
“Aduh, RUM!” refleks Fajar. “Kamu, yah! Kasarrnya enggak pernah hilang!”
Sepandai-pandainya katak melompat, pasti tetap bisa Arum tangkap. Terlebih wanita itu telanjur bosan hidup susah lebih-lebih dihina dan dikadali. Pastinya Arum akan melakukan segala cara untuk keluar dari zona sangat tidak nyaman itu.
Kendati demikian, yang buru-buru Fajar lakukan sembari memegangi bekas ciumman mautt dari sandal di kepalanya juga masih sandiwara. Solah dirinya korban keanarkisan. Pria berpakaian rapi itu kembali mengontrol ucapannya menjadi sangat santun.
“Oalah, kamu masih ingat aku?” Arum juga refleks, mulutnya sungguh berucap spontan demikian menanggapi tanggapan Fajar yang kali ini menatapnya dengan tatapan tak berdosa. “Gemas sekali menghadapi orang ini. Hawanya pengin cubitt ginjal dia pakai tang panas!” batinnya benar-benar tidak tahan. Tentunya, hati kecilnya masih sibuk bilang, “Amit-amit ... amit-amit!”
Bisa Arum pastikan, ulahnya sekarang sudah langsung menjadi tontonan sekaligus pusat perhatian. Malahan Arum berharap, ada yang merekam dari awal sampai akhir agar kasus Fajar viral. “Jadi ini, tampang suami orang yang ngakunya PERJAKA demi menggesek uang para JANDA?!”
“WAAAHH ... kalau sudah begini, positif nih, si Arum sudah tahu kalau aku ngadalin adiknya!” batin Fajar ketar-ketir dan langsung buru-buru mengubah siasat perang apalagi baru saja, sandal di tangan kanan Arum sampai wanita itu ban-ting ke wajahnya. Ia nyaris jantungan karenanya terlebih sandal Arum itu lumayan berat.
Tak mau penonton ketinggalan info atau salah tangkap, Arum menceritakan panjang lebar mengenai duduk pengacara layaknya seorang jaksa dalam persidangan kasus akbar. Ia menjadikan ponsel sang adik berikut transaksi mbanking sebagai bukti.
“Orang tuh apalagi laki-laki, kalau butuh duit ya kerja. Jangan tipu-tipu, apalagi tipu-tipu janda yang sekadar kasih makan anak-anaknya harus kerja pontang-panting. Adikku itu janda, anaknya tiga masih kecil-kecil loh, Mas. Belum kemarin yang di swalayan belanjain banyak banget buat kamu dan kamu juga yang bayar! Masa iya, kamu sebagai laki-laki terpelajar dan kerjanya di bank yang sering melayani masyarakat, malah jadi sumber penyakit?”
“Mbak Arum, kalau cara kamu begini, bahkan meski suamimu pengacara dan bapak mertuamu DPR, saya tidak takut karena tindakan Mbak sudah masuk kriminall!” tegas Fajar.
__ADS_1
Meradang, itulah yang langsung Arum rasakan. “Kriminall gundulmu! Dikiranya aku takut sama kamu? Mau suamiku pengacara atau malah anak presiden sekalipun, kalau kamu memang salah, pasti bakalan aku kejar! Alasanku bawa bapak mertuaku karena aku tahu, hanya dengan cara meminta bantuannya, kasusku bakalan jauh lebih diurus!” semprotnya yang kemudian berkata sambil menyodorkan tangan kanannya, “Balikin duit adikku! Mau coba-coba kok jadi GIGELO bahkan jadiin adikku korban, ... SALAH ALAMAT KAMU! PENGIN NGINEP ke hotel prodeo?!”
“Nah kan, makin enggak jelas. Jangan-jangan benar lagi kata tetanggamu kalau kamu memang ada depresi bahkan gangguan jiwa!” balas Fajar yang tanpa disadari mulai mengeluarkan ‘taringnya’. Karena berbicara saja, ia tak lagi sopan bin santun layaknya sebelumnya setelah Arum telanjur mengulitiinya.
“Mbak Arum, ini,” ucap sang sopir yang mendatangi Arum sambil memberikan taflonnya.
Tak hanya Fajar yang langsung panik. Karena pak Mukmin dan juga karyawan di sana yang masih ingat tragedi Angga, juga langsung bergidik. Lebih-lebih pak sana Sana yang walau belum tahu secara langsung, sudah langsung ngeri karena pria itu tahu, sang menantu tidak pernah takut pada apa pun.
Makin geram sekaligus bersemangat, Arum langsung menerima taflonnya dan tak lupa mengucapkan terima kasih.
“Balikin duit adikku, minta maaf!” balas Arum.
“Balikin buat apa? Di situ kan konteksnya jelas, aku pinjam, dan ... eh, Rum! Turunin taflon kamu!”
