
“Sudah dua hari ini, mbak Resty maupun mas Tomi, belum ada yang pulang. Kontrakannya beneran kosong. Karena setelah paginya mbak Resty titip anak-anak ke saya, malamnya mas Tomi yang ambil dan setelah itu, beneran belum ada yang balik,” jelas seorang ibu-ibu selaku tetangga kontrakan Resty tinggal yang juga sudah biasa dititipi anak-anak Resty. Ibu-ibu itu juga yang kemarin sempat mengurus Cikho dan Cinta, setelah Resty menitipkannya.
Mendengar itu, Arum langsung lemas. Ia refleks menghela napas kemudian menggunakan kedua tangannya untuk mendekap sebelah lengan sang suami. Arum tak lagi mampu bersuara, dan memang langsung Kalandra yang mengambil alih semuanya.
Tak lama setelah itu, Kalandra pamit. Mereka langsung menuju rumah Tuan Maheza. Suasana sudah sangat terang karena kini sudah menjelang makan siang. Kalandra yang sudah janjian dengan Tuan Maheza, diminta untuk menunggu di ruang tamu.
Di rumah yang mirip istana itu, keduanya juga tak sengaja bertemu Elia. Elia mendadak datang, seolah wanita itu diberi kabar bahwa ada tamu spesial untuk sang suami. Namun setelah melihat tamu yang dimaksud justru Arum dan Kalandra, Elia buru-buru undur, masuk lagi ke dalam.
“HEH ELIA!” Arum sudah tak tahan lagi, ia maju sambil membawa taflon yang sudah langsung ia ambil dari bagasi setelah ia tahu, Resty belum kembali sejak kepergian sahabatnya itu.
Kalandra memang turut berdiri meninggalkan sofa kulit empuk berwarna hitam yang ada di sana, tapi pria itu sama sekali tidak berniat menegur apalagi menghentikan apa yang akan sang istri lakukan. Di sebelahnya, Arum sudah lebih dulu melangkah.
“Lama kita enggak ngobrol. Aku minta waktumu sebentar saja.” Arum melangkah cepat menghampiri Elia yang sudah ada di luar pintu ruang tamu ia dan Kalandra menunggu. Ruang yang juga menuju bagian dalam rumah karena biar bagaimanapun, ruang dirinya dan Kalandra menunggu menjadi ruang pertama di rumah sangat luas sekaligus sangat besar itu.
“Aku sibuk!” singkat Elia masih memasang wajah cuek sekaligus tak minat.
“Lima detik, tunggu di situ!” sergah Arum. Dengan jarak mereka yang hanya terpaut sekitar dua meter saja, ia dengan cekatan melangkah kemudian ....
Plaaaak!!!
__ADS_1
Arum sungguh menggunakan taflon besarnya untuk menghantamm kepala Elia. Wanita itu melakukannya sekuat tenaga ditambah emosi yang tak terbendung. Elia yang menerima langsung mendelik sempoyongan dan berakhir jatuh.
Puas, tentu saja Arum belum merasakannya. Karena walau apa yang Arum lakukan sudah langsung membuat target pingsan dan di sana pun tidak ada kamera pengawas atau pengawasan khusus dari pekerja, bagi Arum apa yang Elia dapatkan belum ada a-apanya dari Yang Resty alami dan itu karena Elia. Elia masih sangat layak mendapat ganjaran lebih. Malahan Arum yakin, nasib Elia akan jauh lebih tragis dari keluarga Angga.
“Satu hantaman saja langsung pingsan, sepayah itu memang kamu! Makanya kamu hanya bisa dapat sisa! Jadi selingkuhan bahkan istri suami orang itu ibarat dapat sisa, kan?!” kesal Arum sengaja berucap lirih.
“Aku doakan, arwah kamu enggak akan pernah diterima di kehidupan mendatang! Kalaupun iya, kamu hanya bisa kembali hidup jadi binanattang yang paling menjijiikan!” lirih Arum masih misuh-misuh.
“Sayang sini duduk, sebelum ada yang melihat kamu. Sabar adalah emas, Sayang. Sebentar lagi, tolong bersabarlah. Sebentar lagi kita pasti bertemu Tuan Maheza,” yakin Kalandra.
Baru saja, seorang pekerja datang dan membuat wanita muda itu menemukan Elia. Untung Arum baru duduk anteng di sebelah sang suami. Arum pura-pura akan keluar untuk meminta bantuan satpam yang berjaga di depan.
