
“Aku baik-baik saja. Jangan ditangisi gini,” lirih Arum sambil mengelus penuh sayang kedua sisi wajah Kalandra yang ada persis di hi atas wajahnya.
Kedua tangan Arum yang sudah gemetaran, susah payah melakukan itu karena menahan proses pembukaan menuju persalinan saja sudah sangat luar biasa. Eh kini, Kalandra malah menangisinya. Pria itu merasa sangat bersalah, dan takut juga kalau harus membiarkan Arum malah menjalani sesar. Bagi Kalandra, semuanya terlalu berisiko.
“Enggak, ... enggak. Aku enggak akan sesar atau operasi lainnya. Aku beneran mau lahiran normal. Ini saja sudah pembukaan delapan. Beneran bentar lagi!” yakin Arum yang sesekali sudah berusaha mengatur napas dan tampak hendak melakukan dorongan untuk persalinan anaknya menuju jalan lahir.
“Cuma Kalandra yang malah melow nangis-nangis merasa sangat bersalah, gara-gara istrinya mau lahiran,” ucap dokter Andri masuk ke ruang persalinan yang sudah disertai seorang bidan sekaligus dua orang perawat dari kliniknya.
Ibu Kalsum dan pak Sana yang menyaksikan dari depan pintu, hanya mampu menatap sendu keadaan sang putra yang begitu mengkhawatirkan Arum. Mungkin karena selain trauma kepada keadaan Bilqis, kini pun menjadi pengalaman seorang Kalandra menemani seorang wanita menjalani persalinan.
“Enggak sampai sepuluh menit lagi, si kembar lahir, Mas. Istrimu beneran sehat, dia siap lahiran, jangan ditangisi gitu. Banyakin doa saja, semuanya pun bantu doa.” Pak Sana agak berseru, sengaja meyakinkan sang putra. “Sudah, banyakin doa. Jangan sedih-sedih gitu. Nanti yang ada istrimu jadi bingung.”
Kenyataan Kalandra yang begitu menyayangi Arum, yaitu Arum mau melahirkan saja sampai ditangisi, membuat sekelas Angga yang sudah ada di sana dan tengah sambil membantu menjaga Aidan, otomatis merasa sangat tertampar. Kalandra tak hanya sangat sayang kepada Aidan. Karena kepada Arum, Kalandra benar-benar tulus. Sangat langka ada suami menangis sampai lemas karena tak tega melepas sang istri mejalani proses persalinan.
“Dek Widy,” ucap pak Haji sampai duduk di sebelah Widy yang tengah khusyu berdoa untuk kelancaran persalinan Arum.
Pak Haji tak segan duduk di bangku tunggu persis sebelah Widy duduk. Mereka nyaris tak berjarak.
__ADS_1
“Mbah, berhenti panggil Dak Dek, Widy.” Widy mengomel walau ia melakukannya dengan suara lirih mengingat suasana dis ana kurang cocok untuk marah-marah, bahkan walah aki-aki yang terus memepetnya itu salah. ”Bantu doa!” kesal Widy sambil memelotot kepada pak Haji.
Pak Haji langsung kicep, takut Widy benar-benar marah kepadanya, dan tak mau lagi ia dekati. Karenanya, ia sengaja menengadahkan kedua tangannya kemudian memulai doa. Di dalam sana, terdengar bidan maupun dokter Andri yang silih berganti memberi Arum maupun Kalandra instruksi. Yang bertanda, persalinan sungguh akab dimulai.
Arum menatap intens kedua mata sang suami penuh keyakinan. “Ayo, Mas. kita bisa, enggak ada lima menit, pasti sudah keluar semua!” yakinnya yang sudah tidak bisa menahan untuk tidak mengejan. Kedua tangannya sudah mencengkeram di sekitar kedua mata kaki. Ia sudah langsung menjalani proses persalinan anak pertama dan entah yang mana dulu yang keluar. Anak perempuan yang sampai sekarang paling aktif bahkan bar-bar, atau anak laki-laki yang pembawaannya tenang mirip pak Sana.
Suara proses persalinan yang terdengar keramat di tengah keheningan suasana malam di sekitar sana, membuat sekelas pak Haji takjub. “Dek Arum hebat banget, ya! Cepat banget itu bayinya sudah keluar pada nangis!”