Pak Sana sangat panik karena takut Arum yang terus mengejar Fajar malah kenapa-napa. Arum sama sekali tidak mau melepaskan Fajar. Terus keliling menyusul. Fajar ke mana, pasti diikuti. Termasuk lompat atau naik meja, juga masih ikut-ikutan. Membuat suasana di sana langsung heboh. Apalagi baru saja, sandal Arum yang masih sisa satu di kaki, wanita itu lempar mengenai kepala Fajar.
“MAS FAJAR, KAMU BERHENTI KENAPA? KAMU ITU SALAH!” Pak Sana juga tak kalah geram apalagi Fajar sama sekali tidak menunjukan sedikit pun penyesalan. Pria itu seolah tidak akan pernah mengakui perbuatannya. Jadi jangan salahkan Arum yang anti penindasan jika sampai ada adegan taflon terbang.
__ADS_1
Fajar memang sudah sempat kembali menghindar, tapi ketika ia akan lari, di depannya malah ada Widy yang masih memakai seragam mengajar sebagai guru. Tak tanggung-tanggung, wanita itu membawa palu yang tampak masih baru. Namun ketika ia refleks menoleh ke belakang, taflon Arum masih terbang dan malah memberi wajahnya ciumaan maaut. Dua gigi atasnya sampai terlempar karenanya. Dan kenyataan itu juga yang membuat Fajar sedih luar biasa, selain rasa sakit akibat ciumman mauut itu yang sangat menyakitkan. Tentunya, rasa malu menahan efek penghakiman di sana juga berkali lipat lebih menyakitkan dari luka-lukanya.
Namun ada yang tidak beres. Karena kini, Fajar dalam keadaan tengkurap setelah sebelumnya tersungkur. Ternyata alasan Fajar kehilangan kedua gigi bagian depan atasnya bukan karena agenda taflon terbang yang sangat pria itu takutkan setelah pak Sana sampai berteriak. Melainkan karena Fajar terpeleset saat berusaha lari karena kakinya menyandung kaki seorang nasabah yang antre di area tempat tunggu.
Saking takutnya jika Arum sudah memegang taflon, Fajar sampai berhalusinasi. Karena adegan Angga yang diamukk menggunakan taflon itu oleh Arum dan benar-benar mengerikan, masih sangat Fajar hafal. Saking mengerikannya, baru lihat taflon saja walau bukan taflon Arum, Fajar seolah memiliki pobia tersendiri kepada alat masak itu.
“Nah, kan. Syukur-syukur! Gitu saja masih enggak mikir! Ini taflonku beneran belum terbang! Eman-eman juga kalau harus kena kamu, takut kena virus semacam rabiees!” ucap Arum yang masih berdiri di meja kerja Fajar. Namun sang mertua buru-buru menuntunnya turun dengan sangat hati-hati.
“Balikin duit aku! Dasar wong lanang pekokk, enggak punya hargaa diri!” kesal Widy yang memang sampai membawa palu.
Walau Widy sampai jongkok di hadapan Fajar, wanita itu sama sekali tidak berniat menolong. Bahkan meski Fajar yang tampak begitu gelisah, terlihat sangat memprihatinkan. Yang mana, Widy langsung bergidik takut ketika Fajar membuka mulut, mengajaknya bicara dengan suara yang terdengar sangat tidak jelas. Pria itu menjadi pongah alias ompong tengah. Enggak ada ganteng apalagi kerennya layaknya di foto yang selama satu bulan ini, rutin Fajar kirimkan kepadanya layaknya model bahkan artis andal.
“Ya ampun, Mas Fajar. Tampangmu yang sekarang beneran mengerikan. Mungkin ini azab buat pria pengobral tampang sama janji sekelas kamu kali ya. Enggak lagi-lagi deh, percaya sama tuti gigelo macam kamu!” ucap Widy sambil berdiri. “Tetap ya, kamu wajib balikin uang aku dalam waktu dekat. Pokoknya paling lambat seminggu, kalau sampai molor waktunya, aku doian tubuh kamu penuh panu sama kutil!”
Sumpah serapah sang adik barusan sukses membuat Arum menahan tawa apalagi semua nasabah dan karyawan di sana tanpa terkecuali pak Mukmin, juga sampai menahan tawa. Semuanya sampai lemas karenanya termasuk sopir pak Sana. Hanya pak Sana yang masih waras dan kerap mengingatkan Arum untuk rutin “Amit-amit”.
“Ya Allooooh gigiku patah dua! Ini beneran salahku, ya? Ini kalau gini, aku enggak bisa tuntut Arum apalagi minta ganti rugi, ya?” batin Fajar. Dalam hatinya bahkan di kenyataan, Fajar merintih dan menangis.
__ADS_1