
Kalandra segera menepikan laju mobilnya di depan gerbang rumahnya. Ia turun dari sana karena selain ada Arum, wanita itu juga tampak ketakutan pada pria tua yang mengendarai motor matic di sebelahnya.
Braaaakk ....
Mendengar Kalandra menutup pintu mobil, Arum yang sengaja tidak berlari agar tidak memberikan perubahan berlebihan, hanya mempercepat langkahnya. “M-mas?”
“Ini ada apa?” Kalandra menatap bingung, tapi juga khawatir kepada Arum. Apalagi sejauh ini, Arum bukan tipikal yang hobi membuat masalah. Justru, mereka yang hobi memanfaatkan Arum kemudian memutar balikkan fakta. Sudah tak terhitung kasusnya, hingga untuk yang kali ini, Kalandra berpikir penyebabnya masih sama.
Arum bingung untuk sekadar menyampaikannya kepada Kalandra. Ia sempat gagap, tapi kemudian ia meminta tolong.
“Kamu diapain sama dia?” Kalandra sampai tidak memanggil Arum dengan sebutan Mbak lagi.
“Dia ngikutin aku terus, Mas. Sudah tiga hari. Dari di kantin, sampai malam lagi. Yang punya kontrakan sampai negur aku, padahal aku juga sampai sudah capek bilang ke bapak-bapak itu.” Tak beda dengan Kalandra, Arum juga berbisik-bisik.
“Dia naksir kamu, ya?” tebak Kalandra dan Arum langsung tidak bisa berkata-kata.
Mendengkus pelan, Kalandra meraih sebelah tangan Arum. Kemudian ia mengambil alih Aidan, mengembannya dengan sangat hati-hati. Tak lama setelah itu, ia merogoh saku sisi sebelah kanan celana bahannya dan mengeluarkan satu set kunci dari sana. Ada lima kunci sekaligus dan ia menyerahkannya kepada Arum.
“Itu di kunci ada tulisannya. Sekarang langsung masuk rumah saja.” Kalandra langsung berbisik-bisik. Setelah Arum yang ia arahkan juga langsung bergegas, ia juga segera menghampiri si bapak-bapak yang juga sampai turun dari motornya. Jarak mereka hanya sekitar satu meter saking dekatnya.
Di sebelah gerbang, Arum sudah nyaris jantungan karena jantungnya terus tidak bisa bekerja dengan normal. Jantungnya sudah terlalu bekerja dengan keras hingga ia beberapa kali gagal membuka gembok gerbang, padahal harusnya mudah.
Setelah refleks melepas kepergian Arum yang terbilang panik sekaligus ketakutan hingga membuka gembok gerbang saja selalu gagal, Kalandra segera fokus kepada Pak Haji. “Selamat malam, Pak? Ada yang bisa saya bantu?” Ia berusaha bersikap sesopan mungkin.
__ADS_1
“Itu, ... Dek Arum,” ujar pak Haji, tak terima melihat Arum malah diminta masuk ke rumah mewah di sebelahnya.
Walayuh, manggilnya saja sudah sampai Dek ... Dek, pantes mamaknya Aidan ketakutan begitu, batin Kalandra yang kemudian berkata, “Memangnya ada apa dengan Arum? Dia calon istri saya dan kami memang akan menikah. Namun setelah saya lihat, tampaknya Bapak sudah membuatnya sangat ketakutan.”
Pak Haji menatap tak percaya pria tampan berparas santun penuh ketenangan di hadapannya.
“Masa iya, Bapak ini enggak percaya sama yang lebih muda? Gini-gini, saya pengacara dan saya juga pegang bagian di PT CHY, mana mungkin saya main-main. Kalaupun Bapak berpikir kenapa saya tidak langsung menikahi Arum, saya yakin Bapak juga tahu kalau dia belum selesai masa iddah.” Karena Pak Haji masih kebingungan dan terlihat jelas tidak bisa menerima kenyataan, Kalandra berkata, “Sebelum mengejar Arum, Bapak pasti sudah tahu kondisinya, kan?”
“Ya sudah yah, Pak. Ini sudah malam. Angin malam enggak baik buat bayi, selain kami yang juga ingin istirahat. Selamat malam.” Kalandra segera mendorong gerbang rumahnya. Ia tak lantas masuk rumah karena ia lebih memilih mobil, menyetir dengan sangat hati-hati menggunakan tangan kanan karena tangan kirinya mendekap Aidan yang ia pangku.
Karena ketika Kalandra kembali setelah memarkir mobilnya, pak Haji masih di sana, ia sengaja tersenyum ramah kemudian mendorong gerbang yang juga buru-buru ia kunci tanpa menawari pria tua di depannya masuk.
