Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
112 : Perlahan Mulai Sadar


__ADS_3

Keesokan harinya dan kebetulan hari libur, Widy yang datang untuk mengambil pesanan ayam maupun bebek ungkep, mendadak diinterogasi oleh Kalandra sekeluarga. Menjadi bagian dari mereka, Widy juga berkesempatan merasakan hangatnya keluarga yang sesungguhnya.


“Lagian, ... kok bisa, ... maksudnya, gimana ceritanya, kok kamu malah pacaran sama si Fajar?” komentar Kalandra yang baru kembali menjadi bagian dari kebersamaan Arum dan ibu Kalsum, maupun pak Sana. Di ruang keluarga, ketiganya masih menginterogasi Widy.


“Y-ya ....” Widy yang duduk di sofa tunggal sebelah Arum, tak bisa menjawab.


Jika mengingat hubungannya dan Fajar yang baru seumur jagung, Widy mengakui semuanya sangat indah. Widy merasa, masa depannya akan cerah andai mereka sampai menikah. Hanya saja, kenyataan malah tak sejalan karena pria itu hanya memanfaatkannya. Tak semata Fajar yang ternyata bukan perjaka, melainkan Fajar yang memang sudah terbiasa memanfaatkan setiap wanita yang didekati, atas seizin istri guna mendapat penghasilan tambahan.


“Sekarang kejahatan beneran super ngeri, sih. Itu kemarin aku nonton, bertahun-tahun jadi istri polisi, tuh ibu-ibu protes ke atasan suaminya kan, kok enggak pernah ngerasain gaji suaminya yang polisi. Dan ternyata, ... si suami ini hanya polisi gadungan!” ucap Arum. “Bertahun-tahun lamanya si suami sengaja membohongi istri sekeluarga!”


Kalandra yang mengemban Aidan karena bocah itu memang baru bangun dan awalnya tidur di kamar, langsung menatap sang istri penuh cinta. Senyum di wajahnya tak pernah surut jika itu untuk Arum, apalagi jika mereka sedang santai layaknya sekarang. “Akhir-akhir ini, kamu makin update, Yang! Pembawa berita saja kalah!”


“Ya iyalah, kan Mas yang ngajarin,” balas Arum yang kemudian juga berkata, “Ini tadi malah lebih ngeri lagi. Yang sosialita apa artis di Hongkong. Ya Alloh, edyan banget! Enggak kebayang gimana perasaan orang tua apa orang terdekat korban!”


“Ada kasus apa lagi, gitu?” sambut Kalandra yang langsung duduk di sebelah Arum sambil tetap memangku Aidan yang ia suapi puft. Sesekali, ia yang menjadi doyan puft selaku camilan favorit Aidan, juga akan memakannya sendiri.


“Jangan, Mbak! Nanti yang ada, suamimu muntah sampe lemes!” ujar ibu Kalsum.


“Ya sudah, kita balik ke Widy lagi,” sambung Arum antusias.

__ADS_1


“Nah, iya ... itu pacarmu sekarang jadi banyak kasus kayaknya gara-gara pacar-pacarnya pada nuntut ganti rugi setelah mereka tahu, ternyata mereka hanya dikibuli,” ujar pak Sana yang duduk di sebelah sang istri. Lebih tepatnya, ia dan ibu Kalsum duduk di sofa yang sama dengan Arum maupun Kalandra.


Semua mata sekaligus perhatian, kembali tertuju kepada Widy. Yang diperhatikan pun menjadi salah tingkah. Antara sedih sekaligus malu.


“Jadi, awal mulanya bagaimana?” ucap ibu Kalsum jauh lebih sabar.


“Ya, ... kan dari awal saja kenalnya, pas aku ke bank. Dia kerja di bank, terus pas lihat alamat di ktp aku, ternyata dia kenal Mbak Arum. Dia ngaku teman baiknya mas Angga maupun Mbak Arum. Terus, dia sangat sopan, perhatian, ngaku perjaka juga. Ya sudah ... semuanya beneran mengalir begitu saja, Bude. Beneran enggak ada tanda-tanda kalau dia jahat atau setidaknya berniat jahat ke aku,” cerita Widy.


Ibu Kalsum sudah langsung heboh. “Perjaka, hahaha ... anak saja ada di mana-mana, kok ya ngakunya perjaka! Benar-benar niat banget nipunya!”


“Dan ternyata karena sudah jadi mata pencahariannya, De. Ya pantes saja istrinya mendukung! Hasilnya saja berkali lipat lebih besar dari gaji dia di bank!” keluh Widy yang kali ini mendengkus pasrah.


