
Hari ini, Arum menjalaninya dengan lebih dari bersemangat. Arum benar-benar bersemangat sebab ia akan berkunjung ke kantor sekaligus pabrik Kalandra bekerja. Tentunya, mencoba pakaian pengantin juga alasan utama kenapa Arum begitu semringah.
Siangnya, pulang dari rumah sakit setelah selesai tugas dan itu langsung dijemput oleh sopir orang tua Kalandra, Arum langsung siap-siap. Sebelumnya, ia dan Aidan sudah kembali mandi untuk kedua kalinya, di rumah sakit. Jadi sekarang mereka tinggal ganti pakaian.
Masalahnya, Arum tidak begitu percaya diri merias wajah karena biasanya wanita cantik itu hanya memakai pelembab wajah dan lipstik, itu pun tak berani tebal-tebal. Karenanya walau malu, Arum mau-maunya saja merengek kepada ibu Kalsum yang awalnya membantunya memomong Aidan.
“Masalahnya Mamah kalau dandanin orang, lebih sering gagalnya ketimbang berhasilnya, Mbak,” ucap ibu Kalsum ragu. “Nah loh, Mamah malah jadi deg-degan gini. Lihat tangan Mamah, ... baru juga pegang pensil alis sudah gemetaran gini!”
“Enggak apa-apa, Mah. Pelan-pelan, aku percaya ke mamah!” yakin Arum sudah bersiap duduk di kursi rias di kamar Kalandra. Kamar yang selama ia tinggal di sana, menjadi tempat tidurnya.
Ibu Kalsum malah tertawa. Tertawa saking gugupnya akan merias orang lain dan itu Arum yang memiliki acara spesial dengan Kalandra. Saking sibuknya ia tertawa pasrah, Aidan yang tengah belajar merangkak di karpet sebelah pun jadi ikut tertawa.
“Ah, kamu, Mas. Dikiranya Mbah lagi bercanda sama kamu!” ucap ibu Kalsum yang belum bisa mengakhiri tawa sekaligus ketegangannya. Bukannya berhenti tertawa, Aidan malah makin terbahak dan tampaknya memang mengira ibu Kalsum tengah mengajak bercanda.
Arum yang sudah memejamkan mata, juga tak kuasa menyudahi tawanya. Susah payah Arum menahan tawanya apalagi ketika ibu Kalsum tiba-tiba berteriak panik.
“Ya ampun, Mbak ... alisnya gede sebelah kan mirip knalpot! Ya ampun miring gini juga, hahahaha!” Ibu Kalsum makin tergelak. Lain dengan Arum yang malah terkejut syok ketika melihat riasannya karena memang jauh dari ekspetasi.
“Kok cantikan enggak pakai rias, ya? Tapi kan, alisku tipis. Bentar deh, sabar pelan-pelan,” batin Arum.
Pada akhirnya, tak ada rias berlebihan yang Arum pakai. Wanita itu tetap tampil layaknya biasa. Rambut sepunggungnya dibiarkan tetap tergerai, sementara poninya dijepit ke samping kanan. Hanya begitu saja sudah membuat ibu Kalsum sibuk memuji. Arum tak hanya tampak anggun. Karena menggerai rambut kemudian menjepit poni yang biasanya lebih sering dikuncir, juga membuat wajahnya terlihat jauh lebih muda.
__ADS_1
“Serius, ini, Mah ... aku beneran cantik, kan? Takutnya malu-maluin.” Tak pernah merengek apalagi manja kepada keluarga sendiri bahkan itu kepada wanita yang melahirkannya, Arum malah menjadi terbiasa melakukannya kepada calon mamah mertuanya yang memang sangat menyayanginya.
“Yakin, Mbak. Demi Alloh, kamu sudah cantik banget. Nanti Mas Kala pasti pangling!” puji ibu Kalsum sembari memijat-mijat pundak Arum.
Arum langsung tersipu, malu-malu menatap pantulan bayangannya sendiri di cermin rias. Ia terlalu gugup hanya karena sulit percaya, ternyata jika ia belajar merias wajah lebih telaten, hasilnya tidak kalah memukau dari hasil perias andal.
“Aura calon pengantin memang beda! Duh, pokoknya!” ibu Kalsum sampai menjadi agak sesak napas karena belum bisa mengakhiri tawanya.
“Mamah mau nikah lagi juga biar ketularan punya aura beda?” tanya Arum sengaja menggoda ibu Kalsum yang masih ia tatap melalui pantulan cermin rias di hadapan mereka.
Lantaran ibu Kalsum terlihat langsung syok, Arum sengaja berkata, “Nikahnya juga masih sama papah, Mah! Besok sekalian, Mamah sama papah dandan!” Arum mengakhiri ucapannya dengan tawa yang ditahan.