“Ya makanya Mbah, bantu doa. Enggak ada yang bisa menandingi kekuatan doa,” lirih Widy tetap melanjutkan kekhusyuan doanya.
“Ya Alloh, ini aku mimpi apa, duduk bersanding dengan dek Widy gini? Tinggal panggil penghulu ini kan,” batin pak Haji mendadak kegirangan.
“Alhamdulillah, Pah. Lancar!” ucap ibu Kalsum tak hentinya bersyukur.
Di sebelah ibu Kalsum, Angga yang sampai berhasil menidurkan Aidan dalam dekapannya, memandangi wajah pria itu sambil mengurai senyum. “Selamat yah, Mas. Mulai sekarang, Mas sudah resmi jadi Kakak. Mas pasti akan jadi Kakak terbaik!” batinnya.
Di dalam ruang persalinan, kebahagiaan Arum dan Kalandra tumpah-ruah. Apalagi ketika bayi pertama yang Arum lahirkan dan itu perempuan, dokter Andri bawa ke mereka, disusul juga bayi laki-laki oleh perawat yang membantu. Kedua bayi itu hanya terpaut lima puluh lima detik!
__ADS_1
“Ketahuan sudah kenapa si mbaknya dominan enggak mau diam. Ya karena dia memang yang jadi Kakak. Mau melindungi adik-adiknya yah, Mbak,” ucap dokter Andri dan langsung menambah kebahagiaan Arum maupun Kalandra. Keduanya tertawa lemah sambil berlinang air mata.
Walau belum puas memandangi kedua anak mereka dan rupanya merupakan perpaduan mereka, Kalandra dan Arum membiarkan kedua anak kembarnya dibersihkan lebih dulu.
“Sudah, ya. Jangan sedih lagi,” lirih Arum dah Kalandra yang langsung tersenyum haru, juga mengangguk-angguk. Kalandra langsung membenamkan wajahnya di sebelah kepalanya.
“Jilbab kamu basah, Yang. Sudah, dilepas saja enggak apa-apa. Mamah sudah bawa pakaian ganti. Amu ambilkan ganti, ya!” bisik Kalandra yang buru-buru membuka ransel tak jauh dari sana. Ia mengambil jilbab warna moka dari sana, kemudian mengenakannya kepada Arum, setelah ia juga sampai mengeringkan kepala Arum menggunakan handuk, dengan sangat hati-hati.
Diam-diam, dokter Andri yang mengamati kebersamaan sang sahabat dengan Arum, benar-benar merasa damai. Ia yang juga tengah mengawasi pembersihan si kembar dan dilakukan bersamaan oleh dua perawat, perlahan merasa iri dan ingin sebahagianya juga. Masalahnya, dokter Andri sudah tak mau menikah lagi dan ingin menghabiskan waktunya untuk fokus mengurus Nissa agar putrinya itu tak sepenuhnya kehilangan figur orang tua.
“Kal, siap-siap minum yang banyak. Jangan sampai suara kamu sumbang pas adzan buat si kembar!” ujar dokter Andri sengaja berseru sekaligus menggoda sang sahabat.
Kalandra yang baru beres mengurus Arum, bahkan handuk putih yang ia gunakan saja masih tersampir di bahu kanannya, langsung menahan tawanya. Perasaannya sungguh campur aduk karena semuanya telah terlewati, sementara baik sang istri maupun kembar mereka juga sehat wali afiat tanpa kekurangan apa pun.
“Demi apa, aku memang sampai beli permen pelega tenggorokan biar pas adzan buat mereka suaraku enggak sumbang!” jujur Kalandra yang kemudian merogoh saku sisi kanan sebelahnya. Dari sana, ia mengeluarkan dua bungkus permen sekaligus. Satu berwarna oren, satu lagi hijau tua.
Dokter Andri langsung terbahak menyaksikannya. Begitu pun dengan Arum yang tengah menjalani pembersihan jalan lahir.
__ADS_1
“Ya ampun Masse, gokil banget kamu!” ujar Arum yang menggunakan kedua tangannya untuk menutupi wajah di tengah tawanya yang sulit usai. Hingga sang bidan mengingatkannya untuk tenang karena ia akan menjalani jahitan jalan lahir yang sempat robek.
Alhamdullilah, semuanya berjalan dengan lancar. Tinggal kasih nama.