
Hari-hari Arum kembali normal lagi. Menyiapkan sarapan dan bekal sambil merebus air untuk Kalandra mandi, membangunkan Kalandra, mengurusnya sampai berangkat kerja. Kemudian bersama sang mamah mertua yang sangat pengertian, kesibukan Arum pindah ke rumah makan.
Alhamdullilah, makin hari Arum makin sibuk bersyukur lantaran segala urusannya beserta Kalandra sekeluarga terus direncanakan. Dari Kalandra yang mendapat beberapa job sebagai pengacara, juga pak Sana yang kembali dipercaya untuk maju ke pemilu. Mereka makin sibuk dengan ladang rezeki baru yang mereka dapatkan, tapi di malamnya, mereka tetap menyempatkan waktu untuk jalan bersama. Baik itu mereka lakukan di rumah makan Arum, atau malah semacam pergi ke pasar malam.
Siang yang cukup mendung, Arum sengaja keluar dari rumah makan sambil menitah Aidan yang mulai belajar jalan. Ada penjual gorengan semacam sempol yang sedang dikerumuni anak-anak dan ibu-ibu di pertigaan tak jauh dari rumah makan. Arum sengaja mengajak Aidan ke sana.
Sesekali, Arum meyakinkan sang putra yang menengadah menatapnya setelah sebelumnya bocah yang sangat mirip Angga itu terkejut. Sepatu baru yang Aidan dapatkan dari ibu Kalsum dan sampai memiliki bunyi cit cit cit di setiap Aidan melangkah, membuat bocah itu kaget sekaligus bingung. Aidan melihat telapak sepatunya, tapi tentu saja ia tak menemukan apa-apa dari sana. Arum yang menyaksikan itu jadi gemas sendiri. Namun karena ponselnya berdering dan itu dering telepon video masuk di aplikasi WA, ia segera memastikannya. Itu pak Sana yang ingin mengobrol dengan Aidan, selain pria itu yang memang sedang bersama Kalandra.
Di pertigaan sana, penjual gorengan yang sedang diserbu dan juga akan Arum tuju, merupakan Angga. Angga yang memang sengaja mangkal di sana langsung merasa sangat terharu hanya karena bisa melihat Aidan dan Arum. Walau hanya bisa melakukannya dari kejauhan, itu sudah sangat menjadi obat sekaligus vitamin untuknya lebih bersemangat menjalani kehidupan.
“Kalian sehat-sehat terus, ya. Bahagia terus juga. Alhamdullilah banget dan beneran buat pembelajaran banget. Alhamdullilah masih bisa melihat kalian dari kejauhan seperti ini. Alhamdullillah, bisa seperti ini saja papah sudah bahagia banget,” batin Angga yang sengaja menggunakan handuk kecil di tengkuknya untuk menyeka sekitar matanya yang basah.
Dagangan Angga sudah nyaris habis, dan pria itu sungguh tidak menyangka Arum dan Aidan sampai menghampirinya.
“Tinggal apa saja, Om?” tanya Arum sambil melongok wajan di sana dan sekitarnya dihiasi telur gulung, sempol, dan juga baso goreng yang digulung telur.
Perut Arum sudah terlihat besar. Yang Angga tahu, lusa wanita itu akan mengadakan acara empat bulan untuk kehamilannya.
Deg-degan, Angga menahan napas, sebelum malah menghela napas pelan kemudian berkata, “Rum, ini aku. Sekarang aku jualan begini dan aku sudah punya dua orang pekerja.” Angga menatap Arum penuh keseriusan. Di hadapannya, wanita cantik yang kali ini mengikat tinggi rambutnya langsung diam, bengong menatapnya tak percaya.
“Maaf yah, kalau pekerjaanku bikin kamu sama Aidan malu. Tapi aku baru bisa usaha seperti ini, Rum. Semenjak dipenjara, aku susah cari kerjaan bener. Jadi aku memutuskan untuk merintis usaha dari nol.”
__ADS_1
Mendengar cerita dari Angga, Arum sudah langsung menangis.
“Ngapurane(maaf), Rum. Maaf karena dosaku ke kalian sudah sangat banyak!” ucap Angga yang juga menjadi tersedu-sedu. “Andai aku tahu bakalan jadi sehancur ini, ... aku beneran akan mengikuti arahanmu.” Ia menunduk sedih, tapi sesekali masih menatap Arum.
Arum mengangguk-angguk kemudian menghela napas dalam. “Alhamdullilah, Mas. Alhamdullillah banget karena akhirnya kamu bisa sampai di titik ini. Semoga usaha Mas juga dilancarkan!”