Arum berkaca-kaca di antara senyum hangat yang ia suguhkan. Tanpa membuatnya balik badan atau sekadar menoleh ke belakang selaku keberadaan ibu Kalsum, kedua tangannya meraih kedua tangan wanita itu yang masih bertahan di pundaknya. Tak lama setelah itu, mereka saling bertukar tatapan melalui pantulan cermin di hadapan mereka.
Terakhir, ibu Kalsum malah memeluk Arum dari belakang, membenamkan wajahnya di punggung kepala Arum. Arum yakin, ibu Kalsum sampai menangis hanya karena ingat Kalandra yang nyaris kehilangan kewarasan setelah ditinggal Bilqis. Alhamdullilah, sekarang Kalandra sudah kembali menjadi pribadi ceria yang juga sangat hangat melebihi matahari pagi. Malahan jika hanya sedang berdua, Kalandra bisa sangat jail kepada Arum dan tak jarang, Arum sampai nyaris menangis.
Sekitar dua puluh menit kemudian, Arum keluar dari rumah orang tua Kalandra diantar langsung oleh ibu Kalsum. Mobil sudah menunggu di depan rumah, sang sopir yang menunggu di depan mobil pun sudah langsung membukakan pintu. Keadaan tersebut pula yang membuat pak Haji nyaris kena serangan jantung. Pak Haji yang sengaja menunggu di belakang mobil orang tua Kalandra, benar-benar langsung sesak napas gara-gara terpesona dengan penampilan baru Arum.
“Nah, lah ... ini kereta kencana roda manusianya mana? Langsung dikubur saja, enggak usah ada agenda dimandiin apalagi didoain wong bakal mayatnya saja enggak mikir!” keluh ibu Kalsum membiarkan tangan kanannya disalami sekaligus diciu-um dengan takzim oleh Arum yang juga langsung menahan tawa.
“Hati-hati, ya. Selamat bersenang-senang,” ucap ibu Kalsum yang sampai memeluk Arum kemudian menci-um kedua pipi termasuk kening. Sementara pada Aidan, ia tak sampai memeluk dan hanya menci-um gemas wajah bocah itu yang juga langsung tertawa kegelian.
__ADS_1
Seperginya mobil yang membawa Arum dan Aidan, ibu Kalsum sengaja mendekati pak Haji yang masih terduduk lemas di sebelah motor. Pria itu masih tampak linglung melepas kepergian mobil yang membawa Arum.
“Ya Alloh, lihat Arum pakai dress lengan seperempat yang masih menutupi lutut saja aku sudah lemes. Apa lagi kalau sampai lebih?” batin pak Haji mulai halu bahkan berfantasi di otaknya yang sudah renta.
“Mbah, yang di rumah kan ada dua, memangnya sudah habis?” tanya ibu Kalsum sampai agak membungkuk demi mensejajarkan wajahnya dengan pak Haji.
“Hah ...? Istri maksudnya?” balas pak Haji masih terengah-engah. Kedua tangannya masih memegangi dadanya karena dari sana, jantungnya yang seolah sedang zumba, sibuk memberontak keluar.
Ibu Kalsum mengangguk-angguk. “Ya iya, ... di rumah, Mbah sudah punya dua istri, kan?”
“Oh, iya ... di rumah memang ada dua, tapi udah bosenlah. Pengin ganti yang baru,” balas pak Haji dengan jujurnya.
“Heh? Mbah saja yang sudah berumur, bosen. Apa kabar mereka? Ya Alloh, amit-amit ... jauhkan keluarga hamba dari sifat begitu,” ucap Ibu Kalsum memilih pergi.
“Si Arum buat aku sajalah. Anakmu kan masih muda ganteng pula, pasti dia masih bisa dapat yang lebih dari Arum!” rengek pak Haji.
“Justru karena anak saya masih muda dan ganteng pula, Arum lebih cocoknya sama dia, bukan sama Anda yang sudah tua bangka kerjaannya berburu janda!” omel ibu Kalsum sambil menatap kesal yang bersangkutan.
Tak mau mendengar ucapan lebih nyeleneh dari pak Haji, ibu Kalsum memilih pergi tanpa menghiraukan pak Haji yang sampai berkata jo-rok.
Di tempat berbeda, sekitar tiga puluh menit kemudian, akhirnya Arum sampai di tempat parkir pabrik sekaligus kantor bulu mata maupun rambut palsu, Kalandra bernaung. Pabrik yang juga menjadi tempat mengais rezeki, beberapa orang dari desanya. Namun berbeda dari mereka, alasan Arum ke sana bukan untuk hal yang sama. Alasannya ke sana untuk menemui calon suaminya. Arum akan mengantar bekal makan siang yang sengaja Kalandra tinggalkan agar ia mengantarkannya. Tentunya, akan ada hal lebih mendebarkan lainnya, selain agenda mengantar bekalnya.
__ADS_1