“Ke depannya, buat pembelajaran saja. Enggak hanya buat Widy, tapi juga buat semuanya. Apalagi sekarang, yang namanya kejahatan enggak hanya dilakukan oleh mereka yang berpenampilan menakutkan saja. Karena yang rapi kayak Fajar juga saking banyaknya. Kan berawal dari modus, terus jadi fulus!” ucap pak Sana yang kemudian menatap Widy. “Nyatanya, istrinya saja mengizinkan, kan?”


Widy mengangguk-angguk pasrah. “Iya, Pakde. Beneran heran sumpah, kok ada orang kayak mereka.”


Menyimak itu, dalam hatinya Kalandra berkata, “Dulu saja kamu tega banget ke Arum hanya karena kamu merasa kesal sekaligus enggak terima dibanding-bandingkan dengan Arum yang bagi tetangga kalian, jauh lebih baik dari kamu.”


“Tapi yang semacam itu kayaknya juga sudah jadi hal biasa buat sebagian mereka yang pemalas dan memang enggak waras deh,” ucap Arum.

__ADS_1


“Itu dulu temen pasar aku yang jualan sayur juga jadi korban. Yang suaminya jadi mandor kuli bangunan dan terjerat cinta pemandu karoke pas di Jogjakarta,” lanjut Arum.


“Baru jadi mandor kuli bangunan sudah belagu, yah, Mbak? Ngelayabnya ke karokean? Jabang bayi cakaget!” ucap ibu Kalsum sampai mengelus-elus perut Arum kemudian juga sampai mengelus ubun-ubun Aidan.


Arum mengangguk-angguk. “Tapi asli, Mah. Si suami wanita pemandu karokenya, enggak masalah kalau istrinya jadi pemandu karoke sekalian merangkap jadi simpanan atau sekadar gula-gula. Nah, suami temenku yang awalnya mandor bangunan ini telanjur tergila-gila, tetap memilih pemandu karoke ini hanya karena dia merasa, si wanita ini jauh lebih perhatian dari istrinya. Singkat cerita, setelah suami temenku enggak punya apa-apa dan hutang ada di mana-mana karena demi memenuhi hidup mewah si wanita pemandu karoke, ... ya biasa, langsung dibuang. Padahal semuanya beneran sudah dikasih. Tanah, rumah, sawah, melayang,” cerita Arum.


“Kan sudah ada pepatah, Mbak. Buanglah sam-pah, pada tempatnya. Itu jauh lebih untung loh, daripada suami tukang sayur temen Mbak malah didacin, dikilo tukar sama gulali ke tulang rongsok!” kesal ibu Kalsum, tapi malah membuat Arum dan Kalandra, kompak menahan tawa. Kedua sejoli itu menjadi cekikikan sambil sesekali menepuk asal kaki satu sama lain.


“Si itu, yah, Mbak? Yang rumahnya di dekat jembatan pasar?” tebak Widy.


Arum mengangguk-angguk, membenarkan tebakan Widy. Dan asal kalian tahu, apa yang baru Arum ceritakan juga kisah nyata, ya. Tentang suami yang merasa kurang kasih sayang dari istrinya, padahal alasan istrinya tegas dan kadang kelewat jadi galak, ya manusiawi. Karena walau hanya urus anak dan seabrek pekerjaan rumah yang enggak ada beresnya, istri juga capek. Istri tetap butuh perhatian sekaligus dukungan. Apalagi ketika istri pontang-panting urus anak dan juga kebutuhan di rumah, suami malah asyik sayang-sayangan dengan pemandu karoke. Gaji habis dan sama sekali tidak sampai anak istri. Hutang ada di mana-mana, pulang-pulang mengeluh, istri galak banget.


Kembali ke kenyataan, diam-diam sebenarnya Arum juga menyadari, apa yang tengah Widy alami bisa jadi merupakan bagian dari teguran Tuhan. Agar Widy menyadari, dulu, wanita itu pernah sangat keji kepada Arum maupun Aidan. Ibaratnya, semua yang pernah Widy lakukan, juga tengah wanita itu rasakan karena begitulah yang namanya karma.


“Ini aku begini langsung ditolong sama Mbak Arum sekeluarga, padahal dulu aku jahat banget ke Mbak Arum bahkan ke Aidan,” batin Widy yang juga menjadi berpikir, apakah setiap kesulitan yang ia rasakan juga bagian dari karma yang harus ia rasakan setelah apa yang ia lakukan pada Arum dan Aidan?


“Dan lihat Mbak Arum yang sangat disayang begini sama mas Kala sekeluarga, termasuk Aidan, aku juga jadi yakin, ini buah manis dari setiap ketulusan sekaligus pengabdian mbak Arum,” batin Widy lagi.


Meninggalkan kehangatan Arum dan keluarga sang suami, di kontrakan kecilnya, Angga tengah murka. Pria itu tengah mengancam Septi, tak segan menceraikan wanita itu, jika Septi tetap tidak mau berubah.

__ADS_1


__ADS_2