“Mas, lah kok mata kamu semelek ini? Apa jangan-jangan, kamu sudah mulai suka ronda, ya? Tiga hari enggak ketemu, kok kulit kamu jadi gelap, Mas? Ini kamu ditaruh di sebelah matahari atau malah diluluri kopi saking rajinnya manakmu itu?” Kalandra menahan tawanya dan sengaja meledek bayi yang kedua matanya sudah bisa diajak berinteraksi.
“Sudah kamu langsung istirahat saja. Sekuat-kuatnya kamu, sebenarnya enggak dianjurkan langsung sibuk apalagi sampai kerja berjam-jam tanpa jeda,” ujar Kalandra.
“Tadi Mas bilang apa ke dia?” lirih Arum sambil menutup gorden jendela dan awalnya agak ia tarik. Ia sama sekali tidak mendengar obrolan Kalandra dengan si pak Haji. Karena selain jarak dari sana dengan di depan gerbang sangat lumayan, Kalandra juga tipikal yang selalu berucap lirih sekaligus lembut. Akan bermasalah jika mereka yang memiliki masalah dalam pendengaran, sampai berkomunikasi dengan Kalandra. Karena di beberapa kesempatan saja, jika tidak sedang fokus, Arum akan meminta Kalandra mengulangi ucapannya.
“Intinya kalau dia masih ngeyel ngejar-ngejar kamu, berarti memang kebangetan,” ujar Kalandra yang kemudian menciummi tengkuk Aidan.
“Dia tetangganya bu Nur, Mas. Rumahnya itu yang gede dan sebelahnya ada sorum motornya. Tapi istrinya sudah tiga! Ngeri kan!” Arum bercerita serius.
“Berarti kalau mamah kamu mau sama kakek-kakek tadi, mamah kamu bakalan jadi istri ketiga, Mas!” ucap Kalandra yang malah sibuk menahan tawa.
__ADS_1
Mendengar itu, Arum langsung cemberut. “Kok malah ngeledek!”
Dan Kalandra tetap tertawa sambil memasuki ruangan dalam rumahnya. “Tutup dan kunci pintunya kalau Mbak enggak mau dijadikan istri ketiga,” ucapnya yang sampai menoleh, menatap Arum. Seperti yang ia duga, wanita itu tampak menahan kesal tapi masih cenderung ketakutan.
Arum menutup pintu, menguncinya dan kembali melongok dari sebelah jendela yang gordennya sedikit ia buka. Di luar sana, pak Haji masih mengawasi, dan masih belum mau mengendarai motornya apalagi pergi.
“Sudah biarin saja. Mbak istirahat di kamar tamu, enggak usah balik ke kontrakan karena andai iya, ya beneran alamatnya jadi istri ketiga.”
“Mamah Mas, di sini juga, kan?”
“Enggak, sih. Mamah lagi sibuk bantu bapak urus panen ayam di peternakan.”
“Lha, kalau saya di sini, ya sama saja bohong. Nanti kalau saya dikira macam-macam bagaimana?” Arum merasa serba salah.
Kalandra mendengkus pelan. “Masa iya mereka mau menfitnah kita, sedangkan kamu saja masih masa iddah?”
“Jangankan masa iddah, belum resmi cerai saja dan posisiku baru melahirkan, aku difitnah!” sergah Arum.
“Ya sudah, apa pun yang terjadi, aku tanggung jawab. Lagian di luar kayaknya mau hujan. Biar tuh kakek-kakek kehujanan. Oh, iya ... aku pinjam Aidan, ya. Aku balikinnya kalau dia nangis. Lagian kan besok aku libur. Dia minum sufor enggak, sih, biar pas nangis, aku enggak harus cari kamu?” Kalandra sangat bersemangat. Hanya melihat Aidan saja, rasa lelahnya sudah langsung hilang. Ia bahkan merasa tidak memiliki beban.
“Aidan enggak minum sufor, Mas. Karena alhamdullilah ASI aku lancar. Paling ASIP, ada di flizer kantin kalau pas Aidan lagi dijagain sama yang lain,” jelas Arum.
“Nah, itu saja. Ya sudah yuk, Mas. Kita juga istirahat. Om mandi dulu,” sergah Kalandra.
__ADS_1
Untuk pertama kalinya, Arum mendengar panggilan Kalandra untuk Aidan. Terdengar lucu, bahkan Arum refleks menahan tawa ketika mendengarnya. Namun jika melihat keantusiasan Kalandra yang tampak sangat tulus menyayangi Aidan, Arum merasa haru campur aduk. Karena andai istri Kalandra tidak meninggal, pasti pria itu akan melakulannya dengan sang putra, bukan dengan Aidan.