
Menahan senyum, Arum melangkah elegan, naik ke lantai atas. Melalui telpon WA, sang mamah mertua mengabarkan, ada tamu spesial, rombongan pak Haji yang sampai disertai Septi sekaligus sang mamah. Tentu Arum sengaja tampil elegan walau tanpa kemewahan apalagi hal yang hanya akan membuat dirinya tampak muraahan. Sebab Arum yakin, elegannya seseorang tak hanya dilihat dari penampilan, melainkan cara berpikir sekaligus sikap.
“Wah, ada tamu spesial?” ucap Arum yang menyanggul anggun rambutnya mirip pramugari, hingga penampilannya benar-benar rapi. Layaknya seorang koki andal, ia masih memakai celemek yang melindungi tubuh sekaligus sebagian pakaiannya.
Tentu Arum sadar, kehadirannya akan langsung menjadi fokus perhatian khususnya bagi wanita bercadar hitam yang duduk di hadapannya. Detik itu juga Arum ingat semua luka-luka dari ibu Fatimah, di masa lalu. Arum tidak bermaksud dendam meski ia berhak melakukannya. Apa yang tengah ia lakukan yaitu pembuktian besar-besaran, tak semata agar orang-orang seperti ibu Fatimah, tak seenaknya memandang rendaah seseorang, seperti yang sudah wanita itu lakukan kepadanya.
Ibu Fatimah langsung menatap Arum. Mata tajamnya menatap lurus sosok wanita yang kini sudah glow up. Wanita itu menatap Arum dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tak ada kemewahan apalagi rias mencolok. Walau tidak berhijab, Arum juga berpakaian sangat sopan. Tentunya, interaksi hangat antara wanita itu dengan ibu Kalsum yang sampai detik ini masih mengasuh Aidan, menegaskan betapa baiknya hubungan keduanya.
“Makan siang Aidan sudah siap, Mbak?” tanya ibu Kalsum sengaja duduk di sofa tunggu yang ada di sana sambil memangku Aidan.
Arum yang awalnya akan kembali fokus kepada ibu Fatimah, terusik oleh pertanyaan tersebut. “Sudah, Mah. Telepon ke dapur saja, minta orang di sana antar soalnya tadi aku juga sudah pesan ke mereka. Coba minta ke Dian, ya.”
“Oh, oke, Mbak. Mbak juga jangan lupa telepon suami, takutnya dia kontraksi dini gegara terlalu khawatir ke istri! Enggak fokus kerja dia, takut istri kecapaian. Di mana-mana suami pasti khawatir takut istrinya diambil orang, lah suamimu, takut kamu kecapaian.”
Arum tersenyum hangat menatap mamah mertuanya. Layaknya pak Sana, untuk urusan gibah dan membuat orang makin syirik, ibu Kalsum ahlinya. Lagi-lagi, ia bekerjasama dengan mertua rasa besti dalam menjalani misi.
“Kan, ... jadi ingat Fajar yang pongah. Hahaha, ih amit-amit!” batin Arum menjadi sibuk senyum sendiri selain kedua tangannya yang refleks mengelus-elus perut.
Yang langsung Arum lakukan adalah mendekati dua meja besar yang sudah dipenuhi keluarga besar pak Haji. “Benar-benar tamu spesial. Makasih banyak yah, sudah datang. Nah, ini mau dikenalin dari mana dulu, Mbah?”
Arum sengaja meminta pak Haji untuk menjadi juru bicara di sana.
“Dari hati dulu kali yah, biar dapet nuansa Musafir Cintanya?” ucap Pak Haji yang langsung diteriaki lenjeh oleh ibu Kalsum.
“Ah, kopet-kopetan si pak Gede!” sebal Septi yang duduk di sebelah sang mamah. Sejak ada ibu Fatimah, ia jadi memiliki tempat berbagi untuk merawat Sepri. Layaknya kini, sang putra yang sangat mirip Supri, juga tengah bersama neneknya.
Arum masih susah payah menahan tawanya. Tak mau tertawa sendiri apalagi adanya ibu Kalsum di sana malah membuat suasana makin lawak, Arum sengaja menelepon sang suami. Tak tanggung-tanggung, ia memilih melakukan telepon video.
__ADS_1
“Cinta pertama seorang anak laki-laki yaitu mamahnya, wanita yang telah melahirkan kita dengan segenap perjuangan jiwa dan raga,” ucap pak Haji yang menjadi puitis. “Namun masa iya, saya harus menghubunginya yang sudah ada di alam baka?”
Arum sampai takut ada di sana. Takut yang di perut malah mengikuti jejak pak Haji.
“Taiii banget ih Pak Gede. Makin enggak jelas!” keluh Septi. Namun para istri pak Haji malah ia dapati seolah terpesona. “Ihh ... jijikk ... uweeek banget. Bangkotan gitu juga pada doyan!” bisiknya yang kemudian menatap sang mamah. “Awas loh, Mah. Mamah jangan mau jadi istri ketiganya. Nanti yang ada, Mamah dikeproki sama orang-orang apalagi sama papah!”
Tanpa membalas, ibu Fatimah hanya bergidik sambil menggeleng pelan.
