Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
233 : Pamer Kemesraan


__ADS_3

“Aku beneran enggak paham dengan cara pikir mbak Anggun. Dulu pun pas aku pisah dari mas Angga, dia nga*m*uk karena aku enggak keluar duit lagi atau kasih makanan buat dia.”


“Terus masalah anak-anak ... gini yah, Pah. Jangankan ke orang lain termasuk anak yang darah daging sendiri, ke dirinya saja, mbak Anggun tega. Dia enggak pernah mandi atau seenggaknya ganti pakaian. Anak bayinya saja sampai kena gizi bur*u*k karena memang enggak diurus.”


“Heran, kan, ada orang macam dia? Lebih kebetulannya lagi, dapat jodoh pun terlalu waras. Gimana enggak bo*b*orok sekalian?”


Arum sudah tidak bisa berkomentar. Karena meski kabar dari Kalandra bukan hal baru, tetap saja kenyataan Anggun sekeluarga yang malah makin parah padahal mereka sudah berulang kali mendapat teguran bahkan hukuman, benar-benar kebangetan.


“Harusnya kalau sama pak Haji, aman sih. Ada Septi juga yang bisa jadi lawannya Anggun,” ucap Kalandra yang duduk agak sila di sofa menghadap Arum. Sebelah lutut mereka saling menyentuh. Seperti biasa, Arum selalu menjadi teman bicara yang baik untuk setiap cerita yang ia miliki.


Arum mengangguk-angguk. “Semoga sih. Tapi kalau sampai enggak mempan ....” Ia melirik berat sang suami saking beratnya memikirkan kelakuan Anggun sekeluarga.


“Pak Haji bilang, mereka bakalan dijadikan pakan lele dumbo!” ucap Kalandra yang kemudian mesem.


“Aku beneran merasa bersyukur karena aku sudah nikah lagi dan itu sama Papah. Soalnya aku yakin, andai aku belum nikah lagi, aku pasti bakalan terus dite*r*or dan diminta tanggung jawab. Ya uang, ya makanan, ya tenaga. Pasti diwajibin sama Anggun. Kalaupun aku menikah dan suamiku orang biasa, pasti masih tetap dikejar,” ucap Arum.


Kalandra yang mesem sambil menunduk, berkata, “Kamu enggak mungkin menikah dengan orang biasa. Karena daripada menikah tapi dengan orang biasa, kamu pasti akan memilih tetap jadi orang tua tunggal buat mas Aidan.”


Arum langsung tersipu, apalagi di hadapannya, sang suami juga tersipu dan jelas sedang meng*g*odanya. Segera ia bermanja, mendekap sang suami dengan mesra kemudian menyandarkan kepalanya di dada bidang yang satu tahun lebih telah menjadi tempat paling nyaman untuknya bersandar.


Sambil balas memeluk Arum, Kalandra berkata, “Jadi, besok beneran mau ke Yogyakarta sekalian bulan madu kedua, ya?” Ia kian tersipu hanya karena mengatakan itu.


Arum tak hanya tersipu. Karena kali ini, ia sampai menahan senyumnya, menengadah menatap sang suami yang juga langsung menatapnya. “Bulan madu kedua bagaimana? Kan sudah berulang kali. Liburan ke mana-mana, dinas juga. Papah bilang, semua itu juga bagian dari bulan madu.” Ia sengaja berbisik-bisik karena obrolan kali ini terbilang rahasia mereka.


Kalandra terkikik. “Sebenarnya tiap hari berasa bulan madu, asal enggak ada tamu bulanan. Apalagi semenjak menikah—”

__ADS_1


“Semenjak menikah ya langsung full, kan langsung isi. Libur kan semenjak melahirkan memang enggak boleh. Besok sudah boleh ya full lagi.” Arum sengaja memotong ucapan Kalandra yang detik itu juga langsung sibuk menahan tawa. Wajah Kalandra sampai berubah menjadi berwarna benar-benar mewah.


“Tapi besok ya enggak full lagi, Yang! Kan ada tamu bulanan!” sergah Kalandra mengoreksi anggapan sang istri.


“Papah bilang, mau KB mandiri saja? Kalau iya, ya memang risikonya gitu!” balas Arum.


Kalandra mengangguk-angguk. “Iya, KB mandiri saja. Takutnya kalau sampai KB yang lain, kamu jadi enggak mens. Darah yang harusnya keluar jadi enggak keluar, khawatirnya malah jadi efek ke kesehatan kamu!”


Arum mengangguk-angguk paham, sebelum akhirnya ia maupun Kalandra kompak menoleh ke depan. Karena walau sudah malam, pintu masuk sengaja mereka buka sempurna. Mereka sampai merasakan dinginnya udara malam yang memang segar. Kini, mereka menatap bahagia kedatangan Widy yang digandeng Sekretaris Lim. Keduanya baru pulang setelah memeriksakan kehamilan Widy.


