Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
201 : Lamar Ibunya, Dapat Anaknya


__ADS_3

Melihat mobil Arum dan juga mobil pak Sana memasuki area parkir, pak Haji sang Musafir Cinta yang masih memakai kacamata khusus, langsung was-was. Sempat membuka kacamatanya untuk mengawasi lebih saksama, nyatanya ulahnya itu malah membuat penglihatannya tidak jelas hingga ia buru-buru kembali memakai kacamatanya. Tentunya, ia yang awalnya sudah duduk santai di meja dekat pintu masuk, buru-buru mendekati mobil Arum.


Tampak Kalandra yang baru saja keluar dan memang mengemudikan mobil. Kemudian, pria itu membuka setiap pintu, dan terakhir pintu sebelah kemudi. Arum yang ada di sana, dan Kalandra berangsur membopongnya dengan dalih, demi keamanan jahitan selain Kalandra yang takut sang istri turun bero.


Pak Haji yang mendapati Widy akan turun juga, menjadi terinspirasi dan hendak melakukan apa yang Kalandra lakukan kepada Arum. “Janda tercinta, ke marilah!” Ia merentangkan kedua tangannya dengan gaya yang begitu gagah. Kalandra langsung ngakak sambil tetap membopong Arum.


Widy yang merasa ngeri, memilih keluar dari pintu sebelah, tak jadi yang ditunggu pak Haji.


“Loh, Sayang ... kok malah ditinggal?” ucap pak Haji kebingungan.


“Kalau Mbah mau bantu, tuh yang di sana. Soalnya yang ikut saya, sudah enggak ada yang janda. Paling tinggal mamah mertua saya,” ucap Kalandra.


“Pak Pengacara, yang begitu, sekelas mertua Pak Pengacara beneran sudah enggak enak. Maunya sama Widy saja,” yakin pak Haji merengek lirih. “Lihat, memangnya pengorbanan saya kurang apa? Cinta saya ke Widy sudah bikin mata saya katarak, nyaris picek(buta) ini!”


Widy sudah berhasil turun bersama anak-anaknya maupun si kembar yang memang awalnya masih di troli. Keduanya berada di troli berbeda.


“Bentar lagi, Widy mau lamaran!” cerita Arum yang diturunkan hati-hati oleh Kalandra.


“Loh, Dek Widy sudah siap? Saya belum beli cincin, gimana dong?” sergah pak Haji.


“Bukan sama Mbah, tapi ...,” ucap Arum.


“Kalau bukan saya, siapa lagi? Si Andri kan lagi urus nenek sihir yang sekarang stroke di Banyumas!” sergah pak Haji memotong cerita Arum.


Kalandra yang masih tertawa kemudian mengambil salah satu troli bayinya, berkata, “Rungkad maning(lagi) pokoknya, Mbah!”


Mendengar itu, pak Haji yang langsung bingung seiring firasatnya yang jadi tidak enak, menatap saksama suasana rombongan Kalandra. Kali ini, rombongan Kalandra kompak memakai nuansa batik dan semuanya necis sekaligus wangi. Di matanya saja, Widy makin cantik mirip mempelai pengantin.


“Mbah, nanti bantu pimpin doa, ya?” seru pak Sana yang mendekat dan memang langsung menggandeng Aidan yang tidak ikut rombongan di mobilnya.

__ADS_1


“Doa apa, sih?” balas pak Haji kebingungan dan memang sengaja menolak kenyataan. Sebab di titik sekarang, ia sudah mulai menduga-duga bahwa Widy memang mau lamaran.


Semuanya berangsur berkumpul di depan mobil, dan pak Haji yang sudah nelangsa karena sinyal janda Widy meredup dari kehidupannya, berangsur ikut dan menjadi bagian dari rombongan.


Belum sempat masuk, dua mobil mewah mendekat. Mobil Tuan Maheza dan Sekretaris Lim. Mobil yang juga menjadi salah satu penyebab mata pak Haji mengalami gejala katarak.


“Nadjiss, nadjiss! Jangan-jangan ini, calonnya?!” kesal pak Haji, tapi hanya ditertawakan oleh Kalandra.


Tegang, deg-degan, bahkan sampai panas dingin, itulah yang Widy rasakan. Apalagi ketika rombongan Tuan Maheza maupun Sekretaris Lim, satu persatu keluar dari mobil. Tak beda dengan mereka, rombongan Tuan Maheza dan Sekretaris Lim juga memakai nuansa batik.


Pak Haji yang sadar siapa calon Widy, segera mendekap sebelah lengan Widy. Padahal, Sekretaris Lim baru jongkok, membentangkan kedua tangannya dan membiarkan Salwa masuk ke dalam dekapannya.