“Assalamualaikum, Yang? Gimana? Sudah makan siang, belum?” sapa Kalandra dari seberang terdengar tidak jelas karena berisik dan suaranya pun menggema.
“Mas Kala lagi di mana? Kok suaranya enggak jelas, gambarnya juga kabur-kabur,” balas Arum mengernyit heran, mencoba menatap saksama layar ponselnya guna memastikan apa yang tengah suaminya lakukan.
“Lagi dugeem pasti itu. Suara enggak jelas, gambar kabur, ya kalau enggak dugem, paling banter di tempat karaokean!” ucap pak Haji sengaja memanas-manasi.
“Mulut Anda kompor sekali! Sudah, Mbak. Jangan cari bahan bakar jauh-jauh. Tangkringin saja wajan apa pancinya di mulut si Mbah, pasti langsung mateng!” ucap ibu Kalsum langsung sewot.
“Masa iya, masaknya di mulutku, Bu PR, eh, Bu DPR!” protes pak Haji sampai berdiri dari duduknya.
Tak beda dengan Arum, Septi juga ikut tertawa. Septi merasa sangat terhibur dengan cekcok antara ibu Kalsum dan pak Haji.
“Nah malah terputus sambungannya. Kacau-kacau ini. Ya sudahlah,” lirih Arum yang kemudian mengetik pesan WA ke sang suami.
“Permisi,” lirih dari belakang Arum.
Detik itu juga Arum terdiam meski wanita itu juga langsung deg-degan parah. “YA AMPUN, MAS BOJO!” kaget Arum karena feeling-nya sungguh benar. Setelah sempat terkejut, ia meraih tangan kanan Kalandra yang sudah pria itu berikan kepadanya.
Arum menyalami tangan kanan Kalandra dengan takzim, kemudian balas memeluk Kalandra yang sudah lebih dulu melakukannya.
__ADS_1
“Kaget, ya?” lirih Kalandra masih memeluk Arum penuh sayang.
“Bangeeeeet!” lirih Arum sampai merengek manja. Tak peduli apa yang ia dan Kalandra sudah langsung menjadi pusat perhatian, atau malah sudah sampai membuat yang tak suka, iri.
Kalandra yang masih memeluk Arum, mengendus penuh sayang, kepala Arum. “Aku ada meeting sama orang kantor, jadi ya mending dibawa ke sini saja sekalian promosi karena mereka pun kepo, penasaran sama rumah makan istriku. Terus yang di perut apa kabar?” Kalandra baru jongkok untuk menciium perut Arum, tapi yang di pangkuan ibu Kalsum sudah heboh.
“Pahhhh!”
“Nah, cemburu!” Ibu Kalsum tertawa.
Kalandra berangsur menuntun sang istri untuk turut menghampiri Aidan. “Mas cemburu?” Ia menertawakan Aidan yang memang langsung heboh mengulurkan kedua tangan, meminta diemban.
Setelah mengemban Aidan, Kalandra tak lupa menyalami tangan sang mamah. Ibu Kalsum tetap duduk di sofa.
“Rombongannya banyak, Mas?” tanya ibu Kalsum.
“Ada delapan sama aku, sih, Mah,” balas Kalandra sambil duduk di sebelah sang mamah, kemudian merengkuh pinggang sang istri menggunakan tangan kiri untuk ikut duduk juga di sebelahnya.
“Ya lumayan. Di sebelah saja kan masih kosong,” ucap ibu Kalsum tetap santai walau sang putra tengah memperhatikan Arum penuh keromantisan. Malahan ia jauh lebih adem jika melihat anak dan menantunya begitu daripada keduanya malah saling diam apalagi menjaga jarak. Meski selama bersama, ibu Kalsum belum pernah mendapati kenyataan tersebut. Malahan jika tidak pamer keromantisan yang manis layaknya sekarang, keduanya heboh sibuk jail satu sama lain.
“Jadi, di hari pertama buka, aku beneran langsung dapat tamu spesial. Suami sendiri!” ucap Arum yang kemudian mencubit gemas hidung Kalandra apalagi kali ini, suaminya itu tak sampai masker hingga ia melakukannya dengan leluasa.
Kalandra yang masih menatap intens sang istri di antara senyum yang menyertai, berkata, “Andai aku tega enggak datang, yang jadi tamu spesial kamu ya cuman pak Haji. Kasihan sekali, ya mending aku bikin acara, dan akhirnya seperti sekarang ini. Anda terkejut tidak?”
Arum tersipu. “Saking terkejutnya, aku nyaris tiarap Mas!”
Dari semua yang ada di sana, Septi dan ibu Fatimah menjadi korban terparah dari kebucinan Kalandra dan Arum. Keduanya kompak menunduk lesu. Bersamaan dengan itu, ingatan ibu Fatimah menjadi dihiasi setiap adegan ketika dirinya menghina Arum. Satu hal yang langsung ibu Fatimah rasakan jika ia membandingkan perbuatan kejiinya itu dengan keadaan Arum yang sekarang, MALU!
__ADS_1
Melihat keromantisan Arum dan Kalandra, pak Haji langsung lemas. Pria itu sampai asal duduk dan bablas ke lantai hingga istri, anak maupun cucunya terkejut, walau sebagian dari mereka juga sampai tertawa hingga suasana di sana menjadi ramai.