Tadi sama mbah-mbah yang angon bebek mau dikasih telur bebek, tapi aku enggak bisa bawanya. Mau nolak juga enggak mungkin, kan. Enggak enak takutnya mereka tersinggung. Tapi katanya nanti mau diantar soalnya aku juga bilang, aku di sininya sampai sore.” Setelah bercerita panjang lebar, Kalandra juga memuji bahwa orang-orang di sana, semua tetangga Arum benar-benar baik.


“Sikap mereka ke kita juga tergantung sikap kita ke mereka, kan Mas? Mas sekeluarga saja baik banget, pantas lah mereka baik banget juga ke Mas.” Arum mengikat tinggi rambutnya. “Terus ini mau diapain sebanyak ini?”


“Bakar lah, terus nanti makannya paksi sambel kecap. Pilih yang gede-gede saja,” sergah Kalandra bersemangat.


“Dapat banyak banget?” tanya ibu Rusmini mendekat. Selain mengasuh ketiga anak Widy, ia juga sambil menjaga warung yang turut menjual gorengan sekaligus pecel lontong.


“Si Mas Kala dikasih sama uwa Diran, Mak. Ajaib kalau suamiku mancing dapat sebanyak ini,” ucap Arum.


“Ih ngejek banget sumpah ustriku. Meragukan kemampuan suami sendiri wajib dicubit,” ucap Kalandra yang sungguh mencubit gemas pipi kiri Arum padahal tangan kanannya itu baru saja memegang ikan.


Drama cubit-mencubit ditutup oleh Aidan yang mengomel-omel tidak jelas dan itu kepada Arum, bukan Kalandra.


“Aidan memang anak Papah!” ucap Kalandra sengaja memuji Aidan yang masih duduk di teras sana bersama ketiga anak Widy. Ia sengaja memberikan finger heart menggunakan tangan kanan, kepada bocah yang wajahnya sangat mirip angga tersebut.


“Sini Mamak bantuin bersihin. Bentar, ambil pisau sama wadah,” sergah ibu Rusmini sembari beranjak pergi dari sana.


“Yang, ambilin pakaian ganti aku dulu di bagasi. Jangan langsung pegang ikan karena tanganku masih amis,” pinta Kalandra.

__ADS_1


“Tahu tangannya amis saja, Anda dengan sengaja nguwel-uwel wajah saya!” keluh Arum pura-pura ngambek.


“Ih, ngambek ih. Lucu, aku makin sayang, sumpah!” ucap Kalandra sengaja menggoda Arum. Ia mengikuti langkah cepat sang istri yang menuju bagasi mobil.


Pajero hitam milik Kalandra, diparkir di dekat pohon jeruk yang ada di halaman rumah lama ibu Rusmini yang dirobohkan. Arum tidak bisa membuka bagasinya karena kuncinya saja masih di Kalandra.


“Mas nakall banget ih. Mas yang butuh, Mas juga yang jail enggak ketulungan!” keluh Arum yang walau memang mengomel, tapi ia melakukannya dengan menahan tawanya.


Acara izin peresmian rumah makan kepada ibu Rusmini, sekaligus acara memancing Kalandra, malah menjadi kesempatan kedua sejoli itu makin memupuk keromantisan. Dari Kalandra yang memandori Arum membersihkan ikan dibantu ibu Rusmini, juga ketika adegan membakarnya di depan rumah. Tak lama setelah itu, Widy pulang, mereka berakhir makan bersama. Tak tanggung-tanggung, mereka makan di hamparan daun pisang, di teras rumah sederhana milik ibu Rusmini. Mereka tidak hanya makan bersama dengan pihak keluarga. Karena tetangga yang datang atau kebetulan lewat, sengaja mereka ajak untuk bergabung.


“Pokoknya besok datang saja, lihat-lihat. Banyak promo menarik dan makanan yang dijual pun masih ramah kantong,” jelas Arum tengah promosi rumah makannya. Di sebelahnya, Kalandra yang juga sampai menyuapinya karena Aidan mendadak rewel, tak hentinya menahan tawa.


“Harga dibandrol mulai dari berapa, Mbak?” tanya Widy yang duduk di hadapan Arum. Ia sibuk menyuapi anak-anaknya.


Melihat Widy yang harus pontang-panting menghidupi tiga anak sekaligus, jujur tak hanya Arum yang kasihan karena Kalandra juga merasakannya. Namun daripada Widy juga harus menghidupi Agus sekeluarga, tentu beban hidup Widy yang sekarang jauh lebih ringan. Dan baik Arum maupun Kalandra juga yakin, Widy akan memetik banyak hikmah dari setiap cobaannya.


Malahan daripada Widy yang dulu, yang begitu dibutakan cinta Agus, Widy yang sekarang jauh lebih baik. Tetangga yang kebetulan ikut makan karena tak kuasa menolak apalagi mereka baru saja mengirimi Arum dan Kalandra hadiah semacam beras, gula merah, telur bebek, dan juga ayam, sampai mengatakannya. Mereka yang jumlahnya ada empat orang sih berganti memuji Widy. Yang mana mereka juga berharap, Widy bisa mempertahankannya atau kalau bisa menjadi lebih baik lagi.


Karena banyak tetangga yang main untuk bertemu dengan keluarga kecil Arum, jadwal pulang kunjungan Kalandra, sampai mundur. Kalandra dan Arum beserta Aidan pulang selepas maghrib. Ketiganya mendapat banyak hadiah dari warga. Sambutan yang tentu saja terjadi karena sejauh ini, setelah Arum juga sudah sangat baik kepada mereka, Kalandra sekeluarga juga tak kalah baik. Kebersamaan yang sungguh terasa damai dan Kalandra sampai mengutarakannya kepada Arum.


“Mas, aku tidur dulu, ya. Ngantuk banget dan, ... capek juga,” ucap Arum sambil menatap berat sekaligus ngantuk sang suami.

__ADS_1


Sambil terus mengemudi di tengah suasana yang makin gelap, Kalandra yang tak lagi memakai masker, berangsur mengulas senyum. Tangan kirinya merengkuh punggung kepala Arum, mengelusnya penuh sayang di sana. Kalandra dapati, di pangkuan Arum, Aidan juga sudah sangat lelap. Kalandra yakin, keduanya kelelahan layaknya dirinya. Namun tentu saja, kebersamaan hari ini benar-benar membuat mereka bahagia.


__ADS_2