Si wanita tadi buru-buru mengangguk kemudian undur dengan dalih akan mencari bantuan. Detik itu juga Arum melirik Kalandra dan mereka menjadi bertatapan karena di waktu yang sama, Kalandra juga menatapnya.
Tak ada yang patut dicurigai karena selain tidak ada CCTV, di sana juga tidak ada saksi. Walaupun Kalandra melihatnya, tak mungkin pria itu jujur karena selain sangat mencintai sekaligus mendukung Arum, Kalandra juga sudah sangat kesal kepada Elia. Seorang wanita dan seorang pria datang diboyong wanita tadi. Ketiganya langsung bekerja sama mengamankan Elia, membawanya masuk ke dalam. Sedangkan yang dilakukan Arum dan Kalandra, keduanya kompak pura-pura memantau dari jarak lebih dekat.
***
Dua jam menunggu, Tuan Maheza tak kunjung datang bahkan sekadar memberi kabar. Baik Kalandra apalagi Arum menjadi makin tidak sabar.
__ADS_1
“Kita lacak sinyal hape Resty, dan kita langsung cari?” usul Kalandra.
Arum yang duduk di sebelah Kalandra, mengangguk-angguk setuju. “Iya, Mas. Gitu saja! Lacak sambil tunggu Tuan Maheza datang, Mas!” Arum menjadi merasa memiliki harapan. Harapan untuk menemukan Resty bagaimanapun keadaan sahabatnya itu. Namun jika boleh meminta, Arum berharap Resty akan baik-baik saja apalagi kedua anak wanita yang pernah berjasa untuknya itu masih balita.
Setelah dilakukan penelusuran, Kalandra menemukan sinyal hape Resty ada di sekitar puncak. Jarak tempuh ke sana bisa memakan waktu sekitar dua sampai tiga jam.
“Kita pergi dari sini, kita buat janji saja. Kita langsung ke kantor polisi buat laporan orang hilang dan kasih semua bukti,” lirih Kalandra apalagi hilangnya Resty sudah bisa dibuat untuk laporan.
Arum langsung setuju, tentu saja. Semua rencana Kalandra langsung mereka lakukan. Melaporkannya ke polisi dengan bukti-bukti yang mereka miliki. Kemudian bersama dua orang polisi, keduanya menuju lokasi sinyal hape Resty terditeksi dan polisi duga ada di sekitar jurang sekitar puncak.
“Sudah mau malam, hujan juga,” lirih Kalandra yang masih mengemudi dengan hati-hati mengikuti dua orang polisi yang memakai mobil. Ia melirik Arum yang sedari keluar dari kantor polisi menjadi makin murung.
“Sayang ...?” lirih Kalandra.
Arum yang memakai jaket Kalandra walau ia sudah memakai sweter, menatap Kalandra sambil berlinang air mata. “Aku lagi kirim doa, Mas. Soalnya aku yakin, mbak Resty sudah enggak ada. Itu jurang, Mas. Wanita jatuh dari jurang, bisa apa?” Hati Arum hancur sehancur-hancurnya. Tak bisa ia bayangkan jika dirinya ada di posisi Resty. Sudah dikhianati, dibunuh, dan harus berpisah untuk selama-lamanya dengan kedua buah hatinya yang masih balita.
“Kasusku masih untung, Angga orang biasa dan bukti-buktinya mencolok. Nah, mbak Resty? Dia ngelawan orang berada, Mas. Tadi saja, rumah Tuan Maheza mirip rumah warga satu RT. Rumah Tuan Maheza seribu kali lipat lebih bagus dari rumah Mas yang sudah wah di mataku maupun orang rumah!” Arum menatap serius Kalandra. Ia membahas sederet kemungkinan yang terjadi jika kasus Resty diungkap, termasuk itu fakta Tuan Maheza yang bisa jadi menutupnya karena biar bagaimanapun, perselingkuhan yang Elia lakukan dengan Tomi ibarat aibb.
“Bagaimana jika Tuan Maheza memilih enggak ambil pusing, menutupnya dan parahnya, malah menuntut balik? Di WA itu jelas-jelas Elia bahas, Tuan Maheza ada kelainan yang bikin dia susah punya keturunan. Ini aibb, kan, Mas? Tuan Maheza bisa jadi enggak mau ini diungkap. Gimana kalau itu sampai terjadi dan otomatis, Resty enggak dapat keadilan?” Arum terus berbicara panjang lebar.
__ADS_1