“Dia sama Wawa saja, kamu sama saya! Biar adil! Dia dapat anaknya, saya dapat mamahnya!” yakin pak Haji yang sampai dijewer oleh Kalandra sesaat setah Kalandra memberikan troli berisi Azzura kepada sang istri.


“Pak Pengacara, enggak sopan sekali Anda. Masa sama orang tua berani jewer-jewer!” rengek pak Haji belum mau melepaskan pak Haji.


“Ya sudahlah, saya rela telinga saya lepas, asal tetap bisa sama Dek Widy,” balas pak Haji pasrah.


“Fans garis keras yah, pokoknya?” ucap Sekretaris Lim berkomentar sembari tersenyum geli menatap pak Haji.


“Bukan lagi fans garis keras. Hati saya saja bentuknya jadi W saking sayangnya saya ke Dek Widy!” yakin pak Haji.


“Hati Mbah jadi W karena meleot, siap-siap di rebonding pokoknya!” balas Kalandra. Ia mundur lantaran Sekretaris Lim sudah mendekat, mengambil alih mengamankan Widy.


Sekretaris Lim meraih sebelah tangan Widy yang bebas, di tengah kesibukannya menatap sendu kedua mata pak Haji yang perlahan sibuk menghindari tatapannya.


“Lihat Dek, kami sama-sama berkacamata!” yakin pak Haji.


Semuanya kompak tertawa, dan ibu Kalsum berseru menyadarkan pak Haji walau pak Haji dan Sekretaris Lim sama-sama berkacamata, dari segi fisik dan usia saja sudah sangat berbeda.

__ADS_1


“Lah, ini terus gimana, dong?” keluh pak Haji sudah nyaris menangis.


“Sama mamah mertua saya saja, biar ada yang digandeng!” yakin Kalandra yang sudah bersiap mengemban Azzam, mengeluarkannya dari troli layaknya apa yang Arum lakukan kepada Azzura.


Pak Haji menatap ibu Rusmini, kemudian berganti kepada Widy. “Lamar mamak, dapat anaknya, ya!” tawarnya, dan lagi-lagi hanya ditertawakan oleh semuanya.


Dengan jail, ibu Kalsum menggandeng sang besan, menukarnya dengan Widy. “Begini baru pas! Sudah, Lim. Bawa masuk sana. Kita buka puasa di lantai atas!” yakinnya.


Widy tersenyum ceria di tengah kesibukannya menunduk, juga semuanya termasuk Sekretaris Lim yang menertawakan pak Haji. Sembari menuntun kedua anak laki-lakinya karena Salwa sudah diemban Sekretaris Lim, ia dan pria yang akan melamarnya itu masuk lebih dulu.


“Ini beneran gini?” ujar pak Haji tidak yakin. Ia menatap ragu wajah-wajah di sana, di tengah kesibukannya menggandeng ibu Rusmini seperti yang ibu Kalsum tuntunkan.


“Iya, cepat masuk. Yang penting jadi bagian dari rombongan, kan?” ucap ibu Kalsum sembari membawa kedua troli bayi milik Azzam dan Azzura. Sementara sang suami ia dapati menyusul masuk sembari menggandeng orang tua Resty.


Tuan Maheza dan ibu Aleya juga menyusul. Tuan Maheza mengemban Cinta sambil menuntun Cikho, sementara ibu Aleya yang sesekali mengelus perutnya yang agak buncit dan memang tengah hamil, melangkah di sebelahnya.


Benar-benar tinggal pak Haji dan itu pun nyaris dilepas oleh ibu Rusmini.


“Sabar, Bu. Ini saya, kalau lamar ibu, dapat Widy, kan?” ucap pak Haji bersemangat menuntun ibu Rusmini. Ia menggandengnya masuk menyusul rombongan.


“Ya enggak bisa. Widy kan mau sama si Lim!” yakin ibi Rusmini.


“Sama saya saja lah, si Widy-nya. Enggak apa-apa jadi istri ke tiga, yang penting sudah ada jaminan bersertifikat jaminan masuk surga!” yakin pak Haji masih menggandeng ibu Rusmini.


“Baru juga nikah sudah diarahin masuk surga, kesannya biar cepat meninggal. Ngeri banget!” balas ibu Rusmini. Ia berusaha menyudahi gandengan pak Haji, tapi pria itu tidak mau.


“Lamar ibunya, dapat anaknya!” ucap pak Haji bersemangat.


Ibu Rusmini hanya menggeleng tak habis pikir sambil sesekali mencoba melepaskan tangannya dari gandengan pak Haji, tapi sampai detik ini, pak Haji tetap tidak mau melepaskannya. Pria itu begitu sibuk mengocek, lamar ibunya, dapat anaknya!

__ADS_1


__ADS_2