“Pacaran terus,” ucap Widy karena walau bukan di kamar, Arum dan Kalandra tak segan menempel. Keduanya masih berpelukan dan sepertinya memang baru saja terjadi momen spesial.


Kalandra dan Arum hanya tersenyum lepas.


“Gimana hasilnya? Sehat semua, kan? Janin dan mamahnya?” tanya Arum sengaja sedikit geser dari Kalandra agar tubuh mereka tak lagi benar-benar menempel.


Arum menatap heran Widy. “Serius, si Widy sehat? Biasanya setiap hamil, dia beneran kayak jelly kebanyakan air. Kebanyakan, lembeknya kayak enggak bernyawa, kan?” Ia berangsur berdiri kemudian meraih sebelah tangan Widy. Ia merengkuh dan mengajak adiknya itu untuk duduk di sebelahnya.


“Hamil yang sekarang, aku memang merasa sehat. Dari tadi pusing mual pun, sepertinya memang efek mab*u*k perjalanan. Setelah dikerokin dan hasilnya merah sampai hitam, rasanya ya enteng kayak orang sehat,” jelas Widy yang kemudian tersenyum pada sang suami yang duduk di sofa tunggal sebelahnya.


“Beda suam beda rasa. Sama suami yang sekarang sehat karena memang suami yang sekarang waras. Alasan dulu-dulu sakit kena mental kan karena suami kalian kurang waras!” komentar Kalandra sembari membuka tutup stoples nastarnya.


Widy yang sempat tak bisa berkata-kata karena syok, refleks tertawa. Ia tak hanya menertawakan Arum karena ia juga menertawakan dirinya sendiri. Karena seperti yang Kalandra katakan, Widy dan Arum memang korban suami kurang waras. Di sebelahnya, Arum juga menjadi sibuk menahan tawa.


“InsyaAlloh, hamil sekarang bakalan sehat terus!” komentar Sekretaris Lim yang ikut tertawa karena ucapan Kalandra.

__ADS_1


“Amin ....” Ketiga orang yang bersama Sekretaris Lim termasuk itu Widy, kompak mengaminkan ucapan yang juga bagian doa, dari Sekretaris Lim.


“Duh, suasana gini enaknya makan rujak apa pecel. Pah, besok menu-nya pecel lontong sama mendoan dan kawan-kawan, ya?” usul Arum bersemangat.


Kalandra yang tengah mengunyah nastar di dalam mulutnya, segera mengangguk-angguk sambil tersenyum riang. Ia bahkan sampai memberikan kedua jempolnya kepada sang istri.


Widy menatap manja sang suami. “S-sayang, ini sebenarnya yang hamil aku, apa Mbak Arum sih? Kedua makanan itu kan, ibarat makanan wajib orang ngidam.”


Sekretaris Lim menahan tawanya. “Kamu mau?”


“Iya!” balas Widy benar-benar manja.


“Ah, kamu clamit! Paling aji mumpung kalau hamil apa-apa dimaui!” ledek Arum yang kemudian tertawa diikuti pula oleh Kalandra.


Kalian tahu ‘clamit’ artinya apa? Di tempatku yang juga tempat cerita ini berlangsung, clamit artinya apa-apa pengin.


Tawa Kalandra dan Arum, makin tak terkendali karena Widy sengaja pamer kemesraan kepada mereka. Widy beranjak berdiri kemudian duduk di pangkuan sang suami. Layaknya anak kucing yang sedang sedih sekaligus ingin dimanja, Widy meringkuk di dada Sekretaris Lim.


“Ayo kita cari pecel sama rujak keluar,” bujuk Sekretaris Lim penuh perhatian sembari menimang Widy layaknya memperlakukan bayi.


Arum langsung terkikik jail bersama sang suami, walau pada akhirnya, ia yang turun tangan membuatkan pecel untuk Widy sekalian yang lainnya.


“Suasana lebaran begini, biasanya jarang banget yang dagang. Kalaupun ada, pasti laris banget. Semacam pecel pasti cepat ludes, soalnya kalau di kampung kebanyakan malah jualan mi ayam sama bakso. Lim, kamu sama Mas Kala, petik jambu air sama belimbing di depan rumah makan, ya!” ucap Arum sambil bergegas berdiri dan siap ke dapur untuk menyiapkan pecelnya.


Kalandra dan Sekretaris Lim langsung bertukar tatapan.

__ADS_1


“Di pohon belimbingnya ada sarang tawon, sementara di pohon jambu banyak kerangkang atau itu semut merah yang ukurannya besar dan kalau sekali gigit langsung nusuk sampai ke tulang-tulang!” ucap Kalandra sengaja menjelaskan kepada Sekretaris Lim yang ia pergoki menjadi terlihat takut.


“Mas Kala jangan nakut-nakutin suamiku,” ucap Widy yang juga menertawakan ekspresi ngeri sang suami.


__ADS_2