“Alhamdullilah, Rum. Amin!” ucap Angga langsung bersemangat. “Sekarang aku sudah enggak kerja di tempat lain, termasuk kerja bikin bata, aku sudah stop. Sekarang bikin gini karena hasilnya lebih ada. Mamak pun ikut bantu dan enggak kerja ke orang lagi. Cantik sudah diadopsi oleh keluarga yang tepat setelah sebelumnya menjalani penanganan khusus.”
Arum mengangguk-angguk. “Melihat Mas begini, aku merasa jauh lebih tenang. Aku senang akhirnya Mas ada kemajuan.”
“Iya, Rum. Alhamdullilah.” Angga mengangguk-angguk nelangsa.
“Terus, ... apa kabar Anggun dan kupret Supri?” tanya Arum tetap merasa sebal kepada Supri, walau kemudian ia juga berkata, “Amit-amit.” Sambil mengelus-elus perutnya.
“Terus anak-anak mereka bagaimana?” lanjut Arum.
“Di tempat penampungan semacam yayasan sosial buat anak, Rum karena mereka juga sudah telanjur terbiasa menjalani hidup jadi pengemiss jadi arahannya beneran harus serius,” cerita Angga lagi.
“Innalilahi wainnalilahi rojiun.” Arum mengelus-elus perutnya sambil menggeleng tak habis pikir.
Rasa canggung mendadak menghinggapi hati Angga hingga ia mendadak diam.
__ADS_1
“Ya sudah, Mas. Aku beli dua puluh ribu.”
Mendengar itu, Angga langsung terusik dan buru-buru menatap Arum. “Enggak usah beli, Rum. Enggak usah.”
“Enggak, Mas. Itu dagangan, Mas enggak boleh gitu.”
Angga menghela napas dalam. “Kamu saja baik banget, Rum. Kamu masih sering kasih-kasih ke mamahku.”
“Pokoknya ... kalau Mas mau kasih, boleh tapi jangan banyak-banyak karena itu dagangan Mas. Kalau Mas tetap maksa, nanti aku ambilin taflon buat gebukiin Mas. Asal Mas tahu, sekarang aku punya banyak taflon. Suamiku beliin aku banyak taflon karena mas Kala tahu, taflon senjata pamungkasku termasuk senjata buat membasmi kejahatan sekaligus kegoblookan untuk orang sekelas keluarga Mas yang dulu!” Arum berbicara panjang lebar.
Angga mengangguk-angguk sanggup. Mengenai taflon, tentu ia belum lupa. Bahkan rasa panas sekaligus sakitnya sampai membuat ia trauma hanya karena ia pernah merasakan jurus taflon Arum. Malahan sepertinya, Angga menjadi orang pertama yang merasakannya.
Setelah menyalakan kompornya, Angga yang juga siap menggoreng setiap tusukan dibaluri telur kocok, berkata, “Omong-omong, ini suami kamu enggak cemburu kalau dia tahu kita ngobrol begini? Termasuk mertua kamu. Enggak apa-apa kita ngobrol gini, kan?”
Arum yang kemudian mengemban Aidan di depan perutnya, mendengkus. “Ayolah Mas. Suamiku dan mertuaku yang sekarang, bedaaaaaaaaaaa banget sama yang dulu. Mereka sayang banget ke aku maupun Aidan. Enggak percaya, bentar.” Arum sengaja menelepon sang mamah mertua.
“Mah, Mah, sini. Ke pertigaan depan rumah makan. Di sini ada Angga yang lagi jualan sempol sama telur yang digulung-gulung, Mah! Sini, Mah, seru. Iya, Aidan sudah sama aku!” ucap Arum antusias dan memang sudah tak kalah cerewet bin berisik dari sang mamah mertua.
Belum apa-apa, Angga sudah langsung bengong. Lebih bengong lagi ketika pria itu menyaksikan sendiri kedekatan Arum dengan sang mamah mertua. Termasuk kedekatan Aidan dengan ibu Kalsum yang memanggilkan dirinya kepada Aidan Mbah Uti. Aidan pun walau belum jelas sudah memanggilnya “Mbah Uti.”
“Punya saya gorengnya yang agak garing yah, Om Angga!” ucap ibu Kalsum setelah memasukkan bakal gorengannya sendiri ke wajan penggorengan.
__ADS_1
“Yakin yah, Rum. Kalian bahagia banget. Aku ikut seneng. Kamu memang keren banget!” batin Angga menjadi keki karena kedekatan Arum dan Aidan dengan ibu Kalsum. Sebelumnya ia belum pernah melihat Arum seheboh sekarang. Baik itu dalam mengobrol, maupun tertawa layaknya ketika bersama ibu Kalsum. Keduanya lebih mirip teman gibah.